[FF Req] The Dark Side : 1A

The Dark Side – ananfakeester req

the-dark-side

Title : [FF Req] The Dark Side – 1 A

Author : Shin Fujita

Main cast:

  • Choi Minho [SHINee]
  • Key [SHINee]
  • Han Rheehwa [YOU]

Support cast :

  • Lee Jinki a.k.a Onew [SHINee]
  • Kim Jonghyun [SHINee]
  • Lee Taemin [SHINee]
  • Cho Renhye [OC]

Genre: Psychology, Romance

Rating : Teen

Lenght : Sequel ^^

Cover by : (  www.cafeposterart.wordpress.com )

A/N :  Hai ananfakeester~ Ini FF request kamu. Maaf lama banget publishnya karna aku sibuk UKK u.u *BOW. Sekali lagi maaf lama ya. Btw ini sequel bakal panjang, part 1 A ini baru prolog doang. Jadi masih belum ketemu konflik yang sebenarnya. Mengenai tokoh-tokohnya masih belum keliatan semuanya di part ini. Part 1 B nanti bakal ketemu konflik dan tokoh- tokoh lainnya ^^. Harap mengerti ya ~

(p. s : Jangan lupa di baca dan komen ^^)

Happy reading ^^

and don’t forget give me a your comment ^^

Thanks

¶♥Story line by Shin Fujita….♥¶

Summary : Apa kau mengetahui dua sisi berbeda dari seorang manusia? Di satu sisi ia terlihat baik dan indah, tapi cobalah kau menyentuhnya durinya yang tajam dapat melukaimu hingga kau merintih kesakitan. Kau akan menyesal menyangkanya indah, dan kau lebih menyesal pernah mencintainya. Kau yang tersakiti! Dan rasakan itu.

9 Desember 2006

Gadis mungil itu mengepal tangannya dengan kuat. Getaran di tubuhnya tak bisa ia hindari karna sekecambuk  rasa ’takut’ itu menyelimuti dirinya. Gadis itu berjongkok di sudut ruang tengah. Matanya tak kuasa melihat pemandangan yang tidak pantas untuk dilihat bagi anak seumurannya. Suara bising seperti teriakan, rintihan, tangisan, dan yang paling di takutinya adalah suara amuk kemarahan selalu di dengarnya. Bukan itu saja, pemandangan yang sadis dan menyedihkan juga menjadi makanan sehari-harinya. Seolah-olah ia tak dianggap di rumah itu hanya karna pertengkaran dahsyat yang di lakoni oleh kedua manusia yang sangat di sayanginya.

”Yeobo…Jebal jangan tinggalkan kami. Yeobo!” suara lemas itu kembali di dengar oleh gadis itu. Ia sedikit mendongak kepalanya dan melihat tubuh wanita rapuh itu yang sedang berlutut menahan kaki seorang pria yang terlihat ganas. Wanita muda itu tidak henti menangis, dan menangis untuk meluapkan kesedihan. Gadis mungil itu benci dengan pemandangan ini, tapi ia tidak bisa mengelah. Ia tidak sanggup melihat wanita yang biasa ia panggil dengan ’Eomma’ itu terus disiksa oleh pria jahat ini.

”Sudah cukup Rheehe! Aku tidak bisa! Aku ingin menjalani hidup sendiri, dengan jalanku sendiri.Untuk apa kau ingin tinggal bersama manusia kejam seperti aku ini? Eoh?” Pria yang bertubuh tinggi itu menendang kakinya sehingga mengenai perut Rheehe yang tadi berlutut di kaki pria yang ia anggap sebagai ’suami’ nya itu. Tubuh Rheehe terlempar, ia memegang perutnya menahan perih karna di tendang oleh suaminya. Tapi ia tidak peduli dengan sakit yang ia rasakan kini, ia masih bersi kukuh untuk tidak membiarkan pria yang paling ia cinta itu pergi. Tidak! Rheehe tidak mau! Ia tidak mau jika nanti buah hatinya merasa sakit itu pula jika mereka hidup tanpa ayah.

”Sekarang anak ini, akan ku bawa!” pria itu menyeret seorang bocah lelaki yang tak lain adalah hasil buah cintanya bersama Rheehe. Sontak anak itu terseret tubuhnya karna sang ’Ayah’ menyeret lengannya kasar. Bocah itu menggeleng kepalanya keras, air mata sucinya tak lupa membahasi permukaan pipinya yang mulus. Ia ingin berteriak kalau ia tidak mau, namun mulutnya terasa bungkam karna tak sanggup menyusun kosakata-kosakata apa yang harus di lontarkannya.

”Jangan! Aku tidak bisa hidup tanpa kau dan anak-anak kita, kumohon yeobo. Jangan pergi! Jangan bawa anak kita!!”

PLAAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rheehe. Tamparan itu bahkan membuat tubuhnya terhempaskan kebelakang saking kuatnya pukulan itu.

”Eomma…”

”Diam! Sudah lah! Apa sulitnya aku membawa anak ini? Dan kau Rheehe! Aku capek tinggal bersamamu! Urus saja sendiri putrimu itu! Jangan berharap aku akan kembali padamu, karna kita memang tidak ditakdirkan bersama. Sudahlah aku pergi!”

”Appa! Andwe! Aku tidak mau pergi! Eomma! Rheehwa!” laki-laki itu menahan tangannya yang akan diseret sang Ayah ke ambang pintu. Ia menoleh kebelakang, menatap sang Ibu dan saudara perempuannya yang tengah menangis menahan perih di hati.

”Oppa! Jangan tinggalkan kami!” gadis mungil itu berlari menahan kaki sang kakak. Air mata yang ia tahan tadi tak kuasa mengalir begitu deras.

”Oppa! Andwe! Appa! Jangan bawa oppa!! Hiks..hikss Oppaaaa!!” gadis itu berhambur keluar pintu dengan penampilan berantakkan. Ia mengejar mobil sedan yang membawa oppanya itu dan mengetok ngetok jendela mobil dengan keras. Derasan air mata itu menjadi bukti ketidak relanya untuk ditinggalkan.

”Appa! Buka pintunya! Appa! Jangan lakukan ini!APPA!!!”

”Rheehwa! Aku tidak mau pergi!” sang oppa turut menangis, ia meletakkan tangannya di permukaan kaca jendela. Air muka yang sangat menyedihkan itu membuat gadis tadi ikut menyatukan tangannya ke permukaan jendela mobil.  Mereka saling meluapkan tangisan, tangisan tidak mau terpisahkan.

”Eomma! Lakukan sesuatu! Jangan biarkan oppa pergi!” suara malang itu meraung-raung terhadap wanita rapuh yang terduduk lemas di permukaan tanah. Tangannya menjangkau-jangkau sang suami yang telah pergi bersama anak sulungnya. Gadis itu menatap wanita malang itu, dengan cepat ia menyeka air matanya lalu berlari jauh mengejar mobil sedan yang tidak lama ini berangkat.

”OPPA!!!! JANGAN PERGI!!OPPA!” gadis itu berusaha berlari, langkahan kaki kecilnya itu menjadi saksi betapa engkangnya ia ditinggalkan dengan cara kejam seperti ini. Ia tetap berlari, meskipun yang terlihat hanya bayangan sang oppa di balik kaca mobil yang sedang memukul-mukul jendela.

”OPPA!! APPA! HIKS..HIKS..JANGAN TINGGALKAN KAMI!!!” ia terduduk merasakan sesuatu yang di dalam sangat sakit, saking sakitnya ia tak mampu bernafas. Sedangkan tangisnya makin menjadi-jadi mengiring suasana hatinya yang hancur bagaikan di bom dan terhempas, pecah berkeping-keping. Iya….Mereka telah pergi entah kemana itu. Mereka pergi jauh meninggalkan dua perempuan di rumah sederhana yang dulunya penuh cinta itu. Itu dulu, sekarang…Jangan disebutkan lagi, tak ada kata ’cinta’ yang bisa kita lihat dari kejadian tadi. Semuanya penuh dengan rasa amuk amarah, kesal, kecewa, sedih, hancur, semuanya menjadi satu hingga ribuan tetes air mata itu selalu turun yang menjadi rutinitas mereka.

Pagi itu, entahlah sekarang bisa di bilang pagi atau apa, yang jelas langit sangat gelap seperti malam hari. Hamparan angin kencang nan dingin itu bagaikan melayang layang berlawanan arah bertandakan cuaca sekarang sangatlah buruk.. Meskipun kondisi cuaca sangat tidak memungkinkan, itu tidak membuat wanita rapuh itu mengelak keinginannya sekarang. Ia mau pergi, pergi ke tempat yang harus ia tujui.

Namun di samping itu, sang buah hati yang tertinggal satu-satunya itu hanya tertekuk lutut di sudut ruangan. Ia bungkam, ia hanya menenggelamkan kepalanya ke lipatan tangannya dan tak bergerak sedikit pun.Tidak ada tangisan, teriakan apalagi perkelahian. Semuanya telah hanyut, berasa telah terhanyutkan oleh ombak. Orang jahat – yang sekarang di beri gelaroleh gadis itu menghilang, pergi jauh membawa sosok yang juga di ia sayangi. Jahat, kejam, tidak tau diri, tidak bertanggung jawab! Gadis itu ingin mengutuk pria yang dulunya ia panggil ‘Appa’. Ani! Dia bukanlah lagi Appanya, tapi iblis jahat yang pantas terjerumus ke nereka!.

”Cepat, bereskan barang-barangmu!” lirihan suara itu menghampiri si gadis kecil. Gadis itu tak menyahut, masih diam tenggelam dalam alamnya.

”Jika kamu tidak mau pergi, maka aku akan pergi sendiri!” karna tidak mendapat respon, Rheehe membalikkan tubuhnya. Perlahan…Ia melangkahkan kakinya untuk menjauh. Satu langkah, hingga langkah ketiga tidak ada respon dari anak bungsunya itu.

”Kamu tidak mau pergi?”

”…..”

”Kamu tidak mau menemani eomma? Eoh?”

”…..”

”YA! KENAPA KAU JADI SEPERTI INI! JAWAB EOMMA!” teriak Rheehe mulai kesal. Ia mengacak rambutnya frustasi lalu menarik lengan anaknya kasar.

”KAU HARUS PERGI! KAU MAU MATI KELAPARAN DISINI,EOH? PRIA ITU TIDAK MEMBERI KITA MAKAN LAGI! KAU HARUS MENGERTI ITU!!”. Anak itu, meski sudah di bentak tapi tetap saja bungkam dan malah menekurkan kepalanya.

”JANGAN SEPERTI INI! KAU TIDAK MAU BICARA,BERGERAK,MAKAN, MAUMU SEBENARNYA APA,EOH?” dengan kasar Rheehe menarik rambut anaknya hingga kepala gadis itu terdongak keatas. Dan lihatlah..Setalah 5 hari yang lalu, gadis itu seperti mayat hidup yang bertendar di sudut ruangan. 5 hari tanpa makan, bergerak, dan bicara. Ia persis seperti patung yang tidak bisa apa-apa. Kantong mata yang menghitam, pipi yang lesut dan cekung lalu bibirnya yang kering dan pecah-pecah. Rheehe tak kuasa melihat anak semata wayangnya berubah seperti ini. Ia tau, anaknya inilah yang paling menderita, tapi melihat gadis itu lebih menderita darinya membuat Rheehe tak tahan hingga melakukan kekerasan seperti tadi.

”Sekarang, kau tidak boleh membantah! Ikut eomma ke mobil! Palli!” Rheehe mengalihkan pandangannya, ia berbalik lalu mengeret beberapa koper yang harus di bawa kedalam mobil. Setelah ia dan anaknya masuk ke dalam mobil, sejenak Rheehee melirik anak malangnya itu. Terpancar air muka menyesal dan kesedihan yang amat sangat dalam saat menatap anaknya seperti ini.

 

Maafkan eomma..Karna eomma kau jadi seperti ini….

Didalam perjalan, kesunyian menyelimuti mereka. Tidak ada komunikasi antara Ibu dan anak itu. Sang Ibu fokus menyetir dan si anak setia membungkam sambil menyenderkan kepalanya ke jendela. Gadis itu tidak tau mau pergi kemana, ia hanya menuruti sang Ibu dan tetap terdiam.

”Kenapa kamu terus terdiam,nak?” tiba-tiba saja Rheehe bertanya. Sakit memang mengetahui anaknya sendiri berubah tidak seperti anak-anak normal lainnya.

”Kamu tidak bertanya kita akan kemana?” gadis itu tidak mengubrisnya, bergerakpun tidak. ”Kamu pasti merindukan oppamu kan? Kamu mau kita ke sana?” kini Rheehe mencoba membujuk anaknya supaya bersuara. Anak sulungnya itulah satu-satunya cara membuat gadis itu sedikit bersuara.

”Oppa…Eodiga?”

”Daegu, eomma yakin mereka kesana”

”Tapi, kenapa ke sana?” Rheehe menggerutkan keningnya, Rheehe tau anaknya itu tidak mau bertemu dengan pria jahat itu. Rheehe tau dia sangat membencinya, tapi….Anak sulungnya juga ada disana.

”Lupakan! Jika kamu tidak mau kesana, tidak apa!” entah mengapa, Rheehe mendadak kesal dan mengeraskan rahangnya. Mengingat pria kejam itu, membuat Rheehe teringatkan oleh kekejaman yang pernah dilakukan orang itu padanya.  Sakit! Tidak hanya di luar, tetapi di dalam ini lebih terluka dan menyedihkan.

Sreeet!

Karna terbawa emosi Rheehe mempercepat kecepatan mobilnya. Ia menancap gas dengan keras dan membelok belokkan stir tidak teratur.

”Eomma…Pelan-pelan”

”DIAM!” gadis itu terkejut, ia menggengam tangannya erat. Getaran itu kembali menghujur tubuhnya. Ia takut! Ia takut teriakan tadi, sama persis seperti apa yang dilakukan oleh pria jahat itu. Sedangkan Rheehe, bukannya menanggapi nasehat anaknya, dia malah menambah kecepatan hingga arah jalan mobil tak beraturan. Dengan kecepatan tinggi dan di tambah aspal licin yang terlapisi salju tebal itu membuat roda mobil berlarian sana- sini.

”Eomma!!!”

”Diam!”

”Bahaya eomma, kita bisa jatuh ke jurang!”

”Diam! Kita tidak akan jatu- AAAAARGGH!” tiba-tiba saja rem mobil tak berfungsi. Aspal licin tidak membuat mobil berhenti, malah membuat mobil itu tergeluncur dengan cepat hingga ke tepi jurang.

”EOMMA!” gadis itu memegang lengan Rheehe, gadis mungil itu… Dia menangis. Menangis ketakutan. Rheehe merasa ia melihat bayangannya sendiri ketika melihat anak bungsunya menangis seperti ini. Tak terduga, kepingan peristiwa menyakitkan itu kembali melayang di atas kepala Rheehe. Kebencian, penyesalan, kekecwaan , kemarahan semuanya barcampur menjadi satu. Rheehe tidak sanggup. Menanggung penderitaan setelah ditinggalkan oleh dua orang belahan jiwanya. Ia merasa hampa, merasa tak pernah hidup dan menyesali semuanya.

”Eomma..Jangan bilang eomma mau melakukannya.Andwe eomma!” gadis itu mengeratkan genggamannya, ia menggeleng-geleng bertandakan ia tahu apa yang akan di lakukan sang Ibu. Tapi apa yang di dapatkan gadis  itu? Sang Ibu malah mencium kening anaknya penuh dengan kasih sayang. Gadis itu bisa merasakan tumpahan cinta seorang ibu mengalir ke tubuhnya. Tapi sayangnya gadis itu tidak suka, ia tau maksud sang Ibu

”Mianhae Rheehwa. Tapi ketahuilah eomma sangat mencintaimu. Kamu juga kan?”

”…..”

”Kita harus mati…”

Gadis itu menggeleng

”Tidak ada gunanya kita hidup. Kita akhiri saja semuanya bersama-sama, ne?” senyum miris terlukis di bibir Rheehe. Gadis itu kembali menggeleng kepalanya keras saat dirasakannya badan mobil telah merangkak jatuh ke jurang

Sreet!

BRUUUUK!!!

 

”ANDWEE!EOMMA!!!”

Gadis mungil tak berdosa itu hanya dapat menutup matanya, menunggu mobil itu terjatuh ke tanah, meledak, hancur dan pastinya tak ada nyawa lagi yang bisa di selamatkan. Namun semua itu salah, mobil yang terjatuh secepat kilat ke dalam jurang itu tidak sepenuhnya hancur seperti apa yang di bayangkan gadis itu.

”Eomma…” gadis kecil tadi membuka matanya perlahan, mengecek apakah ia masih berada di bumi ini atau telah berada di dunia lain. Ia mengerjapkan mantanya, masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Mobil yang tadi di sengaja oleh sang Ibu jatuh terjerumus ke dalam jurang itu tidak hancur tapi hanya menabrak sebuah pohon besar yang rupanya bukanlah sebuah jurang dalam, hanya saja jurang dangkal yang dibawahnya adalah hutan rimba yang gelap.

”Eomma..” gadis itu kembali melirih, setelah merasa baikan, ia mencoba bergerak untuk mendekat ke arah eommanya yang entahlah…Posisinya sekarang sangat tidak memungkinkan kalau beliau masih punya nyawa didalamnnya. Badan Rheehe terjepit setir mobil dan kepalanya terbentur keras kedepan, sehingga darah segar mengalir lewat pelipisnya.

”Gwenchana..Eomma?” gadis tadi menjangkau sang  Ibu dengan tangannya, ia ingin bergerak tapi sayangnya kakinya terjepit. Kepalanya pun juga ikut terbentur hingga membekaskan luka kecil. Sekuat tenanganya ia keluarkan untuk menyelamatkan Rheehe , namun gadis itu tidak bisa. Nyeri di kaki dan kepalanya ini menghambat niatnya untuk membawa Rheehe keluar dari dalam mobil.

”Eomma, mianhae…hiks..hiks..eomma! Bangunlah!” rengek gadis itu tak kuasa menahan tangisnya. Sekencang apapun tangisannya, hal itu tidak akan membuat Sang Ibu terbangun, karna nyawanya telah di ambil oleh yang diatas. Gadis mungil itu tahu. Tidak ada harapan lagi untuk hidup. Ia sudah di tinggalkan. Appa, eomma, oppa, semuanya meninggalkannya dengan cara yang sangat tidak diinginkannya. Iya, sekarang hanya dia sebatangkara, tidak ada bayangan Appa, yang dulu di sayanginya, tidak ada lagi senyum Eomma yang selalu di sukainya, dan tidak ada lagi tawa Oppa yang dulu menghiburnya. Semuanya lenyap dalam sekejap, penderitaan beruntun ini harus di terimanya , walau nanti ia akan menempuh dunia yang sebenarnya, dunia kejam, gelap, dan penuh kebencian ini akan di tempuhnya sendiri. Iya, hanya sendiri.

Lalu bagaimana dengan kehidupannya setelah ini?  Dimana ia akan tinggal?  Sendiri? Tapi di mana? Ia tidak punya rumah, uang dan keluarga. Gadis itu bingung, saking bingungnya ia selalu terisak keras. Tapi disaat tangisan kesedihan mengiringinya, terbesit dalam fikirannya untuk keluar dari dalam mobil sebelum meledak. Dengan susah payah ia mencoba menggerakkan kakinya. Sakit jangan di tanya, ini lebih sakit dari pada tertimpa besi.

Dan dalam kesempatan terakhir ini, ia melirik eommanya yang telah menjadi mayat dengan sendu. Butiran air suci itu kembali menetes. Air mata ketidak relaan meninggalkan sang Ibu pergi, dengan kondisi tak memungkinkan. Apa anak ini kejam? Apa ia kejam meninggalkan ibunya sendiri? Iya! Bagi gadis ini sendiri, hal ini lebih kejam dari pada kekejaman yang dilakukan Appanya. Namun apa daya? Tidak ada pilihan lain selain kabur.

“Annyeong, eomma”

Gadis itu merangkak keluar, tangannya mengepal erat tanah basah yang terlapisi salju tebal. Dingin. Dinginnya itu berasa seperti membeku di kutub selatan. Namun gadis itu tidak peduli, sedingin dan sesakit apapun yang dirasakannya ia harus pergi menjauh sebelum mobil ini meledak merebut nyawanya. Langkahan kaki tengkaknya membuktikan betapa sulitnya ia berjalan. Hingga di kejauhan, gadis itu sempat menoleh kebelakang di tengah hutan rimba ini.

DUAAAAR!

Mobil yang dikendarai oleh eommnya itu meledak! Api meledak dengan sangat kuat, hingga gadis itu tidak sanggup melihat pemandangan menyedihkan itu. Baiklah, lupakan! Ia lebih baik berbalik dan melindungi dirinya sendiri di tengah hutan gelap rimba ini.

“Kemana aku harus pergi? Apa disini tidak ada orang?” risihnya dalam hati. Ia berjalan sambil menoleh ke kanan ke kiri berusaha mencari sebuah tempat yang tepat untuk di tinggalinya. Hasilnya nihil. Tidak ada sebuah rumah pun yang berdiri kokoh. Hanya ada rimba lebat dan pepohonan tua yang mengelilinginya. Gadis itu terpuruk. Ia menekurkan kepalanya dalam kesedihan. Takut juga di rasakannya, karna tidak ada satupun manusia yang berada di sekitarnya. Hingga ia berjalan tidak beberapa lama, ia menemukan sebuah tumbuhan yang…Cukup aneh jika masih hidup di musim dingin ini.

”Mawar?” gadis itu menggerutkan keningnya. Ia bingung, kenapa bisa ada sebatang bunga mawar tumbuh di hutan penuh dengan salju ini? Dan tanpa pikir panjang lagi, gadis itu memetik bunga yang menarik menurutnya itu. Iya..Karna ia tahu Ibunya juga menyukai bunga mawar, tapi tidak dengannya. Tau sebabnya? Karna bunga mawar itu mempunyai dua sisi yang berbeda. Terbukti! Setelah gadis itu terpesona akan warna merah cerah si bunga, tiba-tiba saja ia merintih kesakitan karna tangannya tertusuk duri-duri tajam sang bunga. Gadis itu mengangkat tangannya yang terkena duri itu, setetes darah dari jari telunjuknya itu mengalir keluar hingga mengenai mahkota mawar. Warna darahnya dan mawar itu sama, sama-sama merah pekat. Gadis itu tertarik. Entah kenapa, ada sesuatu yang mendorongnya untuk berjalan dan mencari lebih banyak bunga mawar lagi.

”Dapat!” ia dapat sebatang lagi! Ia memetiknya, dan tangannya tertusuk lagi.

”Dapat!”

”Dapat lagi!” dia masih memetiknya, dan terluka lagi hingga berkali-kali

”Aku punya banyak ma-.eh?” hampir 8 buah tangkai mawar yang di petiknya, dan hampir sepuluh jarinya tertusuk duri dan banyak mengeluarkan darah. Ia tidak peduli dengan tangannya itu yang merintih kesakitan karna luka duri. Kenapa? Karna baginya ada sesuatu yang menarik dari pada membahas luka ini.

”Kabin?” gadis itu mengalihkan perhatiannya ke sebuah kabin yang terbuat dari kayu itu. Apa ia harus kesana?

”Tapi, di sana banyak sekali bunga mawar!” mata gadis itu berbinar setelah dilihatnya puluhan bunga mawar yang tumbuh di perkarangan kabin . Tak di sangka, rasa sedih dan takutnya tadi hilang hanya karna melihat kumpulan mwar cantik yang mengalihkan perhatiannya. Ia berlari, berlari dengan semangat menuju kabin lapuk itu. Tidak peduli bagaimana bentuk menyeramkan dari kabin itu, ia bersi keras ingin kesana.

”Mawarnya sangat banyak! Apa aku boleh memilikinya?” gumamnya senang.  Entah gadis itu senang atau tersenyum karna apa, yang jelas sekarang ia tersenyum sangat misterius. Jika ada seorang yang melihatnya, pasti orang itu menganggap gadis itu gila dan tidak waras. Sambil memetik bunga,ia membiarkan jari-jarinya tertusuk puluhan duri. Dan darahnya pun berserakan di bagian mahkota bunga mawar. Gadis itu tertawa, ia senang. Sekarang ia tidak sendiri lagi. Ia punya kabin tua untuk di tinggal dan puluhan bunga mawar sebagai temannya untuk ia rawat dan di ajak main.

” Hahaha!Aku tidak sendirian lagi! Hahaha! ” ia menari-nari mengelilingi bunga, dengan tatapan matanya yang berbeda. Ini bukanlah dirinya yang sebenarnya. Ini bukanlah tatapannya. Tingkahnya dalam sekejap berubah drastis hanya karna bunga mawar. Bahkan ia melupakan eommanya yang mati, dan terbakar bersama mobil. Ia tidak mengingat sosok yang di sayanginya itu lagi. Karna ia menganggap mereka hanyalah sebuah figuran dalam hidupnya yang seakan akan mati lalu pergi begitu saja. Ia tidak memerlukan manusia lagi untuk sandarannya. Tidak perlu! Untuk apa kita mengharapkan orang yang pasti tidak ada buat kita? Untuk apa kita selalu menunggu padahal ia tidak pernah datang? Untuk apa kita menangis dan bersedih padahal ia tidak akan tahu kalau kita meraung hanya karna merindukannya? Tidak kan? Lalu kenapa harus seperti ini? Dunia ini sangat kejam! Kegelapannya mampu merubah sosok malaikat kecil itu menjadi hilang akal dan melampiaskan kesepiannya di sebuah hutan lebat yang sekarang menjadi tempat tinggalnya.

Kau mempunyai dua sisi yang berbeda. Terang dan Gelap. Di sisi terang kau terlihat cantik dan mempesona, dan sisi gelap kau adalah makhluk yang bisa menyakiti siapa saja yang mendekatimu. Kau sebenarnya kesepian sama seperti ku, tapi hanya saja karna duri mu itu membuat orang tidak berani mendekatimu karna dirimu berbahaya. Dan itulah aku, aku berbahaya…Setelah orang yang kucintai itu pergi. Aku akan membenci semua orang yang mendekatiku, karna mereka hanyalah figuran yang seakan mati lalu pergi begitu saja…

Aku membencinya..sangat membencinya!

The Dark Side – 1 A 

***

7 Years Later ~ 

Seorang pria tegap berseragam coklat itu melipatkan kedua tangannya diatas dada. Ia berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke pintu mobil. Dengan tangannya yang menggengam ponsel, ia berharap orang yang keras kepala itu menghubunginya.

Drrrt! Drrrt!

“Ne, yeboseyo?” pria itu menjawab panggilan yang rupanya dari orang keras kepala itu.

“…..”

“Ne..Aku sudah di tempat. Untuk apa kau menyuruhku kesini, eoh?”

”….”

”Ya! Aku tau tapi kenapa kau tidak ikut juga! Kau tau? Disini sangat menyeramkan!” keluh pria tadi sambil mengedahkan pandangan kesekitar. Ia bahkan merinding saking menakutkannya tempat ini. Entahlah kenapa ia bisa di sini yang jelas temannya yang keras kepala itu memaksanya untuk mencari bahan praktek untuk ujian akhirnya agar bisa lulus akhir tahun ini. Apa pedulinya? Yang lulus atau gak luluskan dia sendiri, tapi kenapa nyuruh-nyuruh orang untuk cari bahan ujian praktek? Dasar orang tidak mau berusaha!.

”Sudahlah! Percuma kau mengomel, aku tidak bisa mencari tanaman bodoh itu jika mulutmu itu tidak berhenti bicara!”

Bip! Pria tadi mematikan ponselnya dengan kesal. Ia menghela nafas berat dan memutar bola matanya malas. Yang harus ia lakukan sekarang adalah, mencari tumbuhan itu. Tumbuhan yang kata si – keras kepala itu sulit di cari dan sangat langka di Korea. Apa coba? Gampang! Tumbuhan itu hanya sejenis tumbuhan pasaran dan semua orang pasti sudah tau. Tapi hanya saja, tumbuhan yang pasaran itu biasanya tumbuh pada musim panas atau semi, dan sekarang musim dingin! Mana ada coba tumbuhan semacam itu tumbuh di permukaan tanah yang penuh salju seperti ini.

”Hyung! Kenapa diam? Ayo kita cari benda itu!” seruan seorang namja di samping pria berotot itu membuatnya sadar lalu berkata “ baiklah, sekarang kita mulai dari mana?” tanya si pria tadi dengan malas. “Aku rasa kita jalan lurus dulu, siapa tau tumbuhan itu ketemu” entahlah, pria tadi bingung melihat wajah yang berseri dari namja imut itu. Apa dia tidak takut berada di tempat tidak ada manusia ini? Dan akhirnya kedua namja itu melanjutkan perjalanannya di hutan rimba ini. Yah, sekarang mereka di suatu hutan di daerah entah apa itu, mereka juga tidak tau, yang jelas hutan ini perbatasan antara kota Seoul dan Daegu.

“Taem! Apa kau sudah menemukannya?”

”Jika aku menemukannya, aku pasti akan bersorak hyung!”

”Aish! Yang serius dong! Ah..Cuti begini disuruh ke hutan mencari benda yang tidak mungkin ada, anak itu benar-benar!”desisnya tidak ikhlas melakukan kegiatan membosankan ini. Cuti adalah suatu yang ditunggu-tunggunya. Karna setiap hari ia harus di tumpukkan oleh banyak tugas yang menyita waktunya ia jadi tidak sempat beristirahat hanya sekedar refreshing. Pekerjaan kantor yang menumpuk, dan dokumen kasus-kasus baru yang belum sempat ia baca. Semuanya membuatnya gila karna sibuk kerja.

”Ini karna aku seorang pria sekaligus polisi, aku tidak akan mau ketempat menyeramkan ini lagi!! Aku bersum-, ha?”

”Ada apa hyung?” Taemin yang tadi tidak sengaja mendengar dumelan hyungnya kini heran karna hyungnya itu bengong sendiri dan menghentikan aktifitas mencarinya. Taemin menjalan mendekat, ia berdiri di samping hyungnya lalu melihat apa yang dilihat hyungnya itu sehingga namja berstatus sebagai polisi itu termenung.

”Wah! Jonghyun hyung! Itu bunganya! Kita menemukannya!” seru Taemin setelah sadar apa yang dilihat di depannya. BINGO! Tumbuhan itu di temukan juga! Namun sayangnya, Jonghyun tidak mempedulikan Taemin. Ia masih dalam alamnya sendiri, entah sedang memikirkan apa pria – kurang tinggi itu melihat sesuatu yang asing baginya. ”Ayo hyung! Tunggu apalagi! Bunga yang kita cari sudah ketemu!” Taemin langsung berlari ke tempat  tumbuhan yang sedari tadi menjadi tujuannya ke hutan ini. Taemin melangkah mendekat dan berusaha memetik bunga itu. Tiba-tiba..

”Jangan Taemin! Jangan!” tangan Taemin sontak berhenti bergerak. Ia menoleh kebelakang yang rupanya ada Jonghyun di sana. Mimik mukanya sangat aneh. ”Wae?” Jonghyun menggeleng, ia mengisyaratkan ke Taemin agar jangan menyentuh bunga itu. Dan satu lagi, kornea Jonghyun sedari tadi melirik kiri kanan, seperti ada sesuatu yang terjadi. ”Apa ada binatang buas hyung?” Jonghyun kembali menggeleng, kali ini gelengannya melemah. Jonghyun menelan ludahnya, bahkan ia menghela nafas sangat berat. Tubuhnya mendadak membeku, dingin sekali. Lalu sedetik kemudian ia menggeleng lagi.

”Ayo Taemin! Kita pergi dari tempat ini! Disini berbahaya!” dengan sigap Jonghyun menyeret tangan Taemin. Air muka Jonghyun sangat panik, bahkan menitikkan keringat dingin.”Wae hyung?  Ada apa? Aku tidak mau pergi jika kau tidak mengatakan alasannya!” Jonghyun memicingkan matanya. Rasa takut itu mengental dan sekarang melengket di tubuhnya. Apa ia harus mengatakannya?

”Lihat! Di depanmu itu!”

”Ada apa? Hanya gubuk tua”

”Iya! Gubuk tua itu! Ah.. Pokoknya lupakanlah!” Jonghyun berbalik, karna ia melihat ’itu’ sekali lagi, dan ia sangat takut. ”Ada apa hyung? Ada apa dengan gubuk itu?” tanya Taemin makin penasaran. Tidak biasanya Jonghyun sepenakut seperti ini.

”Itukan hanya gubuk yang tidak di huni, apa yang harus di takuti?” lanjut Taemin, dan sekarang ia nekat membuka pintu gubuk lapuk itu.

”JANGAN TAEMIN! BERBAHAYA!!!”

”Harus ada bukti dulu, baru ini bisa disebut ’bahaya’!” dengan nyali besar dan rasa penasaran yang kental Taemin membuka pintu gubuk.

Sreeet!

”Ani!” Jonghyun melangkah cepat! Tadi itu! Ia melihat sesuatu yang berlari dengan sangat cepat! Dan hal itulah yang dilihatnnya tadi.

”Taemin! Aish! Aku tidak bertanggung jawab jika kau menangis ketakutan nanti!” dan akhirnya Jonghyun mengikuti Taemin masuk kedalam gubuk atau yang bisa disebut kabin itu. Kabin yang di perkarangannya terdapat puluhan bunga yang dibilang langka tumbuh di musim dingin seperti ini. Sementara itu Taemin memimpin masuk kedalam, matanya liar menoleh sana sini, mencari sesuatu yang menarik. Tapi tidak ada yang menarik, disini hanya ada perabot kayu yang tua , lapuk dan penuh dengan sarang laba-laba. Lantainya berdebu tebal, mungkin sampai 5 cm. Yah, tempat ini sudah bertahun-tahun tidak di huni.

”Ayolah Taem!  Tidak ada apa-apa disini! Hanya perabot tua dan..Aaargh!!”

Sreeet!

“HYUUUUNG!!”

“NE!NE! APA ITU? SIAPA YANG LEWAT TADI TAEEM????” Jonghyun menutup wajahnya saking takutnya. Taemin berbalik dan bersenyumbunyi dibalik punggung Jonghyun. Mereka menggigil, sesuatu yang lewat tadi sukses membuat darah mereka naik!.

”Arraseo…Siapa di-di…sa-sana? Apa ada  orang?” Jonghyun membuka matanya perlahan, tidak ada apapun! Yang lewat tadi juga tidak tampak. Jonghyun berbalik, mendapatkan Taemin berlindung di punggungnya. Mereka saling mengalihkan pandang.

“Apa kita harus mencari tahu?” tanya Jonghyun berbisik, dan dibalas anggukan oleh Taemin. Mereka sangat penasaran! Apa hantu atau hewan yang tadi lewat di hadapan mereka, yang jelas mereka penasaran hingga melupakan tujuan utama mereka kemari.

“Senter!”

“Ini!”

“Baiklah, karna aku seorang polisi, aku harus mengungkap hal yang mencurigakan ini!” dengan sok berani Jonghyun melangkah pertama.  Ia memimpin untuk masuk lebih dalam dari kabin ini. Dan sekarang mereka berada di tempat yang lebih gelap dari pada hutan, tidak ada cahaya secuilpun kecuali senter mereka. Jonghyunpun mengarahkan senternya ke kiri, dan melihat sebuah dinding yang penuh dengan coretan coretan. Coretan ini..entah pewarnanya berasal dari mana, crayon kah? Tapi kenapa semuanya merah?

”Hyung! Hyung! Tadi aku melihat yang aneh di sana!” Taemin menyadarkan hayalan Jonghyun. Namja itu menunjuk nunjuk sebuah lorong kecil. Jonghyun dan Taemin pun berjalan menuju kesana. Dan ternyata, ini adalah sebuah dapur tua. Semuanya berantakan, tidak ada benda yang utuh disini. Lalu, ketika Jonghyun menyenter seluruh penjuri ia lagi-lagi melihat.

Hsssshhh!

”YA! SIAPA DISANA!”

”Hssh….Hssshhhhh…” Jonghyun menelan liurnya. Yang tadi! Makhluk tadi barusan berlari kilat di bawah meja. Strukturnya panjang dan ia berlari dengan merangkak.

”Hhsssshh…Hssshh..” desahan makhluk itu makin membuat Jonghyun dan Taemin merinding. Apa itu ular? Tapi kenapa sangat besar?.

”Hyung, dia…dia berdiri di atas kulkas hyung! senter dia” Jonghyun menatap Taemin dengan tatapan – kenapa – aku ? Dan Taemin ikut membalas karna- kau- lebih-tua-hyung!.

”Taem, aku tidak yakin setelah ini aku masih hidup atau tidak tapi..”

”Ya Hyung! Kau seorang polisi kok penakut sih? Cepetan!” Taemin mendorong Jonghyun, mau tak mau pria yang mengaku pemberani tapi berhati hello kitty itu menyorotkan senternya keatas secara perlahan.

”Hsssshhh!…..Hssshhh…” deruan nafas. Iya! Itu sebuah deruan nafas yang menjadi titik utamanya. ”Nu-guya?” lirih Jonghyun tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Ia mendongak lalu melihat makhluk yang tak jelas wujudnya itu. Dan ketika Jonghyun dapat menyinari objek tujuannya, Jonghyun tak bisa mengatupkan mulutnya. Ia berjalan mendekat kearah atas kulkas dan kemudian dengan beraninya mengulurkan tangannya.

”Siapa kau?”

”……”

Jonghyun makin mendekat, dan sekarang ia dapat melihat wujud makhluk itu seutuhnya.

”Hei…Kemarilah…Jangan takut, kami tidak akan menyakitimu”

”hssshh…hsshhhh!”

”Iya aku tau, dan sekarang maukah kau ikut dengan kami?”

♦♦♦

” Hyung, aku tidak tau harus bagaimana lagi. Tapi tidak mungkin aku membiarkannya. Kumohon hyung, bantulah kami!”

”Aku sibuk! Jangan ganggu aku lagi petugas Kim!” seorang pria berjubah putih itu mengangkat buku tebalnya keatas, berniat tidak mau melihat sosok pria di depannya itu. Suasana ruangan jadi sepi, seorang pria berseragam coklat tadi mendesah lalu terduduk lesu di sofa. Ia memikirkan sesuatu agar teman lamanya tadi mau menerima permintaannya.

”Hyung, kau masih ingat insiden ketika dongsaengmu masuk kerehabilitas hanya karna pergaulan bebas? Kau tak ingat betapa menderitanya dia saat itu? Sendiri selama bertahun-tahun,stress dan bahkan ia berniat bunuh diri. Orang ini  juga begitu hyung! Kumohon,beri rasa pri kemanusiaanmu pada orang ini. Bahkan dia lebih buruk dari adi-”

”DIAM!” pria tadi membungkam. Ia tahu teman di depannya itu tidak suka jika membahas mengenai adiknya. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya inilah satu-satunya untuk membujuknya.

”Baiklah, Tuan Kim Jonghyun! Aku akan membantumu!” ujarnya malas tapi itu bagaikan mukjizat bagi pria bernama Jonghyun. Ia mengembangkan senyum kemenangannya lalu membungkuk hormat

”Kamsahamnida! Kau adalah Dubu yang paling hebat! Kamsahamnida!”

”Jangan berlebihan. Sekarang, cepat kasih dokumen mengenai orang itu” titah pria yang dipanggil dubu tadi masih cuek. Jonghyun pun menyerahkan map yang sudah berisi dokumen-dokumen yang tidak beberapa lama ini ia kumpulkan. Pria berjubah putih tadi membacanya, tapi beberapa detik kemudian air mukanya berubah seketika.

”2006? Berarti sudah selama 7 tahun?” tanyanya tak percaya, dan dibalas anggukan lemas oleh Jonghyun. ”Hanya itu saja yang aku ketahui. Pihak polisi masih mencari dokumen yang lainnya mengenai orang ini, dan tempat tinggalnya. Kami sangat prihatin dengan kondisinya, maka dari itu aku meminta bantuanmu untuk menyembuhkannya”

”Tapi jika selama 7 tahun ini dibiarkan, dia pasti sudah sangat liar. Sedikit sukar untuk merawatnya karna tak terbiasa dengan lingkungan kota. Tapi maaf Jonghyun..Sepertinya aku tidak sempat memberi perawatan penuh untuk orang ini. Aku terlalu sibuk” pria itu meletakkan map tadi di atas meja. Ia membuka kaca matanya lalu menatap Jonghyun intens. Namun dibalik tatapan itu, tersirat rasa bersalahnya.Sedangkan Jonghyun, ia hanya dapat menghela nafas pelan. Kecewa pastinya, niatnya untuk membantu seseorang dibatalkan karna temannya sendiri tidak bisa menolongnya.

”Sebelum itu, apa kau yakin ingin menyembuhkan orang ini? Apa ini sudah menjadi tugasmu sebagai polisi?”

”Aniyo, tapi hanya saja aku kasian. Arraseo, kalau kau tidak bisa akan ku cari dokter yang lain. Annyeong Jinki!” Jonghyun berbalik penuh kekecewaan, ia berjalan menuju pintu agar bisa keluar dari tempat ini.

”Ah! Chankaman!” belum sampai Jonghyun meraih knop pintu, tangan Jinki telah menghalangi jalannya. Kali ini ekspresi wajah Jinki berubah, Jonghyun menyeringit dan membiarkan Jinki bicara. ”Jika kau serius dengan orang itu, aku punya dokter yang tidak kalah hebatnya dariku! Beberapa bulan ini dia baru masuk ke rumah sakit dan menjadi dokter psikiater terbaik! Kau mau di bantu olehnya?” tawar Jinki bersenang hati. Jonghyun memiringkan kepalanya, merenung sejenak atas tawaran Jinki tadi.

”Geurae! Kapan aku bisa bertemu dengannya? Apa kau yakin ia bisa menolong orang ini?” Jinki tersenyum tipis, kemudian ia mengambil sesuatu dari kantong celananya, ia memberikan sesuatu tadi pada Jonghyun, hingga Jonghyun makin terbuat bingung. ”Itu kartu namanya, besok jika kau serius berkonsultasi datanglah ke ruangannya” Jonghyun menaikkan sebelah alisnya, masih ragu dengan orang yang diberti tahu Jinki tadi. Tapi yah mau gimana lagi, hanya dokter itulah yang bisa menolong manusia malang itu.

”Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu”

♦♦♦

Pagi itu, tak biasanya awan hitam bergembulan melampisi langit hingga membuat kesan gelap di pagi hari. Hal itu jelas membuat seisi ruangan di salah satu rumah sakit tampak gelap meski di pagi hari. Dan di sebuah ruangan, terdapat seorang pria muda yang tengah sibuk dengan berkas-berkas ataupun resep-resep dari pasiennya. Ia membalik balikkan helai per helai dari dokumen yang barusan di terimanya. Tak sesekali ia menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh dengan apa yang ia baca sekarang.

”Mian,Kim sajangnim. Apa dokter Lee benar-benar menyuruh saya untuk menanggani pasien ini?” pria itu menjatuhkan mapnya di meja. Di tatapnya Jonghyun yang sedari tadi duduk, menunggu sang pria – dokter menanggapi sebuah dokumen yang dibawanya.

”Ne. Dokter Lee katanya sangat sibuk, ia menyuruhku untuk memberikan misi ini padamu.Ah iya! Katanya kau dokter baru disini, apa itu benar?” tanya Jonghyun ingin membenarkan.

”Ne, sajangnim. Mohon bantuan dan dampingannya” pria muda tadi membungkuk ke Jonghyun. Hingga namja bertubuh pendek itu jadi segan. Ia mengangkat bahu sang dokter lalu mencengkramnya agar mereka bisa saling bertatapan dengan jelas.

”Aku mempercayaimu Dokter Choi. Kumohon bantulah pasien yang satu ini. Aku yakin kau akan kesulitan karna kondisi pasien sangat…Ah! Pokoknya aku sangat berterima kasih kau mau membantu kami. Kamsahamnida!” bungkuk Jonghyun berterima kasih. Dokter bermarga Choi itupun sedikit merasa canggung. Namun sedetik kemudian terbesit sesuatu di otaknya. Bagaimana keadaan pasien itu sekarang?

”Oh iya..Kim sajangnim. Bolehkah sekarang aku melihat pasien itu? Dari yang kulihat dari dokumennya aku jadi sangat penasaran. Apa seburuk itu?”

”Jika kau bertanya seburuk apa, aku tidak bisa memastikan. Dia lebih buruk dari apa yang kau bayangkan mungkin.” Dokter Choi menyeringit. Seburuk itukah pasiennya? Seumur hidup ia menjadi Dokter psikiater ia tidak pernah menanggani pasien yang katanya sakitnya sangat serius.

”Baiklah, kalau begitu kita pergi bersama ke ruang pasien” ajak Jonghyun.

”Ne, kajja!”

 ♦♦♦

Masih dengan suasana gelap rumah sakit. Mereka – Petugas Kim (Jonghyun) dan Dokter Choi berjalan mengitari koridor rumah sakit untuk mengunjungi ruang rawat pasien baru yang katanya sudah diamankan beberapa hari disini. Bagi Dokter Choi, atau pria yang biasa dipanggil Choi Minho ini merasa tertantang untuk mengobati pasien ’berat’ ini. Yah, selama beberapa bulan ia menjadi Dokter psikiater di rumah sakit kepemilikan Dokter Lee ini, ia belum pernah ditangguni seorang pasien yang mengalami sakit berat. Tentunya sakit mental. Dan itulah pekerjaan Minho. Ia bekerja, merawat, mengobati pasien yang beterbelakangan mental.

”Oh, Dokter Choi! Anda mau melihat pasien baru anda?” setelah tidak beberapa lama berjalan Minho dan Jonghyun pun tiba di ruangan yang ditunggu-tunggu. Mereka disambut oleh seorang suster yang barusan keluar dari ruang rawat itu. Minho mengangguk kepada sang suster, dan suster mempersilahkan Minho dan Jonghyun masuk.

”Chankaman Dokter Choi!” tahan suster dari ambang pintu.

”Ne?”

”Kau harus hati-hati, dia…Agak berbahaya. Aku harap kau bisa menyembuhkannya. Kalau begitu saya pamit dulu” sang suster menutup pintu dan berlalu begitu saja. Sontak Minho melirik Jonghyun bertanya dalam hati apakah seburuk itukah kondisi pasiennya.

”Kau siap dokter?” Jonghyun melenyapkan lamuan Minho. Minho mengangguk pasti lalu ia membuka sebuah tirai putih di hadapannya.

Sreeeet!

Terdapat kaca berlapis tebal di balik tirai ini. Minho menyeringit. Kenapa ruangan ini di beri kaca pembatas?

“Kau pasti bingung ya? Lagian ini untuk berjaga jaga. Jika kau ingin lebih dekat lagi dengannya, kau bisa membuka pintunya.” Jonghyun menunjuk sebuah pintu kaca tak kalah tebalnya dari yang tadi. Minho meneguk ludahnya sejenak. Kenapa ia mendadak takut? Toh ia belum melihat apa-apa.

“Mana pasien – ku?” Minho sudah memasuki ruangan itu. Benar. Tidak ada sosok manusia selain dia disini. ”Dia dibawah sana. Berjongkoklah jika ingin melihatnya” titah Jonghyun dari luar. Minho memasang tampang bingung, lalu ia menunjuk sebuah kasur berseprai putih. Jonghyun mengangguk. Jonghyun mengisyaratkan agar Minho segera berjongkok menengok pasiennya di bawah kasur.

 

Baiklah…Ini tidak buruk Choi Minho…

“Annyeong..Apa ada seseorang di dalam?” ujar Minho lembut sembari merendahkan kepalanya ke bawah kasur. Ia berjongkok, sambil dengan perlahan mendekatkan kepalanya ke kolong kasur.

Tidak ada sahutan.

”Hei….Aku Dokter yang akan merawatmu.Aku tidak jahat, aku tidak akan melukaimu, jadi keluarlah…” lirih Minho masih mengatur nada suaranya agar pasiennya tidak takut.

”Hsssshhh!” Minho bergidik! Ia mendengar suara desahan dari dalam.

”Apa itu kau?” Minho penasaran. Ia memasukkan kepalanya lebih dalam ke kolong kasur. Gelap. Tapi tunggu…Ia dapat melihat sesuatu disana.

“Hssshhhh~”

“Kemarilah..Aku tidak akan menyakitimu…” Minho mengulurkan tangannya perlahan. Dapat dirasakannya sebuah desahan nafas yang mengalir dipermukaan kulitnya. Nafasnya sangat hangat hingga Minho jadi merinding.

“Sambutlah tanganku” ucap Minho hati-hati. Ia menggerakkan tanganya, menunggu respon dari pasiennya. Namun sayangnya, pasien itu masih terdiam dan tak melakukan apa. ”Ayolah, kau hanya perlu menyambut tanganku. Lalu kita akan- AARGH!!”

”WAAARRGHH!!!”

”Dokter Choi! Apa kau tidak apa-apa?”

”Gwe-gwenchana..Aish..Sakit sekali!” Minho menarik tangannya kembali. Pasiennya..Ia tidak menyangka orang itu menggigit lengan Minho dengan kuat. Minho meraih tangannya dan menatap luka gigitan yang cukup dalam hingga mengeluarkan darah segar di sana. Minho terasa ingin berang. Tapi cepat-cepat ia simpan perasaan buruknya. Ia tahu pasiennya sedang sakit, jadi maklum saja ia dilukai seperti ini.

”Apa kau benar-benar tidak apa Dokter Choi? Dia menggigitmu!” Jonghyun datang menghampiri Minho dengan cemas. Ia ikut menatap kolong kasur dengan nanar.Ia tidak habis pikir, manusia yang beberapa hari lalu ia bawa ke rumah sakit sangatlah liar diluar dugaannya. Namun sedetik kemudian, Jonghyun teringat sesuatu. Ia mendapatkan sebuah ide!

”Aku tahu apa yang harus kita lakukan untuk mengeluarkannya dari kolong itu!”

”Bagaimana?” Jonghyun menyunggingkan ujung bibirnya. Lalu ia langsung beranjak dan berlari berniat mencari suster tadi.

”Suster! Apa kau mempunyai sebatang bunga mawar?” tanya Jonghyun tak sabaran ketika dilihatnnya sang suster sudah berdiri didepan pintu. Lantas suster itu kebingungan.

”Mawar? Untuk apa?”

”Sudahlah. Kau harus mencarinya! Kami membutuhkan mawar sekarang juga!”

”Ne, Sajangnim akan kuambilkan” suster tadi segera melesat pergi entah ke taman rumah sakit atau membeli mawar itu sendiri. Sedangkan Jonghyun, ia merasa idenya ini akan berljalan lancar. Karna ia sudah tahu, sedikit demi sedikit dari pasien aneh ini.

”Kim sajangnim! Ini mawarnya”

”Ne, kamsahamnida suster!” Jonghyun mengambil setangkai bunga mawar itu. Dengan pasti ia menyerahkan bunga itu ke Minho.

”Untukku?” tanya Minho aneh

”Ani, untuk gadis itu” Jonghyun tersenyum tipis dan menyerahkan tangkai itu ke tangan Minho. Ragu-ragu Minho mengambilnya. Ia menyodorkan bunga mawar tadi kedalam kolong kasur. Sangat perlahan dan hati-hati. Bahkan ia merasa sedikit takut karna ia mendengar desahan itu lagi.

GREP!

”Dia mengambilnya!” Minho menoleh seketika, raut muka bahagia terlukis di wajahnya. Benar saja! Pasiennya tadi dengan cepat merebut setangkai bunga mawar tadi..

”Kau sudah mendapatkan maumukan? Sekarang bolehkah aku melihat wujudmu?” tanya Minho pelan. Ia menelan ludahnya, ia sangat menunggu saat-saat ini.

”Ayo, keluarlah” Minho kembali mengulurkan tangannya ke dalam kolong. Dan ajaibnya ia merasakan sesuatu yang sangat dingin menyentuh permukaan kulitnya. Dia menggenggam tangan Minho! Ini sebuah perkembangan yang sangat mengejutkan.

”Ayo keluar….” ujar Minho kembali. Dan sekarang Minho hanya membuka matanya lebar-lebar setelah apa yang barusan ia lihat. Orang itu perlahan keluar. Minho dapat melihat tangan kurus itu mencengkram lengannya. Sangat kurus.

”Hsssshhhh..Hsssshhhh”

Dia…..Apakah benar seorang manusia?

”Baiklah, sekarang kau bisa mengangkat kepalamu? Kami ingin melihat wajahmu” pinta Minho meski suaranya sedikit  bergetar. Bagaimana tidak, tubuh kurus dengan badan yang sangat bungkuk ditambah dengan kukunya yang tajam membuat Minho ngeri.Rambutnya sangat panjang,kusut tak beraturan, dan sesekali ia berdengkur dengan nada berat. Siapa yang tidak takut melihat manusia aneh ini?

”Kau tidak mau?”

Dia menggeleng.

”Jangan takut…”

Dia kembali menggeleng.

”Guerae, kalau begitu. Siapa namamu?” ini terlalu cepat untuk menyangkut kedalam pembicaraan normal biasanya. Tapi Minho tau, pasiennya bukanlah anak-anak lagi. Minho yakin pasiennya sendiri pasti mengetahui namanya sendiri.

”Ireumeun mwoyeyo?” ulang Minho lagi.

”….”

”Kau tak mempunyai nama?”

Dia menggeleng. ”Sebutkanlah!”

Ha…n.. – Rhee..- Hwa…” Minho terkejut! Ia dapat mendengar suara lemah dari pasiennya. Suaranya kecil dan berbeda jauh dengan raugannya tadi. Tak terasa Minho menjadi sangat bahagia. Mengetahui nama gadis itu berupa keajaiban bagi Minho.

“RheeHwa? Nama yang cantik!” Minho tersenyum seketika. Lalu entah bagaimana gadis bernama RheeHwa itu langsung mendongakan kepalanya. Ia melihat Minho, ia melihat Minho yang sedang tersenyum ramah padanya. Seketika gadis itu termenung dengan wajah kusut,dan lesungnya. Matanya yang tertutup oleh poninya yang panjang, membuatnya sedikit kesulitan untuk melihat Minho hingga ia mengangkat kepalanya agak tinggi.

Gadis itu menyipitkan matanya. Cahaya matahari yang masuk dari celah jendela membuatnya agak sulit melihat senyum itu lebih jelas. Wajah Minho terpancar oleh sinar-sinar mentari, dan setelah mendongak sedikit lama, gadis itu dapat melihat wajah Minho seutuhnya. Wajah yang bersinar dengan senyum lembut merekah. Lekuk wajah yang rupawan dan kedua bola mata yang berbinar dan bulat. Dan pria itu, kembali mengulurkan tangannya..

”Aku Choi Minho! Dokter yang akan merawatmu! Salam kenal!”

Aku…Han Rhee Hwa. Gadis liar yang akan menyakitimu. Salam kenal!

 

Salam kenal…Kau adalah manusia merugi yang akan disakiti olehku. Kuharap kau tidak menyesal bertemu denganku karna aku…Manusia berbahaya yang akan menyakiti siapa saja yang mendekatinya. Aku mempunyai mahkota yang indah dan menarik didekati, tapi aku mempunyai duri yang akan melukai siapa saja yang menyentuh batangku…

Karna aku adalah…Rose

 T.B.C

Waaa! Panjang banget! Aku gak bisa lagi editnya kayak gimana biar lebih pendek dikit. Karna itulah kekuranganku, kalau buat ff yang bertema agak serius bawaannya panjang dan terinci gitu u.u Trus mian kalau genre psycholog gak terasa u.u masih belajar soalnya T.T

Dan cast ceweknya, maaf ya chingu orangnya gini u.u Hehehe gak apakan? Nanti di part selanjutnya Rhee hwa gak sadis (?) kayak gini kok ^^

Oh iya..Minho cuma bentar nongol.Yah namanya prolog lebih banyak before storynya dulu.

Key juga belum nongolkan? Hehehe sabar menunggu kedatangannya ^^

Okeh! Ditunggu part 1Bnya ya? Jangan lupa ini ananfakeester~ beri tanggapanmu ya~

bye! ^^v

Iklan

10 thoughts on “[FF Req] The Dark Side : 1A

  1. Miina Kim berkata:

    Hwaaaa…….
    Ni satu FF Request yg udah publish!…..
    Kerrennnnnn Saeng…..
    Eon merinding….
    Berasa nonton MAMA…..

    Kamu udah cukup berhasil bangun kesan horornya…
    dari sisi psikologisnya, mgkn belum terlalu kentara disini, karena
    ceritanya kan baru prolog…. lom tau jg apa yang bakal
    Rhehwa lakuin… kalo eon prediksi, dia kayaknya mau balas dendam
    ma cowok2 sedunia karena kebenciannya kepada appa
    yang buat dia spt ini….
    sampe dia ketemu oppanya n seseorang yang bakal
    merubahnya… dia bakal terus mendendam…
    #sok tau, digigit Rheehwa…

    Yang bakal jadi oppa Rhehwa Kibum, kah???
    Karena disini Minho kayaknya gak ada respon penting setelah dia tau
    nama si pasien… Kalo dia oppanya Rheehwa, pasti dia ngeh, kan???
    Berarti Kibumlah oppanya….

    Hyaaa…. Jinkiku figuraan lagi….. gak apa2…
    yang penting dia main role di hati eon….. ^ ^

    Saeng…. Kalo emg mesti ada yang metong disini….
    eon harap itu bukan Jinki…..
    #selametin Jinki….

    Keep writing
    Keep learning
    Keep improving
    and
    Keep smiling….

    Annyong…..

    • aku masih dalam tahap belajar membuat ff berat kyk gini eon
      mohon bantuan dan bimibingannya*bow u.u
      aku tau, bnyk org lain yg jago bikin ff kyk gini. tapi ini permulaan bagiku, jika eon menemukan keanehan,kejanggalan,atau typo! di ff td mohon dimaklumi u.u *bow 90 derajat.

      baru prolog udah main tebak-tebakkan >.<
      ada yang betul but! ada yg false nya juga ._.
      baca sampe kelar aja yah eon, nanti kita main tebak tebakan lagi ^^
      sama Jinki? Ayo deh! (?)

      Ok, Jinki ya? Jinki sebenarnya cast penting juga lhooo..nantikan part 1 B nya aja yah eon

      gomawo for read
      gomawo for comment, and give some support ^^

  2. ananfakeester berkata:

    Iyaa aku ngerti ._. Waaah author, aku speechless deh bacanya. di awal udah merinding sama cast ku(?), entah kenapa ff nya sesuai bayanganku yaampun. itu itu bebeb Minho*digeplak* jadi dokterku astagah #gagal speechless
    penasaran kelanjutannya thor, prolog aja udah kek begini pasti berlanjutnya makin menegangkan.
    pokoknya aku seneng request ku udah jadi, nunggu lama gak masalah kok, aku sendiri juga lagi ukk jadi berasa pas banget ini ff ada setelah stress(?). sejak ukk aku suka kebayang bayang gitu bakalan kek apa ff nya, nah sekarang udah rada legaan.
    mian ya thor kalo req ff ku ngeganggu ukk authornya ._.

    berasa dapet moodboster, nyesel nih gak jadi komentator pertama ._.
    intinya kita kek punya telepati gitu (?)
    waiting for key
    gamawo ya thor ^^

    • lega klu kamu seneng.:)

      secara tidak disengaja jalan pikiran kita juga sama. Ketebak deh ceritanya -_-
      tapi kamu yg duluan aku buat req nya lho, yg komen prtama genre comady (aku payah klu mngenai comady T.T)

      sip! key ditunggu, udah di bungkus dg rapi siap dikirmin ke kamu (?)
      ^^

      • ananfakeester berkata:

        iyayah, baru nyadar yang ada tanda [FF Req] baru yg inih ._. yah kalo yg req pertama baca gimana thor xD
        hahah maksudku bukan sama plek sih, cuman sesuai bayangan aja, jadi ceritanya gak ketebak ^^

        beneran? aku tunggu paketan nya /?

  3. keren chingu~ daebak~ditunggu kelanjutan 😀
    oh nae mian cerita yg chingu buat mirip dengan film “mama” hehe mian kalo salah 😀
    chingu~~ secretly love part 14 chingu ^_^
    gumawo

    • Emang XD
      Aku terinspirasi ama pilem mama, flimnya juga bagus jd pengen buat gitu. Tapi cuma part ini aja aku make alur di mama, gk keseluruhan..cerita yg kubuat jauh beda kok ._.
      Btw makasih udah baca dan komen ^^ oh ya.part selanjutnya key muncul >…<
      bersabar menunggu ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s