[FF Request] The Dark Side- 1 B

Req by Anan

the-dark-side

Title : The Dark Side – 1b

Author : Shin Fujita

 Main cast :

  • Choi Minho [SHINee]
  • Kim Kibum a.k.a Key [SHINee]
  • Han Rhee Hwa [OC]

Support cast :

  • Lee Jinki [SHINee]
  • Kim Jonghyun [SHINee]
  • Lee Taemin [SHINee]
  • Cho Ren Hye [OC]

Genre : Psychology #(insya allah (?) ._.) and romance

Rating : Teen.

Cover by : cafeposterart.wordpress.com

A/N : Hai, maaf lama ngelanjutinnya. Sebenarny udah lama aku buat, tapi baru sekarang ingat di publish 😦

Request lain bakal menyusul ya,sekali lagi maaf lama…

Warning! typo is everywhere .__.

Happy reading and don’t forget leave your comment

 ¶♠Story line by Shin Fujita…♠♠¶

The Dark Side – 1 B

♦♦♦

Seseorang masuk kedalam ruang Dokter Lee. Dokter yang punya nama lengkap Lee Jinki itu langsung membuka kecamata minus 3 nya lalu menutup buku tebal pembahas bipolar disorder- yang meski sudah berkali-kali dibacanya. Ia menyungging ujung bibirnya menyambut tamu dengan hangat.

”Kau datang rupanya, silahkan duduk!”

”Ne, kamsahamnida sajangnim”

”Bagaimana kabarmu?” sekedar berbasa-basi, walau Jinki sama sekali tidak menyukai berbasa-basi tapi akhir-akhir ini ia agak canggung bertemu pria ini. Ia merasa mempunyai peran tanggung jawab dan mengawasi setiap gerak gerik orang ini. Choi Minho.

”Baik.”

”Pasienmu? Aku dengar ia dianogsa penyakit bipolar disorder. Tapi aku yakin kau bisa menangganinyakan?”

”Ne, mohon bantuannya ”

Mata sipit itu kembali mengunci penglihatan Minho. Meski mata itu melengkung karna senyum lebarnya, tapi Minho..Entahlah ia masih asing dengan senyuman Dokter Lee. Apa karna mereka baru berkenalan? Tidak! Mereka bahkan sudah 4 bulan terakhir ini saling kenal, dan bahkan perawat rumah sakit ini menyangka mereka sangat dekat karna Dokter Lee sering mengajak Minho ke ruangannya hanya untuk sekedar membagi pikiran,pendepat mengenai pasien rumah sakit.

Oh..Bukan..Ada satu topik lagi yang selalu di bahas Jinki dengannya.

”Bagaimana dengan gadis itu? Apa dia terus menganggumu lagi?” Minho sudah menyadarinya. Dan tepat! Jinki kembali menanyakan gadis itu. Senyum tipis terukir dibibir Minho, hanya butuh selang detik semburat merah terpancar di wajah Minho.

”Dia baik, tidak membuat ulah lagi. Dan akhir-akhir ini dia sering menelfon ku, tapi aku sama sekali tidak merasa terganggu” aku Minho tak menghilangkan semburat merahnya yang pastinya membuat Jinki tersenyum geli.

”Bagus! Jaga dia baik-baik. Jangan sampai ia merengek padaku lagi, sungguh dia hobi sekali memusingkan kepalaku. Apa gadis itu tidak tau aku selalu anemia karna omelannya yang bikin penat telinga?”

“Hahaha, ne sajangnim. Aku akan menjaganya baik-baik”

Berakhirlah segmen basa-basi kali ini. Jinki memilih membiarkan menarik sejumlah oksigen dan mengerluarkan banyak karbon dioksida untuk menenangkan pikirannya. Sejenak ia melirik buku yang baru dibacanya tadi, ia berjalan perlangkah mengambil buku tadi. Dan menyerahkan begitu saja ke hadapan Minho.

”Baca ini, kau perlu banyak memperlajari penyakit ini. Ini sangat membantumu untuk psikoterapi dengan pasien barumu itu. Aku bukannya meragukan kemampuanmu, tapi aku ingin kau bisa menuntaskan sampai ke akar mengenai masalah pasienmu. Jujur, aku turut prihatin terhadapnya. Di usia semuda itu gejala bipolar disoerder memang sudah muncul, terapi dan konseling yang seimbang juga harus kau perhatikan. Berjuanglah!”

Jinki menepuk bahu Minho , memberikan semangat pada pria lebih muda 5 tahun darinya itu.

”Tapi jika memberikannya antipsyhotic untuk berjaga-jaga apa itu bahaya sajangnim? Aku takut obat itu menghambat perkembangannya. Dan yang kucemaskan dia…Sedikit berbahaya. Dunianya beda dengan kita. Dia telah bertahun-tahun dihutan pasti alam liar telah memperngaruhinya, sangat sulit baginya untuk beradaptasi di kota.”

”Untuk apa kau mengkhawatirkan mengenai obat Dokter Choi? Kau tau sendiri dosis dan bagaimana pemakaiannya. 5 tahun belajar di Australia tidak memungkin untuk meragukan masalah ini. Dia pasienmu, dan kau harus beri perhatian penuh padanya jika kau mencemaskan mengenai lingkungannya tersebut. Ingat! Butuh kesabaran dan kasih sayang untuk merawatnya. Dia masih remaja. Kau bisakan?”

Bagaikan angin sepoi sepoi menyejukkan isi hati Minho. Benar Lee Jinki hebat! Dalam sekejap bisa membuatnya canggung dan sedetik kemudian menenangkan hatinya meski tanpa kontak fisik. Dia memang dokter psikiater propesional, bahkan Minho selalu bertekad mempelajari banyak hal dari dokter itu.

”Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu”

 ♦♦♦

Perempuan itu memainkan sebuah permain puzzle di ponselnya. Dengan bibir disengajakan maju kedepan ia sembarang menekan layar sentuh ponselnya ingin mengakhiri permainan membosankan ini. Untuk apa permainan macam ini masih di aplikasi oleh ponsel jenis elit kepunyaannya ? Apa karna ia terlalu bodoh bermain game, atau memang puzzle ini yang bersalah karna menciptakan suasana membosankan.

”Sudah kubilang, Winning Eleven lebih baik dari pada puzzle menyusun wajah dua makhluk bodoh itu!”

Perempuan tadi menoleh ke sumber suara. Dengan kilat matanya membulat dan berbinar saking senangnya akan kedatangan manusia ini. Ia pun me pouse permianannya, menunggu orang itu duduk di hadapannya.

”Selamat siang, tuan putri” orang itu tersenyum, senyum yang pasti hanya untuk orang didepannya..

”Sangat sibuk, hingga harus melewatkan 1 jam dari janji sebelumnya?” masih memasang air muka jengkel. Perempuan tadi mengalihkan wajahnya, acuk tak acuh atas kemunculan orang tadi, padahal dalam hati ia sangat merindukannya.

”Maaf, aku tadi ditahan oleh oppamu. Kau bisa memaklumi jika dia selalu bicara banyak jika sudah melihat batang hidungku?”

”Aku mengerti. Ngomong-ngomong terima kasih telah meluangkan waktu untuk menemuiku, Minho” tak dipungkiri senyum yang selama ini ia tahan berhasil diukir di bibir mungilnya. Dan biasa, memanggil nama ’Minho’ saja sudah memberikan kerja  jantungnya lebih cepat. Apa ini berlebihan? Tapi apa salahnya, menyebut nama seorang pria yang dicintainya adalah suatu cara untuk melampiaskan rasa rindu yang selalu menamaninya.

”Agak aneh kau berterima kasih padaku. Kenapa? Apa orang itu mengajarmu untuk menggodaku?” Minho mencondongkan tubuhnya, menatap perempuan itu intens dalam selang beberapa menit. Wajahnya yang putih mulus, rambutnya sepanjang sepinggang yang dicat cokelat emas dan bibir tipis berwarna merah muda. Matanya yang sendu namun indah, hidung mancung dan pipi yang cembung. Sempurna. Minho menyukai sisi indah perempuan ini. Sisi sempurna hingga ia selalu terpesona akan pesonanya. Karna dia, wanitanya.

”Aniyo. Akhir-akhir ini dia sibuk untuk persiapan ujian akhir semesternya. Kau tau ia selalu mengomel padaku untuk mencari bahan prakteknya! Katanya sih sejenis tumbuhan, dan sulit di temukan pada musim dingin. Kau tau itu apa?”

”Tumbuhan yang sulit ditemukan di musim dingin? Bukannya dia sekolah di vakultas kedokteran, kenapa bahan prakteknya tumbuhan…langka?” Minho menaikan sebelah alisnya. Sedikit aneh dengan orang yang dibicarakannya itu. Bisa saja aneh, soalnya Minho sudah hampir sebulan penuh tak berjumpa dengan orang itu. Mengingat orang itu dikenal pemalas dan suka ngomel membuat Minho ingin menanyakan langsung padanya.

”Jangan dipikirkan!. Ah iya! Oppa bilang kau ditugaskan merawat pasien ’berat’. Dia obesitas?” tanyanya antusias.

”Ya! Arti berat bukan berarti dia kegemukan! Tapi, ia dionogsa penyakit cukup berat untuk seusianya”

”Berapa umurnya?”

”17 tahun”

”Muda sekali! Aku turut prihatin terhadapnya. Boleh aku menemuinya?” Minho membuka mulutnya. Kemudian ia mengangkat tangan kanannya lalu mengusap rambut gadisnya lembut. ”Ani, dia berbahaya”

”Kenapa? Aku janji tidak menganggunya” ujar bersi keras. Kebiasaan! Gadis ini ingin mengetahui selak beluk pasien Minho, hanya sekedar pengen tau saja.

”Aku tau, tapi kondisinya tidak cukup baik untuk bertemu banyak orang. Lain kali saja ya?” terpancar air muka kecewa dari gadis itu . Ia mengembungkan pipinya termanyun sebentar.

”Ya! Cho Ren Hye! Sampai kapan kau masih kekanakan? Pasien itu urusanku, kau tidak usah ikut campur. Aku takut kau yang akan terluka Ren Hye..”

Ren Hye..Cho Ren Hye tau perasaan namjanya. Ia sangat mengakhawtirkannya jika beringinan keras bertemu pasien-pasiennya. Apa boleh buat, memang dirinya keras kepala tidak mau diingatkan. Ia akan tetap menemui pasien itu!

”Kalau begitu, siapa namanya?” Ren Hye memiringkan kepalanya ikut menatap Minho intens hingga Minho menampakkan raut aneh dari wajah tampannya.

”Rhee Hwa, Han Rhee Hwa”

Ren Hye tersenyum, setidaknya sebuah naman bisa mendekatkan dengan pasien itu.

 ♦♦♦

Di ruangan berukuran 4×5 meter dan di selingi oleh dinding kaca yang tebalnya hampir 3 cm, kasur berseprai putih masih tampak rapi seperti tidak ada orang yang menempatinya. Suasana hening menyelimuti, disamping celah-celah cahaya dari sang mentari menyinari sudut ruangan hingga terlihat terang. Makanan yang disengaja di letakkan di meja tak sedikitpun disentuh, apapun  itu dimakan. Yang tersentuhkan hanyalah sebuah vas bunga terbuat dari kaca yang terlentang dilantai dengan tak ada sekuntum bunga yang terdapat di dalamnya.

Kesepian, sendiri. Hampir 3 jam ia mengalami itu diruangan terkutuk ini. Meski pada hari-hari sebelumnya ia memang sering sendiri, namun kali ini berbeda. Sekuntum bunga tidak cukup menamaninya, ia butuh puluhan bunga untuk menemaninya. Dan yah…Ia merasakan kesepian itu sekarang.

”Tidak memakan sarapanmu?” suara lembut itu kembali masuk kedalam ruang sinarsarnanya. Itupun tidak dipeduilikannya olehnya karna ia sedang bersembunyi di tempat yang menurutnya – nyaman itu.

”Hari ini kau harus menunjukkan wujudmu. Tidak capek sendirian disana?” kali ini suara itu makin didekat oleh telinganya. Kepalanya disengajakan direndahkan lalu, seperti biasa, tangan panjangnya tergulurkan tepat kehadapannya.

”Pegang!” suruhnya melambai-lambaikan tangannya. Sontak ia melirik tangan itu, ingin sekali ia menggigit atau memakannya, tapi temannya melarang bertindak seperti itu.

Grep!

”Bagus” orang itu menarik tangannya, merasakan hal yang aneh tersentuh oleh permukaan kulitnya. Ia makin penasaran karna sesuatu itu berbau amis. Segera ia menarik tangan gadis itu, hingga seluruh tubuhnya utuh keluar dari kolong kasur.

”Astaga! Apa yang terjadi? Apa yang kau laukukan?” Minho menarik tangannya, ia menatap dengan rasa panik karna tiba-tiba saja darah segar mengalir di sela-sela jari pasiennya. Minho meliriknya, matanya terpancar tajam namun tak terpengaruh oleh pasiennya.

”Kau melukai dirimu sendiri?”

”…”

”Lalu apa ini?” Minho mendapatkan sebuah benda kurus yang lurus tak berpucuk. Ia merebut benda itu dan sedetik kemudian mengerti apa yang terjadi sebenarnya dengan pasiennya. ”Duri-duri ini, kau sengaja menusukkan ke jari-jarimu?” nanar! Tak percaya. Seorang bipolar disorder memang sering menyakiti dirinya sendiri ketika dirinya terasa terancam atau mengalami stress berat. Itupun biasanya diselingi oleh amukan atau meraung-raung tidak jelas. Tapi anak ini, ia hanya terdiam sambil melukai dirinya sendiri dengan duri dari batang bunga itu. Bunga mawar.

”Duri-duri ini harus dicabut. Jika tidak tanganmu akan infeksi, atau membengkak –oh tidak!” apa lagi sekarang? Setelah Minho memperhatikan dengan intens kedua telapak tangan paseinnya, terdapat bekas luka yang memar membiru di sekeliling jari-jarinya. Beberapa goresan hitam yang sudah mengeras bahkan ia masih melihat beberapa duri-duri halus masih menempel dipermukaan jari pasiennya. Tangannya, sangat menyedihkan.

Entah kenapa Minho merasa bersalah. Ia menekurkan kepalanya, memejamkan matanya merasakan betapa ibanya kepada gadis kecil ini. Tinggal sendiri selama 7 tahun, dan selama 7 tahun itu ia menyakiti dirinya sendiri dengan puluhan, ani mungkin puluh ribuan duri yang ia tancapkan ke permukaan tubuhnya.

”Kenapa kau melakukan ini? Apa kau tak merasa sakit?”

Dia menggeleng. Minho mendesah pasrah. Lalu tanpa seizin pasiennya ia mengangkat bahunya hingga pasiennya berdiri berhadapan dengannya. Minho menyarankannya agar ia duduk di tepi kasur untuk mencabut semua duri-duri yang ada di tangannya. Minho berlutut di hadapannya dengan masih memperhatikan jari-jari malang itu. Ia mengambil sebuah pinset, betadine, beberapa kapas, dan pembalut luka.

”Aku tak membiarkan duri-duri ini melukaimu. Jauhi bunga itu! Dia hanya menyakitimu saja!”

Bodoh! Seharusnya aku yang berkata seperti itu.

Dengan hati-hati Minho mengangkat semua duri yang tertusuk di jari pasiennya. Suasana kembali sunyi, karna Minho tak lagi bersuara, bibirnya terkatup rapat dan matanya tersorot fokus mengangkat duri-duri itu. Tidak ada penolakan yang dilakukan gadis itu. Ia hanya menatap lurus sebuah jendela yang menampakkan beberapa ranting pohon dari luar. Pandangannya kosong tak berarti.

”Selesai. Tunggu seminggu lagi, lalu lembam di jarimu akan hilang” Minho menyempatkan senyum hangatnya pada pasiennya. Sayangnya ia tidak melihat senyum tulus dari sang dokter, tak ada gunannya. Namun yang dirasakan Minho hanyalah kecewa, sedari tadi ia tidak mendapatkan respon yang berarti dari sang pasien. Hampa. Sungguh hampa, bahkan menatapapun tidak. Apa pasiennya takut terhadapnya? Jika iya, itu wajar. Karna selama bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan manusia membuatnya sulit beradaptasi.

”Kau tak boleh diam seperti ini. Katakanlah apa yang ingin kau katakan padaku. Aku akan selalu mendengarkan apa omonganmu, lalu menanggapinya dengan beberapa solusi. Aku lebih senang jika mendengar suara pasienku mengoceh dari pada membisu seperti mu”

Ia tersinggung, secepat kilat ia mengalihkan sorotan matanya. Tajam namun masih kosong. Bahkan kedua bola mata itu tak terlihat karna poninya yang terlalu panjang. Apa yang dipikirkan oleh Rhee Hwa sekarang? Entah, hanya dirinya sendiri yang tau. Minho sang dokter hanya dapat membalas tatapan pasiennya, dengan perlahan ia menggengam tangan Rhee Hwa memberikan kehangatan untuk pasiennya.

”Rambutmu sangat panjang. Mau dipotong?”

”….”

”Tidak sampai pendek, hanya merapikannya saja. Rambut mu itu menyulitkanku melihat wajah cantikmu. Mau kan?”

Akhirnya kau menyadari sisi terangku. Aku memang cantik

Kembali tidak ada suara dan Minho artikan itu bertanda ’iya’. Minho pun memanggil suster untuk diambil kan gunting. Ia meminta kepada sang suster untuk memotong rambut Rhee Hwa setidaknya rapi dan nyaman dipandang.

”Semunya kuserahkan padamu, buat ia lebih cantik!”

“Ne, Choi cheonsa”

Minho memilih duduk di sudut ruangan, ia memperhatikan suster tadi memotong rambut Rhee Hwa sangat laten. Memang sangat panjang, hingga menyentuh tumitnya. Rambut itu hanya menyamakkan pandangannya saja. Tapi kelihatannya Rhee Hwa tidak merasa terganggu jika rambutnya dipotong, biasanya orang yang mendapat mental disorder akan berang jika menyentuh anggota tubuhnya.

“Sudah selesai, kau bisa melihat hasilnya dicermin” potongan terakhir, yaitu potongan untuk poni panjangnya. Suster itu menyerahkan cermin ke hadapan Rhee Hwa. Otomatis gadis itu melihat pantulan wajahnya dicermin. Oh! Sudah 7 tahun lamanya ia tidak melihat bayangannya, dari kali ini ia diberi kesempatan untuk menatap wajahnya sendiri.

Benar, aku cantik

Suster tadi merasa bingung, tidak ada respon dari Rhee Hwa, wajahnya datar masih sibuk memperhatikan wajahnya di cermin. Menyadari itu Minho menghampirinya, ia ikut menatap gadis itu dari pantulan cermin. Memang benar, Rhee hwa cantik.

“Bagus. Gomawo suster”

“Ne. Kalau begitu saya pamit dulu” suster tadi pergi. Hanya tinggal mereka berdua di ruangan ini, sementara itu tangan Rhee hwa yang terbalut perban masih menggengam ganggang cermin. Memandangi, tanpa ekspresi yang memastikan, kosong.

“Baiklah, setelah ini kau mau menemaniku? Kita akan melakukan konseling!” ajak Minho bersemangat dan dibalas sebuah tatapan oleh Rhee Hwa. Minho mengerti, ia pasti tidak mengetahui apa itu konseling, jadi Minho memilih mengajak Rhee Hwa keruangannya.

Disana sangat sepi, namun saung-saung terhcium bau aroma terapi ditiap sudut ruangan Minho. Beberapa bingkai foto terpajang di meja kerjanya dan sebuah alat pemanas ruangan yang terdengar suara dengkurannya. Minhopun menyilahkan Rhee Hwa duduk di bangku ’khusus’ tempat dimana ia melakukan terapi konseling dengan pasiennya. Sebelum memulai, Minho terlebih dahulu membaca dokumen riwayat Rhee Hwa, ia mengangguk kemudian duduk tak beberapa jauh di hadapan Rhee Hwa. Sebuah lampu pijar sebagai penerang mereka, dan lampu itu hanya ditujukan pada Rhee Hwa.

”Diumur sepuluh tahun, kau sudah tinggal di kabin itu. Tidak ada pertolongan dari tim SAR  atau polisi. Polisi juga tidak mengetahui ada seorang anak di kabin. Lalu bagaimana kau hidup disana?” pertanyaan pertama dimulai. Minho kembali melirik pantulan wujud wajah Rhee Hwa yang masih datar tak berekspresi malah matanya tak sakalipun terosorot lurus kedepan. Matanya sibuk memandangi tangannya yang sedang memainkan kelopak bunga mawar yang entah dapat dari mana.

”Bicaralah sesuatu, agar aku bisa membantumu”

“….”

“Kumohon Rhee Hwa, kau tak bisa membuka mulut mu untuk mengucapkan satu kata saja?”

”Tidak!”

Minho bergidik! Oke! Dia sudah mengucapkan satu kata sesuai dengan intruksinya. Meski jawabannya sama sekali tidak diingkan Minho –Tidak!

”Jangan bermain dengan mawar itu. Dia sudah merusakmu Rhee Hwa!” Minho tidak tahan akan tingkah pasiennya. Ia sudah lama terdiam menunggu Rhee Hwa bicara tapi, anak itu malah sibuk memainkan bunga mawarnya seperti menganggap Minho tidak ada. Ia tahu menjadi dokter psikiater butuh kesabaran yang banyak, namun mengenai bunga mawar itu, Minho sedikit kesal. Ia lebih mementingkan tumbuhan itu dari pada manusia dihadapannya.

”Sepertinya mawar sangat berarti bagimu. Apa dia telah membantumu selama ini?” Yeah! Pertanyaan ini sepertinya bisa dipahami dan masuk akal bagi Rhee Hwa.

“Hmm..” Minho tersenyum, Rhee Hwa mulai bergumam, meski matanya belum bertemu dengan mata Minho.

“Ceritakan bagaimana cara ia membantumu!”

“Mahkota, dan duri.” Minho menyeringit. Apa maksud yang katakan Rhee Hwa? Apa ia sedang berhalusinasi?.

”Aku masih tidak mengerti. Bagaimana sebuah tanaman bisa membantumu di hutan. Apa sebelumnya kau bertemu dengan seseorang dan memberimu bunga mawar?”

”Tidak. Aku tidak mau bertemu dengan mereka”

Satu kalimat yang berarti dan mendalam. Kedua bola mata itu berhasil menatap lurus kedepan. Setidaknya ia berusaha menatap dokter yang ada dihadapannya.

”Aku tidak mau bertemu mereka. Aku tidak butuh mereka. Aku tidak menginginkannya!!!” amuk mulai menguasai Rhee hwa , ia mencampakkan mawarnya dan nafasnya mulai tersengal – sengal. Jantungnya berdebar dengan cepat dan sekilas kepingan peristiwa itu melayang diatas kepalanya. Ia menggeleng cepat, menggeleng dan berteriak histeris.

”TIDAK!! TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU!!!”

”Rhee Hwa! Tenanglah! Tenang! Aku tidak memintamu untuk bertemu dengan mereka. Tenanglah, oke? Aku ada disini” Minho segera beranjak lalu mencengkram bahu Rhee Hwa yang bergetar hebat. Getar itu kembali menyelimuti tubuhnya. Getar yang menjadi simbol rasa takut berlebihan dan ingin berang se berang-berangnya. Telinganya mendadak terasa bising, terdengar sayup-sayup sebuah teriakan,tangisan dan itu bercambut menjadi satu suara yang bulat. Tidak! Ini tidak boleh! Ia tidak boleh mengingat kepingan busuk itu!

”Hiks..hiks..Aku tidak mau, lepaskan aku! Aku tidak mau lagi, aku lelah! Aku lelah!!” tanpa intruksi dari syaraf tubuhnya, ia memukul mukul dada bidang Minho sambil meraung-raung. Air matanya turun sangat deras dan tampilan sangat menyedihkan, ia seperti orang termalang yang didunia dengan air suci yang dulu selalu mengalir di pipinya. Bodoh! Ia berjanji tidak akan menangis lagi. Dan sekarang itu semua terlanggar.

”Maafkan aku. Sebaiknya kau istirahat dulu. Ayo aku antarkan” Minho sudah memberi aba-aba untuk memopong Rhee Hwa berdiri, namun niatnya langsung ditepis Rhee Hwa karna ia langsung mencengkram lengan Minho.

”Kau sudah kulukai, kenapa masih mendekatiku?”

Rhee Hwa menyentuh tangan Minho yang sudah digigit olehnya. Bekas lukanya masih terlihat dan bahkam belum mengering. Minho terdiam, ia melirik Rhee Hwa dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun selang detik kemudian Minho membiarkan sebuah senyuman mengembang di bibirnya. Minho menyentuh tangan Ree Hwa yang mencengram lengannya, dan berkata.

”Sebuah luka, tidak membuat seseorang lepas dari tanggung jawabnya. Sebanyak apapun luka yang didapatkannya, kewajiban itu sangat sulit ditinggalkannya”

Rhee Hwa menatap Minho. Tajam dan dalam hingga menusuk kedalam.

“Baiklah, kita harus kembali ke kamarmu” Minho berjalan terlebih dahulu, dan dibelakang ada Rhee Hwa yang rupanya masih berdiri di tempat. Di tatapnya punggung bidang Minho yang sedang membuka pintu.

Ia tersenyum.

Tapi lukaku, tidak seperti itu. Luka dihatiku mampu menyihirku hingga liar seperti ini. Aku dilukai dan aku juga dapat melukaimu. Kuharap kau atau aku bisa pergi dan tidak saling bertemu lagi.

 ♦♦♦

Rhee hwa kembali ke kamarnya. Kali ini ia tidak bersembunyi lagi di kolong kasur. Ia memilih berdiri dihadapan jendela yang dapat menyinarkan beberapa sinar mentari ke tubuhnya. Ia sangat menyukai posisi ini. Berjemur meski dibalik jendela kaca. Dengan rambut ’baru’nya yang sengaja di geraikan ia memejamkan kedua bola matanya, merasakan aura panas sinar matahari. Cukup menyenangkan, dan cukup menenangkan suasana hatinya.

Matahari. Semua makhluk pasti membutuhkan sinarnya. Apalagi tanaman. Dengan sinar tersebut, mampu membantu proses fotosintesis yang dilakukan tanaman untuk membuat makanan. Sangat penting. Dan itulah matahari, sumber kehidupan.

Dan bagi tanaman berupa bunga, sinar matahari juga membantunya untuk memekarkan mahkotanya hingga mengembang membentuk sebuah mahkota yang indah dipandang. Bunga mawar begitu juga bukan? Ketika sang mentari menyinarinya, kelopak bunga tersebut perlahan terbuka, lalu tampaklah mahkota yang masih menguncup perlahan mengembang, terakhir, ia akan bermekaran dengan warna indah mereka.

Sama sepertiku, aku membutuhkan sinar itu. Tapi aku tidak punya, matahari tidak dapat menyinariku hingga aku tidak dapat bermekar dengan indah. Aku menguncup, sangat lama dan berharap keajaiban ”sinar” itu datang. Aku membutuhkanmu, matahariku.

”Sedang memandang langit?” lagi, apa tidak bisa orang itu mengganti nada bicaranya? Rhee Hwa sangat benci dengan intonasi dibuat-buatnya itu. Tidak pantas oleh seorang pria sepertinya.

”Cerah. Kau mau melihat langit lebih jelas?” suaranya makin mendekat, mungkin sudah berdiri disamping Rhee Hwa. Ia juga ikut mendongak kepalanya, melakukan apa yang dilakukan pasiennya.

Minho memiringkan kepalanya, melirik pantulan wajah Rhee Hwa dari samping. Meski tetap hampa,namun seperti ini lebih lumayan.

”Kau mau ikut aku?” ajak Minho lagi.

”Kemana?” kembali tersenyum mendengar suara kecil pasiennya. Minho menggenggam tangan Rhee Hwa lalu tanpa basa-basi langsung mengajaknya keluar kamar. Rhee Hwa tak memberontak, ia membiarkan tubuhnya diseret oleh dokternya. Bibirnya masih membungkam,dengan bola mata sayu ’tak berarti’-nya

Hingga di akhir penghujung langkah, tibalah mereka ke sebuah tempat yang cukup tinggi. Minho membuka pintu yang terbuat dari kaca itu, dan mempersilahkan pasiennya masuk terlebih dahulu. Rhee Hwa berjalan dipermukaan lantai yang berlapis semen. Langkahannya sangat kecil hingga ia berjalan lambat. Melihat itu, Minho berlari kecil menghampirinya lalu membimbing Rhee Hwa berjalan.

”Kau tidak takut ketinggiankan?”

Dia menggeleng.

”Tempat ini sangat pas untuk melihat langit sore. Ah! Ini juga sebagai terapimu, karna dapat merelaxkan pikiranmu.” oceh Minho, membiarkan Rhee Hwa berdiri beberapa meter di tepi gedung. Mereka sedang diatap gedung. Bersama angin sepoi-sepoi dan matahari yang setia menemani langit sampai satu jam kemudian.

”Hari ini kita tidak melakukan konseling, jujur aku sedikit kecewa. Aku sangat berharap mengetahui tentang banyak hal darimu. Tapi kau selalu diam.” Minho memulai topik. Ia mengikuti Rhee Hwa memandang langit sore. Seperti bicara dengan batu, Minho merasa ’kesepian’ itu sekarang. Ia mengerti, inilah arti dari kesepian. Di saat tak ada orang yang mau menemani kita, mendengar bahkan bicara. Rupanya rasanya sakit juga. Dan itu dirasakan selama 7 tahun oleh gadis si dini Rhee Hwa, Minho tidak bisa membayangkan betapa kuatnya Rhee Hwa mempertahankan nyawanya di dunia liar hingga selama itu. Jika seorang yang mengendap bipolar disorder mengalami stress berat atau mempunyai masa riwayat buruk, dalam selang waktu hari ia pasti akan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Namun tidak dengan Rhee Hwa, di usianya dulu masih menginjak 10 tahun, ia mampu mengontrol emosi untuk bunuh diri itu, dan memilih menjalani hidupnya meski sekarang ia tak normal lagi. Yah itu saja yang sangat disayangkan.

”Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu” tanya Minho serius.

Rhee Hwa tidak mengubrisnya, toh ia selalu tidak mempedulikan Minho bicara sebelumnya.

”Apa kau membuang masa lalumu dengan mawar? Bagaimana bisa?”

Glek!

Sejurus kemudian Rhee Hwa menoleh karna ada kata ’mawar’ terdengar oleh daun telinganya. Ia melototi Minho sejenak 1 detik, 5 detik, 30 detik, sampai satu menit.

”Teman. Karna mawar temanku, dia bisa membantuku”

Bukan seperti kau manusia! Manusia tidak setia, ia akan meninggalkan temannya! Dan tidak akan pernah mengerti perasaan makhluk seperti ku.

” Aku tau mawar juga makhluk hidup, tapi apa dia bisa berbicara? Bergerak dan menyentuhmu? Dan yang pentingnya apa dia mengerti perasaanmu?”

Tepat!

Rhee Hwa memalingkan wajahnya. Merasa kesal akan ucapan Minho tadi, ia memilih memandang langit lagi. Dan yang pentingnya apa dia mengerti perasaanmu? Sungguh! Rhee Hwa sangat benci dengan kalimat itu. Apa dia sangka, ia bisa mengerti perasaan seseorang? Apa dokter itu pernah merasakan apa yang dirasakannya selama bertahun – tahun ini? Di pukul, dihina, ditinggal, sendiri, dan itu sangat sakit! Hanya mawar itulah yang berhasil membuang rasa takutnya saat itu. Karna mereka indah. Harum. Menawan.

Di saat bumi kedinginan dan membeku, ia bisa bermekar dan menampakkan sisi terangnya. Apa itu luar biasa? Mereka kuat, dan Rhee Hwa ingin seperti itu. Ia ingin kuat, tak mau lagi seperti manusia bodoh yang menghabiskan hidupnya dengan tangisan penyesalan lalu diakhirnya ingin bunuh diri. Bodoh bukan? Sama seperti wanita yang dulu ia panggil ’eomma’. Ia menyerah begitu saja padahal masih ada celah untuk memulainya dari awal. Ia bahkan tidak mengerti bagaimana kata hati ’anak’nya untuk mengatakan ’jangan’ berkali-kali . Ia tidak mengerti karna ia bodoh, terbodohi oleh manusia idiot itu ! Idiot! Jahat! Kejam!Tak tau diri! Rhe hee telah dikelabui oleh manusia itu yang menjerumuskannya kedalam jurang kegelapan. Nah, bagaiamana? Untuk apa lagi manusia hadir di kehidupan Rhee hwa? Mereka hanya bisa memberi harapan, lalu menghancurkan harapan yang dia berikan pada kita.

Mereka membuatnya gelap. Haus akan kebencian dan lelah akan kesakitan

Aku ingin membalasnya!

”Rhee hwa? Kau tertidur?” Minho melembaikan tangannya ke udara, menyadarkan Rhee Hwa yang sedari tadi memejamkan matanya dan bergumam tak jelas. Oh, sudah berapa lama ia seperti ini hingga kepingan busuk itu kembali teringat.

”Ada sesuatu yang kau pikirkan?”

”A-”

Drrt drrrt drrt!

”Ah, tunggu sebentar.  Ada seseorang menelfonku” kesempatan pun lenyap, baru satu huruf yang dilontarkan Rhee Hwa, Minho sudah menepisnya hanya untuk mengangkat panggilan dari gadisnya . Cho Ren Hye.

Benar bukan? Manusia hanya memberiku harapan, lalu ia akan pergi begitu saja. Meninggalkan aku sendiri, kembali

Rhee Hwa mendesah. Ia menghembuskan nafas berat lalu berusaha untuk menahan air bening ini agar tidak keluar. Ia tidak mau seperti ini, tapi…ini sangatlah sakit. Ketika hatinya sedikit terbuka dan membiarkan orang itu memberinya harapan, hanya berupa satu huruf yang baru terlontarkan. Ani! Hanya satu detik, dan dalam satu detik itu, orang tadi melenyapkan harapan Rhee Hwa. Bagaikan menginjak harapan itu dengan sepatu berlapis duri, menginjak tanpa ampun, merobeknya lalu membuangnya ketengah laut. Habis. Tidak ada lagi. Manusia memang jahat.

Apa tidak ada manusia di dunia ini yang mengerti apa itu ’aku’? Kenapa mereka lebih sering menyakitiku? Aku sakit sangat sakit dari pada apa yang kalian bayangkan. Lelah, kata itu selalu mengambarkan suasanaku.Aku lelah Tuhan..

”Jangan menyerah! Ini bukan akhir, tapi ini baru permulaan!”

 Suara?

Siapa?

”Apa perlu aku memberi tahu namaku,tempat tinggal, dan golongan darahku padamu? Nama bukanlah satu-satunya simbol dari seorang manusia. Kau harus tau itu.”

Orang itupun pergi, membalik kebelakang lalu berlalu begitu saja.

 ♦♦♦

”Sudah ku katakan! Aku ingin membuka kasus itu lagi! Hyung dengar aku tidak?” rahangnya mengeras dengan giginya mulai mengeretak. Ia mengepal tangannya erat menahan kesal dan emosi yang berhasil menguasai jiwanya.

”Fokus terhadap ujianmu! Kau mau mengulang satu tahun lagi,eoh? Lupakan kasus itu! Pihak polisi sudah kewalahan karna tidak ada bukti yang real”

Pria itu membalas bentakan. Lalu ia duduk , mencoba menenangkan pikirannya. Anak ini, benar-benar selalu membuat onar dan seenak jidatnya membuat orang kewalahan. Diusia dewasa sepertinya, seharusnya sudah bisa mengontrol apa itu emosi, dan diri sendiri! Bukan memaksa dan teriak-teriak seperti ini.

”Kau, aku sedang kesal padamu! Tapi kenapa kelihatannya kau yang lebih kesal? Aish jinjja! Baru sehari aku masuk kerja, kau sudah mengangguku dan memusingkan kepalaku! Kau tak tau, selama ini cutiku yang berharga tercemar karna bahan praktek konyolmu itu. Aku dan Taemin dengan susah payah mendapatkannya, dan ketika kami menyerahkannya dengan santai kau bilang ’buang saja?’ Oh…Ya Tuhan, setan apa yang masuk kedalam tubuhmu, bocah?!”

”Hyung! Kau melebihi bawelku!”

”Benar! Karna kau! Semua karna kau. Aigoo…Bahkan umurmu sudah menginjak 23 tahun tapi tingkahmu itu seperti balita 3 tahun! Pantasan orang tuamu selalu menelfonku menanyakan kau dimana,bagaimana,sedang apa? Aku ingin mati rasanya!!”

”Mati saja kalau begitu!” sangat cuek! Ia bahkan mencibir pria yang beberapa tahun tua darinya. Sangat tidak tau sopan santun.

“Hahh…Aku kesini tidak mau mendengar omelanmu hyung. Tapi…Baiklah dengan berat hati aku ingin bantuanmu” apa? Meminta bantuan dengan berat hati? Anak ini memang benar-benar!

”Oke! Jika kau juga ikut menanggani kasus lama itu dan menunjukkan beberapa bukti. Kami, pihak polisi mau membantumu. Tapi! Asalkan kau rajin belajar dan fokus terhadap ujianmu! Arrachi?”

”Ne! Petugas Kim!” dia memeberi hormat kepada pria yang berseragam cokelat tadi. Kim Jonghyun. Sangat kekanakan memang, tapi inilah dia. Ia senang menjadi diri ’barunya’. Hidup bebas dan ditemani oleh banyak teman dan kenalan. Terutama Jonghyun, mungkin ini kenberuntungan baginya dapat berteman bahkan bersahabat dengan seorang polisi.

”Baiklah. Aku ingin pergi dulu!” Jonghyun merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya dan memasukkannya kedalam tas jenjengnya. Ia melepas topi ’kepolisian’nya lalu melesat melangkaui sosok pria yang sedari tadi bersamanya.

”Mau kemana?”

”Ke rumah sakit! Wae? Mau ikut?”

Pria tadi menimbang-nimbang tawaran Jonghyun. Well! Hari ini ia tidak punya jadwal penting!

”Oke!”

 ♦♦♦

Langit sudah gelap,malam telah mengantikan siang. Kondisi rumah sakit sama seperti biasanya. Sunyi dan tidak ada kegiatan para perawat rumah sakit yang terlihat. Mungkin hanya perawat yang mendapat sit malam yang menjaga rumah sakit.

Drap!drap!drap!

 Koridor rumah sakit yang tadinya hening, kini dapat didengar beberapa langkahan derapan kaki yang keras menjurus sepanjang koridor. Terdengar jelas langkahan itu sangat cepat mungkin bisa disebut berlari?

”Suster! Bagaimana bisa dia melakukannya? Bukannya kau sudah memberinya Diazepam?”

”Dia mengamuk dan tidak mau memakannya. Maaf dokter! Ini karna kelalainku!”

”Ani! Bukan salahmu! Ayo! Percepat langkahmu!”

Percakapan yang diselimuti rasa panik itu menghiasi ruang dengan suara gema mereka. Pria yang berjubah putih itu, tak henti mengepal tangannya erat. Nafasnya mulai sesak dan hingga deruan nafasnya tak beraturan. Sejenak ia mencoba untuk menghela nafas dan mengeluarkannya, mencoba sedikit relax, padahal keadaan mengekangnya untuk mati tegang.

BRAK!

Pintu ruangan terbuka tanpa izin. Dalam sekejap dokter tadi memuatar bola matanya, mencari objek yang ingin ia cari. Nafasnya yang sesak menjadi saksi betapa paniknya ia, tapi sekuat tenaga ia menghilang rasa itu.

”Hahh..haah..!Hahahahaha!! AAARGH!!”

”HENTIKAN!”

”Dokter Choi!”

”Suster, bisakah kau beri suntikan bius padaku?”

”Baik dok!”

Minho mengedarkan pandangannya pada Rhee Hwa, ya siapa lagi yang tidak membuatnya sepanik ini kalau bukan pasiennya? Sekitar 5 menit yang lalu, ia mendapat kabar Rhee Hwa menyakiti dirinya lagi. Bukan! Kali ini bukan dengan duri, tapi serpihan kaca yang sengaja dipecahkannya pada lengannya sendiri. Gila!

Minho menatap seisi ruangan sejenak, sangat kacau! Semua benda tidak berada di tempatnya. Seprai kasur terobek, meja terbalik dan serpihan kaca berserakan dimana mana dan yang parahnya..Darah Rhee Hwa berlomatan di pakaian dan seprainya. Sungguh!.

”Kenapa kau datang!?PERGI!PERGI! MANUSIA!!!” Rhee Hwa mendapati Minho yang sudah di sampingnya, ia melempar vas bunga kearah Minho dan hampir saja, vas itu langsung di tangkap Minho.

”Hentikan! Penyakit itu sudah menyebar dengan cepat di otakmu. Kau harus tenang Rhee Hwa, jangan sakiti dirimu lagi.” Minho mencoba menyentuh bahu Rhee Hwa, namun betapa terkejutnya Minho ketika tangan Rhee Hwa menancapkan serpihan kaca ke tangan Minho dengan keras.

Sssrrkk!

”Aaargh!” Minho menahan sakit yang luar biasa ampun di punggung tangannya. Serpihan itu berhasil menusuk urat nadinya hingga darah segar mengalir dengan cepat di tangan Minho. Perlahan, dengan getar yang hebat, Minho merenggangkan pegangannya dari bahu Rhee Hwa yang terkena ciprakkan darahnya. Minho terduduk lemas, kepalanya pusing dan pandangannya mulai kabur.

”Dok! Ini saya membawanya- ah! Astaga! DOKTER!” suster tadi menjatuhkan suntikannya. Bergegas ia berlari kearah Minho, dan betapa terkejutnya ia melihat tangan Minho tertancap serpihan kaca yang lumayan besar. Dan ada satu hal yang tiba-tiba saja terbesit di otak suster.

Pasien itu yang melakukannya?

“Hahaha! Dia terluka!  Lihatlah tangannya! Sebentar lagi dia akan mati! Dia tidak akan mengganggu aku lagi!”

Tawa penuh kebencian, tawa yang dilapisi oleh gelapnya dendam yang mendalam. Ia seperti telah dirasuki. Riwayat masa lalu yang membekas kembali mengingat di memorinya. Di saat ia dilenyapkan oleh harapan dan ditinggalkan. Begitu sakit rasanya. Saking sakitnya ia ingin menambah rasa sakit itu dengan menyikiti dirinya sendiri. Oh bukan, ia bahkan ingin sekali menyakiti atau mungkin membunuh seseorang yang dalam waktu satu detik menghancurkan hati sensitifnya.

”Sudah kubilang! Kau sudah kulukai, mengapa masih mendekatiku? Bodoh! MANUSIA SEMUANYA BODOH!” Rhee Hwa bangkit dari duduknya. Tangannya yang berlumurkan darah ia usapkan ke ujung pakaiannya. Ia memandang tangannya yang merah itu. Ia kembali tertawa, sangat senang.

”Hei! Ada apa ribut-ribut? Dokter! Apa terjadi sesuatu? – ASTAGA!”

“Petugas Kim! Tolong dokter choi! Tangannya terluka dan mengenai pembluh nadinya!” seseorang datang dari pintu dan betapa terkejutnya ia melihat Minho yang tergelatak tak berdaya dengan tangan berlumur darah, sedangkan suster tadi hanya dapat memopong tubuh Minho di pahanya, tak sanggup mengangkat tubuh Minho  karna berat.

”Ba-baiklah! Kau bawa bangsal, aku akan membantu menaikinya. Ah! Apa Dokter Lee masih bertugas?”

”N-ne! Dokter Lee masih diruangannya, petugas Kim!”

Suster tadi langsung berlari untuk mengambil bangsal di luar. Sedangkan Jonghyun membantu mendudukkan Minho. Ia melihat luka Minho, dan ia sangat ngeri. Siapa yang berani melakukan hal keji ini kepada Dokter Choi? Ah! Jangan bilang! Jonghyun tau, ia hampir melupakan orang itu, dalam selang detik, Jonghyun menolehkan kepalanya. Pertama yang ia lihat adalah percakan darah dimana-mana. Lalu sobekan kain yang dilumuri oleh darah, dan terakhir, sebuah punggung kurus yang bahunya bergetar naik turun.

”Hiks..hiks..Hahaha! Hiks..! Dia akan mati!”

”Rhee Hwa!” panggil Jonghyun. Namun orang yang dipanggil namanya itu tidak ingin mendengarnya. Ia memeluk dirinya sendiri, dingin dan getar itu kembali dirasakannya. Ia takut sangat takut hingga ia melanggar janjinya lagi. Menangis.

”Petugas Kim! Saya sudah membawanya!”

”Ah iya! Bantu aku mengendongnya!” Jonghyun tidak mempedulikan Rhee Hwa yang ia sangka  ’gila’ itu. Tidak ada satupun yang menolongnya, gadis itu, Rhee Hwa. Yah Jonghyun dan suster memilih untuk menolong dokter choi untuk dilarikan ke unit gawat darurat dan diperiksa lebih lanjut.

Mereka benar-benar…

Sedangkan gadis ini? Ia menahan dan berusaha keras menghilangkan rasa takutnya. Giginya mengigil dan seketika tubuhnya mendingin. Wajahnya penuh bercatkan darah sirah. Jiwanya kembali goyah, entah karna ia merasa terkekang di ruangan ini atau mengingat kejadian di atap rumah sakit tadi. Ia ingin menahan tangisnya, bahkan ia ingin menghilangkan semua stok air matanya, tapi itu tidak bisa. Lagi,dan lagi ia bertindak tidak sesuai dengan apa yang dikatakan otaknya.Ia telah dipengaruhi antara trauma dan halusinasi yang berat.

”Tenang! Manusia itu akan mati! Iya! Dia akan mati! Hahaha! Aku akan bebas dan kembali bersama temanku! Iya! Teman dan tempat tinggalku! Hahaha!”

”HENTIKAN!”

Sebuah seruan keras mengusik suasana Rhee Hwa. Dengan emosi yang mencolos ia membalikkan tubuhnya, menatap sinis manusia mana yang berani mengusiknya! Dan Rhee Hwa sangat tidak berharap jika orang itu menolongnya! Cih!

”Berhenti bicara seperti itu! Sadarlah! Kau terlihat lebih menyedihkan dari apa yang kau bayangkan! Kau membuatku..Jijik!” orang itu berdiri diambang pintu. Entah sejak kapan ia disana, yang pasti ia sudah lama berdiri dari luar ruangan. Ia sengaja berdiam disana, membiarkan keributan itu terjadi. Hingga semua orang tidak mempedulikannya dan tidak melihatnya ia ingin bertemu dengan pembuat onar itu.

”Aku kira kau akan berubah setelah pertemuan kita di atap tadi. Tapi, kau belum mengerti juga ya? Dimana hatimu eoh? DIMANA! Aku..Aku sangat kecewa mengetahui ada manusia menyedihkan sepertimu!”

Orang itu berjalan mendekat, ia berdiri tepat disebelah Rhee Hwa yang termenung mendengar luapan orang tadi. Tatapan matanya kembali kosong menatap sosok tadi. Ani! Bukan kosong, tapi kini mata itu mulai dihiasi oleh kaca-kaca seakan air telah menggenang di matanya.

”Si-si..Siapa..Kau?” lirih Rhee Hwa terbata-bata. Namun bukan menjawabnya orang itu malah mengangkat bahu Rhee Hwa agar bisa berdiri.

” Nama bukanlah satu-satunya simbol dari seorang manusia. Nama, itu bisa membedakan tiap manusia bukan? Dengan nama, orang dapat membedakan mana orang yang dikenal baik dan jahat. Kau mau dikenang seperti itu?”

Ucapan orang itu sangat mudah dimasuki akal Rhee Hwa. Ia memahami apa yang dikatakannya, dan ia membalas dengan gelengan

Pria itu tersenyum

”Bagus kau kalau mengerti. Dan kau tahu kenapa aku berkata seperti itu?”

Rhee Hwa menggeleng.

”Itu karna kita sama.”

Dengan lebar aku membuka mataku. Orang itu menggenggam bahuku dengan erat dan menyatukan tatapan kami dengan sorotan matanya yang tajam. Matanya memancarkan sesuatu hingga membuatku terdiam dan takut ini menghilang seketika.

 

Disaat tak ada yang berpihak padaku, disaat tidak ada yang mau menolongku.

Orang itu datang,meski bukan untuk menolong.

Tatapannya tidak mencerminkan bahwa ia adalah manusia yang sama kupikirkan.

Dia berbeda dengan manusia bodoh-bodoh itu.

Tapi sayangnya, aku bingung akan kalimatnya

 

”Itu karna kita sama.”

Apa maksudnya?

T.B.C

Maaf karna ending yang gak jelas ._.v maaf karna gak sesuai dengan genre yang tercamtum diatas, karna aku belum tau banyak hal, ini aja udah pusing bolak balik mbah google sama wikipedia tapi belum juga paham. Maaf selagi maaf u.u

Tapi setelah baca mohon komennya ya ^^ beri aku kritik dari kalian ^^

Iklan

19 thoughts on “[FF Request] The Dark Side- 1 B

  1. ananfakeester berkata:

    waah seperti biasa, ini sesuai banget sama yang aku pengenin. berat, terus rada dibumbui psikopat.. betewe yg 1 b ini tubuh rheehwa udah sesuai gambar di cover, menyerupai manusia normal ato masih kurus kering gitu? terus rambut rheehwa yg udah dipotong sepanjang apa? meski sekedar dirapiin masa iya rambutnya dibiarin se tumit. itu bikin aku rada bingung sih bayangin nya, termasuk yg bagian ‘cantik’ itu,

    pencitraan karakter rheehwa yang ‘semacam itu’ kuat banget, sampe nyalur gitu.
    key masih belum nongol ya, orang penting biasanya nongol terakhir xD. penasaran ih sama orang tanpa nama nya ._.
    intinya cocok banget udah, psychology bipolar disorder nya juga enough kok. tinggal penggambaran fisiknya aja sih, kalo penggambaran batinnya sih jempolan.

    kamsa, thor ^^

    • sama lagi dong ? hahaha XD kayak udah ketebak aja :p

      oh ya, rhee hwa nya sih udah kyk di cover, anggap aja kyk gtulah *maksa XD

      trus maaf ya, kalau belum sesuai dg genre yg kamu minta, soalnya aku gk ahli ke ff yg lebih berat seperti cerita psikolog biasanya. mian ._.v

      lho..kamu lupa dengan paket yg aku kasih?? kok gk ngerasa ‘org itu’ adalah…hehehe coba deh baca2 lagi.

      fisiknya? oke oke aku usahin deh! ^^

      • ananfakeester berkata:

        jadi orang misterius tanpa nama itu Key? orang yang senasib? yang muncul tiba-tiba? yang ngomel sama jonghyun?

        ya ampun kok kerasa belum nemu asosiasinya, bisa dijelasin gak paketannya? jebal ._.

      • ananfakeester berkata:

        tapi tapi sama aja kan thor kalo aku gabisa merasakan kehadiran Key di FF ini, kan dia ‘point’ nya ._. apa semua pertanyaanku jawabannya YA?

      • emang juga sih, kekurangan akunya di situ. Padahal di part a jonghyun sudah ngomel2 di telfon wktu itu lho..part b ren hye juga pernah ngomongin seseorang…

        maaf ya, kalau kamu gk ngerasin ada Key nya di sana. Kehadirannya misterius say, gk mungkin aku bocorin di sini. nnti gak menarik lagi kelanjutannya u.u

      • ananfakeester berkata:

        tunggu, antara orang keras kepala yg nelepon jjong sama ‘oppa’ nya renhye ada asosiasi suruh nyari tumb langka, berarti itu key yang author maksud? .-.

      • .___.

        aduh aku diintropeksiiiiii >.<
        *kabuuur……

        sabar sabar, aku janji deh bakal jelasin detailnya mengenai ttg 'itu'….

        tp kmu taulah key gmna sifat aslinya? or emng aku yg gk bisa mndeskripsikannya dg baik…nanti bakal ngerti kok, sabar ya..

      • ananfakeester berkata:

        ‘diintrogasi’ thor xD
        yah authornya tega ya kabur ninggalin orang penasaran.
        iyadeh aku jadi reader yang baik ._.
        kalo di suruh bikin question list, banyak nih thor yg mau aku tanyain, penuh misteri sih, greget.

        pengennya ngempet sih thor, cuman aku takut entar ga nyambung aja di part selanjutnya ._.

      • mklum udah mlam nih, aku aja merem merem eh melek lg pad ngetik dan baca komen kamu u,u
        bawel juga kmu ya ?^^*evilsmile

        okedeh,, aku harap gk deh, typo nya makasih bgt, berasa bodo ni aku XD

        oke…cib bye ^^ (?)

  2. Miina Kim berkata:

    Keringetan….. “^__^”
    Baca ini bikin eon deg-degan, nebak2 apa yang bakal terjadi
    sedetik kemudian… khawatir, takut, atau apalah gak tau…

    Tuh, yang dicetak miring, isi hati Rhe Hwa, kan..???
    Kadang terasa serem gimanaa…
    Dia udah terlalu kecewa dengan orang2 yang pernah ia kenal dulu,
    sampe mikir, semua orang sama, tidak bisa menepati janji
    dan melindungi dia sebagaimana mestinya….
    Tapi kenapa dia terdengar kayak psikopat gitu..???
    bilang “Mati… mati…”
    aiiissshh…. eon takut dengan genre begituan….

    Saeng, kan gak semua readers, terutama eon, “ngeh” atau tau
    dengan istilah2 penyakit kejiwaan begini…
    Tadi eon liat ada beberapa istilah medis, ya, kayak…
    “bipolar disorder, antipsyhotic, diazepam, ”
    Mungkin lebih bisa dipahami kalo Fujita buat kayak Notes
    atau catatan kaki dibawah ceritanya, untuk kasih tau pembaca
    tentang istilah2 tersebut….
    Kan biar readersnya juga tambah ilmu…

    Readers: Kami udah tau, eon….
    Iya, tapi eon yang gak tau… terlalu sibuk nontonin video2 SHINee,
    terlebih Jinki, ampe males baca ensiklopedia dan sanak saudaranya…

    Oke, lupain kenyataan bahwa eonni juga 11/12 dengan Hye Ra…
    #gak pinter, gitu…

    Sekarang back to the story… wueh… pakek b.ing…
    Jadi sbnernya, Minho udah punya pacar,
    dan pacarnya adl adiknya Jinki???
    Dan Jinki punya pacar, namanya Miina Kim…???
    #yang ini abaikan saja…

    Berarti, dia bukannya bakal pacaran sama Rhe Hwa…
    ah, eon salah kira…
    Gak ketebak nih, kalo Minho bakalan jadi adik ipar Jinki…
    Kirain bakal ada Love on Location antara pasien dan dokter…

    Trus, siapa, tuh, yang berteriak panjang lebar ke Rhe Hwa
    setelah Minho diboyong… #gak enak bener bahasanya
    dibawa ke ruang perawatan oleh Inspektur Vijay nya Korea
    alias Polisi kim Jonghyun…?
    Itu Key…??? Kok, Key nya ngomong kayak gitu..???
    apa pula maksudnya…??

    Nah, kali ini, baca Part ini eon berasa kayak naek ‘komedi puter’
    asik, seru, menegangkan…, sekaligus bikin puyeng….
    Ada banyak tanda tanya gede di atas kepala eon…
    #toyor kepala Fujita….
    Kamu udah buat eon kayak gini…
    Kayaknya eon perlu mandi pakek keramas,
    biar kepala eon dingin gak puyeng…

    Keep writing, saeng…
    Cerita2mu eon tunggu terus, yah…
    Walaupun buat mood eon ganti2 warna… kayak bunglon…

    Terakhir, nih….
    Demi dokter2 yang keliatan kerrennn dengan seragam putih mereka…
    Jinki walaupun munculnya dikit… tapi kesannya tetep selangit….
    #Emang dasarr otak eon aja, yang udah rusak kena virus Jinki…
    Jinki-ya… saranghae….
    Adikmu udah punya Minho, yok kita jadian juga….
    #disuntik bius ma suster….

    Annyoong…..

    • Oh ya! Kelupaan buat istilah garis miring itu *O* mian eon..aku kira eon tau *O* okedeh nanti aku edit tulisannya.

      komedi putar? istilah yg unik juga. hehehe. … eon udah tau itu key? hebat! hahaha, tapi bener kok, eon salah tebak! nantikan saja part selanjutnya jangan asal tebak dulu yah eonni ^^

      gomawo ^^

      • Miina Kim berkata:

        Makasih, saengi….

        Tau, dong, itu Key… Berasa cerewet dan pedes mulutnya…
        #digampar lockets

        Ya, deh, gak asal tebak lagi…

        sama2…
        #kedipin Jinki…

  3. lisa berkata:

    Aku tau kok itu key..kan ada yg nyebutin ‘aku dan taemin’ ya berarti yg d ajak ngomong orang lain siapa lagi selai Key?lagian kan yg bawel n cerewet cuma umma key?yg bsa marah2 sama hyungnya hahahahaha
    Apa mungkin key itu kakaknya rhee hwa yg dlu d bawa bapaknya?
    yaudah ya daripada sotoy tunggu aja part selanjutnya hahahhaa semangat thor!

  4. miwa berkata:

    UNNIE OEMGI AKU BARU DATANG KE DUNIA UNNIE NIH/? INI SUMPAH KAPAN DILANJUTIN?! TuT yuno unnie, aku suka banget sama ff psycology-genred:3 tolong dilanjutkan~ /bow.

    • omg, syok liat komennya
      makasih sudah mampir ya..
      maaf ff ini udh lama bgt gak dilanjutin
      moga2 cepet di post , maklum udh jarang nulis lg soalnya sibuk >< sekali lg thank u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s