Secretly Love – Part 15 [END]

Secretly Love

secretly love

Title : Secretly Love – Part 15 [END]

Author : Shin Fujita

Main cast :

  • Choi Minho [SHINee]
  • Park Hye Ra [OC]

Support cast :

  • Kim Kibum a.k.a Key [SHINee]
  • Kim Jonghyun [SHINee]
  • Lee Taemin [SHINee]
  • Lee Jinki a.k.a Onew [SHINee]
  • Jung Soojung a.k.a Krystal [Fx]

Genre : Romance, marriage life, friendship

Rating : PG 13

A/N : Annyeong! Pasti pada bingung napa ini author gak muncul berabad abad lamanya -.-. Mianhaeyo….1001 alasan kenapa aku gak publish fanfic lagi disini (alaaah -.-) Tapi alhamdulillah atas izin Allah SWT, aku kembali dan mempublish sebuah fanfic yang udah sekian abadnya ditunggu kelanjutannya. Maaf ye, lama banget, lagian salah laptop aku juga sih. Orang mau nulis eh malah dia rusak, data hilang..Jadi barabe kan? Udah ah, males umbar-umbar kesialanku. Sekali lagi maaf atas keterlambatannya. Aku harap kalian gak kecewa endingnya 😦

Happy Reading! ^^

♥Story line by Shin Fujita♥

Sang surya telah menampakkan diri dari sejumlah gumpalan awan yang menutupi. Menjadikan bumi ini disinari oleh sinarnya yang mampu menerangi di pagi hari. Pagi yang cerah, dan penuh kehangatan. Bukan hanya itu, pagi ini berasa begitu berbeda dengan pagi sebelumnya, pagi yang menurutnya biasa saja, sekarang menjadi pagi yang sangat istimewa. Karena semalam itu, membuat yang menyulitkan perlahan hanyut dan sekarang menciptakan suasana yang dulunya jarang mereka rasakan.

Kini, kita beralih ke kedua bola mata indah yang sedang memandangi punggung kekar berbalut kemeja putih. Mata itu tidak henti menatap pemilik punggung kekar itu yang kelihatannya sedang sibuk mengaduk sup kentang untuk sarapan pagi mereka. Sekarang, ia memiringkan kepalanya lalu memangku dagunya dengan berwadahkan kedua telapak tangannya yang disatukan. Gadis itu tersenyum, karna menerima getaran yang sangat kuat dari dalam dadanya. Berdebar, ia sangat berdebar.

“Minho-ya, masih lama? Aku sudah lapar….” Keluhnya ditambah nada sedikit manja membuat Minho menolehkan kepala, melirik istrinya sedari tadi duduk manis di meja makan. Memang benar, yang memasak adalah Minho, dan yang menunggu di meja makan adalah Hye Ra.

“Ige..Mogeo.” Setelah menyalin sup buatannya,  Minho menaruh di meja makan yang sebelumnya sudah disediakan dua mangkuk penuh berisi nasi hangat.

“Jinjja…Kamjaguk ini kamu yang buat? Dari harumnya saja tidak akan mengecewakan perutku.” Minho menatap Hye Ra dengan tatapan datar, dia pikir yang buat tadi setan apa? Jelas Minho! Suami Hye Ra. Dan setelah menunggu beberapa detik, akhirnya Hye Ra menyendok sup kentang buatan Minho. Gadis itu terdiam cukup lama, hingga membuat Minho panik akan masakannya.

“Otte? Masijjyo? Ah! Kamu tidak suka? Apa supnya tertalu asin? Ya! Marebwa!Bagaimana rasanya!” Heran karna Hye Ra memicingkan matanya setelah menyuap sup kentang tadi, Minho buru-buru menyicip sendiri masakan buatannya. Dia kembali melirik HyeRa , tidak ada yang salah dengan sup nya.

“Minho-ya…..”

“Ne?”

“Kyaaa! Neomu massitda! Kamjaguk buatan mu sangat enak! Aku tidak percaya rupanya namja seperti mu juga jago memasak! Ige, cicip lagi! Kau harus coba!” dengan semangat Hye Ra menyodorkan sendok miliknya yang penuh dengan nasi dan beberapa potongan kentang ke mulut Minho, sedikit menunggu, akhirnya Minho membuka mulutnya. Minho mengerjap, teringat kalau baru pertama kalinya Hye Ra menyuapinya setelah beberapa bulan ini mereka bersama.

“Enak kan?”

“Seharusnya aku yang bilang begitu!”

“Geurae? Hehehe ini karna masakanmu sangat enak jadinya aku sangat bersemangat. Ayo! Kita habiskan sarapan pertama kita!” Seru Hye Ra ceria sambil melahap semua yang ada di piringnya. Minho tidak bergeming, mendengar kata ‘sarapan pertama’ itu tiba-tiba mengetuk hatinya. Benar, ini sarapan pertama mereka bersama-sama. Sebelumnya mereka tidak pernah sarapan bersama, hanya membawa bekal sendiri dan juga dibuat sendiri, pokoknya mereka bagaikan tidak terlihat seperti pasangan sebelum kejadian malam itu.

Bahkan setelah sarapan, Hye Ra selesai duluan,sedangkan Minho hanya menyuap satu sampai tiga sendok nasi. Lantas Hye Ra bingung, kenapa suaminya tiba-tiba tidak nafsu makan? Minho hanya mengaduk aduk sup nya sambil mencuri pandang kearah Hye Ra.

Krek!

Suara decitan kursi membuyarkan lamuan Hye Ra. Minho beranjak dari kursinya dan berjalan menjauh dari meja. Hye Ra mengerjap, ada apa? Ada apa dengan Minho? Apa ia melakukan kesalahan padanya?

Namun belum sempat Hye Ra memikirkan apa kesalahannya itu, mendadak sekujur tubuhnya terasa panas sekaligus tegang. Jantung Hye Ra dua kali lipat berdebar lebih cepat.

“Hye Ra-ya….” Desahan itu, sungguh Hye Ra berasa lemah begitu saja. Minho yang rupanya memeluknya dari belakang membuat Hye Ra memeleleh seketika.

“N-ne?” Ia berusaha menutupi rasa gugupnya namun tetap tidak bisa karna tangan Minho makin memeluknya erat dan kini kepalanya bersender diatas kepala Hye Ra.

“Gomawo…”

“Untuk?”

“Untuk semalam, karna aku tidak bisa melupakan bagaimana kau jujur padaku, itu sangat melegakan. Hari itu aku sangat kacau seperti tidak punya secelah cahayapun untuk mencerahkan hatiku. Aku sangat frustasi, melihat kau yang terus menerus berubah dan menjauh dariku, aku takut Hye Ra. Aku takut kau benar-benar pergi dariku dan kita akan berpisah…” mendengar curahan hati Minho mendorong Hye Ra untuk menggenggam lengan Minho erat. Ia mendongakan kepalanya keatas, menatap kedua bola mata Minho intens.

“Aku tidak akan minta maaf, karna aku tau kau sangat benci kalimat itu…Jadi jangan khawatir aku tidak akan melakukannya lagi, karna aku tau aku sudah punya kau disisiku. Nado, aku juga frustasi sepertimu, kita sama-sama mengalami kesulitan. Tapi kita masih bisa mengatasinyakan? Ini seperti soal matematika yang rumit dan sulit dipecahkan. Itu cobaan kita, tapi kita bisa memecahkan soal rumit itu bersama-sama dengan rumus kita sendiri” Ujar Hye Ra penuh kepercayaan membuat seulas senyuman terlukis dibibir Minho.

“Ya, kau sudah pandai bicara sekarang,eoh? Apa maksud dari soal matematika?                Sedangkan kau sendiri tidak bisa menyelesaikan soal-soal yang diberikan sonsaengnim!” Sindir Minho membuat Hye Ra cemberut.

“Kau tak pernah bersyukur jika aku berkata manis padamu! Bisanya hanya mengritik!” Sela Hye Ra sambil menepis pelukan Minho, membuat mereka saling tatap sinis. Tapi tak selang beberapa detik , Minho tersenyum lebar dan itu sangat manis.

“Aigoo….Neomu kyeopta! Hahaha wajahmu makin jelek kalau cemberut terus Hye Ra.”

“Biarin!”

“Ya, kau marah?”

“Ani!” Minho tersenyum geli, ia tahu Hye Ra berbohong dan kali ini ia mau melanjutka aksinya. Minho kembali membisikkan sesuatu di telinga Hye Ra membuat Hye Ra kembali mendongakan kepalanya, menatap Minho tanpa berkedip. Tampak jelas semburat merah kini menghiasi pipi Hye Ra membuatnya makin menggemaskan bagi Minho. Lantas Minho mengelus pipi yang terasa hangat itu, menatap mata Hye Ra, kemudian tangan Minho turun mengelus dagu Hye Ra membuat jarak wajah antara mereka makin menipis.

Aku tahu saat ini kau berdebar – debar, nado . Aku juga begitu Hye Ra, setiap menatapmu seperti ini jantungku bagaikan telah meloncat keluar.

“Hye Ra-ya..”

“Ne?”

“ Do you want some morning kiss?” Warna merona makin menebal di wajah Hye Ra. Matanya melotot saat kalimat itu terucap dibibir Minho, tidak perlu menghitung berapa detik lagi bibir Minho telah menyapu bibir pink Hye Ra. Membuat mata yang terbuka itu terpejam perlahan menikmati morning kiss pertamanya. Sangat nyaman, karna kehangatan menyelimutinya. Bibir Minho yang rasanya manis itu melumat bibir Hye Ra masih tersisa rasa kaldu sup kentang disana. Mereka saling memejamkan mata dan bergenggam tangan satu sama lain. Bak mengukuhkan kekuatan cinta mereka bersama, dan membangunnya kembali bersama.

Aku tahu, kita berdua sedang berdebar saat ini. Tapi kehangatan yang kau berikan membuatku tidak berdebar lagi,namun rasa nyamanlah yang tercipta. Sekarang aku 100% sadar, kalau aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak pernah rugi, dan tidak akan pernah menyesal karna itu.

♥♥♥

“Ya!Ya! Waeyo? Kau terlihat sedikit gila hari ini, wae? Apa yang terjadi?” Suara cempreng Krystal selalu mengusik pendengaran Hye Ra yang asik memakan bekalnya di kantin sekolah. Sedangkan ketiga namja yang duduk tidak jauh darinya selalu melirik kedua siswi itu terutama Hye Ra, tokoh utama dalam topik pembicaraan mereka kali ini.

Mengetahui diperhatikan, Krystal pun mencubit lengan Hye Ra. Hye Ra yang tadinya senyam-senyum sambil mengunyah itu lantas terlonjak kaget. “WAE?”

“Itu…Apa mereka disana masih waras? Kenapa sedari tadi menatapmu?” Tanya Krystal menatap tajam seorang namja, yang menjadi tokoh utama kedua dalam topik pembicaraan kali ini.

“Mana aku tahu, mungkin mereka semua tertarik padaku!”

“Yeeee! Bilang saja apa yang terjadi pada kalian berdua! Hei! Apa jangan jangan kalian sudah baikan ,eoh? Eotte? Kibum oppa bagaimana?” mendengar nama Kibum membuat Hye Ra menghentikan aktivitasnya. Ia pun beralih menatap namja yang sedari tadi mencuri curi pandang, siapa lagi kalau bukan Minho. Setelah morning kiss tadi mereka memang tak bisa berkata-kata. Hye Ra kesedakan dan langsung keluar dari apartemen diikuti Minho yang mendadak kikuk, padahal mereka sudah pernah berciuman sebelumnya.

“Semalam, kami melalui hal yang sangat panjang. Dan akhirnya setelah terbuka satu sama lain, aku sadar bahwa aku menyukainya…” ujar Hye Ra dengan suara pelan

PLETAK! Dengan lancang Krystal menjitak kening Hye Ra.

“Ya! Kau tidak menyukainya! Tapi sangat sangat mencintainya! Kau sendiri yang terlalu banyak berpikir, dan selalu mengelak tidak akan menyukainya, sekarang? Kau sudah mendapat hukum karma Hye Ra!”

“Ye, arrayo. Tapi mengenai Kibum, aku tidak tau apa yang terjadi antara kami. Haruskah aku berbicara padanya?” Hye Ra tampak bimbang, mengingat ia baru baikan dengan Minho, Minho pasti tidak suka jika ia bertemu dengan Kibum. Hye Ra tidak mau membuat masalah lagi, tapi ia tidak bisa membiarkan Kibum begitu saja. Setelah menciumnya dan bertengkar dengan Minho, Hye Ra tidak bisa diam, lagian Kibum sendiri adalah sahabatnya, apa susahnya untuk bertemu dengannya?

“Mworagu? Kau mau bertemu dengan Kibum?” Glek! Kepala Hye Ra reflek naik ke atas mendengar suara berat itu menghampirinya. Gawat!

“Tapi Minho-ya…Aku harus bertemu dengannya, dan menyelesaikan masalah ini. Ingat, masalah kita masih belum selesai Minho. Masih ada Kibum yang belum kita tanggani” ujar Hye Ra penuh keyakinan membuat Krystal, Jonghyun dan Taemin tadinya muncul barengan Minho membeku dan membisu mendengar perdebatan kecil sahabat mereka.

“Kibum sekarang ini pasti tidak ingin bertemu denganmu, jadi sudah kuputuskan aku sendiri yang menggujunginya. Tidak apakan?”

“Biar aku yang menemanimu, aku janji tidak buat masalah!”

“Tidak bisa, ini urusan kami berdua, aku dan Kibum!” Tegas Hye Ra dan memberi penegasan di akhir kalimatnya. Lantas Minho terpaku mendengar tersebut, ia mendesah cukup berat. Tersirat rasa cemas dan takut yang kental. Ia tidak ingin hal itu terjadi kembali kepada HyeRa, meski hanya mereka bertiga yang mengetahuinya, tetap saja Minho takut jika sampai berita dimana Kibum mencium Hye Ra di taman sekolah tersebut tersebar dipenjuru sekolah.

“Minho-ya…Ya! Aish! Kau ini kekanakan sekali! Biarkan Hye Ra bertindak, kau tak boleh sering menghalangi langkahnya. Ya! Kajja, kita kembali ke kelas masing-masing! Hye Ra, Krystal, kami pamit dulu.” Entah kenapa Jonghyun tidak mau mendengar apalagi melihat pertengkaran sahabatnya sendiri. Dengan paksa, namja setia itu menarik lengan Minho dan Taemin secara bersamaan hingga menjauh dari Hye Ra dan Krystal.

“Krystal-ah…Eottokhae? Sepertinya Minho marah padaku…” Hye Ra terduduk lesu, sambil mendesah berat. Otomatis Krystal hanya dapat melakukan hal serupa. Mereka mampu membisu, berkelabut dalam pikiran masing-masing.

♥♥♥

Hye Ra tampak gusar. Sejak tadi ia mengetukkan pulpen keatas meja sambil sibuk memutuskan keputusan. Ia hanya banyak berpikir, namun belum mendapatkan kesimpulan. Itu menyulitkannya, terlebih Minho tidak menyukai jika ia bertemu dengan Kibum. Alhasil di jam kosong ini  Minho tak berada di sampingnya. Ia pergi dari kelas entah mau kemana. Begitu juga dengan Krystal menghilang begitu saja setelah di panggil oleh seonsangnim. Hye Ra sangat kesepian, ia tidak pernah seperti ini sebelumnya terlebih di jam kosong. Di saat teman-teman lain asik bermain dan mengobrol dengan murid lainnya, dirinya harus terkekang di bangku ini berusaha memutuskan tapi masih tidak sanggup.

Ini terasa aneh, Minho cepat berubah. Pagi tadi ia sangat manis dan baik padanya, namun sekarang kenapa dia sendirilah yang menjauh dari Hye Ra? Apa langkah Hye Ra ini salah? Bertemu dengan Kibum?

Tidak punya tujuan lagi, Hye Ra-pun memutuskan untuk keluar dari kelas. Berjalan kemana kata hatinya berkata. Dan rupanya ia berjalan ketempat yang sama seperti kemarin ini. Taman belakang sekolah. Sepintas memori menyakitkan itu terbayang oleh Hye Ra. Bagaiamana Kibum datang lalu menghampirinya dan pertengkaran antara Minho dan Kibum. Dan saat  Hye Ra menangis, diseret Minho pulang dengan paksa. Jika dipikir-pikir itu adalah hari terburuk bagi Hye Ra.

Tapi mengenai Kibum, Hye Ra tidak bisa menyalahkan semua ini kepadanya. Ia tidak tega, karna ia lebih tau Kibum itu orangnya seperti apa. Dari pada Minho, Hye Ra lebih mengenal Kibum.

“Sedang memikirkanku?” Tubuh Hye Ra reflek berbalik ke sumber suara. Betapa terkejutnya seorang yang penuh dibalut oleh jaket hitam super tebal dan topi yang menutupi rambut blondenya ini membuyarkan lamuannya. Hye Ra kemudian tersenyum tipis, ia merindukan orang itu.

“Oppa…”

“Mianhae….” Hye Ra memiringkan kepalanya. Berjalan mendekat dan memperhatikan wajah sang pria  sedang berdiri dihadapannya. Bingung, orang yang selalu fashionable ini berpakaian sangat berbeda layaknya teroris, serba hitam. Apa yang terjadi?

“Mianhae…Aku tidak sepantasnya melakukan itu kemarin.” Hye Ra masih tidak bisa merespon. Sedangkan pria itu merundukkan kepalanya dalam-dalam, tertumpahi oleh rasa bersalah yang mendalam.

“Aku bukannya membantumu malah makin menyulitkanmu. Sebenarnya bukan ini niatku. Niatku datang kemari tidak macam-macam, hanya menginginkan kau bahagia,” suara khas itu memelan, membuat Hye Ra sedikit mendongak, maksudnya membuat Hye Ra bahagia apa?

“Aku masih ingat Hye Ra, kau ingin sekali menjadi desainer. Kita berdua banyak mengetahui mengenai fashion, kita berdua dulunya sudah melalui banyak hal bersama. Dan ketika aku pindah, aku hampir lupa, aku belum membahagiakanmu. Sebagai oppamu, aku ingin mewujudkan mimpi dongsaengku. Jadi aku kembali ke Korea, dan mencarimu,”

“…namun apa yang kudapatkan? Rupanya aku dikejutkan oleh cerita dari eomma-mu. Beliau bilang kau akan menikah dengan teman sebangkumu. Kau tau? Aku kira itu hanya lelucon eommamu, tapi rupanya itu benar. Aku sempat tertawa namun segera hilang setelah aku sendiri yang menyaksikan pernikahan kalian. Aku bersembunyi saat itu, aku tidak mau kau melihatku dengan keadaanku seperti ini. Aku sangat kacau saat itu, antara tidak percaya,marah,dan kecewa.”

“Kibum oppa…” Dada Hye Ra terasa sesak mendengar penjelasan Kibum. Ia berjalan lebih dekat lagi, dan berusaha meraih lengan Kibum namun langsung ditepis pelan oleh Kibum.

“Aku juga dengar kabarnya, kau menikah karna di paksa oleh keluarga suamimu. Dia yang memaksamu agar menikah dengannya. Itu yang membuatku marah Hye Ra. Aku tidak suka kebahagianmu akan rusak dengan namja yang belum tentu cocok denganmu. Aku kesal, hingga aku membenci suamimu. Patutnya kita bertemu dan makan siang bersama dengan keluargamu, tapi malah aku menyaksikan hal yang sangat tidak mungkin itu. Tujuan utama ku itu sementara tersimpan, dan akhirnya timbul pikiran untuk mengikuti kalian berdua, sejauh mana hubungan kalian, dan rupanya hanya sedangkal. Aku sedikit lega,”

“..tapi Hye Ra, melihatmu tersenyum tertawa bahagia yang sudah bertahun tahun ini sudah lama tidak aku lihat membuatku makin sering memikiranmu. Hingga egoku mengambil alih, aku barniat ingin merebutmu kembali dari suamimu dan membawamu ke Paris sesuai tujuan utamaku tadi. Namun tak semudah yang kukira, bukannya senang bahkan aku makin tersakiti, jujur aku tidak tega melakukan ini tapi….Aku sangat membenci Minho, aku membenci namja itu! Kau tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaanku. Tugasku melindungimu harus berpindah tangan keseseorang yang belum memenuhi standar itu. Dia bahkan sering membuatmu menangis, aku membenci orang seperti itu. Aku berusaha sekuat mungkin untuk melarikanmu dari kesedihanmu karena Minho. Tapi aku salah, malah aku menyakiti dirimu akhirnya…” tak terduga bendungan air mata yang selama ini ditahan Kibum perlahan jatuh membasahi pipinya. Hye Ra tidak tega dan langsung memeluk Kibum, meski ia tahu Minho pasti tidak akan suka melihat ini. Namun Hye Ra tidak bisa diam, Kibum sudah ia anggap sebagai oppanya. Sama seperti Kibum, Hye Ra tidak mau membiarkan Kibum bersedih apalagi menangis. Dan ini semua karena dirinya sendiri.

“Oppa, jangan menyalahkan diri sendiri. Semua ini bukan salahmu. Kita semuanya lah yang bersalah. Kita sendiri yang tidak bisa mengatur ambisi kita sendiri. Ambisi untuk hidup bahagia,ambisi untuk membahagiakan, dan ambisi untuk mempertahankan. Aku memahaminya, dan disinilah kita bisa memetik pelajarannya. Uljima oppa….Aku akan sedih jika kau bersedih” Hye Ra menenggelamkan kepalanya di dada Kibum. Ikut menangis, dipelukan Kibum setelah sekian lamanya ia tidak perpelukan seperti ini lagi. Kibum tidak bergerak, tangannya tetap lurus tegak tak menyentuh Hye Ra. Bahkan Hye Ra sebaliknya.

“Oppa, gwenchana jika kau membenci Minho. Karna dulu aku juga membencinya. Aku dulu juga berpikir dia bukanlah standarku karna kau taulah..Minho itu orangnya seperti apa. Namun, entah kenapa semenjak kedatanganmulah perasaanku diuji hingga akhirnya aku mengaku mencintainya. Mianhae oppa, ini bukan berarti aku tidak berpihak padamu tapi aku benar-benar tidak bisa lepas dari Minho. Tapi bagaimanapun juga aku ingin kalian baikan, ne?” Kibum menatap wajah Hye Ra dan perlahan senyum tulus itu dapat Kibum saksikan dari bibir Hye Ra sendiri. Lantas Kibum menepis tangan Hye Ra yang memeluk pinggangnya erat. Mereka saling bertatapan lama hingga akhirnya Kibum tersenyum.

“Kau sudah tumbuh dewasa Hye Ra…Aku bangga melihat adikku mulai menunjukkan perkembangannya. Gomawo jika kau ingin membantuku baikan dengan Minho. Ku akui sekarang, Choi Minho lumayan pandai merebut hatimu, tapi aku masih merasa aku lebih baik dari padanya, iyakan?” Meski sedikit berat Kibum berusaha untuk tertawa. Inilah tawaan yang paling menyakitkan baginya, ia tidak pernah tertawa seperti orang bodoh sebelumnya. Tertawa karna melepaskan cinta pertamanya, apa itu masuk akal? Dan Hye Ra juga tertawa, sungguh miris. Kibum merasa kasian dengan dirinya sendiri, bukan mendapatkannya ia malah menambah sakit dan mendapatkan luka yang cukup dalam.

“Oppa tetaplah Kim Kibum terbaikku! Key, namja terkeren yang pernah kulihat!”

Dan kau Hye Ra, kau adalah Park Hye Ra yang paling aku cinta, yeoja cantik yang pernah aku lihat. Meski menyakiti diriku sendiri bahkan dirimu, aku tidak bisa menggapaimu. Kau bagaikan bintang yang bertabur dilangit sana, jauh, dan ditemani bintang lainnya yaitu Choi Minho. Sedangkan aku hanyalah manusia biasa yang tak mampu menjangkau bintang yang dicintainya sendiri.

“Oppa! Ya! Kau melamun,eoh?” Kibum tersentak saat tangan Hye Ra melambai kehadapannya. Kibum menggeleng cepat kemudian tersenyum sekilas.

“Aku akan kembali ke Amerika besok” Kalimat itu begitu tiba-tiba terlontar oleh bibir Kibum, meski sebenarnya tujuan menemui Hye Ra kemari memang untuk mengatakan hal tersebut. Maka dari itu, Kibum meminta maaf duluan, lalu pamit, meninggalkan Hye Ra seperti halnya ia lakukan 3 tahun yang lalu.

“Tapi..Kenapa mendadak? Oppa tidak mau tinggal di Korea? Eoh?” shock Hye Ra melototi Kibum. “Ini harus, ada pekerjaan yang menantiku disana. Berminggu-minggu disini cukup meninggalkan pekerjaanku.” Jelas, ini adalah alasan Kibum. Kibum berbohong. “Tapi aku masih ingin melihatmu disini, kenapa harus pergi?” Hye Ra memanyunkan bibirnya dan memeluk lengan Kibum manja, hingga Kibum sendiri merasa rindu dengan tingkah manja Hye Ra yang dulu sering dirasakannya.

“Ya! Jadi kau ingin aku menjadi pengangguran,eoh? Aku seorang desainer! Dan selama ke Korea aku tidak pernah membuat sketsa satupun! Sponsor dan bosku sudah memakiku hingga telingaku hampir tuli. Keumanhae, ini bukan berarti aku tidak mau bersamamu, tapi ini harus Hye Ra.” Kibum mengacak pucuk kepala Hye Ra gemas, memaksakan senyuman terbaiknya agar Hye Ra bisa tersenyum sepertinya. Meski ini sangat sulit dilakukan, Kibum memang harus melakukannya. Ia sudah memikirkannya matang-matang untuk meninggalkan Korea dan melupakan Hye Ra, sekarang dan mungkin selamanya. Kibum tidak mau lagi mengusik kehidupan Hye Ra yang lebih bahagia bersama Minho, Kibum ingin melepaskan Hye Ra. Setidaknya inilah yang terbaik.

“Arraseo, tapi aku akan merindukamu. Aku akan menyusulmu nanti!”

 “Menyusulku? Ke Amerika? Sendiri?”

“Ne! Aku juga ingin menjadi desainer terkenal seperti oppa! Aku akan belajar disana! Mungkin jika Minho mau, aku mau mengajaknya.” Hye Ra mulai melayang, menghayal bagaimana jika ia menjadi desainer kelak. Hye Ra tersenyum,membayangkan masa depannya yang akan ia lalui bersama Minho. Pasti menyenangkan. Namun tidak dengan Kibum, Kibum memperhatikan Hye Ra, baiklah gadis itu sedang memikirkan suaminya. Tidak ada ruang untuk Kibum lagi, mendengar Hye Ra akan menyusul dengan Minho saja sudah membuat hatinya tercabik-cabik. Eottokhae?Padahal Kibum mau melupakan Hye Ra.

“Geurae, kau harus mengikuti jejakku. Bakatmu memang dibidang mendesain. Tapi ingat jangan lupa balajar! Bulan besok kelas tiga sudah ujiankan? Nah, maka dari itu belajarlah dengan giat. Apalagi kau punya suami yang pintar, sering-sering bertanya padanya, arra? Dan ah! Nanti jangan lupa kirimkan hasil sketksamu padaku, ya? Aku akan menunjukkannya pada bos ku di Amerika, siapa tahu ada yang menyukai desainmu. Aku akan membantu nanti jika kau serius menjadi desainer.” Sahut Kibum panjang lebar. Seperti biasa, inilah Kibum. Namja cerewetnya melebih ahjuma. Meski begitu, inilah yang disukai Hye Ra.

“Ne! Ingat, aku akan menyusulmu oppa!” seiring seruan itu terlontar badan Kibum berbalik dan berjalan meninggalkan Hye Ra yang menonton perginya Kibum dari hadapannya. Sedangkan Kibum sendiri mencoba menahan bendungan air matanya. Ia tidak sanggup berjalan jauh, langkahnya terasa berat. Perjuangannya untuk ke Korea pupus sudah, tidak membawa hasil namun meninggalkan sakit. Meninggalkan gadis yang selama bertahun-tahun ini ia cintai dan mencoba menjalani hidup baru. Itu sangat sulit, ingin rasanya Kibum berbalik dan memeluk Hye Ra.

Rupanya benar, Kibum menghentikan langkahnya dan sedetik kemudian ia berbalik, berlari menghampiri Hye Ra yang masih pada tempatnya. Tanpa menunggu apapun tangan Kibum langsung menarik tubuh Hye Ra kepelukannya sangat erat.

“Oppa….” Hye Ra merasa tubuhnya menengang. Pelukan hangat Kibum berhasil mengejutkannya, namun apa daya, Hye Ra hanya bisa membiarkan ini untuk terakhir kalinya

“Maafkan aku, tapi sungguh aku mencintaimu Hye Ra-ya. Tapi jangan khawatir, aku mencintaimu tapi aku tidak ingin kau menjadi milikku. Cukup seperti ini saja.” Lirih Kibum mempereratkan pelukannya, membuat Hye Ra merasa bersalah. Hye Ra tau Kibum menyukainya, tapi mendengar itu perasaan Hye Ra sendiri yang terakiti.

“Kau tidak usah mempedulikan perasaanku. Jalanilah hidupmu seperti halnya aku tidak ada disampingmu. Aku akan baik-baik saja. Ne..Nan gwenchana.” Suara Kibum terdengar parau seiring di kalimat terakhirnya. Ia pun melepaskan pelukannya dan mengembangkan bibirnya memberikan senyuman perpisahan.

“Annyeong! Sampai jumpa!” Seru Kibum kembali ceria, seperti mampu mengendalikan suasana. Ia tertawa renyah dan melambai dengan semangat. Seperti pergi dalam keadaan biasa saja, padahal hatinya sekarang sedang menangis. Namun Kibum harus melakukannya. Meski Hye Ra melarangpun ia harus pergi. Kibum bahkan tidak tahu saat ia sudah berbalik Hye Ra menangis terisak dan menyerukan namanya. Kibum mendesah, ia tidak sanggup berbalik, maka dari itu ia hanya mengangkat tangannya dari belakang member lambaian perpisahan.

Perjalanku ke Korea sudah berakhir. Setelah menyakiti banyak belah pihak, akhirnya aku menyerah. Memang sakit, terlebih aku orang yang merusak kebahagiaannya.Ini salahku dan dosaku, maka dari itu, aku menebusnya dengan menghilang dari hadapannya. Ini demi Hye Ra, demi kebahagiaan yang selalu didambakan oleh Hye Ra. – Kim Kibum

♥♥♥

Waktu berjalan dengan cepat. Meninggalkan berbagai peristiwa yang membekas dihati. Pada akhirnya masalah demi masalah luput sudah. Hanya menyisakan kenangan pahit dan manis bagi orang-orang yang mengalaminya. Terkadang orang-orang sering menganggap sepele sebuah masalah kecil yang timbul, namun ketahuilah jika kita membiarkan masalah itu sendirinya, bukannya menghilang bahkan masalah akan menjadi besar dan bisa merugikan diri sendiri bahkan orang-orang sekitar. Itulah pendepat Hye Ra. Gadis  berumur 18 tahun, yang telah dibebani tanggung jawab yang besar menjadi istri seorang Choi Minho.

“Kemana lagi sih si tiang listrik itu? Menghilang begitu saja -_-“ Hye Ra menghempaskan pantatnya ke sofa. Melintangkan kakinya, dan melipat tangannya yang digunakan sebagai bantal oleh kepalanya sendiri. Dilihat dari posisi duduknya saja, kita sudah tahu kalau Hye Ra merasa bosan. Sendiri di apartemen selama dua jam dan itu benar-benar memuakkan. Tidak ada teman yanga diajak bicara, ataupun bercanda. Terlebih si tiang listrik itu gak muncul-muncul sejak jam terakhir sekolah. Dia boloskah? Tumben.

Klek!

Mata Hye Ra terbuka lebar. Bunyi decitan pintu itu membuat jantungnya memompa lebih cepat. Apa itu dia? Dengan penuh harap Hye Ra bangkit dan berlari girang menuju kearah pintu.

“Aku pulang~”

“YA! Kau tau sekarang jam berapa?!” berhasil mengontrol rasa senangnya kini Hye Ra berpura-pura bertingkah seperti biasa. Jujur saja ia tidak tega teriak-teriak gak jelas, ia hanya kesepian saja, makanya kesal.

“Jam 9 malam, waeyo?”

“Dari mana saja kau,eoh! Di sekolah hilang di rumah juga hilang! Katakan! Kau kemanaaa!!”

“Kau marah? Eyy….Kau pasti merindukanku kan? Iyakan?” Telinga Hye Ra panas  mendengar gombal menjijikkan itu, sejurus kemudian ia menginjak kaki orang itu hingga seisi ruangan penuh oleh suara teriakan.

“Rasakan itu Choi Minho!”

“Ya! Neo wae irae?! Appuda…Kakimu terbuat dari apa,eoh? Tulangku yang retak tau rasa!” Yap itu Minho. Dengan memasang tampang memelas ia mengelus-elus kakinya yang sama sekali tidak dibantu oleh Hye Ra. Dasar istri pemarah, bisanya cuma ngomel dan nyalahin orang.

“Yasudah, jika tulangmu retak aku cari pria lain yang tulangnya sehat. Weeek!” Cibir Hye Ra tidak merasa kasihan pada Minho. Kelewatan juga sih, tapi Minho harus dapat balasannya karna pulang terlambat, bahkan bolos sekolah. Tapi Minho sendiri tidak mempedulikan ucapan Hye Ra tadi,  meski itu adalah candaan saja. Minho mendesah cukup berat, kemudian menyenteng tasnya kembali lalu berjalan mendahului Hye Ra. Lantas Hye Ra keheranan, apa gerangan dengan suaminya ini? Tunggu! Jangan bilang kalau Minho marah? Aish! Hye Ra babo! Seharusnya menjadi istri yang baik itu harus melayani suaminya sepenuh hati, bukan memaki-makinya seperti tadi. Padahal Hye Ra hanya tidak mau menunjukkan rasa kangennya pada Minho, maklum mereka baru memulai hubungan ini dengan serius, jadi Hye Ra masih jual-jual mahal, padahal sebenarnya dia mau.

“Chankaman!” Dengan perasaan campur aduk Hye Ra menahan tangan Minho. Ia menelan ludah dan seketika jantungnya berdebar cepat, ia takut.

Minho berhenti tapi tidak menyahut. Sebaliknnya dengan Hye Ra, ia ingin meminta maaf dan mau bilang kalau selama ini ia  menunggu Minho, tapi Minho tidak bisa dihubungi malah tidak pulang-pulang. Jadi Hye Ra khawatri sekaligus kangen. Iya itu saja, itu yang ingin Hye Ra bilang.

“Minho-ya, kau pasti lelahkan? Mau aku siapkan air panas? Atau aku akan buatkan teh hijau. Otte?” BABOYA!!! KENAPA MALAH NANYA YANG GAK PENTING? HYE RA BABO!

“Hmm..Iya.” Jawaban Minho sangat singkat dan itu mengecewakan Hye Ra, terlebih Hye Ra tidak mampu meminta maaf, malah mengatakan hal lain. Hye Ra terdiam begitu lama, begitu dengan Minho berjalan menuju kamarnya untuk meletakkan tas. Minho masuk ke kamarnya tanpa halangan, ia tetap diam dan cuek. Setelah menaruh tasnya Minho membuka dasi seragam sekolahnya,kemudian berbalik karena merasa sesuatu ada dibelakangnya.

Grep!

Mata Minho sukses terbuka lebar. Merasakan sesuatu yang menyentuh pinggangnya. Tangan Minho yang tadi memegang dasi tadi, turun dan menyentuh sepasang tangan yang memeluknya tiba-tiba.

“Minho-ya, kakimu sakit ya? Mianhae…Kau juga kesal karena aku memakimu? Mianhae..Maafkan aku, seharusnya aku menyambutmu dengan hangat tapi aku malah memarahimu. Aku istri tidak berguna, maafkan aku..” Minho makin bingung. Ini ada apa? Kenapa tiba-tiba saja Hye Ra merengek dan minta maaf? Lagian Minho diam bukan karena dia marah, hanya saja Minho kelelahan makanya mendahului Hye Ra. Benar-benar wanita itu sangat sensitive

“Hei…Kau tidak salah apapun. Wajar kau marah karena aku terlambat pulang. Kau bukan istri yang buruk, malah seperti itulah istri yang perhatian. Sudahlah, ini hanya masalah sepele.” Minho mencoba menghibur Hye Ra . Dipeluknya Hye Ra kedekapannya, dan menaruh kepala Hye Ra didadanya. Pelukan seperti inilah yang sangat dirindukan Hye Ra. Mungkin karena dia baru mengetahui perasaan sebenarnya pada Minho, Hye Ra jadi tidak bisa mengontrol emosionalnya sendiri. Ini sama seperti seseorang baru pertama kali pacaran, hanya saja yang ini mereka sudah menikah.

“Itu juga, tapi ada sesuatu yang lebih meresahkanku.” Minho mendelik, ia mencoba melepaskan genggaman tangannya dan menatap Hye Ra intens. “Kibum oppa, dia akan pulang ke Amerika.”

“Mwo? Setelah membuat masalah dengan seenaknya dia kembali ke Amerika?”

“Minho-ya..Jangan seperti itu. Lagian Kibum sudah meminta maaf padaku, dan dia langsung pamitan. Dia tidak akan kembali ke Korea lagi. Karenaku, dia pergi. Aku merasa bersalah karena menyakitinya.” Minho membungkam, sudut matanya tajam kearah suatu tempat. Minho tahu Hye Ra dan Kibum sangat akrab kebanding dirinya dengan Hye Ra. Minho juga mengerti bagaimana perasaan Hye Ra, karena sahabat lamanya itu akan pergi.

“Kapan Kibum pergi?” Tanya Minho tiba-tiba

“Malam ini”

“Pukul?”

“Setengah sepuluh malam.” Glek! Otomatis Minho melirik jam. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 malam. Itu berarti 30 menit sebelum kepergian Kibum.

“Ayo kita pergi!”

“Kemana?”

“Ke bandara! Kita harus bertemu Kibum sebelum dia akan pergi! Palliwa! Cepat bersiap-siap.” Entah mendapat suruhan dari mana Minho sendiri terlihat bergegas dan sibuk sendiri. Dia tidak tahu kenapa ia ingin ke bandara untuk melihat Kibum. Terbesit saja oleh Minho wajah namja itu, senyum sinisnya, tawa cerianya, dan mulutnya yang cerewet. Pokoknya Minho harus bertemu dengan Kibum!

♥♥♥

Akhirnya Minho dan Hye Ra telah tiba dia incheon airport. Mereka berdua terlihat sibuk dengan aktivitias masing-masing. Mulai dari Minho yang berjalan sana-sini mencari sosok pria bernama Kibum. Sedangkan Hye Ra mencoba menelfon Kibum, tapi sayang sampai sekarang masih belum diangkatnya.

Kemana Kibum? Jangan bilang kalau Kibum sudah check in! Tidak boleh!Minho harus bertemu dan berbicara dengan Kibum dulu, jika tidak bisa, Minho nekad menjemput Kibum ke Amerika!

“Oppa? Ini Kibum oppa? Oppa! Kamu dimana?!” Minho mendengar seruan dari arah belakangnya. Buru-buru ia berbalik dan mendapatkan Hye Ra yang sepertinya berbicara dengan Kibum melalui via telefon.

“Mwo? Oppa belum masuk? Lalu oppa dimana? Café? Oh…begitu, aku akan kesana oppa!”

Bip! Panggilan di handphoneHye Ra berakhir. Langsung saja gadis itu melangkahkan kakinya lebar-lebar seakan lupa keberadaan Minho yang mengikutinya dari belakang. Saat ini entah apa yang menggundang Minho untuk bertemu dengan Kibum, masih terahasikan. Malah Hye Ra tidak bertanya .

“Hey! Aku disini!” Seseorang sedang duduk dengan menyilangkan kakinya itu melambai kearah kedua pasangan tadi. Tampilannya seperti biasa fashionable, menggunakan celana sependek lutut, kaos hitam yang ditutupi oleh blazer hitam dan ditemani berbagai manik-manik, tidak lupa kaca mata hitam dan sebuah topi hip hop yang tidak boleh ketinggalan. Sangat modis dan unik, begitulah penampilannya.

“Oppa, rupanya kau disini!” Seru Hye Ra girang, dan langsung duduk dihadapan namja tadi, Kim Kibum. Kibum memberi senyum tipisnya namun tetap berkarisma, lalu sedetik kemudian matanya tearah ke seulet tubuh yang hampir sama tinggi dengannya. Kenapa dia ada disini?

“Minho-ssi…Apa aku tidak sedang bermimpi? Kau ingin menemuiku?”

“Kenapa kau bisa tau-aish!” Cepat-cepat Minho menutup mulutnya. Kenapa bertingkah bodoh dihadapan orang ini? Tuh kan, sekali bertemu ini orang langsung kegeeran.

“Kau akan kembali ke Amerika bukan?” Kibum memiringkan kepalanya, masih bingung dengan keadaan tapi ia masih menyempatkan untuk mengangguk. “Waeyo? Kau senang, jika aku pergi? Ah! Sudah kuduga!”

“Aniyo!” Alis Kibum naik sebelah, keningnya berkerut mencoba mencerna kata Minho tadi. Kibum-pun beranjak dari kursinya. Ia melirik Hye Ra sejenak, memberi isarat agar meninggalkan mereka berdua.

“Ne, semoga kalian cepat baikan. Aku pergi dulu. ” Hye Ra pergi meninggalkan kedua namja ini. Otomatis Kibum kembali duduk, dan mempersilahkan Minho duduk juga. Terjadi keheningan untuk sementara, dan setelah Minho mendesah akhirnya ia berbicara “ Aku tidak peduli alasanmu untuk meninggalkan Korea, aku hanya mengatakan, aku minta maaf atas prilakuku yang tidak mengenakkanmu. Mianhae.”

Kibum mengangguk pelan, memang mengejutkan tiba-tiba saja Minho meminta maaf padanya tanpa memberi pembukaan terlebih dahulu. Minho lebih suka bicara to the point, meski memang mengharuskan Minho meminta maaf. “Bukannya kau membenciku? Ah…Kau seperti meminta maaf kepada orang yang mau mati saja. Apa hanya itu alasannya kau meminta maaf?”

“Aniya, aku tau kau merasa terganggu atas kedatanganku di kehidupan Hye Ra. Aku tiba-tiba saja sudah menikah dengannya, padahal kami berdua belum merasakan perasaan apapun. Kau pernah bilang, kau hadir di resepsi pernikahan kami, dan mengunjungi apartemen kami dan sebagainya. Kau pasti kesal melihatku bukan? Aku tahu, tanpa diberi tahu seorang Kim Kibum pasti menyukai Hye Ra. Meski Hye Ra bersi keras menjelaskan kalau Kibum adalah sahabatnya, tapi aku tidak terima. Bagaimana bisa seorang sahabat tidak memahami perasaan sahabatnya sendiri. Kami juga salah, kami mementingkan kebahagiaan kami sendiri tanpa mengetahui ada seseorang tersakiti karena kami, tepatnya aku. Maka dari itu, aku juga merasa bersalah.” Dilihat dari manik mata Minho, Minho terlihat tulus dan serius. Begitu halnya dengan Kibum yang menatap Minho tajam. Apa yang dipikirkan Kibum?

“Oke! Fine! Syukur kau tahu kalau aku sangat membencimu. Terlebih ketika kalian berdua. Aku sangat benci, dan ada keinginanku untuk merebut Hye Ra kembali. Karena dulu Hye Ra adalah milikku, dulu akulah  yang melindunginya, dan dulu akulah yang sering menemani harinya. Tapi bagaimanapun juga tindakan untuk merebut Hye Ra kembali adalah salah. Aku salah karena telah merebut milik orang, memang aku pernah memilikinya tapi akulah yang meninggalkannya dan tidak melindunginya lagi. Gwenchana, kita semua telah bersalah. Karena obsesi untuk saling memiliki dan meraih kebahagiaan, membuat kita terlihat seperti musuh. Nado…Maafkan aku.”

“Jadi? Kita sudah saling memaafkan? Kita sudah baikan bukan?” Tanya Minho mengulurkan tangannya, tanpa ragu –ragu Kibum menjabatnya dengan hangat dan mereka tersenyum bersama.

“Geurae, seharusnya memang seperti ini. Kuharap kita akan terus seperti ini. Tapi sayang 15 menit lagi aku harus berangkat.” Ujar Kibum sedikit kecewa sambil melihat jam tangannya. Minho mengerti, dan sebagai salam perpisahan Minho memeluk Kibum. Menepuk punggung Kibum layaknya mereka seperti sahabat yang akan berpisah. Kibum sangat shock tentunya. Rupanya Kibum salah asumsi, Minho bukanlah namja sombong dan cuek, dia adalah seseorang yang perhatian dan mencintai perdamaian. Kibum berharap Minho akan seperti ini terus, karena entah kenapa Kibum merasa nyaman.

“Terima kasih telah menjaga Hye Ra dulu. Terima kasih atas kepedulianmu padanya, aku tahu Hye Ra juga sangat menyukaimu.” Itu lah kata Minho yang mampu mendesir darah Kibum lebih cepat. Kibum pun menepuk bahu Minho dan meninju dadanya begitu saja. Eits! Mereka bukan bertengar, symbol pertemanan mereka.

“Itu adalah balasan karena kau pernah memukulku. Kau tau berapa kali kau memukulku? Ah lupakan! Tapi, aku juga berterima kasih, sekarang kaulah yang menjaga dan melindungi Hye Ra. Kusarankan jangan membuanya menangis lagi, jika itu terjadi sebagai pria kau harus bisa menangganinya, karena kau adalah suaminya, kau mempunyai tanggung jawab yang besar. Arraseo?”

“Ne..Arratagu. Ya! Palliwa! Kau harus pergi, jangan sampai kau terlambat karena aku!”

“Hahaha! Baiklah! Aku pamit! Kirimkan salamku untuk kedua sahabatmu! Siapa namanya ya? Taemin dan si pendek? Ah! Kim Jonghyun!” Kibum menarik kopernya, membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Minho. Tapi Minho merasa ada yang janggal. Iya, Hye Ra! Dimana anak itu.

“Kibum-ssi? Kau melupakan seseorang!” Seru Minho dari jauh membuat langkah Kibum terhenti.

“Biarkan saja! Aku tidak mau terlambat karena gadis ingusan itu! Kirimkan salamku padanya!”

“Nee!!!” Bukan berlari menghampiri Kibum, Minho memilih berseru keras hingga akhirnya senyumannya mengembang. Membuat seseorang yang tanpa ia sadari berdiri disamping Minho keheranan.

“Ya! Choi Minho, kenapa senyam senyum? Jangan bilang kalau kau menyukai Kibum oppa!”

“Ne, sepertinya aku menyukainya. Dia terlihat keren bukan? Eh! Chankam! Siapa yang bicara tadi?” Minho tekejut, seketika ia menoleh kesamping dan matanya melotot setelah itu.

“Molla! Aku tidak tahu namaku! Kupikir kalian akan bertengkar disini. Tapi tidak mungkinlah ya…Syukurlah kalau begitu.Ngomong-ngomong, kau sudah mengertikan, kenapa aku sempat berpikir meninggalkanmu?”

“Ma-maksudmu?”

“Maksudku, pantas saja dulu aku sempat meninggalkanmu. Kim Kibum, dia juga kaya, keren, tampan dan sangat menyenangkan. Tidak aneh jika tidak ada seorang  Choi Minho didunia ini, aku pasti akan menikah denganya.” Hye Ra melipat tangannya diatas dada, memasang tampang menyesalnya. Bukan, ini sebagai tipuan belaka saja, agar Minho jengkel.

“Choi Hye Ra!” seru Minho mulai kesal.

“Waeyo?”

“Jangan sampai aku marah Hye Ra..Kau tahu apa yang kulakukan jika aku marah?” Hye Ra tersentak! Aish! Dia melupakan satu hal ! Bahaya jika Minho marah di sekitar orang banyak. Bakal barabe!

“A-arayo..Aku tahu. Tapi jangan disini. Di rumah saja,ne?”

“Kau serius?” Minho mendekatkan wajahnya, makin membuat Hye Ra kegalapan “ Kau tidak menolak nantikan?” Tanya Minho lagi membuat kepala Hye Ra pusing memikirkannya. Hye Ra mendesah sambil memutar bola matanya malas.

“Dasar mesum! Kau pikir aku mudah tertipu? Aku tidak mau! Week! :p”

♥♥♥

Choi Minho POV

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah satu bulan semenjak kejadian itu. Dan saat itulah aku bisa bernafas lega, bisa merasakan kehidupanku seperti biasanya. Ani, dulu kehidupanku memang biasa-biasa saja, namun sekarang semenjak ada dia disampingku, aku merasa setiap hari menjadi sangat istimewa. Karena setiap paginya aku bisa melihat wajahnya, siangnya aku juga bisa melihatnya disampingku, dan malamnya aku bisa menikmati ketika aku bersamanya. Aku sangat bersyukur, akhir-akhir ini tidak ada sesuatu yang menjanggal datang. Semenjak Kibum ke Amerika, membeir dampak begitu besar bagi kami. Bukannya aku senang atas kepergiannya, tapi entah kenapa aku jadi leluasa dan tidak cemas lagi. Setidaknya aku sudah memiliki Hye Ra untuk saat ini dan selamanya.

“Minho-ya! Cepat turun! Kami menunggumu dibawah! Bawa Hye Ra juga! Pallliwaaaa!!!!”

“Aish! Namja itu dari dulu tidak pernah berubah, selalu berisik!” Aku menoleh kesumber suara. Melihat seseorang yang kusebutkan tadi, yang sedang duduk di tepi kasur, tepatnya didalam kamarku. Bukan kamar ku di apartemen, tapi kamar di kediaman ku dulu. Tempat kami belajar bersama.

“Minho-ya, kau sudah siap?” Aku mengangguk pelan dan berjalan mendekatinya.

“Tidak apakan, memakai gaun yang kubelikan dulu? Aku takut kau tidak suka.”

“Aniyo, aku sangat menyukai gaun yang kau belikan itu, lagian harganya sangat mahal, aku ingin memamerkannya pada eomma. Hehehe.” Hah…Sungguh hanya sebuah cengiran kuda saja sudah membuatku lega.

“Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi!” Aku pun menggandeng tangannya keluar dari kamar. Sama halnya yang kulakukan saat pertama kalinya cinta tumbuh dihatiku. Di sebuah malam dimana kami saling bergandengan di dalam pesta dan berdansa. Sekarang kami melakukan hal yang sama lagi, dengan kostum yang sama pula . Ini atas keinginanku, karena aku ingin mengenang masa pertama kalinya aku menyukainya. Tepatnya dirumahku sendiri.

Kami pun turun bersama menuruni tangga dengan alunan piano yang dimainkan oleh sahabatku, Taemin. Dulu disaat seperti ini aku tidak bisa menahan rasa gugupku, begitu juga dengannya. Terlebih disini terdapat banyak tamu undangan. Aku harap semuanya akan berjalan lancar.

“Kau tidak gugupkan?” Aku tersentak, ketika kalimat itu yang ditanyakannya padaku. Aku tersenyum dan menggeleng, sudah cukup mempercayakan padanya kalau aku bukanlah Choi Minho yang dulu. Choi Minho yang bingung dengan perasaannya sendiri dan merahasiakannya. Bukan, aku bukan seperti itu lagi, malam ini akan kubongkar segela rahasia yang kesembunyikan darinya.

Tidak terasa kami sudah berada di ruang tengah yang sudah dihias sedemikan rupa. Aku melirik keluarga dan sahabatku yang sudah berkumpul. Terlebih mataku tersudutkan kepada Kyuhyun hyung yang sedari tadi tertawa, entah apa yang ditertawakannya aku tidak peduli. Tapi bagaimanapun juga, bukan karenanya aku pasti tidak akan bisa menggandeng tangan gadis ini sampai ke gereja. Berkat dialah aku bisa menikahi Hye Ra. Kyuhyun hyung! Terima kasih banyak!

“Para hadirin diharapkan berkumpul diruang tengah, karena acara akan dimulai!”

“Tapi sebelumnya, untuk merayakan hari pernikahan Tuan Choi dan Nyonya Choi, terlebih dahulu kita persembahkan pasangan yang baru menikah. Apa kalian masih ingat? Pasangan yang berdansa beberapa bulan yang lalu? Yap! Inilah mereka! Tuan Muda Choi Minho beserta istrinya Choi Hye Ra!”

Aku menoleh, dan melihat senyuman lebar terlukis dibibir Hye Ra, pipinya juga memerah tapi itu membuat ia makin cantik malam ini. Akhirnya setelah mendapat sahutan cukup meriah, aku mengajak Hye Ra berjalan ke tengah-tengah. Sama seperti dulu, para tamu undangan membeir kami tempat untuk berdua. Jujur saja untuk kali ini aku sedikit gugup, terlebih tamu yang hadir bukan keluarga dan kerabat saja, tapi teman-teman di sekolah lainnya juga datang. Ini perbuatan Hye Ra, mengundang temannya yang segudang ke acara perayaan ulang tahun pernikahan orangtuaku. Dia pikir ini pesta para anak muda apa? Tapi ya sudahlah, lagian mereka semua berjanji akan tutup mulut mengenai pernikahan kami, jadi itu sedikit membuatku lega.

“Ayo! Musiknya sudah diputar!” Aku bingung, dari mana Hye Ra belajar mengajakku berdansa duluan. Mengejutkan! Selama acara berlangsung, Hye Ra lah yang menuntunku berdansa. Tangannya sangat lembut menggenggamku, matanya juga hanya menatap kemataku, sama seperti intruksi yang kulakukan padanya dulu. Kini terbalik, Hye Ra lah yang memimpin semuanya, malah aku terlihat gugup dari pada dia sendiri. Ottokhae? Tiba-tiba saja aku terhipnotis karena senyumannya.

Kami berdansa mengikuti alunan musik ballad romance. Lampu disengaja dipadamkan, dan hanya menyorotkan satu lampu untuk kami berdua. Seakan jarum jam berhenti bergerak dan meninggalkan kami berdua di dunia ini.  Hye Ra tidak mau berhenti, terus berdansa. Sepertinya dia sudah pandai berdansa, buktinya dialah yang paling menikmatinya. Gwenchana, aku malah senang seperti ini, seakan memori kenangan lama kami berputar kembali. Peristiwa-peristiwa dimana kami bertemu untuk pertama kalinya, dan peristiwa dimana kami telah dekat. Aku mengingat semuanya, ada begitu banyak rasa yang kurasakan saat itu. Hingga semua rasa itu terkumpulkan menjadi satu, menyisihkan rasa pahit dan hanya manislah yang kurasakan saat ini.

“Hye Ra-ya, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu”

“Mwonde?”

“Tapi kau jangan marah ya? Janji!”

“Katakan dulu apa!” Baiklah sebenarnya aku sudah merencanakan ini semua. Aku harus mengatakan apa yang sebenarnya kepada Hye Ra. Aku tidak mau terjadi kesalah pahaman diantara kami, meksikipun kami telah baikan.

“Soal pernikahan kita. Maafkan aku sebenarnya ini bukanlah sebuah perjodohan. Orang tua ku dan orangtuamu tidak menjodohkan kita.”

“Mworagu? Kita tidak dijodohkan?” Langkah kaki Hye Ra mulai melamban, aku yakin dia pasti sangat terkejut, terlihat jelas dengan raut wajahnya. Aku harap dia tidak  marah.

“Ne, tidak ada yang menjodohkan kita. Orangtuaku tidak menyuruhmu untuk menjadi istriku. Aku ditipu oleh Kyuhyun hyung, dia bilang dia akan berhenti menjadi penerus perusahaan Appa, dan menyuruhku untuk menggantinya. Kyuhyun hyung juga berbohong kalau aku harus menikah, tapi aku tidak marah padanya. Malah aku meminta kepada orangtuamu untuk mengizinkanku untuk menikahimu. Kau ingat saat pertama kalinya orangtuamu kemari? Aku berbicara dengan mereka dan memohon. Malah aku sudah menunjukkan cincin pernikahan yang sebelumnya sudah kubeli. Akulah dalangnya, kenapa kita bisa seperti ini. Orangtuaku hanya ingin aku menjadi penerus Appa, hanya itu, tidak ada pernikahan apalagi keturunan. Jadi…. Akulah biangnya. Maaf,” Kami berhenti berdansa, aku tidak sanggup melihat ekspresi Hye Ra. Apa dia akan menamparku, atau meninggalkanku? Aku harap tidak, tapi aku yakin dia pasti marah.

Tapi setelah sekian lamanya aku menunggu responnya, Hye Ra tidak bersuara. Kutekadkan untuk mengangkat kepalaku, dan melihat wajahnya.

“Hye Ra-ya! Gwenchana? Kenapa kau menangis?” Aku sangat terkejut ketika melihat tetesan air mata telah mengalir diwajahnya. Sial! Aku telah membuatnya menangis, tambah sialnya aku melihat semua tamu bingung. Alunan musik masih berputar tapi tetap saja aku merasa tidak tenang.

“Hye Ra-ya, mianhae, ini salahku. Tapi jebal, jangan menangis. Uljima,ne?” Aku mencoba menghapus air matanya, bukannya berhenti menangis dia malah menangis menjadi-jadi membuatku makin panik. Terlebih Jonghyun sudah teriak-teriak bertanya apa yang sedang terjadi.

“Mianhae…Tapi jangan menangis, arra? Ulji-“

Grep!

Aku membisu, dan membatu. Aku tidak sanggup melanjutkan ucapanku, malah aku terdiam merasakan sesuatu yang hangat menghujur seluruh tubuhku. Ini pertama kalinya aku merasakan seperti ini, terkejut, sekaligus senang.

“Aniyo, aku tidak marah. Aku malah berterima kasih padamu. Aku sadar kau begitu menyukaiku hingga tanpa kutahui kau sudah meminta restu kepada kedua orangtuaku. Gomawoyo, terima kasih telah melakukan semua ini. Mungkin jika kau tidak melakukakannya, aku tidak yakin kita akan bersama. Gomawoyo…” kata-katanya sangat menyentuh hati. Aku membalas pelukannya, memeluknya sangat erat, tidak memperbolehkan dirinya lepas dari dekapanku.

“Aku juga berterima kasih, aku sangka dulu kau menolak pernikahan ini, tapi rupanya tidak. Gomawo.”

“Hahaha! Jadi ini rahasiamu yang selama ini kau sembunyikan,eoh?” Aku mendelik, dari mana Hye Ra tau?

 “Bukannya kau akan mengatakannya setelah kita mempunyai anak? Dasar tidak konsisten!”

“Dari mana kau tahu kalau aku-…”

“Aku tahu dari Taemin! Bukannya Taemin adalah teman curhatmu bukan? Yah meski aku baru mengetahui hal tersebut, tapi ada untungnya juga. Hehehe,” aku sangat lega, lega melihat Hye Ra kembali tersenyum. Syukurlah, setidaknya aku bersyukur karena semuanya berjalan dengan lancar.

“Tapi ketahuilah, jika saat itu kau tidak melakukan ini, maka akulah yang akan melakukannya. Aku yang akan meminta dan akulah yang akan mengejarmu. Jadi, ini semua bukan karena rencanamu, tapi memang takdir yang telah menyatukan kita. Kau dan aku, itu takdir. Aku yang mencintaimu dan kaujuga mencinctaiku, itu adalah takdir. Kamu mengertikan, yeobo?” Telingaku langsung memanas. Yeobo? Apa Hye Ra memanggilku dengan sebutan itu? Jinjja? Sekian lamanya aku berharap dan berdoa setiap malam agar Hye Ra memanggilku dengan sebutan ‘yeobo’. AKHIRNYA!!!!

“Jangan senang dulu, aku akan memanggilmu yeobo hanya untuk malam ini saja. Aku harus berbuat baik sebelum Ujian Nasional bukan? Nah maka dari itu nikmatilah selama aku berbaik hati padamu.” Aku tidak bisa merangsang apa perkataan Hye Ra. Perhatianku bukan ke ucapannya tapi  ke tangannya. Tangannya yang mengelus wajahku dan melingkarkan tangan tersebut dileherku. Tunggu! Apa yang mau dilakukannya?

“Yeobo, jangan kecewa jika aku melakukan ini, arra?”

“Ma-maksud mu – ?”

Tuhan, tolong berikan aku nafas!!!!! Aku tidak percaya ini, bukan mematung tapi aku seperti manusia sekarat yang tidak bisa melakukan apa-apa. Kenapa? Tiba-tiba saja sesuatu yang manis tapi hangat itu dapat aku rasakan lewat bibir ini. Aku tidak tahu kenapa Hye Ra melakukannya, dia menciumku! Untuk pertama kalinya! Dan rasanya seperti mimpi, lebih mengejutkan dari pada aku sendiri yang melakukannya. Bibirnya yang manis itu sedang melumat bibirku, aku tidak habis pikir terlebih saat aku melihat wajahnya yang sudah tidak ada jarak lagi. Dengan mata yang tertutup, wajahnya terlihat damai namun sangat menawan. Membuat hasratku untuk lebih dekat dan membalasnya.

Kutarik pinggangnnya lebih mendekat dan menjangkau wajahnya. Dia berhenti, kemudian terbatuk sebentar. Dan betapa terkejutnya kami mendengar tawaan seisi ruangan karena melihat konyolnya Hye Ra yang berbatuk tadi.

“Minho-ya! Sekarang giliran mu! Ayo! Cium!Cium! Cium!” Dasar Kim Jonghyun manusia itu tidak bisa diam meski dalam suasana seperti ini. Tapi idenya lumayan juga, hal ini mengingatku ke hari pernikahanku. Aku tersenyum sekilas, dan mendapatkan respon Hye Ra yang mengejutkanku. Ia memejamkan matanya.

Tanpa ditanya kalian sudah tahu apa yang kulakukan. Bahkan aku tidak peduli seberapa lama aku melumat bibirnya dan menghisapnya beberapa kali. Tidak peduli bagaimana bibir kami bermain satu sama lain dan memberi sebuah getaran hati yang mampu mencambuk nafsuku. Cukup, seperti ini saja sudah cukup. Aku tidak meminta banyak lagi, aku sadar yang kubutuhkan adalah Hye Ra. Dan maka dari itu aku berusaha menjaga dan melindunginya. Terlepas dari rahasia yang aku sembunyikan, membuat ku lebih lega dan inilah yang kudapatkan dan kupetik dari semua peristiwa yang kualami. Yaitu cinta. Menurutku, cinta harus dengan kejujuran dan ketulusan, bukan cinta yang di sembunyikan atau bahkan di rahasiakan. Meski d irahasiakan pun, cinta tidak bisa bersembunyi, rahasia itupun pasti akan terbongkar dengan sendirinya atau diri kita sendiri yang memulainya. Bagaimanapun caranya kau merahasiakan cintamu, akhirnya kau sendiri yang akan kalah, ketulusan dan kejujuran telah mengalahkan semua yang kau rahasiakan. Dan sekarang aku tahu, tidak ada cinta yang dirahasiakan, tapi cinta itu adalah, melindungi, menyanyangi, perjuangan, ketulusan dan kejujuran. Bukankah begitu?

Park Hye Ra POV

Malam ini , malam yang sangat special. Aku bisa berdansa dan menikmati pesta bersama Minho. Bukan pestanya yang kuhitung tapi, bagaimana kami menimati acara ini dengan cara kami sendiri. Dengan lampu yang disengajakan menyala hanya untuk kami, dan kami berdansa mengikuti irama. Hingga akhirnya Minho mengatakan sesuatu yang sangat ingin kuketahui. Rahasianya.

Dia membongkar semua rahasianya, dan aku sangat salut padanya. Secara orang lain lebih memilih untuk mengubur rahasia mereka dalam-dalam, tapi tidak dengan Minho. Ia malah mengatakannya sendiri dengan tenang dan itu membuatku tersanjung. Aku tidak marah dan aku tidak pernah menyesal. Malah aku sangat senang mendengarnya. Aku bahkan tidak menyangka diujung permasalahan ini kami bisa menyelesaikannya secara bersama. Dari semua pertengkaran dan pahit manisnya yang kami rasakan, hanya sebuah kejujuranlah menjadi rumus ampuh untuk memecahkan segalanya. Jujur, dan tulus. Itu adalah rumus dari kami, rumus cinta yang awalnya sulit kami cari.

Ini sama halnya seperti memecahkan dan menyelesaikan seratus soal matematika. Banyak hal yang kita dapatkan dan kita lalui disetiap soalnya. Dan di tiap-tiap soal ada satu malah lebih soal yang tidak mampu kita pecahkan atau kerjakan. Itu berarti kita dalam masalah, dan berusaha mencari solusinya yaitu dengan rumus. Sama-sama kita ketahui, rumus matematika memang sangat banyak, tapi tidak dengan rumus cinta. Dari sekian banyaknya soal yang kita kerjakan, pasti kita mengalami satu kendala besar disalah satu soal. Soal yang membenturkan pikiran kita untuk menjawabnya. Meski harus dijawab tapi kita tidak boleh asal jawab. Begitu juga dengan cinta.

Manusia sewajarnya mempunyai berbagai masalah, terutama masalah cinta. Jika mereka ingin menyelesaikannya, maka meraka harus bertindak. Bertindak bukan halnya harus bertindak seenak semau hati. Tindakan yang kita lakukan adalah dimana tindakan itu tidak merugikan diri kira sendiri dan orang lain. Maka dari itulah soal tidak boleh dijawab asal, karena  akan mendapatkan dampak buruk bagi kita sendiri. Begitulah denganku, jika kita sudah tidak mampu lagi menyelesaikannya, apa salahnya kita mengatakan kegelisahan tersebut dengan kejujuran? Satu kejujuran saja sudah dapat mengurangi masalah. Jika belum ampuh, selesaikanlah denga ketulusan hati. Karena hati memang tidak bisa dibohongi, katakana apa yang dikatakan oleh hati kecil kita. Dan seiring berjalannya waktu masalah tersebut bisa kita pecahkan.

Sama halnya aku dengan Minho. Kami menikah tapi kami tidak saling terbuka dan merahasiakan apa yang perasaan kami rasakan. Menyimpan itu sangat melelahkan, jauh beda saat kita membongkarnya. Meski berat tapi ini harus, demi aku sendiri dan demi kami berdua, demi kebahagiaan kami.

Aku harap begitu, tidak ada lagi keraguanku padanya. Karaguan saat aku kira Minho tidak bisa membahagiakanku. Bahagia atau tidaknya itu tergantung diri kita sendiri, asalkan kita selalu terbuka, jujur dan saling menyanyangi.

“Ya! Sudah berapa lama kalian saling tatapan,eoh! Kami bosan! Iya kan Taemin?”

“Ne! Hyung! Noona! Apa boleh kami bergabung?” Seketika lamuan kami berdua buyar saat mendengar dua pembuar onar ini. Aish, rasanya aku ingin menjahit mulut si Kim Jonghyun itu! Dan tak kukira, semua teman-temanku ikut bergabung. Lampu kembali dihidupkan dengan mengganti dengan lampu disko penuh kerlap-kerlip.

“Hey! Bukannya ini perayaan ulang tahun perniakahan ayahmu? Kenapa malah jadi pesta para remaja?”, Minho hanya tesenyum dan menganggkat bahunya bingung. Dasar pesta aneh,dan  alangkah anehnya aku melihat Tuan dan Nyonya Choi ikut bergabung! Hey! Jangan bilang kalau Appa dan eomma juga ikutan!

“Hye Ra sayang! Kau tidak mau bergabung? Ini pesta yang menyenangkan!”

“EOMMA!!?? APPA!?”

“Ayolah,malah pesta seperti ini lebih mengesankan. Minho! Kau juga mengajak istrimu kan?” Aku menalan ludah, apa ini? Tuan dan Nyonya   Choi, sejak kapan mereka salah makan hingga mereka…Jinjja, aku tidak percaya ini.

“HEY! BURUAN NYALAKAN MUSIKNYA!” Kali ini Jonghyun benar-benar tidak bisa diam, dia meneriaki MC yang asik berbincang dengan krunya. Tampa menunggu lama lagi, musik yang memekakkan telinga itu memenuhi seisi rumah Minho. Hahaha konyol sekali, ini seperti berpesta di club malam.

“Hye Ra-ya, kau ikutkan?” Aku menoleh, melihat Minho mengulurkan tangannya. Dengan senang hati aku menyambutnya dan entah setan dari mana kami semua menari semau kami. Seharusnya hal ini tidak terjadi, tapi tidak apa mumpung bentar lagi mau ujian apa salahnya refreshing dulu.

“Chingudeul! Ayo berkumpul! Kita harus mengenang moment ini!” Aku rasa itu adalah suara Krystal. Kami semuapun berkumpul, tepatnya teman-temanku yang disekolah. Kami berkumpul dan memasang pose sebagus mungkin atau sejelek mungkin . Tidak lupa aku tetap berada disamping Minho, kami berdiri di tengah dan siap menunggu jepretan dari Krystal.

“Jinki oppa, tolong foto kami bersama ya?”

“Kenapa aku ? Krystal-ssi?”

“Iya pokoknya gitulah. Ayo!Ayo bersiap!”

Sesuai intruksi Krystal kami semua bersiap dengan pose masing-masing. Minho berpose..Yah sama sama kita ketahui kalau di foto Minho itu sering memasang ekspresi tentara angakatan darat yang siap tempur. Sedangkan Krystal yang disamping kiriku, melingkarkan lenganyan ke bahuku dan tersenyum manis. Jonghyun dan Taemin duduk didepan kami dengan pose yang paling konyol. Jonghyun memanyunkan bibirnya ala para alayers berfoto sedangkan Taemin memeluk Jonghyun seperti ingin mencium pipinya. Dasar namja namja itu, rupanya mereka lucu juga.

“Ya..Aku tidak mau memoto kalian!” sahut Jinki.

“Biar MC ini saja yang memoto kita, iyakan ahjussi?” Kami semua tertawa melihat tampang innocent MC acara tadi. Tapi akhirnya ahjussi tersebut mau dan siap-siap memoto kami.

“Saya hitung sampai tiga ya, kalau sudah tiga katakan ‘Kimchi’ bersamaan, arra?!”

“Nee!”

“Arraseo, hana….Dul….Set…!”

“KIMCHI!”

Jepret!

♥♥♥

Sebuah kenangan yang tak terlupakan telah terukir, antara  kami berdua. Setelah mengalami banyak hal akhirnya kami berada disebuah kebahagian yang selama ini kami dambakan. Meski kami tahu karena kamilah seseorang tersakiti, tapi itu tidak membuat kami saling menyalahkan. Kami berusaha untuk menyelesaikannya bersama-sama dengan kejujuran dan ketulusan. Aku sangat yakin kami bisa melakukannya, karena bukan hanya jujur aku juga mempercayai istriku sendiri. Bukan hanya mencintainya aku juga harus mempercayai dan melindunginya. Bukan seperti dulu lagi, bahwa tugasku hanya mengajarkan matematika padanya, tapi sekarang tanggung jawab yang besarlah kini kutanggung. Yaitu menjadi suaminya. – Choi Minho.

Dimulai dari pertemuan di kelas yang tak terduga karena aku tidak mengenalnya. Dan saat dia yang menjadi guruku hingga tibalah sebuah peristiwa tidak kukira. Disebuah pesta, yang menjadi awal aku merasa menyukainya. Dan sekarang pesta inilah yang menjadi saksi kuatnya cinta kami berdua. Kami akan menjalani semua ini, bukan direncanakan,  tapi ini memang takdir. Takdir menyatukan kami hingga kami saling mencintai. Selama ini juga aku barusaha untuk lebih dan lebih, berusaha agar mempercainya dan membeir kasih sayang yang jujur selama ini sangat sedikit kuberikan padanya. Tapi tidak kali ini, aku berjanji menjadi istri yang baik dan menjadi kebanggaanya. Aku tidak pernah menyesal, untuk apa menyesal? Dia Choi Minho! Itu sudah sangat sempurna bagiku.

“Iya kan,ho?”

“Mwo? Apa maksudmu? Cepat selesaikan soal ini! Dari tadi kerjamu hanya melamun saja!”

“Yahh…Tapi aku tidak kuat! Sudah 10 soal!”

“YA! Katanya sanggup sampai seratus soal! Aku tidak mau mendengar keluhanmu, segera selesaikan seratus soal ini! Dan jangan harap kau akan menanyakan rumusnya kepadaku! Cari di buku dan hapal sendiri! Arrachi?”

“Ha? HUAAAAAAA!!!SHIREEOOOO!!!”

 FIN

HUAAAAA!!! AKHIRNYA TIBA DI TITIK TERAKHIR!!! Mian endingnya aneh dan abstrak gini u.u jelekkan? Iyakan? Maklum aja buatnya sambil sambilan gitu. Jadi gak sama yang aku harapkan u.u

Yasudahlah, dari pada menunggu lama, mending di publish aja. So, setelah baca silahkan tinggalkan kritik dan sarannya melalui kolom komentar dibawah!

See you in the next Fanfic :p

Iklan

13 thoughts on “Secretly Love – Part 15 [END]

  1. Waaaaahhhh.. Sedih ff ini akhirnya selasai. Kisah cinta mereka berdua berlika-liku banget. Tapi salut karna mereka bisa saling percaya satu sama lain pd akhirnya. Di tunggu karya berikutnya, thanks author^^ keep writing and fighting..

  2. Miina Kim berkata:

    Saengi…., eonni balik….!!!!
    Hahahahaaaa….
    *narieverybodybarengJinki,dilemarJongKeyTaeMinho
    Untuk cerita labil emosi ini, eonni udah komen lewat FB, ya…
    Makasih bgt saeng udah ngetag eonni
    di masa2 sulit teknologi kemarin

    Eonni bakalan kangen baget ma duet rempong ini
    *tunjuk dua main casts di atas
    Buat afer story will be a very good idea, saeng…
    Eonni bakal nunggu banget….
    Tapi yang eonni lag harap banget kelanjutannya,
    ya, si Boys Meet Me itu….
    hehehheeee…
    Buruan cari ilhamnya buat nulis lagi, ya….
    Eonni dukung….
    Oke…!!!

    • Maaf baru balas eon..udah lama gk buka blog,baru kali ini sekedar liat liat. Makin lama makin sibuk, terkecuali buka fb masih smpat2 XD

      Btw gomawo ya eon…maaf lama bgt publish ff req nya. Lagian gak ada waktu bkinnya,udh dibikin sih tp masih ada sesuatu yg kurang karna kehabisan ide..yang sabar ya eon.

      • Miina Kim berkata:

        siiipppp….!!!!
        Eonni juga lg keriting nih, dgn kesibukan di tempat kerja
        Kayak gak ada habisnya
        Makanya, rada stress… heheheheee….
        Eonni udah lama gak update ke fb lg…
        gak sempet, saeng…
        Ntar, deh, eonni sempet2in lagi buka fb atau blog ini
        kangen gak sahut-sahutan… *ayam jago kaleee…
        Good luck dengan kesibukanmu, ya…
        Jaga kesehatan…

      • kita sama-sama sibuk dong eon. Yah meski UTS udah berlalu tp masih ada kegiatan yg harus dilakukan -.-
        Good luck juga ya eon, doain ff nya cepat kelar, setidaknya sebelum lomba fisika >.< tuh kan, msih bnyk kegiatan lain T.T padahal ntar lagi mau Try Out I tp masih ada kegiatan2 menyita wktu istirahat U.U

        Semoga eon bisa nyapa aku lg d fb ya (eh?)
        kangen soalnya eon :3
        see yaaaa

  3. anonymous berkata:

    Pasangan yang amat unyu
    Romantis bangettt.. ditambah kata katanya author yang keren, ngga nyesel ngikutin ff ini dari pertama
    Lanjutin terus thor !! Fightingg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s