Secretly Love – Part 9

Secretly Love

secretly love

secretly love part 9

Title :  Secretly Love – Part 9

Author : Shin Fujita

Main cast:  Choi Minho and Park Hye Ra

Support cast : Lee Taemin , Lee Jinki , Kim Jonghyun

Genre : Romance and friendship

Rating : PG 13

A/N: –

Banyaknya aktifitas di tengah kotaSeoul, mulai dari manusia yang berjalan sepinggir jalan, kendaraan yang berlalu lalang, dan senjumlah gedung tinggi menjulang. Mungkin karna cuaca yang sangat mendukung, seperti langit yang cerah dan angin sejuk yang menghujur, membuat orang-orang engkang dari rumah dan menikmati musim semi tahun ini. Dan dalam kesempatan ini, tak sedikit para warga menyempatkan waktunya untuk berbelanja di berbagai macam butik atau yang lainnya.

Sementara itu di tengah karamain kotaSeoul, tampak sepasang manusia dan dua orang wanita berusia yang bersamaan memasuki sebuah toko di tengah ramainya manusia. Mereka langsung disambut hangat oleh pelayan toko yang merupakan toko butik khusus itu kemudian dipersilahkan menunggu.

“Eomma~ Kenapa kita disini?” gadis berpakain feminim dengan rambut coklat panjang yang berponi itu terlihat curiga atas ajakan orangtuanya. Sesekali ia memandang beberapa pakain yang terpajang di butik itu dan diam – dian berdecak kagum.

“Kamu bisa lihat kenapa eomma mengajakmu kesini. Tunggu sebentar ya, eomma mau melihat-lihat dulu” sang Ibu meninggalkan gadis itu dan pergi untuk memilih pakaian yang ia suka untuk anaknya. Sementara gadis itu memanyunkan bibirnya kemudian dengan ’terpaksa’ duduk disebelah namja tinggi yang sedari tadi berada disampingnya.

”Ya! Kau tahu semua ini kan? Eomma mu dan eommaku pasti sudah memberitahu mu!” gadis itu menatap namja tinggi itu jengkel, namun si namja pura-pura tidak tahu dan tidak sudi menjawabnya. ”Ya! Choi Minho! Apa kau mendadak bisu?” kesal gadis itu . ” Sebenarnya kau dengar aku bicara tidak? Bicara denganmu seperti bicara dengan batu!” seru gadis itu dan memalingkan wajahnya.

”Aku bukan batu! Aku manusia!” ucap Minho akhirnya dan masih sok cuek – cuekan.

”Ne…Choi Minho namja cerdas, rajin, patuh, kaku, dan mesum memang tidak batu! Tetapi manusia yang menjelma menjadi tiang listrik yang berjalan!” Ejek gadis itu.Tampaknnya  Minho ingin sekali membalas ejakan gadis disebelahnya, tapi cepat-cepat ia menahannya dan kemudian beranjak dari sofa. ”Mau kemana?” tanya gadis itu.

”Mau lihat-lihat! Tuxedo disini cukup menarik juga!” Minho menarik badannya dan memperhatikan beberapa gantungan tuxedo di butik ini. Bukan hanya tuxedo untuk pria tapi dress wanita banyak terpajang disini. Hye Ra, gadis yang bersama Minho itu mengikuti Minho untuk melihat-lihat. Beberapa gaun yang ia lihat membuatnya terkagum- kagum, namun setelah itu wajahnya berubah masam dan muram. Ini di karenakan ia teringat hal yang di katakan eommanya tadi, membuatnya cukup terkejut. Ia ingin menolak, tapi….Orangtuanya memaksanya karna ini semua demi kelangsungan perusahaan Appa Minho, juga investasi yang baru dibentuk oleh perusahaan Appanya dan Appa Minho.

Minggu depan…..Aku dan Minho akan menikah. Tidak kusangka secepat ini – ucap Hye Ra dalam hati sembari melirik satu persatu gaun pernikahan  yang terpajang indah. Hatinya mungkin bersedih, karna masa mudanya yang bebas harus lenyap dan akan mendapatkan kewajiban yang berat sebagai isrti orang. Aneh memang. Seorang anak berusia kurang lebih 18 tahun harus menikah dan itupun dipaksa oleh orang tua.

”Nona…Apakah sudah ada gaun yang anda pilih?”

”Ne?” Hye Ra sedikit terkejut saat seorang pelayan butik melenyapkan lamuannya. Hye Ra melirik satu persatu gaun putih yang terpapang. Harus memilih secara cermat dan tepat dan tentunya sesuai dengan seleranya. ”Entah..Aku tidak tahu mau memilih apa” sahut Hye Ra tidak semangat.

”Aku mau yang ini! Biar dia mencoba gaun ini!” tangan seorang namja membuat Hye Ra menoleh kearahnya. Ia mengerjap dan terus memperhatikan namja yang tidak lain calon suaminya, Choi Minho. “Tahu apanya kau mengenai selera wanita?”

“Tidak penting aku mempunyai selera yang seperti apa. Tapi menurutku gaun ini sangat cocok untuk mu. Desainnya tidak terlalu berlebihan, sederhana, namun tetap terlihat elegan.”  ucapan Minho lantas membuat Hye Ra ternganga. Minho yang tadi selalu diam kini memberi usulnya. Tapi itu pantas saja, toh gaun itu untuk pernikahan mereka, jadi mereka harus memilih yang terbagus untuk moment sepanjang hidup ini.

”Hmmm…arraseo. Tolong antarkan gaun ini ke ruang ganti” Hye Ra akhirnya menurut . Sebenarnya ini tidak seperti Hye Ra yang biasanya. Biasanya ia banyak cakap dan bawel mengenai pakaian, apalagi gaun. Ia lebih lama untuk menimbang-nimbang, memilih pakain yang paling cocok untuknnya. Namun kali ini, selera fashionistanya hilang entah kenapa, mungkin karna tidak bersemangat atau masih teringat dengan pernikahan itu.

”Aku akan menunggumu disini” sahut Minho dan duduk di sofa tadi.

”Ne”

Tirai ruang ganti itupun tertutup rapat. Dibalik kaca yang panjang menjulang, Hye Ra melihat dirinya yang tiba-tiba layu tak bersemangat. ”Maaf, apa pria tadi adalah calon suami Nona?” tanya pelayan yang membantu Hye Ra itu. Hye Ra terdiam, dan menelan seteguk ludahnya. ”Ne, wae?”

”Aniyo..Calon suami nona sangat tampan ,kalian terlihat serasi. Tapi jika dilihat-lihat kalian sepasang kekasih yang sangat muda.”

”Kami memang sangat muda. Dan….aku bukan kekasihnya!”  pelayan tadi terbuat bingung oleh Hye Ra, tapi Hye Ra melanjutkan. ”Kami bukan sepasang kekasih, tetapi akan menjadi sepasang suami istri”.

”Ah! Sudahlah! Bawakan gaun itu kemari!” Hye Ra menepis ucapannya tadi. Ia tidak suka jika terus membahas yang bersangkut paut dengan pernikahan. Pelayan itu mengangguk dan memberikan gaun pilihan Minho tadi ke tangan Hye Ra.

Aku melihat bayangan diriku di cermin. Memutar tubuhku agar aku bisa melihat bagaimana lekuk tubuhku saat menggunakan gaun ini.

Cantik!

Pilihan Minho bagus juga. Gaun ini pas untuk tubuhku. Memang tidak terlihat terlalu mewah, tetapi sesuai dengan umurku yang sangat muda , cenderung menyukai yang simple dan tidak berlebihan.

”Yeppeo…Gaun ini sangat cocok untuk nona!” puji pelayan tadi. Aku tersenyum dan kembali melihat bayanganku di cermin. Yah..Gaun ini memang cantik. Aku suka. Gaun ini panjangnya dibawah tumit kakiku, tidak terlalu panjang. Dan desainnyapun cukup elegan. Semuanya cukup bagus.

”Apa saya harus membuka tirainya?” tanya pelayan itu, aku mengangguk pelan. Entah kenapa aku sedikit gugup. Aku gugup bagaimana Minho menilaiku dengan gaun ini, secara ini pertama kalinya aku memakai gaun pengantin. Tidak lama menunggu, tirai yang menutupi ruang ganti ini terbuka perlahan. Dan saat tirai benar-benar terbuka lebar, aku melihat Minho terburu bangkit dan menatapku.

”Otte? Apa yang ini cocok?” tanyaku sembari memutar tubuhku . Setelah itu aku menunggu jawaban Minho penuh harap. Tapi Minho tidak bersuara. Ia terlihat menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala.

”Yeppeo! Gaun ini cocok untukmu!” sahutnya kemudian. Aku membuat seulas senyuman. Hmmm lega rasanya.. jika Minho juga menyukai gaun ini.

”Tuxedo mu..Apa kau sudah memilihnya?”

”Sudah.. aku rasa tuxedo itu cocok dengan gaun itu” Jawabnya kemudian berjalan lebih dekat kearahku. Ia berdiri dihadapanku dengan tampang wajah yang berbeda. Wajahnya muram..sama sepertiku tadi. Matanya yang sayu itu menatap kedua mataku. Entah apa maksud tatapan itu, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.

”waeyo? Ada yang salah?”

”Aniyo. Ganti bajumu, aku akan tunggu dikasir” setelah itu Minho berlalu meningggalkanku. Jadi dia yang membayarnya? Mana eomma? Kenapa aku tidak melihatnya?.

Dan setelah aku mengganti bajuku, Minho sudah menungguku di kasir, langsung saja aku menghampirinya. ”Mana eomma?” aku menoleh kiri kanan mencari sosok eomma yang sedari tadi tidak tampak. ”Eomma pulang lebih dulu. Mereka berpesan agar aku mengantarkanmu pulang” Minho mengambil barang belanjaan tadi dan keluar dari toko butik tadi. Aku mengikutinya dari belakang dan terhenti seketika.

”Tunggu! Katanya mau pulang kenapa kau mengajakku kearah yang berlawanan?” aku menahan tangannya sehingga Minho berbalik. ”Aku lapar, disini ada cafe yang makanannya enak-enak. Kau mau ikut?” aku menimbang-nimbang tawaran Minho. Kalau dipikir-pikir aku tidak punya acara setelah ini..bagaimana ya?. ”Tapi…kau yang traktir ya?” Hehehe sebenarnya aku mau-mau aja sih…asalkan gratis aja :p .

”Ne..Kajja!” badanku terasa terseret disaat Minho langsung menarik tanganku. Kali ini aku tidak memberontak. Aku membiarkan tangannya yang menggandeng tanganku. Hingga aku dibawanya ke sesuatu cafe yang tidak terlalu jauh dari butik tadi. Kami duduk disudut ruang cafe yang dibatasi kaca yang menutupi keadaan luar. ” Mau pesan apa?” pertanyaan Minho membuatku menatap kearahnya. Kenapa ia jadi baik begini?

”Aku mau minuman saja, terserah itu apa” Minho mengangguk kemudian memanggil seorang pelayan. Minho menyebutkan pesananku dan juga pesanannya. Dan setelah pesanan kami datang, Minho langsung menyantap makanannya dengan lahap.

”Kau tidak mau makan?” Minho meletakkan sendoknya dipinggir piring dan melap bibirnya. Aku menggeleng. Tidak tahu kenapa aku tidak nafsu makan. Dan disaat aku menoleh kearah kaca yang disebelahku..pandanganku jadi hampa, tidak ada semangat dalam hidupku. Yah tentu saja! Dipaksa oleh kedua orang tua untuk menikah benar-benar menjadikanku seperti manusia yang patah semangat.

”Kau pasti merasa keberatan dengan pernikahan ini kan?”.Deg! Aku memutar kepalaku dan melirik Minho. Apa dia yang bicara barusan? Dan katanya aku keberatan?

”Tentu! Mana ada orang yang dipaksa untuk menikah? Apalagi dengan orang yang tidak dicintainya” aku menyedot minumanku, meminumnya sembari menatap Minho yang terlihat…hmmm entahlah aku tidak dapat mendeskripsikan ekspresinya seperti apa. Tapi tampaknya Minho tidak menikmati makanannya lagi. Aku merasa aneh dan bertanya.

”Wae? Apa aku salah bicara?”

“Ani..kau benar. Kau kan tidak mencintaiku..maklum saja jika kau begitu” Aaaa!! Apa aku salah bicara ya? Kenapa setelah mengucapkan kalimat ini Minho kelihatan sedih?

”Mianhae…karna aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk membatalkan pernikahan ini” sahut Minho memelan dan menundukkan kepalanya. Entah kenapa aku merasa bersalah. Ingin sekali aku mengucapkan ’gwenchana’ tapi kata itu sulit sekali untuk diucapkan. Lidahku terasa kelu untuk mengatakan itu, ada sesuatu yang menahanku dan membuatku membungkam ditengah keberadaanku dan Minho. Kami hanya terdiam setelah itu..dan tidak tahu mau mengatakan apa.

Author.pov

Hye Ra membalikkan helaian buku catatannya, tidak ada sesuatu yang menarik di buku itu. Kemudian ia beralih ke buku cetak yang terletak diatas mejanya, ia membaca salah satu bab mata pelajaran , tapi kemudian menutup buku itu dengan keras.

”Aaaa!! Aku gila!” desisnya sambil menenggelamkan kepalanya diatas meja. Ia ingin fokus dengan pelajaran, tapi pikirannya terus melayang entah kemana. Melihat itu, Minho yang berada disebelahnya memperhatikan Hye Ra yang terlihat frustasi.

”Wae? Gila kenapa?”

”Kau tahu sendiri! Kau tahukan? Pernikahan itu tinggal 6 hari lagi! Aku gila dibuatnya!!” Hye Ra menghentakkan tangannya kemeja , mengacak acak rambutnya hingga tanpa ia sadari Minho menatapnya aneh. ”Aku tahu..terus apa masalahnya?”

”apa masalahnya? Yah jelas masalahnya itu-”

”Aku tahu..tapi jangan terlalu dipikirkan” Hye Ra mengangkat kepalanya. Ia menoleh dan menatap Minho nanar. ”Jangan dipikirkan? Bagaimana aku tidak bisa memikirkan hal ini? Ini mengenai masa depanku dan…kau!”

”Aku tahu, terus apa ingin kau lakukan?” Minho memutar kursinya dan berhadapan dengan  Hye Ra. Ekspresinya datar tidak seperti orang yang frustasi seperti Hye Ra.

”Aku ingin..Ahh..Tidak bisa..” hampir saja Hye Ra ingin mengatakan jika ia ingin membatalkan pernikahan itu. Itu tidak mungkin! Kedua orangtuanya sudah mempersapkan pernikahan ini sejak kemarin. Belum lagi pernikahan ini menyangkut investasi perusahaan Appanya dengan perusahaan keluarga Minho.

”Sepertinya kau butuh istirahat, mau kuantarkan ke kantin?” tawar Minho sepenuh hati. Hye Ra mengangguk lalu bangkit dari bangkunya.

Setibanya di kantin, banyak pasang mata yang melirik kearah Minho dan Hye Ra. Tentunya Hye Ra merasa gelisah dan tidak percaya diri. Namun ketika sepasang mata itu menatapnya, dunianya terasa sesak. Orang itu..orang itu sedang menatapnya.

”Annyeong Hye Ra-ssi”

”N-ne..Annyeong oppa” Hye Ra menahan rasa gugupnya. Sekilas Minho melirik wajah ketakutan Hye Ra, lalu ia menatap namja bermata sipit didepannya. Benar saja, Minho membenci namja itu, mungkin semenjak hari itu.

”Apa..dia namjachingumu? Dari gosip yang kudengar, kalian mempunyai hubungan khusus, keurechi?” Hye Ra mendongak, sedikit terkejut memang. Lalu ia memberanikan untuk menjawab.

”Aniyo oppa. Kami memang kelihatan dekat, tapi hubungan kami hanya sebatas teman” ucap Hye Ra tertahan. Lantas namja bernama Jinki itu menyeringit curiga. Ingin sekali ia berbicara banyak kepada mantan gadis yang disukainya itu, tapi kelihatannya Minho sudah memberi peringatan padanya berupa tatapan seperti ingin memakannya.

”Ne..aku percaya. Ah..Mian aku harus menghadiri rapat OSIS, lain kali kita berbincang-bincang lagi, Annyeong!”Jinki memberikan seulas senyuman manis kepada Hye Ra. Senyuman yag pernah memikat hati Hye Ra. Hye Ra mengangguk dan membalas senyuman Jinki. Sangat disayangkan, ia kini sudah melepaskan namja impiannya itu. Demi pernikahan ini pastinya…Hye Ra melepaskan seseorang yang disukainya.

”Ya! Kenapa diam saja! Ayo kita pesan makanan!” seruan Minho membuat Hye Ra kembali pada alam sadarnya. Ia mengikuti Minho yang berjalan lebih dulu darinya, dan lagi… beberapa pasangan mata itu masih memperhatikan mereka berdua. Kali ini Hye Ra tidak peduli, ia memilih untuk duduk di bagian ujung kantin dan menunggu Minho membawakan pesanannya kemari.

”Apa semua orang sudah tahu..?” Hye Ra menggigit kuku jarinya, kini ia cemas. Ia cemas jika murid-murid di sekolah ini mengetahui tentang hubungan yang sebenarnya antara ia dan Minho. Tapi…jika orang orang tahu, apakah ia akan di keluarkan dari sekolah? .

”Ya! Kenapa bengong?” tiba – tiba Minho datang dengan dua buah kotak susu pisang ditangannya. Ia duduk berhadapan lalu meletakkan salah satu susu itu kearah Hye Ra.

”Minumlah..Kau kelihatan tidak sehat. Apa ada yang sakit?” tanya Minho penuh kekhawatiran. Hye Ra menggeleng kemudian meminum susu pisangnya.

”Kamu takut hubungan kita yang sebenarnya akan terbongkar?” tanya Minho tiba-tiba. Hye Ra terbuat termangu olehnya. Bagaimanapun juga ia mengerti Minho menanyakan ini. Ia mengaku pada Jinki bahwa hubungannya hanya sekedar teman.  Apa itu menyakitkan Minho. ”Ne, apa aku salah?”

”Aniyo, lebih baik dirahasiakan. Jangan sampai semua orang tahu mengenai pernikahan kita” Hye Ra mengangguk menurut. Ini semua terasa mimpi! Dari teman sebangku sekarang beranjak menjadi calon suaminya. Hye Ra masih menyangkal semua ini hanya mimpi.

”Ya!! Minho! Hye Ra!” sebuah seruan keras dari seorang namja membuat Minho dan Hye Ra bebarengan menoleh. ”Ada apa?” tanya Minho langsung kepada sebahatnya itu – Jonghyun . Jonghyun berdengus tidak peduli lalu duduk disamping Minho.

”Aku dengar…Minggu depan hyung akan menikah. Betulkah?” tanya Taemin setelah ia duduk tenang di samping Jonghyun. Minho tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya sibuk dengan susu pisangnya . Sedangkan Hye Ra ia sedikit terkejut karna kedua sahabat Minho ini mengetahui tentang pernikahannya. Mengejutkan.

”Jadi.. Kalian tidak bertengkarkan?”

”Bertengkar apanya?” ulang Hye Ra bingung. Jonghyun tersenyum jahil lalu melirik Minho sebagai aba-abanya. ”Ya!  Park Hye Ra jangan pura-pura tidak tahu. Kau tahu? Semenjak kejadian kau ditembak oleh ketua OSIS itu Minho cemburu berat. Ia berkhianat meninggalkan kami dan pergi pulang begitu saja. Tidak setia kawan!”

Minho membelalakan matanya, kemudian menginjak kaki Jonghyun kesal. ”Aniyo! Jonghyun bohong! Jangan percaya padanya!” sangkal Minho panik.

”Jeongmal? Jadi waktu itu kalian berdua juga menguntitku?” Jonghyun dan Taemin serentak mengangguk. Kemudiam Minho kembali menginjak kaki Jonghyun lalu menjitak kepala Taemin.

”Ya! Kalian bisa tutup mulut?”

”Kami kan hanya menganguk. Berarti kami tidak membuka mulutkan?” ucap Jonghyun sinis. ”Hyung…sakit” Taemin mengusap keningnya yang merah karna dijitak Minho tadi. Melihat itu, Hye Ra segera beranjak dan duduk di sebelah Taemin.

”Gwenchana? Mana yang sakit?” tanya Hye Ra simpatik sambil mengelus kening Taemin. Tentunya namja manis itu terkejut atas tingkah sunbaenya itu dan berkata”Gwe…Gwenchana noona”

Tapi bukannya meminta maaf atas kelakukannya tad,i Minho malah berdiri, mengebrak meja lalu pergi seketika.

”Minho? Dia kenapa?” bingung Hye Ra  karena calon suaminya itu mendadak ngambek. “Hmm..Sepertinya kau harus ikuti dia. Pergi sana!” Jonghyun mendorong tubuh Hye Ra hingga gadis itu berjalan tanpa diberi intruksi. Ia menggarut tengkuknya yang tidak gatal kemudian mengangkat bahunya cuek.

Choi Minho.Pov

Lagi, lagi , dan lagi. Park Hye Ra! Kapan kau tidak membuatku seperti ini? Sebenarnya yang bermasalah kau atau diriku? Semenjak mengenal dirimu aku merasa terikat oleh tali yang tidak bisa dilepaskan. Tapi jika tali itu merenggang aku merasa engkang terlepas dari ikatan itu. Hhaaahh apa maksdunya ini? Jika aku benar-benar menyukai Hye Ra, tapi kenapa aku selalu terbakar cemburu seperti ini?

Mungkin karna sekian lamanya aku berjalan menjauh, tak terasa aku berhenti di sebuah taman belakang sekolah. Taman di tempat dimana aku melihat sesuatu hal yang sangat ku benci. Aku menuju ke kursi panjang yang berdiri kokoh di taman itu. Duduk disana dapat merasakan kedamaian tersendiri bagiku.

Dan disela-sela kesejukan aroma tumbuhan inilah aku dapat menutup mataku. Membayangkan seorang gadis yang dulu pernah masuk dalam khayalanku. Iya. Gadis itu mengenakan gaun pengantin putih. Tangannya berisi sebuah buclet bunga yang juga bewarna putih. Gadis itu berjalan menuju kearahku kemudian tersenyum padaku. Sungguh cantik.

”Ya! Kau tadi kabur hanya ingin tidur tiduran disini?” GLEK! Dengan refleks aku membuka mataku. Dan…Sekarang apa yang kulihat.?

”Hye Ra?”

”Wae? Jangan bilang kau melupakan namaku!” Hye Ra! Benar gadis itu. Setiap aku membuka mataku, yang muncul adalah yeoja itu, yeoja yang sekarang menjadi calon istriku. ” Haah… sebenarnya apa sih motifmu pake acara ngambek, eoh?” Hye Ra duduk disebelahku dengan santai seolah ia tidak tahu banyak kesalahannya yang membuatku cemburu.

”Aku tidak punya motif apa-apa” dustaku

”Hmmm begitu…Dasar Pabo!”

”Aaagh! Sakit! Ya! Kenapa kau memukul kepalaku?” aish!Sial! Apa bisa yeoja ini tidak menggunakan kekerasan dalam sehari?

”Kenapa aku memukul kepalamu? Itu karna aku menyukai kepalamu!”

Hah? Aku membalikkan kepalaku, mengerjap sambil menatap Hye Ra yang juga menatapku.

”Ya…Jangan bilang aku benar-benar menyukaimu! Aku menyukai kepalamu karna didalamnya berisi otak yang sangat cerdas!”

”Aish! Aku kirain apa -_-” benar-benar Choi Minho pabo! Mana mungkin Hye Ra juga menyukaiku? Seumur hidup dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau ia menyukaiku.

”Ah sudahlah, sepertinya aku harus pergi. Ada sesuatu yang ingin kulakukan” entah kenapa aku merasa kecewa. Yah hanya sedikit. Tapi Hye Ra hampir memberikanku harapan palsu. Dan aku tidak suka itu.

”Chankaman!” aku membalikkan tubuhku. Melirik tanganku yang ditahan oleh tangan mungil Hye Ra. ”Bisakah..Kau tinggal dan menemaniku?”

”Ayolah Minho-ssi, aku lelah belajar terus. Bagaimana kita cabut dan pergi ke suatu tempat?”

”APA???”

Park Hye Ra. pov

Ini mungkin hal yang tidak biasa aku lakukan. Yaitu cabut ! Hye Ra pabo….Kenapa kau punya ide aneh ini sih? -_-. Hehehe tapi lumayankan..Cukup menghilangkan penat di sekolah XD

”Minho..Bagaimana? Maukan?” jinjja!Sudah lima belas menit Minho memikirkan ide simpel ini. Apa dia terlalu cinta dengan sekolah ini hingga gak mau cabut,eoh?

”Minhooo…Jebal..Aku minta sekali ini saja” pinta ku melemas.

”Jika kau benar-benar menginginkannya…With pleasure”

”Aaaa! Jinjjayo?? Aaaa! Gomawo! ^^” Ya Tuhan saking senangnya aku malah melompat-lompat seperti kelinci. Baru kali ini aku merasakan begitu bahagianya.

***

”Kau mau yang mana? Hmm… yang ini bagus”

”Shireo! Ini terlihat sudah pasaran! Yang ini saja!”

”Tapi itu terlalu kekanakan! Kitakan sudah 18 tahun Hye Ra..”

”Issh!! Ne!”

Dengan berat hati aku memilih gantungan Hp yang bermotif ’One Piece’ -_-. Ahh!! Sebetulnya aku tidak suka!! Tapi…Ini karna di trkatir u.u

Siang ini.. Tepatnya pukul satu siang, aku meminta Minho mengantarkanku ke pasar yang sangat terkenal di Seoul. Awalnya kami pergi dengan penuh perjuangan, bolos dari sekolah emang gak segampang yang kita pikirkan -_-. Tapi syukurlah Minho mempunyai taktik cemerlang hingga kami lolos dari satpam sekolah. Benar-benar, aku baru merasakan bebas sebebasnya. Dan itu berkat Minho. Ahh aku merasa berterima kasih (lagi) padanya.

”Naah! Keroro! Ini cocok untukmu!” dari sekian lama ku perhatikan berbagai asesoris di sini, akhirnya aku menemukan yang persis denga Minho. ”Hahaha! Dia mirip denganmu! Mata kalian sama-sama besar!” ucapku sambil tertawa membahana

”Sini! Berikan padaku!” Yaaa!! Huaaa! Jangan sampai Minho memusnahkan mainan kunci itu T^T

”Chogio..Berapa harga kedua gantungan kunci ini?” Ha? Yee! Rupanya Minho membeli gantungan kunci yang kuberikan ^^. Dan setelah Minho membeli gantungan kunci itu dengan harga murah (12.000 won -_-) tiba tiba saja tanganku diseret olehnya hingga tubuhku dilarikan ke sebuah toko.

”Toko…Hewan peliharaan?” bingungku.

”Coba dilihat- lihat, pasti kau akan suka!”

Aku dan Minho memasuki toko hewan itu. Dan benar juga. Berbagai macam hewan perliharaan di panjang dan diperjual belikan. Anjing,kucing,burung,kura-kura,ikan dan masih banyak lagi.

Tapi tunggu! Sepertinya aku tertarik dengan seekor kucing mungil ini. Aku mencoba menjongkok menyamakan jarak kami dengan si kucing yang berbatas oleh sebuah kandang besi.

”meoooong…meooong”

”Ah! Kyeopta! Siapa namamu manis?” tanyaku pada kucing berbulu putih itu.

”meoong…meooong”

”Aaaa!! Kau sangat manis!”

”Kau mau membelinya?” aku mengangkat kepalaku keatas dan melihat Minho yang sudah berdiri di sampingku. ”Tidak usah..Aku tidak tahu bagaimana merawat kucing”

”Gwenchana, aku tahu bagaimana merawat kucing, biar aku yang membelinya dan mengajarkan padamu cara merawatnya” aku langsung mengedipkan mata tak percaya. Apakah ini Minho? Kenapa ia begitu baik padaku (lagi)?

”Sudah kubeli! Sekarang saatnya memberi nama” Minho membuka kandang kucing imut tadi dan menggendongnya. ”Kita kasih namanya apa? Hmm…Juno?”

”Juno? Ah! Jelek! Aku gak suka!”

”Hmm..Gimana kalau Hye Ra saja! Kebetulan kelaminnya juga betina!”

”Sireo! Kenapa kau samakan aku dengan kucing?” jelas kesal lah! Dimana-mana aku adalah seorang’Park Hye Ra’ bukan Hye Ra sebagai kucing -_-

”Kalian sama kok! Kalian sama- sama manis dan cantik! Iya kan Hye Ra…” Minho memainkan tangan kucing manis itu bagaikan hanya mereka berdua saja yang berbicara. Urgg dasar! -_-

”Arraseo. Whatever!” aku memasang tampang bete dan pura-pura ngambek.

”Hye Raniee! Lihat majikanmu kalau ngambek jeleknya?Bagiku kau lah yang paling cantik Hye Raniee? Iyakan chagi?”

”Meong!Meong! :3”

”Ya! Jika kau anggap kucing itu cantik. Menikahlah dengannya! Jangan denganku!”

Aaargh! Ini orang udah gila ya? Kucing dan majikannya sama saja! Huh! saking betenya, aku meninggalkan dua insan yang sedang berbunga-bunga itu. Isssh!! Kenapa aku yang kesal sih? Lagian yang milih itu kucingkan aku!.

Author.pov

”Ya…Hye Ranie..Majikanmu sudah pergi. Ottokhae? Apa kita harus mencarinya?” Minho masih menggendong kucing yang baru ia beli itu. Dengan cemas Minho memutar di sekeliling pasar, mencoba mencari sosok Hye Ra.

”Chagi…Kenapa dia tidak ketemu? Apa dia marah?” Minho terus berbicara pada kucing manis itu, seperti ia sudah kenal dekat dengan hewan beruntung itu. Tapi, si kucing malah mengeong-ngeong.Tetapi tiba-tiba..

“Hye Raniee!Kau mau kemana?” karna Minho melengah, kucing itu meloncat dan turun dari pangkuan Minho. Kucing itu berlari meninggalkan Minho. Minho ingin mengerjarnya tapi yang lebih penting yang ia cari adalah Hye Ra yang asli.

“Meong!Meong!Meong!”

“Oh..! Kau rupanya manis. Mana majikan menyebalkanmu itu?”tak disangka si kucing dapat menemukan majikannya yang sebenarnya ’Hye  Ra’ di tengah padatnya pasar. Tanpa pikir panjang lagi, Hye Ra meraih kucingnya itu ,menggendongnya dan membawanya jalan-jalan.

Sementara itu, Minho sangat panik karna si kucing dan Hye Ra menghilang begitu saja. Ia sudah menelpon dan SMS Hye Ra tapi gadis itu tidak mau mengangkat atau membalasnya.

”Huft..Kemana mereka?” Minho memutar kepalanya kekiri kekanan melihat orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya.

”Apa mereka tersesat?” Minho makin panik dengan feeling buruk yang menghantuinya.

”Bagaiamana kalau Hye Ra benar-benar hilang? Andwe! Tidak boleh!” Minho dibuat gila olehnya. Ia berlari , menoleh ke kiri ke kanan mencari sosok Hye Ra .Tapi tetap saja nihil. Ingin sekali Minho menghubungi 100 bodyguard dan pelayannya untuk mencari HyeRa, tapi itu berlebihan dan begitu merepotkan.

Sudah sekitar 30 menit Minho mengelilingu sudut pasar, tapi Hye Ra dan kucingnya pun belum juga ditemukan. Meskpun begitu Minho masih berlarian mencari mereka. Hingga energinya tak cukup lagi untuk berlari. Minho terhenti. Ia menghilangkan sesak di dadanya. Keringatnya sudah tercecer dari sela pelipisnya.

”Hye Ra…neo eodiga?”

”Meong!Meong!!”

”Hye Ra!” suatu keajaiban bagi Minho. Saat ia mendengar suara ngeong dari kucing manis tadi, ia langsung berbalik dan mendapatkan Hye Ra yang sedang menggendong ‘Hye Ra ‘ pula -_- (kucingnya..)

“Meong!Meong!” kucing itupun turun dari pangkuan Hye Ra. Dan tanpa ba-bi-bu Minho berlari dan langsung memeluk Hye Ra.

”Kemana saja kau? Aku sangat cemas Hye Ra…” dirasakannya nafas Minho yang tersengal-sengal oleh Hye Ra. Hye Ra hanya membantu. Malu tentunya karna mereka sekarang menjadi tontonan pasang mata. ”Mianhae, kalau kau marah padaku. Tapi jangan pergi seperti ini. Aku cemas..” Minho makin mengeratkan pelukannya. Hingga Hye Ra yang membatu tadi sulit bernafas.

”Ahh! Minho-ssi…Bisakah kau lepaskan..Aku?” pinta Hye Ra sesak.

”Oh! Mian!” dengan cepat Minho melepaskan pelukannya. Ia menunduk salah tingkah sembari menggarut tengkuknya yang tidak gatal.

”Sesak ya? Apa perlu ku belikan air?obat?” tawar Minho panik melihat Hye Ra yang berusaha mengatur nafasnya yang masih sesak. ”Ah..Tidak usah..” balas Hye Ra kemudian.

”Apa badanmu letih?”

”Sedikit..Karna aku lelah mencarimu” Minho mengulum senyum tipis kemudian berjongkok didepan Hye Ra. ”Apa?”

”Naiklah.Kau capekkan? Biar aku yang mengendongmu pulang” tawar Minho sambil menepuk bahunya. Hye Ra tertawa renyah kemudian berkata ”Apa kau kuat?” .

”Saat di kamarku kan aku sudah pernah mengendongmu, jadi itu hal biasa” Hye Ra terlihat ragu. Emang sih ia merasa lelah. Tapi jika digendong apa tidak berlebihan?

”Ayo naik!”

”Tapi..Kucing ini bagaimana?”

”Hye Ra pasti mengikuti kita dari belakang, tidak perlu khawatir” Hye Ra menatap kucing manis tadi. Kucing itu kembali mengeong dengan gembira. Dan sepertinya, kucing itu menyutujui usul Minho.

”Baiklah.Let’s Goooo!” akhirnya Hye Ra naik ke punggung Minho. Minho berjalan dan diiringi kucing manis di belakangnya.

***

Tak terasa, langit siang berpaling menjadi langit malam. Malam itu tampak sebuah taxi yang berhenti di depan sebuah rumah mewah.

”Biar aku yang membukakan pintu!” sahut Minho disaat Hye Ra ingin turun.

”gomawo” ucap gadis itu malu-malu kemudian berdiri di depan pagar rumahnya. Disana ada Minho,Hye Ra dan si kucing yang sedang berdiri dekat tiang lampu rumah Hye Ra dan pagar rumah yang di depannya.

Suasana malam yang dingin dan gelap, membuat mereka tiba-tiba berhenti berbicara.

”Hari ini kau pasti lelah, jadi istirahatlah dengan baik” ucap Minho

”Ne.” entah kenapa Hye Ra jadi mendadak gugup.

”Perumahanmu cukup gelap, hanya lampu jalan ini yang menyala. Apa kau tidak takut?” tanya Minho sambil melirik kesuluruh penjuru jalan nan gelap itu.

”aniyo..Aku jarang keluar malam, jadi tidak terpengaruh oleh kegelapan disini”

”Oh begitu…Lalu apaka-”

”Gomawo” Minho terdiam. Ia mengerjap kemudian tersenyum.

“Gomawo..Karna kau telah menemaniku, dan melindungiku..Gomawo” lanjut Hye Ra. Hye Ra tahu ia sekarang gugup, tapi ia berusaha menghilangkan rasa itu dengan menatap mata Minho.

“Cheomna, aku harap tadi dan sekarang kau merasa senang” Minho begitu, ia pun menatap mata Hye Ra.

“Tentu, walaupun kucing ini sedikit menganggu tapi aku tetap merasa senang ^^” Hye Ra melirik si kucing , karna si kucing inilah yang mempertemukannya dengan Minho tadi.  ”Baguslah. Aku senang, karna aku puas melihat senyum dan tawamu hari ini.”

”Ne?”

 Krilpp Krillp

”Omo!” tiba-tiba lampu jalan yang menyala tadi mendadak putus. Lantas Hye Ra terkejut karna pandangannya gelap gulita.

”Minho-ssi! Eodiga? Aku tidak bisa melihat mu!” seru Hye Ra ketakutan. Lampu yang satu-satunya menyala di jalan itu mati, membuat tak ada pemandangan yang bisa dilihat meskipun setitik cahaya.Hye Ra pastinya sangat ketakutan tangannya menggigil dan tubuhnya bergetar hebat.

”Minho…kau dimana? Aku…Aku ta-mmmpp!”

Tidak disangka dan tidak disangka. Hye Ra merasakan ada seseorang yang menarik pinggangnya kemudian ada sesuatu yang lembab yang menempel di bibirnya. Hye Ra terkejut! Dan yang ia tahu sekarang adalah ; Minho sedang mencium bibirnya.

”Hmmpps..Mmminhoo..” desah Hye Ra. Hye Ra sangat terkejut disaat tiba-tiba saja Minho menciumnya tanpa izin. Ia menekan dan bahkan memukul dada Minho berusaha untuk menghindar. Tapi tak lama kemudian, tangan yang memukul itu menjadi lemah karena Hye Ra dapat merasakan debaran yang sangat kuat dari jantung Minho. Ia shock dengan pernyataan ini. Namun itu tak membuatnya ingin lepas. Malah Hye Ra pasrah bibirnya perlahan habis di lumat Minho.

Bukannya berhenti, Minho malah terbawa suasana. Ia menekan tengkuk Hye Ra dan merapatkan tubuhnya hingga tak ada jarak lagi antara mereka. Hye Ra tidak memberontak seperti biasanya. Malah ia menikmatinya. Ia memejam matanya dan perlahan mengalungkan tangannya di leher Minho. Dentungan jantung yang keras ini pun menggetarkan hati Hye Ra untuk membalasnya.Minho pun tak mau kalah, karna mendapat respon  yang mengejutkan dari Hye Ra, ia lebih mencium Hye Ra lebih dalam hingga akhirnya mereka sulit untuk melepaskannya.

”Meeooong!” suara ngeong dari si kucing tak membuat Minho dan Hye Ra behenti, hingga saat lampu jalan itu menyala mereka masih beradu dalan sekecambuk asmara yang menggetarkan hati mereka.

Namun satu detik kemudian , Hye Ra telah sadar dari alam sadarnya. Bibirnya berhenti untuk bergerak. Ia membuka matanya dan melihat Minho yang sedang menutup matanya sambil masih menikmati bibirnya. Dan sekarang yang ia rasakan ciuman itu turun hingga ke lehernya. Hye Ra makin membuka matanya lebar-lebar dan seketika mendorong Minho.

”Sudah cukup! A…aku sulit bernafas. Aku mau masuk dulu. Annyeong!” gugup dan sangat tegang. Hye Ra bahkan tidak tahu kenapa ia membiarkan Minho dan malah juga ikut membalasnya. Ia rasa ada sesuatu yang mendorong untuk melakukan hal yang pernah ia benci itu.

”Ne…Annyeong” setelah terdorong cukup jauh. Minho bisa mengukir senyumannya dan melambaikan tangan. Ia berdecak geli dan tersenyum sendiri.

“Meoong!Meooong!
”Ah! Hye Ranie.. Kamu  masih disini? Oh! Apa kamu melihatnya?” Minho melirik kucingnya itu, matanya melotot karna si kucing masih berdiri di sampingnya.

”Meoong!Meooong!” Seru si kucing riang.

”Jeongmal? Dasar kucing nakal! Kau seharusnya tidak boleh melihat!” Minho menggendong si kucing dan memainkan tangannya.

”Meong!Meong”

”Tapi…Kenapa aku tiba-tiba ingin menciumnya?”

”Meooong..Meoooong”

”Apa? Karna aku mencintainya?”

”Meong! ^^” Minho terkekeh karna respon si kucing yang begitu senang diajak ngobrol olehnya. Ia mengelus kepala kucing itu dan masih berdiri di depan pagar rumahnya Hye Ra.

”Hye Ranie..menurutmu apakah Hye Ra juga menyukaiku? Sepertinya saat kucium tadi ia tidak marah sama sekali. Apa dia mulai mencintaiku?”

”Meeoooong~” kali ini ngeong si kucing memelan. Dan itu berarti si kucing tidak tahu apa jawabannya. Begitu juga dengan Minho. Ia ragu..Apakah gadis yang ia sukai itu juga menyukainya atau tidak.

Minho menatap lampu jalan yang tadi sempat mati itu. Ia patut berterima kasih kepada si lampu. Jika saja si lampu tidak mati, ia tidak akan nekad melakukan hal tadi. Namun di balik itu, Minho menumbuh rasa penuh harap pada Hye Ra. Ia tahu seminggu lagi ia akan menikah. Jadi ia berharap pernikahannya ini adalah pernikahan berdasarkan cinta bukan paksaan orang tua. Ia pun membuat suatu harapan dan harapan itu adalah ’ berharap Hye Ra akan  mencintainya seperti ia mencintai Hye Ra dengan sepenuh hati dan bisa membangun keluarga kecil yang bahagia selamanya’

Tapi apakah itu bisa terlaksana dengan baik? Apakah Tuhan bertindak untuk menyuruhnya menunggu lebih lama agar gadis tunangannya itu bisa mencintainya?

”Mollayo..aku harap jangan sampai begitu”

TBC

Iklan

8 thoughts on “Secretly Love – Part 9

  1. Annyeong author..
    Aku mampir liat2 blognya nih hehe^^ aku nunggu2 bgt ff ini di post di blog SF3SI dan ga muncul2, eh ga taunya di blog pribadinya author udah part 10 aja.
    Minho-hyera jarang bgt akur ya, tp itu yg bikin aku tertarik dr ff ini. Minho berani bgt cium hyera *walaupun dlm kegelapan-_-* haha..
    Aku kirain pas hyera ketakutan, dia bakal meluk minho gitu, ga taunya malah lbh dr itu, haha *gutgutgut*
    Penasaran bgt sm part selanjutnya.. Lanjutkan thor^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s