Secretly Love -Part 10

SECRELT LOVE – PART 10

secretly love

SECRETLY LOVE- PART 10

Author : Shin Fujita

Main Cast : Choi Minho [SHINee] and Park Hye Ra

Support Cast : Kim Jonghyun [SHINee], Lee Taemin [SHINee], Krystal Jung [Fx], and Cho Kyuhyun [Super Junior]

Genre : Romance, friendship and Marriage Life

Rating : PG 13

A/N : Part 10 is coming! Siapa yang lagi rindu sama kelanjutan FF ini *gak! Maaf lama banget posting kelanjutannya. Maaf juga bagi readers yang menunggu lama karna FF gaje ini…Mianhae… BOW. BTW aku rasa part 10 ini alur ceritanya  kecepatan, tujuannya agar cepet selesai ._.v mohon di maklumi ya :D. Tapi setelah ini jangan lupa setelah baca langsung komen ya.. Gomawo 😀

PLEASE READER’S DON’T BE SILENT. GIVE ME OXYGEN LIKE COMMENT AFTER READ

PLEASE~~ ^^V

 ¶ ♥SHIN FUJITA♥…¶

****

Mentari pagi mengisi langit biru yang cerah. Meskipun sinar menyengat mentari masih terasa tetapi suasana pagi nan cerah membuat semua orang tampak bersemangat dalam melakukan aktifitasnya. Burung-burung yang berterbangan dan diiringi kicauannya menghiasi langit kini. Termasuk berbagai kicauan di dalam kelas karna seluruh murid asik melakukan aktifitasnya masing-masing. Mulai dari berbincang kesesama teman, membuat PR, belajar dan lain-lain. Namun dari salah satu aktifitas yang disebutkan tidak ada yang dilakukan oleh gadis yang berambut panjang itu. Ia duduk di bangku paling depan sambil memandang pemandangan luar dari jendela di sampingnya. Suasananya hening, tak biasanya. Tatapan mata gadis itu terus menyorot kearah langit cerah dengan pikirannya yang mulai melayang.

”Ya! Kau hampir melupakanku? Sedari tadi kau diam dan tidak bicara sepatah katapun!” seorang gadis yang berseragam sama dengannya menghampirinya seraya menepuk bahu gadis itu. Otomatis orang yang dipanggil memutar kepalanya. Ia tersenyum tipis pada sahabatnya itu lalu kembali menatap langit.

”Ck! Park Hye Ra….Apa yang membuatmu jadi sediam ini, eoh?” ujar gadis yang bernama ’Krystal’ itu agak kesal. Hye Ra masih diam, dan itu sukses bikin Krystal geram. Krystal berusaha berpikir apa yang membuat temannya satu ini berbeda dari hari sebelumnya. Dan saat ia mengetahui sebabnya, Krystal senyam senyum sendiri hingga akhirnya terkikik.

”Ehmm! Hari ini…Kenapa aku tidak melihat Minho, ya?” ujar Krystal memulai. Diliriknya Hye Ra yang masih berpaling dengannya. Tampaknya yang barusan belum bisa memancingnya. ”Hmm..Apa Minho tidak sekolah? Apa dia sakit? Jarang kulihat namja itu tidak hadir ke sekolah. Atau jangan-jangan….”

”Ehm!” dehem Hye Ra seketika. Krystal tau apa yang dipikirkan oleh sahabatnya kini. Dan kali ini ia ingin melanjutkan kalimatnya lagi ”Atau jangan-jangan…..Minho pindah sekolah dan melarikan diri dengan yeoja lain?”

”MWO???” Dengan refleks Hye Ra memutar tubuhnya. Ekspresi wajahnya tegang dan shock. Krystal malah tertawa melihat respon dari sahabatnya itu.

”Ya! Krystal-ah! Apa benar Minho pindah sekolah?” tanya Hye Ra mulai panik.

”Hmmm…Bagaimana ya..Soalnya tadi..”

”Tadi apa? Ya! Katakan ada apa!” gertak Hye Ra makin panik.

”Kau dulu yang mengatakannya padaku!”

”Ne?”

”Katakan padaku…Kau sedang memikirkan Minho kan?” selidik Krystal curiga. Spontan Hye Ra mengubah ekspresi wajahnya.  Ia memutar kedua bola matanya lalu berpaling. ”Itu bukan urusanmu!”

”Itu urusanku! Ya! Marebwa! Apa kau mulai menyukai Choi Minho?” Hye Ra kembali memutar tubuhnya. Ia menggeleng dengan cepat dan memasang wajah jengkel. ”Hei…Aku tahu kau berbohong. Katakan! Apa yang membuat kau menyukai Minho!” Krystal mengedipkan matanya yang membuat Hye Ra ingin muntah. Pertanyaan Krystal tadi membuat Hye Ra mengingat kejadian kemarin malam yang menyulitkannnya untuk tidur dengan nyenyak. Malam yang tidak ia duga dan mungkin malam yang tidak pernah ia lupakan.

”Katakan Hye Ra…”

”Aniyo..Aku tidak menyukainya!”

”Bohong! Cepat! Apa yang dilakukan Minho hingga kau berubah seperti ini!” bentak Krystal dengan mengguncangkan kedua bahu Hye Ra. Hye Ra merasa pusing karna di goyang dan akhirnya meminta kepada Krystal agar berhenti. ”Ne..Akan kukatakan! Tapi ini rahasia ya…” jawab Hye Ra kemudian. Hye Ra memperbaiki posisi kursinya berhadapan dengan kursi Minho yang kini diduduki oleh Krystal.

”Jadi ceritanya seperti ini. Waktu jam istirahat kemarin aku mengajak Minho cabut dari sekolah. Aku mengajaknya ke pusat pembelanjaan hingga larut malam. Dan tak kusangka saat Minho dan aku berdiri di depan gerbang rumahku..Lampu jalan disana mati dan setelah itu…”

”Itu apa?”

”Ah! Lupakan!” Hye Ra menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hawa panas menguasai kedua pipinya. Jelas saja! Mengingat kejadian itu membuat Hye Ra menggila dan hampir kehilangan akal. ”Ya! Bagaimana kelanjutannya!”

”Karang sendiri!”

”Aku tidak bisa…Tapi biar ku tebak. Apa dia mengatakan kalau ia menyukaimu?” Hye Ra menggeleng. Krystal kembali berpikir. ”Apa dia melakukan hal yang tak kau sukai?” tanya Krystal lagi…Dan pertanyaan ini direspon anggukan pelan dari Hye Ra.

”Apa yang dilakukannya?… MWO! Apa Minho?” Krystal membulatkan matanya menatap Hye Ra. Hye Ra sontak terkejut dan menyangka Krystal telah mengetahui apa yang telah terjadi. Krystal pun mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu.

”Apa Minho……Menciummu lagi?” GLEK!

Hye Ra membuka matanya lebar-labar. Kenapa Krystal bisa tahu? Padahal..Benar juga sih..Ciuman itu yang selalu diingat-ingat Hye Ra. Bukannya diingat..tapi ia malah ingin melupakannya, tapi itu tidak bisa. Ia juga tidak menyangka bagaimana bisa Minho menciumnya di saat gelap seperti itu dan malahan ia juga menikmati ciumannya Minho. Ini gila! Ini bukanlah Hye Ra yang biasanya! Apalagi setiap ia mengingat itu jantungnya selalu berdebar, terkadang pipinya memerah seperti kepiting rebus. Dunianya seakan terbang begitu jauh karna membayang ciuman gila itu.

”Ya! Benar Minho melakukannya?” tanya Krystal melenyapkan kesunyian. Hye Ra menggguk lemah dengan tampang mencurigakan. ”Lalu..Apa yang kau lakukan?” Hye Ra menoleh, kemudian menggeleng kepalanya keras. ”Aku? Aaarghh! Aku gila Krystal-ah!!!” pekiknya keras layaknya orang gila.

”Kau…Juga menciumnya?” tanya Krystal dengan nada ngeri. Hye Ra pun mengangkat kepalanya lalu mengangguk pelan. Krystal membuka mulutnya lebar-lebar dan dalam beberapa detik lagi gadis itu akan memekik histeris. Tapi sepertinya hal itu tidak akan dilakukan oleh Krystal, karna ia melihat aba-aba dari sudut mata Hye Ra yang bertandakan ada seseorang yang dibelakangnya.

”Ya! Kaa!” bisik Hye Ra. Krystal memutar kepalanya dan melihat sosok yang telah berdiri di belakangnya. ”Ah..Ne. Kau rupanya..” ucap Krystal sambil cengingisan lalu pergi.

Park Hye Ra.Pov

Aku sangat terkejut saat melihatnya yang sudah berdiri di belakang Krystal. Otomatis aku mengembalikan posisi kursiku dan pura-pura tidak tahu. Dugeun dugeun! Ah! Kenapa aku jadi berdebar seperti ini? Saat dia telah duduk di sebelahku, aku langsung merasakan aroma tubuhnya yang khas, sama seperti malam itu!. Oke! Hye Ra..Tenangkan pikiran….Santai..Santai saja..Tapi kali ini….Kenapa ia tidak menyapaku? Aku kan teman sebangkunya? Yang kulihat wajahnya yang datar dan tubuhnya yang kaku. Hufft…Emang sih aku udah terbiasa melihat ekspresi wajah membosankannya -_-

”Semalam tidurmu nyenyak?” Glek! Apa dia yang bicara barusan?

”Tidak juga” jawabku dengan suara yang hampir bergetar. Ya! Hye Ra! Kenapa kau gugup seperti ini?. ” Wae?”. Ah sial! Kenapa orang ini malah balik bertanya?

”Itu karna….Aku mendadak insomnia” Pabo! Jawaban apa ini? Insomnia? Hhah! Seorang Hye Ra itu malah orang yang pecandu tidur dan gak pernah seumur hidup mengendap insomnia! Pabo…! Eh! Tapi gak mungkin juga kan kalau ku bilang aku gak bisa tidur karna mengingat adegan ciuman itu?! Pabo! Yah gak lah..Seumur hidup gak akan ku bilang.

”Ohh….” jawaban yang singkat -_-. Oke! Baiklah! Sepertinya pembicaraan pagi kali ini harus di tutup oleh kata ’Ohh…’. Jujur, aku juga bingung mau bicara apa. Toh aku udah kehabisan kata-kata. Tiba-tiba saja saat dia telah di sampingku membuat mulutku terkunci dan hanya bisa memperhatikannya saat pelajaraan berlangsung. Matematika tentunya!. Yahh saat jam pelajaran Kim sonsaengnim, aku hanya bisa menyontek hasil latihannya -_-. Awalnya gak di perbolehkan, tapi karna otakku yang udah terlanjur ngeres akhirnya namja bernama Choi Minho itu mau memberi contekan. Miris.. (?)

”Minho-ssi..Aku tidak mengerti nomor 2 ini. Bisa kau bantu aku?” tanya ku tiba-tiba. Sebetulnya aku mengalami kesulitan di nomor ini. Mumpung aja kan, calon suami ku yang telah di samping bisa membantuku? Eh! Apa an? Calon suami? Ah gak gak!.

”Coba kulihat?” aku menyeret bukuku ke mejanya, tapi tak disengaja di senggol oleh siku Minho hingga buku latihan ku tadi terjatuh. Lantas aku mengambilnya tapi…

”Biar aku yang ambil!” tanganku langsung di tepis Minho. Aku hanya mengerjap melihat Minho yang mengambil buku ku itu. ”Yang mana tadi?” dia telah memegang buku itu. Aku menunjuk soal yang bermasalah, lalu dia menerangkannya padaku.

”Eh! Tinta penamu habis?” Minho mengucek pena yang baru kuserahkan tadi untuk membantu mengerjakan soal tadi. Aku cuma cengingisan.. Hahaha maklumlah..Gak ada waktu buat beli pena J Tapi ada waktu buat beli baju! 😀

”Aku tidak punya pena lagi..”

”Gwenchana, pakai saja penaku” Minho mengambil dua buah pena dari dalam tasnya. Satu untuknya dan satunya lagi diberikan untukku. “Gomawo” ucapku. Minho menoleh, lalu ia tersenyum lebar. Ia mengacak rambutku dan masih tersenyum manis. Omo! Aku baru menyadari kalau wajahnya sangat tampan! Kemana saja aku selama ini?

”Sudah seharusnya aku seperti ini kan?” ujarnya masih dengan seulas senyum. Aku menyeringit merasa bingung dengan ucapannya. ”Ah..Ne..Hehehe” hahaha aku tidak tau mau bilang apa lagi. Sebuah cengiran bagiku itu sudah sangat cukup.

Kami kembali serius! Aku serius mengamati soal-soal sulit yang di ajarkan Minho. Dia benar-benar hebat ya…Soal yang tidak bisa dikerjakan oleh semua murid di kelas ini dapat ia kerjakan dengan cepat. Aku salut dengannya. Tidak ada kesulitan di soal manapun baginya..Sepertinya soal-soal ini bagaikan mengisi ujian di Sekolah Dasar olehnya. Sedangkan aku? Satu soal aja udah bikin tepar, angkat tangan lalu mengibar bendera warna putih. Hahaha.

“Jadi…Untuk soal yang nomor 2, sebenarnya gampang. Ini kan cuma lingkaran, kau hanya perlu menghitung berapa besar sudut-sudut yang di bentuk oleh garis singgungnya. Cari nilai X nya lalu gunakan rumus ini lalu kau dapat bla bla bla ” Jinjja! Ini soal bikin kepalaku mau meledak! Dari pada dengar ocehan Minho, mending diam –diam aku menutup mataku dan tidur. Entah aku akan ketahuan tidur olehnya karna jarak kepalaku sangat dekat dengannya. Ah biarin! Yang penting tidur.

”Nah..Kau sudah tahu hasilnya kan?”

”Hye Ra? Park Hye Ra..?” aku tahu Minho sedang memanggilku. Hahaha biarin aja…Lagian aku ingin melihatnya marah sekarang . kekeke

”Hye Ra-ssi…Kau harus bangun atau aku akan….”

”Akan apa?” gumamku malas masih dengan mata yang tertutup.

Cup!

Aku merasa darahku berhenti mengalir. Pipi bagian kananku tiba-tiba merasakan ada yang lembut yang barusan menempel di sana. Sontak aku membuka mataku. APA YANG DILAKUKANNYA!!! Minho menciumku?? LAGI? Aku refleks terbangun dan menyentuh pipiku yang dikecup olehnya. Jantungku…Omo! Ani! Tidak boleh Hye Ra! Ini di sekolah..Anggap saja manusia mesum itu tidak melakukan apa-apa.

”Tidak marah?” aku meliriknya dengan wajah memerah. Marah? Entah..Malu campur marah..Itulah rasanya. ” Benar kau tidak marah?” tanya Minho lagi. Aku menghela nafas…Ingin sekali aku menamparnya -_-. Tapi ini cuma karna di sekolah aku tidak ingin membuat masalah dengannya. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan  pura-pura sibuk mengerjakan soal. ”Tapi….Soal kemarin malam itu, aku marah” ujarku tiba-tiba. Sudah kutebak Minho langsung memiringkan kepalanya dan menatapku. Aku menunggu penjelasan yang akan ia ucapkan, tapi Minho masih terdiam. Malas menunggu lama akupun menoleh kearahnya.

”Kau gila? Kenapa tersenyum seperti itu?” tukasku sinis. Minho menggelengkan kepalanya dan masih tersenyum. Ah…Dia itu benar-benar. ”Ya! Aku senang dengan sikap sinis mu itu. Sangat menggemaskan!”

”Ya! Apa yang kau lakukan!” aku hampir terkejut karna Minho mencubit pipi kananku. Aku langsung menepis tangannya dan memasang tampang angkuh.

”Sudahlah! Aku tidak ingin bicara denganmu!” aku mengambil buku ku tadi dan bekerja sendiri. Tak peduli seberapa kali namja itu menatapku, membuatku tidak nyaman. Gwenchana…Yang penting aku tidak usah mempedulikannya.

***

”Kenapa kalian kemari?” Minho melipat tangannya di depan dada. Ia berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata amat sangat tergangggu. ”Ya…Perlakukan sahabatmu dengan baik. Kami tamu, jadi tamu itu adalah raja! Iya kan Taem?” . ”Ne hyung!”

”Ck! Jonghyun hyung…Selain pintar menggoda wanita kau juga pintar mencari alasan ya?” decak Minho seraya mendekat kearah kedua sahabatnya. Minho duduk di kursi belajar sedangkan Jonghyun duduk di atas meja dengan tangannya yang asik memainkan ponsel.

”Ya! Minho-ya! Sejak kapan kau memelihara seekor kucing?” tanya Jonghyun tiba-tiba karna barusan dilihatnya seekor kucing yang muncul di dekat kakinya. Minho menengok kucing itu dan menjawab ”Sejak kemarin, aku yang membelinya”. ”Tumben…Aku baru tau kalau kau juga peminat kucing” ujar Jonghyun sembari mengusap kepala si kucing itu. Kucing itu di letakkan Minho di kamarnya, tepat di dalam kardus kecil yang dijadikan tempat tidurnya.

”Aku membelinya karna Hye Ra menyukainya”

”Oh….Sepertinya kau mulai perhatian padanya. Ya! Kau menyukainya kan?” goda Jonghyun dengan kedipan di matanya. Sontak Minho menggelengkan kepalanya dan tidak mengubris pertanyaan Jonghyun. ”Ne..Arrayo Choi Minho. Dirimu itu sangat tertutup. Tapi ketahuilah aku tau semua yang kau sembunyikan!”

”Termasuk perasaanku?” tanya Minho kemudian… Jonghyun mengangguk kemudian beralih ke ponselnya kembali. Mendengar pembicaraan hyungnya yang mengenai yeoja. tiba-tiba saja Taemin yang masih terdiam teringat sesuatu yang ingin ditanyainya

”Minho hyung…Kapan pernikahanmu dengan Hye Ra noona?” pertanyaan Taemin sontak membuat Minho mumutar kursi rodanya. Ia menatap Taemin sejenak sambil memikirkannya ”Sekitar….5 hari lagi, wae?”. ”Mwo? Cepat sekali! Bukannya minggu depan?”. Minho menggeleng dan menampakkan wajah muramnya. ”Bahkan Jonghyun hyung yang mempunyai banyak pacar tidak menikah dini sepertimu hyung. Aku heran kenapa orangtuamu sangat keras kepala seperti itu” ujar Taemin mulai serius. Sedangkan Jonghyun yang disebutkan namanya tadi tidak bergeming dan masih sibuk mengetik lewat ponselnya itu sambil senyum-senyum.

”Entahlah Taem..Tapi aku tidak bisa membantah mereka”

”Aku tahu itu hyung, tapi yang jadi masalahnya aku takut Hye Ra noona tertekan dan terbebani. Dia masih seorang yeoja polos yang tidak tahu apa-apa. Jika terjadi sesuatu di masa mudanya seperti pernikahan ini. Aku tidak yakin yeoja semuda Hye Ra bisa mengatasinya.” Taemin benar. Hye Ra lah yang menjadi masalah besarnya. Hye Ra pasti tak mau tertekan dengan pernikahan ini. Tapi mau bagaimana lagi…

”Lalu…Apa hyung sudah yakin Hye Ra mulai menyukai mu hyung?” Minho menatap Taemin sejenak. Ia tampak berpikir dan berkata ”Molla”. ”Ah…Payah hyung! Tapi hyung sudah pernah memberi perhatian lebih pada Hye Ra noona? bisa jugakan kalau memberi perhatian yang lebih membuat Hye Ra noona menyukai mu hyung” oceh Taemin yang dari tadi gak mau berhenti. ”Aku tidak peduli jika ia menyukaiku atau tidak. Yang penting saat ini bagaimana aku bisa menikah dan segera mempunyai anak”

”MWO!?” Taemin memekik saking terkejutnya. Malahan Jonghyun yang asik kirim SMS tadi hampir membuang ponselnya sambil menganga. ”Ya! Respon kalian sangat berlebihan!. ”Berlebihan? Wajar itu! Punya anak? Aigoo…Choi Minho! Umurmu masih 18 tahun dan kau ingin memiliki anak? Omo..Aku tak menyangka rupanya ada hal itu yang tersimpan di otakmu..ckckck” Jonghyun menggelengkan kepalanya frustasi. Lalu ia masih sempat mengetik lagi kemudian geleng-geleng lagi.

”Lagian, ini bukan mauku juga. Eomma yang menyuruhku untuk segera membuat keturunan agar perusahaan Appa ada yang memegang saham barunya” tukas Minho menjelaskan. ” Ya! Kalian dengar aku tidak?!!”

”Yess!! Dia mau! Dia mau!”

”Jonghyun hyung? Siapa yang mau?” tanya Minho yang emosinya perlahan menyusut.

”Hhahaha aniyo! Tapi dia mau Minho-yaa!!! Yes! Kau tunggu saja di sini, ne?” Jonghyun turun dari meja dan jingkrak-jingkrak gak jelas. Tak mau peduli, Minho dan Taemin langsung meninggalkan Jonghyun yang asik kirim pesan dengan yeoja atau siapalah itu. Mereka turun kebawah dan memilih untuk bermain Play Station bersama. Hingga mereka telah banyak menghabiskan waktu hanya untuk bermain, tiba-tiba saja Jonghyun muncul lalu duduk di samping mereka.

”Jahat! Kenapa kalian meninggalkanku?” Ujar Jonghyun masih dengan tangan di ponselnya. ”Abis hyung asik dengan ponselmu sendiri!” tukas Taemin seraya memainkan stick PS. ”Hey! Sebentar lagi bakal ada tamu! Kalian harus siap-siap ya..”

”Tamu? Siapa?” tanya Minho masih berkutat dengan layar TV yang menampilkan permainan ’Winning Eleven’ yang dimainkannya.

”Lihat saja..”

Ting Tong!

”Ah itu dia! Biar aku yang membuka pintu!” seru Jonghyun bersemangat dan lari menuju pintu. Ia mengintip sedikit dari celah pintu , lalu setelah ia yakin siapa yang datang ia membukakan pintu dengan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

”Ah.Akhirnya kau datang juga. Silahkan masuk”

”Ne? Ya! Jonghyun-ssi! Mana vouchernya?”

”Aish! Masuk dulu! Nanti akan ku kasih , ne?” ajak Jonghyun  seraya mendorong bahu seorang tamu itu masuk ke ruang tengah. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, ia memakai dress bewarna pink soft selutut dengan cardigan yang menutupi setengah badannya. Ia juga menyandang tas kecil bewarna putih dengan tali tas yang panjang, lalu wajahnya yang diriasi make-up tipis yang terlihat lebih natural.

“Ya! Minho-ya! Sekarang kau tahu aku membawa siapa?” seru Jonghyun cukup keras hingga Minho dan Taemin berbalik. ”Annyeong haseyo…”

”A-annyeong..Kenapa kau disini?”

***

”Lihat mereka..Ck! Kaku sekali! Padahal aku yakin mereka hanya malu-malu!”

”Biasalah hyung…Minho hyung memang seperti itu”

”Yah aku tau itu, tapi kuberharap rencana ku kali ini tidak akan gagal” Jonghyun dan Taemin mengintip kedua manusia yang tengah diselimuti oleh kesunyian. Jonghyun dan Taemin bersembunyi di balik pintu yang mengantarkan mereka di taman belakang rumah milik Minho. ”Ayolah  hyung! Kita pergi saja!” ajak Taemin karna udah bosan. Jonghyun mengangguk, kemudian meninggalkan kedua orang itu.

Di samping itu, di dalam suasana yang sejuk dan damai. Taman hijau yang diisi oleh tanaman indah seperti puluhan macam bunga, pohon yang besar dan sebuah pondok kayu kecil yang terdapat di tengah taman. Ada juga jembatan kecil yang dibawahnya terdapat kolam ikan dengan air mancur. Lalu ada jenjang jenjang batu yang mengantarkan ke bagian pintu belakang rumah.

Kini taman yang lumayan luas itu di huni oleh sepasang insan yang membisu tak mau angkat bicara. Mereka berdiri saling berjarak di tepi jembatan kecil . Hanya deras air dari air mancur itu yang terdengar. Kehadiran seorang gadis di dalam suasana ini makin membuat hawa gugup bagi Minho.

”Ada urusan apa kemari?” tanya Minho berusaha mengakhiri kesunyian.

”Jonghyun, dia yang mengajakku ke sini”

”Ne? Bagaimana bisa?”

”Tadi dia mengirimku pesan, katanya jika aku kemari dia akan memberikan voucher belanja yang ia dapatkan dari yeojachingunya.”

”Jadi karna hal itu kau langsung ingin kemari?” Minho melirik gadis yang disampingnya itu. Salah satu alis matanya naik lalu menatap gadis itu intens.

”Bukan begitu..Aku sempat menolak. Tapi ia berjanji akan memberikan 10 voucher…Kebetulan kartu kreditku di sita eomma, padahal aku butuh membeli sesuatu. Yah…Ini cuma terpaksa.” gadis itu memainkan kukunya sembari menundukkan kepalanya dalam. Ia jadi malu hanya karna hal ini mampir ke rumah orang dan pasti menganggu Minho.

”Jadi tujuanmu bukan untuk bertemu denganku?” gadis itu menggeleng pelan. Minho mendesah..Ia sempat senang melihat Hye Ra yang tiba-tiba saja muncul di rumahnya. Ia sangka gadis itu ingin bertemu dengannya atau cuma untuk belajar bersama.

”Ah..Sepertinya aku harus mencari Jonghyun dulu. Annyeong” Hye Ra membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. ” Semudah itu tamu yang tidak sopan pergi?” Hye Ra menghentikan langkahnya. Ia memutar kepalanya memasang wajah polosnya. ”wae?” . ”Kau mau pergi begitu saja?” ulang Minho.

”Ani..Aku cuma ingin mencari Jonghyun.”

”Di sini hanya ada aku dan kau. Jonghyun dan Taemin sudah pulang duluan” ujar Minho merasa dirinya menang. Hye Ra membulatkan kedua matanya. Ia berlari kecil menuju kearah Minho. “Jinjja? Mereka meninggalkan kita?” tanya Hye Ra panik. Minho menganggukkan kepalanya. JEDERR! Hye Ra memukul kepalanya. Ia merutuki kebodohannya karna telah di tipu oleh Jonghyun! Pantasan ia merasa curiga, karna Jonghyun sebelumnya tidak pernah menghubunginya. Dan sekarang ia menjadi korban penipuan!

“Jangan berlebihan…Main saja disini, mumpung taman ini sangat luas kau bisa berkeliling atau sekedar menikmati langit sore” dengan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam saku Minho memutar tubuhnya dan berjalan mendahului Hye Ra. Otomatis Hye Ra mengikutinya dan menikmati berbagai macam tanaman indah yang membuat Hye Ra berdecak kagum.

“Waah…Apa semua bunga-bunga ini milikmu? Daebak! Mereka semua sangat indah!” puji Hye Ra dengan mata yang berbinar. ”Tentu! Dan sebentar lagi taman ini juga akan jadi milikmu” Minho mengamati sebatang bunga mawar putih. Diam –diam ia memetik sebatang bunga mawar itu lalu ia menyembunyikannya di balik punggungnya.

”Ne? Taman ini jadi milikku?” heran Hye Ra mencoba mendekat setelah dilihatnya Minho membalik dan menatapnya. ”Bukannya kau akan menjadi istriku? Tentu saja semua ini akan menjadi milikmu” Hye Ra melotot. Bahkan ia hampir lupa statusnya sebagai apa. Calon istri Choi Minho!

”Tapi..Aku belum sependapat dengan pernikahan ini. Bagaimana aku bisa menjadi bagian dari keluarga ini?” ucap Hye Ra tidak terima. ”Apa kau tidak bisa memilih gadis lain selain aku? Ini terlalu cepat. Bahkan aku tidak mencintaimu, bagaimana aku bisa hidup bersamamu?” Hye Ra melanjutkan.  Seketika suasana jadi hening. Hye Ra menggenggam tali tasnya kuat. Takut ia salah bicara dan menimbulkan masalah. Tapi bukan hal negatif itu yang datang, malah sekarang ia merenggangkan genggamannya dan mengerjap seketika.

”Aku tahu kau tidak mencintaiku. Tapi jika kita mencobanya, hal negatif yang dipikiranmu itu belum tentu akan terjadikan?” dengan tangan kirinya, Minho mencengkram bahu Hye Ra. Namja itu mendekatkan kepalanya dan menatap Hye Ra dalam hingga gadis itu tidak bisa berkedip. ”Tapi…itu..”

”Ssst! Arrayo~ Mianhae…Tapi bisakah kau membiarkanku menjadi pendampin hidupmu? Akan kupastikan sesuatu yang kau takutkan tak akan terjadi jika kita bersama. Percayalah padaku…Jebal” Minho mengeluarkan setangkai mawar putih putih tadi di balik punggungnya. Dengan senyum percaya dirinya ia menyerahkan bunga itu kehadapan Hye Ra.

”Terimalah jika kau mau menjadi istriku” ujar Minho yang kini berlutut di hadapan Hye Ra. Tangan kanannya terangkat keatas dengan setangkai bunga itu. Ia menatap wajah cantik Hye Ra dari bawah. Angin sepoi – sepoi yang lewat membuat helaian rambut Hye Ra berterbangan dan menjadikan dirinya makin mempesona. Minho tak ragu lagi. Ia tak akan ragu memilih Hye Ra sebagai pendamping hidupnya karna Minho telah yakin dengan perasaan yang ia teguhkan itu. Mungkin semua ini tak direncakan oleh Minho. Berlutut, dan memberi bunga, itu tidak direncakan tapi hati Minho yang memerintah dan menyalurkannya ke dalam otak. Semua ini muncul begitu saja di kepala Minho.

”Otte? Kau tak membiarkan aku berlama-lama seperti ini kan?”

Hye Ra menggigit bibirnya. Peristiwa ini, mengingatkannya pada peristiwa yang pernah ia alami. Hampir sama tapi hanya saja orangnya yang berbeda. Dulu yang berlutut seperti ini adalah Jinki dan sekarang adalah Minho. Tak disengaja Hye Ra teringat kedalam suasana beberapa hari silam itu. Di saat dirinya dihimpun oleh kebimbangan dan ketakutannya untuk mengambil keputusan. Akalnya yang terus melayang, dan memikirkan hal apa yang akan terjadi jika ia membalas ini. Tapi ia tak seharusnya mengingat yang berlalu lagi, ia harus berpikir lurus kedapan bukan mundur. Hye Ra menyempatkan untuk melirik tangan kirinya. Ia melirik jari manisnya masih terpasangkan sebuah cincin yang di pasangkan Minho dari pertunangan beberapa waktu yang lalu. Ia tak tahu, kenapa sampai sekarang ia masih memakai cincin itu. Apa itu artinya?.

”Minho-ssi…Mianhae” Hye Ra tak yakin dengan keputusannya, tapi ia harus mengatakannya!. ”Ne?”. ”Mianhae…Jika aku menolakmu….Apa yang akan kau lakukan?” Minho di buat shock tapi ia berusaha menutupi rasa kecewanya.

”Aku akan terus mengejarmu. Wae?”

”Ani…Tapi jika aku menerimamu, apa yang akan kau lakukan?” Minho menyipitkan matanya. Lalu menjawab ” Aku akan membahagiakanmu, membahagiakan anak dan keluarga kita” jawab Minho yakin dan percaya diri. Tak disangka seulas senyum manis terlukis di bibir Hye Ra. Ia berusaha menahan tawa karna mendengar ucapan Minho barusan.

”Arraseo..Aku menerima mu!”

”Mwo?” Minho membelalakkan kedua matanya. Dadanya seperti ada pesta kembang api yang berkoar-koar dengan letusan disana disini. ”A-a..apa yang kau bilang?” Hye Ra kembali tersenyum lalu merebut mawar tadi dari tangan Minho. Ia mendekatkan hidungnya dan mencium aroma mawar yang harum.

”Ya…Park Hye Ra..Kk..kau ss..se..rrius dengan ucapan mu tadi?”tanya Minho terbata-bata.

”Tidak! Yah jelas iya babo!”

”Jeongmal? Gomawo!” sedetik kemudian Minho bangkit dan langsung memeluk Hye Ra dengan erat. Ia bahkan mengangkat tubuh Hye Ra dan memutar-mutar tubuh itu saking senangnya. ”Gomawo! Jeongmal gomawo!”

”Ya! Turunkan aku!” Hye Ra memukul punggung Minho karna pusing di putar-putar (?) . Minho akhirnya menurunkan  Hye Ra. Mereka saling berhadapan dan dengan tatapan yang saling menyatu. Sepertinya Minho terlanjur senang hingga ia tak bisa menyembunyikan senyumnya.

”Sepertinya kau sangat senang” Hye Ra menatap tajam Minho. Tak sedikitpun rasa senang yang terlukis di wajahnya. Tapi jujur saja, pertama kalinya bagi Hye Ra melihat wajah bahagia dari Minho. Apa dia benar-benar bahagia?

”Jangan salah paham dulu…Aku senang bukan karna itu. Aku dapat mengabulkan permintaan kedua orangtuaku, itulah yang membuatku senang”

”Jinjja?”

”Ne!” jawab Minho mantap. Hye Ra mendesah kemudian menatap jam tangannya. Rupanya waktu telah menunjukkan pukul 6 sore. Sebaiknya aku harus pulang batin Hye Ra berkata.

”Minho-ssi, aku rasa ini sudah kemalaman aku tidak mau membuat eomma cemas. Aku pulang dulu,ne?”

”Perlu ku antar?”

”Tidak usah, aku bisa naik bis nanti” tolak Hye Ra.

”Aku tidak menjamin keselamatanmu jika kau pulang dengan bis, pulang lah denganku, ne?” Hye Ra memutar bola matanya lalu mengangguk pelan. Minho menyunggingkan senyum tipis lalu menggendeng Hye Ra keluar dari rumahnya.

***

            Minho mengantarkan Hye Ra dengan Ferrarinya. Sebelumnya Hye Ra melarang Minho agar tidak menyetir sendiri,karna yang Hye Ra tahu yang menyetir itu kerjanya Kim Ahjussi, tapi Minho tetap ngotot dan mau ngantarin Hye Ra. Mau tak mau yeoja itu nurut aja.

Sementara itu di perjalanan, hanya suara mesin yang terdengar. Minho maupun Hye Ra hanya membungkam-sepertinya itu adalah kebiasaan mereka.

”Minho-ssi!” panggil Hye Ra tiba-tiba. Lantas Minho menoleh sebentar dan bertanya “wae?”. “Apa sebelumnya kau pernah jatuh cinta?” DEG! Bodohnya Hye Ra! Hal sekonyol ini yang ia tanyakan ke Minho? Dan jangan harap Minho akan salah pahnm mengenai ini.

“Hmm..Molla. Aku tidak tahu jatuh cinta itu apa. Kamu sendiri?” Hye Ra menerawang dan memikirkan pertanyaan Minho. ”Aku rasa belum. Tapi aku pernah menyukai seseorang. Lee Jinki. Kau masih ingat?”

”Kau masih menyukainya?”

”Molla, akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengannya” Minho melihat wajah suram Hye Ra.  Sontak Minho mendesah dan tiba-tiba saja rahangnya mengeras.

”Lupakan dia! Lupakan Lee Jinki!”

”Ne?”

”Tidak baik kau masih menyimpan perasaan padanya sedangkan beberapa hari lagi kita akan menikah. Kau bisa melupakannya kan?”

”Kenapa kau bicara seperti itu? Kau seperti ingin mengatur hidupku saja!” bentak Hye Ra tak terima. Bibirnya mencibir kesal karna ucapan Minho menyinggungnya. ”Aku tidak mengaturmu, tapi hanya menasehatimu.”

”Itu sama saja!”

”Baiklah..Lupakan. Sekarang bagaimana nilai Matematika mu?” tanya Minho menyimpang pembicaraan. ”Bukan urusanmu!”

”Ya! Park Hye Ra!”

”Apa! Kau marah?”

”Aish! Kau ini!”

”Mwo? Kau kesal? Mau turunkan aku disini? Silahkan!” seru Hye Ra emosi menatap Minho sinis.

SREEET!

Minho menepikan mobilnya dengan cepat. Ia menamcap rem dengan tiba-tiba hingga mobilnya terseret maju kedepan membuat kepala Hye Ra hampir terbentur kedepan tapi untung saja Hye Ra masih menggunakan sabuk pengaman jadi hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi.

”Kau hampir membunuhku!” desis Hye Ra kesal seraya memperbaiki rambutnya yang berantakkan. ”Mau turun?” ujar Minho mendadak dingin. ”Kau minta turunkan? Ayo turun!” Hye Ra menyeringit bingung. Dilihatnya ekspresi wajah Minho yang penuh dengan emosi. Hye Ra berdecak dan menghembus nafasnya berat.

”Serius?”

”Terserah, jika kau mau”

”Kau..menganggap ucapanku tadi serius?” Minho masih terdiam.

”Kau ingin mengusirku?” tanya Hye Ra berkecil hati.

“Ani”

“Lalu? Kenapa kau jadi begini? Marah? Marah karna aku membentakmu? Lalu kenapa kau memintaku jadi istrimu jika kau membenciku!!!” amuk Hye Ra dengan deruan nafasnya yang mengebu. ”Aku tidak membencimu Hye Ra…”

”Kau selalu begini! Kau menganggap semuanya serius kemudian marah begitu saja padaku!”

”Aku tidak marah….Hye Ra tapi-”

”Cukup! Jika kau membenciku! Aku akan membatalkan pernikahan ini!” bentak Hye Ra sangat keras seraya membuka pintu mobil. Minho sempat mencegah yeoja itu pergi tapi  Hye Ra masih bersi keras. Ia menyandeng tasnya lalu pergi dengan menutup kasar pintu mobil.

”Hye Ra! Hye Ra! Tunggu!” teriak Minho. Tapi sahutan itu tidak digubris Hye Ra. Minho membuka pintu lalu berlari mengejar Hye Ra yang telah duluan pergi. Beberapa kendaraan berlalu lalang dengan kecepatan tinggi sepanjang jalan tol. Minho sangat cemas, karna Hye Ra berjalan tidak di trotoar karna memang disini tidak ada trotoar. Gadis itu berjalan cepat dengan sesekali menaikkan tas silangnya keatas bahunya.

”Hye Ra! Chankaman!” Hye Ra sempat menoleh, lalu kembali maju kedepan dan terus berjalan. Dan tanpa ia sadari ada sebuah truk besar yang berkecepatan tinggi yang akan melandanya. Sontak Minho melihat truk itu, Minho mempercepat larinya sebelum truk itu menabrak Hye Ra.

”Hye Ra!AWAS!” teriaknya panik dan berusaha menjangkau tubuh Hye Ra.

TIIT!TIIIIITTTT!!!”

GREP! Dengan cepat Minho memutar tubuh Hye Ra dan langsung menyeret Hye Ra kedalam dekapannya.

“Hahh…hhh…Haaah!”

“Pabo! Apa yang kau lakukan?” deruan nafas yang sesak membuat Minho sulit bernafas. Jantungnya berdetak sangat kencang. Tapi untunglah, tubuh itu dapat ia dekap sebelum maut akan menimpa gadisnya. Sekali lagi sesak mempersulitkan Minho. Ia tak henti memeluk erat yeoja ceroboh yang membuatnya cemas itu. Tak ingin lepas, Minho memeluk Hye Ra sangat erat.

“Minho-ssi…”lirih Hye Ra mirip seperti isakan. Minho mengerti lalu mengelus punggung Hye Ra. “Tenanglah…Ada aku disini..Kau selamat. Tenanglah,ne?” Minho merasakan tubuh Hye Ra mulai bergetar karna gadis itu menangis ketakutan. Isakan itu makin mengeras hingga Minho engkang melepaskannya. Dan di saat waktu yang tepat Minho menatap Hye Ra lalu menghapus air matanya.

”Makanya jangan ceroboh. Kau tahu betapa cemasnya aku? Jika truk itu menabrakmu aku tak yakin tubuhmu masih utuh”

”Ne…hiks..hiks…Mianhae..” Hye Ra menyambar Minho dengan pelukannya. Ia memeluk namja itu menghilangkan rasa takutnya yang amat sangat dalam. Tangisnya masih terdengar malah makin keras. ”Sudahlah, ini semua bukan kesalahanmu….”

”Tapi aku…hiks..hiks..ini karna aku yang bodoh!Mianhae…Mianhae.Aku sangat kerasa kepala dan ceroboh. Mianhae..Karna membentakmu” Minho tak tahan melihat Hye Ra yang terus meraung ketakutan seperti ini. Dirinya lemah melihat gadis yang dicintainya menangis. Minho mengangkat kepala Hye Ra lalu kembali mengusap air mata gadis itu dengan ibu jarinya. Kedua tangan Minho sempat menyentuh wajah Hye Ra yang memerah. Perlahan namun pasti Minho mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Hye Ra hingga gadis itu berhenti menangis. Minho memejamkan matanya merasakan perasaanya yang selalu mengebu saat mencium Hye Ra. Hye Ra ikut menutup matanya yang mulai kering, ia tidak menolak maupun membalas. Ia hanya diam membiarkan Minho memainkan bibirnya.

Hingga mereka terhayutkan oleh suasana matahari terbenam karna waktu menunjukkan pukul 06.30 KST. Langit orange, hembusan angin khas senja dan kendaraan yang berlalu lalang tak membuat mereka berhenti. Mungkin tempatnya tidak baik untuk melakukan adegan ini, tapi ini bukan dari nafsu namun bentuk kasih sayang yang disampaikan melalu ciuman yang membuat siapa saja merasakan debaran jantung yang kencang.

***

5 Hari Kemudian ^o^

”Ya! Hye Ra-ah! Palliwa! Kami sudah lama menunggumu!”

”Ne…Sebentar lagi!”

”Aish! Ya! Taemin! Coba kau periksa Hye Ra, apakah dia benar-benar di dalam atau tidak”

”Tapi..”

”Ayolah Taem..” Taemin menghela nafas berat lalu berjalan menuju ruang fitting sembari menaikkan jas hitam miliknya. ”Noona..Cepatlah! Kami tak mau lama menunggumu!” sahut Taemin dari luar. Lalu namja itu kembali ke tempatnya menunggu orang yang dipanggil itu keluar.

Kreeek!

Tirai itu terbuka, dan nampaklah sosok gadis nan rupawan yang mengenakan busana serba putih. Gaun putih yang dipakainya sangat pas di tubuhnya yang langsing. Lekuk tubuhnya terlihat indah ditambah juntaian gaun yang melebihi setumit itu membuatnya makin indah di pandang. Gaun yang tak berlengan itu memperlihatkan bahu dan punggungnya yang putih dan mulus. Rambut cokelatnya yang disengajakan menjutai sepunggung. Di puncak kepalanya juga ada mahkota kecil yang ditengahnya ada berlian yang berkilauan lalu dibalik rambutnya terdapat juntain kain yang menutupi rambut belakangnya.

            ”Wow! Sempurna!” Krystal berlari kecil dan menatap penampilan cantik itu dari atas sampai bawah. ”Noona..Kau seratus kali lipat lebih cantik dari pada biasanya” puji Taemin berlebihan. ”Memangnya biasanya aku tidak cantik?” Taemin menggeleng dan disertai senyuman manisnya.

            ”Ehm..Menurut pendapatku..Kau benar-benar daebak!” kini Jonghyun mengacungkan dua jempol, malah ia ingin sekali mengacungkan jempol kakinya -_-. ”Pilihan Minho sangat tepat ya? Aku iri dengannya” Kyuhyun yang diujung pintu sana telah berkomentar, membuat seisi ruangan meliriknya. ”Wae? Kenapa kalian menatapku seperti melihat hantu?” semuanya tertawa diikuti dengan Kyuhyun. Yah..Sedari tadi mereka hanya terdiam tapi untunglah Kyuhyun dapat mencairkan suasana.

            ”Aku tidak menyangka, mulai sekarang margaku tidak ’Park’ lagi, tapi ’Choi’ Choi Hye Ra. Apa itu terdengar aneh?” . Krystal menggeleng. ”Meskipun kau memakai marga apapun, kau itu tetap  Hye Ra. Hye Ra yang selama ini kami kenal” Hye Ra tersenyum terharu, di pelukanya sahabatnya itu dengan air mata yang mulai menetes. ”Gomawo Krystal. Aku tidak menyangka, masa mudaku berakhir sampai pernikahan ini. Aku pasti akan merindukanmu”

”Ah..Tidak boleh! Jika kau merindukanku aku juga akan merindukanmu. Sekarang kau sudah jadi milik orang. Jaga dan hargai seseorang itu selagi kau hidup bersamanya” Krystal turut terisak. Mereka berdua berpelukan sambil melepaskan segela perasaan hingga menangis bersama. ”Cukup! Cukup! Kalian membuatku ingin menangis juga!” kesal Jonghyun yang cepat-cepat menghapus air matanya. Namja cengeng itu tiba-tiba teringat sahabatnya, karna telah menjalin kehidupan baru. Ini serasa seperti mimpi, dulunya mereka hanya bersahabat sekarang kedua sahabatnya itu akan menikah dan akan meninggalkan kenangan yang cukup cengeng (?) jika di kenang.

            ”Sudah siap acara nangis-nangisnya? Sebentar lagi Hye Ra harus tiba di gereja!” suruh Kyuhyun. “Eh! Tapi….Boleh tidak aku menyumbangkan bakat terpendamku?” tanya Taemin tiba-tiba sukses bikin orang-orang keheranan. ”Bakat apa?”

”Ehmm..Begini hyung,,noona, sebenarnya aku bisa main piano. Kebetulan di gereja ada piano, apa aku boleh memainkan sebuah lagu saat resepsi nanti?” semua orang saling berpandangan lalu akhirnya mengangguk setuju.

            ”OKE! Saatnya kita berangkat! Come on!” seru Jonghyun sangat bersemangat dan diikuti oleh Kyuhyun, Taemin, Krystal dan Hye Ra di belakangnya.

***

“Appa…Aku sangat gugup”

“Appa tahu..Di momen seperti ini mana ada orang yang tidak gugup. Pandai-pandai kau sendiri bagaimana mengatasi kegugupanmu ,ne?”

“Ishh…Appa!” Hye Ra memainkan tangannya yang kedinginan. Kedinginan karna gugup tepatnya. Sedari tadi ia telah berdiri di ambang pintu gereja. Semua tamu tentu memperhatikannya dengan Ayahnya, tapi itu makin membuat Hye Ra tak percaya diri.

Hari ini..Yah hari ini. Waktu memang berjalan dengan cepat. Baru lima hari yang lalu Hye Ra bertengkar dengan Minho, hampir ditabrak truk tapi hal itu tidak terjadi karna namja menyelamatnya selalu datang untuknya. Lima hari yang lalu itu juga, Hye Ra merasakan betapa hangatnya sentuhan Minho. Di tengah jalan ia melakukan hal itu?Ck! Hye Ra merasa dirinya gila karna mengingat kejadian itu. Tetapi setelah hari itu berlalu, tak ada masalah lagi yang menyulitkannya. Semuanya berjalan lancar hingga hari pernikahannya ini yang rupanya tak bisa dibatalkan. Namun tetap saja, gugup itu tak bisa di hilangkan di benak Hye Ra

”Kamu siap?” Appa meliriknya sebentar lalu menggandeng tangan Hye Ra. Appa juga mengisyaratkan agar ia menatap lurus kedepan. Tapi Hye Ra tak bisa melakukannya. Ia tak sanggup melihat pria tinggi yang sedang menunggunya itu. Ia menelan ludahnya lalu memulai dengan satu langkah dari kaki kanannya.

Alunan musik dari piano yang dimainkan Taemin menghiasi langkah perlangkah Hye Ra. Lagu yang versi piano itu terlantun dengan sangat lembut dan menyentuh hati siapa yang mendengarnya.

Dengan tangan yang ditutupi oleh sarung tangan putih, Hye Ra mencengkram tangkai dari buclet bunga mawar putih yang di bawanya. Dan kali ini ia mengontrol sorot matanya kedepan, menatap kearah pria yang menunggunya di ujung sana. Deg deg! Jantung itu selalu berdegup kencang!

Disamping itu Hye Ra di temani oleh dua pengiring yang mengirinya berjalan. Ada Krystal yang menggunakan gaun berwarna cream dan seorang gadis kecil yang menemani Krystal dengan gaun selututnya. Tak sesekali tamu istimewa yang diundang itu – sebut saja Kyuhyun, Jonghyun dan Taemin tak mengurung senyum bahagianya di saat menunggu hari special bagi sahabat dan keluarganya. Hari ini mungkin hari yang sangat penting, hanya sahabat dan para keluarga saja yang diundang. Para wartawan – yang biasanya ingin tahu seluk beluk kisah cinta dari penerus perusahaan besar di Korea itu tidak di perbolehkan masuk bahkan mereka tidak mengetahui pernikahan ini. Semuanya tersimpan menjadi rahasia.

Hye Ra.. Kau pasti bisa! Sedikit lagi…Sedikit lagi…..

Hye Ra menyemangati dirinya sendiri. Sangat tegang memang, menjalankan resepsi yang mungkin ia lakukan sekali dalam seumur hidupnya itu. Meskipun ia tak tahu bagaimana kehidupannya setelah pernikahan ini, tapi ketika ia melangkah di tengah karpet merah di gereja ini berhasil membuatnya takut. Cemas..Bagaimana kehidupannya nanti setelah ia berhasil melangkah sampai ke pengujung. Ani! Tidak boleh! Ia tidak boleh memikirkan hal yang negatif dulu. Yang penting lakukan resepsi ini dengan lancar baru semuanya akan dipikirkan.

            Hye Ra menyempatkan untuk melirik Taemin yang fokus memainkan piano. Kini bagian reff dari lagu yang di mainkan Taemin itu berlantun indah. Melangkah dan melangkah. Sampai kapan Hye Ra melangkah, merasa kakinya sangat berat dan perjalanan ini terasa jauh oleh kaki Hye Ra. Hye Ra merundukkan kepalanya saat instingnya mengetahui jika perjalanan ini telah berakhir.  Masih dengan posisi menunduk, Hye Ra dapat melihat sepatu hitam yang berhadapan dengannya. Hye Ra menelan ludah dan mengangkat kepalanya perlahan. Tampaklah pemilik kaki jenjang itu. Tubuhnya yang tegap membuatnya terlihat gagah menggunakan tuxedo putih itu. Hye Ra mengerjap.

Finish! Batinnya berkata.

”Lakukan yang terbaik!” bisik Appa ketelinga Hye Ra setelah ia berhasil berdiri di depan pria itu. Hye Ra mengangguk kemudian Appanya meninggalkannya dan menatapnya dari kejauhan. Hye Ra meneguk ludahnya lagi.Matanya dengan malu-malu menatap wajah rupawan yang di depannya. Di lihatnya pria itu mengulurkan tangannya kehadapannya. Pria itu tersenyum, tersenyum berharap membalas sambutan tangan itu. Hye Ra mengerjap dan beberapa detik kemudian menggenggam tangan kekar itu. Pria itu mengiringnya berjalan menuju arah pendeta. Hingga akhirnya mereka saling berhadapan. Dan  tangan itu tak pernah lepas.

”Apa kedua belah pihak setuju melanjutkan resepsi pernikahan ini?” ujar Pendeta dan disambut anggukan oleh kedua orang itu. ”Baiklah,mari kita mulai” pendeta itu mengangkat buku alkitabnya yang mengarahkan kepada si pria.

”Tuan Choi Minho, apa anda bersedia dalam sehidup semati, dalam suka maupun duka, sampai kakek dan nenek menerima nona Park Hye Ra menjadi pendamping hidupmu?” Minho memiringkan kepalanya, ia melirik Hye Ra dari samping. Tampak  yeoja itu kelihatan sangat gugup, tapi itu tidak mengurangi kecantikannya. Minho tersenyum. Cantik! Iya…Minho menyadari yeoja di sampingnya itu cantik bagaikan bidadari yang jatuh dari surga. Bidadari yang masuk kedalam kehidupannya dan dalam sekejap membuatnya jatuh hati dan tergila-gila. Dan dalam beberapa kata yang akan ia ucapkan nanti, mimpinya memiliki yeoja yang dicintainya akan tercapai…

”Aku bersedia” jawab Minho mantap penuh dengan keyakinan.

”Nona Park Hye Ra, apa anda bersedia dalam sehidup semati, dalam suka maupun jduka, sampai kakek dan nenek menerima tuan Choi Minho menjadi pendamping hidupmu?”

Kini giliran Hye Ra. Yeoja itu mengangkat kepalanya dan melirik sekeliling. Ia melihat teman dan keluarganya memasang tampang berharap agar Hye Ra menjawab janji suci tadi. Hye Ra menghela nafas kemudian menatap pria tampan yang dihadapannya. Choi Minho! Siapa Minho? Teman sebangkunya? Ani! Guru privatnya? Ani! Tapi suaminya! Ingat itu SUAMI!. Yah…Memang semua ini di luar akal sehat Hye Ra. Seseorang namja yang hanya berstatus sebagai teman sebangkunya kini di takdir Tuhan untuk menjadi pendamping hidupnya. Ini belum akhir. Tapi ini baru permulaan. Hye Ra telah berfikir salah jika semua ini akhir dari kehidupannya, dan jika di pikir-pikir ini adalah awal langkah untuk menuju sebuah misi yang dulu sempat membingungkannya. Ingin mencintai seseorang. Iya. Hye Ra akan berusaha untuk mencintai Minho walaupun itu sulit baginya….

Dan akhirnya kalimat itu terucap..

”Aku….Bersedia….Aku bersedia menjadi istri Minho”

Pengucapan janji suci itu berakhir dengan tepukan tangan dari para saksi. Kini giliran sang penganten untuk melakukan adegan ’kissu’ yang biasa dilakukan sepasang suami istri baru menikah lainnya.

”Ya! Mau apa kau?” bisik Hye Ra.

”Menurutmu?” bisik Minho lagi sambil menyungingkan senyum tipisnya. Hye Ra jadi kalang kabut. Kissing? Again? . ”Ini merupakan tradisi Choi Hye Ra” ujar Minho yang beraninya memanggil dengan embel ’choi’. Hye Ra mendesah lalu melirik sekelilingnya.

”Ayo! Choi Minho!Cium!Cium!” Hye Ra melototi hyung Minho-Kyuhyun yang mengangkat tangannya memberi semangat konyol. Ayolah….Hanya ciuman biasa saja…Masa gak bisa.

”Gimana?”

”Terserah!”

”Kau tak mau membuat mereka menunggu lamakan?” lagi, Hye Ra melirik para saksi yang tak sabaran menunggu adegan mursahan itu. Arrseo.

”Oke! Lakukanlah!” Hye Ra pasrah dengan aba-aba menutup kedua matanya. Lagi, Minho melukiskan senyum kemenangannya lalu menyentuh wajah istrinya itu. Bibir merah muda itu selalu menggugah Minho, tapi kali ini ia tak takut lagi melakukan hal itu. Karna sekarang Hye Ra telah jadi miliknya.

CHU!

Sebuah kecupan manis berhasil mendarat di bibir Hye Ra. Hanya kecupan tak lebih dan tak kurang. Tapi walaupun itu hanya sebuah kecupan tetap saja debaran jantung dari kedua belah pihak berdentum seirama.

Namun…Apa ini sebuah akhir? Jika kalian menjawab iya berarti kalian salah besar. Minho menganggap segala yang menyulitkan pikirannya telah lenyap begitu saja setelah pernikahan ini. Bukan…Itu salah. Minho salah beransumsi. Tanpa di ketahuinya, seorang namja yang berambut blonde terus menatap tajam kearah Minho dan Hye Ra yang sedang berciuman. Namja putih itu sesekali mengangkat ujung bibirnya. Ia tersenyum sinis. Namja yang duduk dipojokan itu tak sesekali meremas foto yang digenggamnya sambil menatap pemandangan menyakitkan baginya itu.

”Park Hye Ra…Apakah kau melupakanku?” sahut namja itu penuh kemisteriusan. Ia kembali tersenyum lalu menyimpan foto lama yang ia pegang tadi masuk kedalam saku jas abu-abunya.

”Tunggu aku, Park Hye Ra. Ani! Choi Hye Ra! Ck!”

T.B.C

AIGOOO! PART 10!!*Tepar di tempat! Ayo tunjuk tangan siapa yang bosan dengan FF ini? Ayooo siapaaa? Asalkan kalian tahu, aku juga gak mau buat sebanyak ini tapi…Tapi aku merasa belum puas! HYAA! Gak enak kalau endingnya kayak gini! >.< BTW! Buat sampe part 10 itu capek banget lho. Belum waktu yg mulai menepis buat lanjutin FF belum lagi dg kegiatan sekolah yg bikin aku capek u.u. Mianhe..kalau ff ini di post agak lambat. Mianhaeee…. *bow

So..setelah ini kalau udah baca langsung komen ya? ^^v

Iklan

13 thoughts on “Secretly Love -Part 10

  1. Daebak.. Daebak..
    Akhirnya sekian lama mrka brantem, di part ini mrka nikah juga^^
    Penasaran sama laki2 yg ngeliatin hyera pas di ending.
    Penasaran juga sama honeymoon mrka, trs juga hyera bakal tinggal dimana nih? Rumah minho atau beli apartment?
    Penasaran juga sama kehidupan minho-hyera pas disekolah setelah mrka nikah..

    Pokoknya di tunggu bgt part selanjutnya thor^^ jangan lama2 ngepostnya^^ hehe
    Thanks^^

    • Wow..chingu kyknya seneng bgt..wahhh klu gtu aku juga seneng karna masih setua dg ff ini ckckckck
      baca part 11 nya juga ya..masih ada lanjutannya tp agak lama di publish coz laptop rusak jd yah harus nunggu lama
      :/
      Gamawo udh baca dan komen ^^

  2. min~aku penggemarmu haha sudah 3hari 2 malam *lbaynya.. -_- kerjaku hanya membaca fanfaction ini..
    pokoknya daebak deh min.. ^_~ penasaran dg part selanjutnya.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s