Pinocchio Girl – Part 2

 

PINOCCHIO GIRL

pinnochiogirl-shinfujita 1

Title : Pinocchio Girl – Part 2

Main cast : Jung Soojin [OC], Choi Minho [SHINee], & Kang Tae Jun [SHINee]

Support cast: Jung Jinhyon [Soojin Appa], Kim Miina [OC], Jung Soohyun [Soojin Sister], Onew [SHINee], Kim Jonghyun [SHINee], Yook Sungjae [BTOB]

Genre : School life, family, friendship & romance

Rating : PG 13

A/N: Ini lanjutan part 2 nya. Aku gak mau banyak berceloteh, meski kurang menarik dan feelnya yah entah kenapa gak terasa tapi sayang kalau gak di publish kelanjutannya. Maaf atas kekurangannya.

¶ѼShin Fujita Story Line…Ѽ¶

Soojin POV

Appa menatapku lama, sorotan tajamnya seperti ingin menekankan bahwa beliau sangat serius. Tidak ada keraguan dari bola mata itu, aku sudah mengetahuinya…kalau Appa benar-benar marah.

“Tapi kenapa sekarang Appa lakukan ini? Kenapa begitu tiba-tiba?” Mataku bersatu dengan rasa penuh tak terima akan ucapan Appa barusan. Melupakan Minho? SHINee? Aku bahkan tidak pernah berpikiran seperti itu, memang aku adalah seorang gadis biasa yang hanya bisa menjadi gadis normal lainnya dengan cara mengagumi seseorang. Apa yang kulakukan ini salah?

“Ini demi dirimu. Appa melarangnya karna Appa tidak ingin kau melupakan sesuatu lebih penting karena begitu menyukai ‘orang-orang itu’. Ingat, banyak hal bermanfaat yang harus kau lakukan kebanding berteriak dan menghabiskan uang demi ‘orang tadi’. Appa tidak suka. Dan untuk sekarang, kau harus mematuhi perintah Appa!” Appa tidak melirikku lagi, beliau kembali fokus mengendara seakan beliau tidak perlu bicara hal lain lagi. Sedangkan aku, menyimak ucapannya saja sudah ingin membuatku berteriak menolak dan selantang mungkin membentaknya. Aku tidak pernah merasa sepedih ini jika berhadapan dengan Appa, tak pernah terlontarkan kalimat tekanan penuh melarang dari mulut Appa.

Shireo! Aku tidak mau!”

“…bagaimanapun alasannya, aku tidak mau, karena aku tidak bisa!” Bentakkan terlontarkan begitu saja, mulut nakalku berteriak dengan sendirinya membuat diriku terdiam, terkejut karena apa yang telah kuperbuat ini.

“Soojin-ah…”

“SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MAU!”

SSeet!

“JUNG SOOJIN!” Bahuku seakan menegang ketika Appa mengehentikan mobilnya. Telingaku mulai panas, karena menyadari kalau barusan Appa meneriakiku. Mataku membelalak seketika, entah kenapa aku seperti orang bodoh dengan genangan air matanya. Sedangkan Appa, beliau kembali menatapku penuh amarah menusuk. Apa aku benar-benar membuatnya marah? Jujur saja, tubuhku gemetar dan lidahku kelu untuk bicara….Aku takut.

“Jika kau tidak mau mematuhi perintah Appa. KELUAR!!”

A-Appa…Kenapa Appa seper-“

“SUDAH APPA BILANG! KELUAR JIKA KAU TIDAK PATUH PADAKU!”

Jantungku berguncang hebat, dadaku panas dan rasanya sangat sesak. Tubuhku mematung, serta bibirku gemetaran menahan tangis yang ingin keluar dari mataku. Tatapanku nanar, memperhatikan raut wajah seorang pria yang selama ini sangat kucintai dan kuhormati. Bentakannya langsung meruntuhkan jiwaku, seakan Appa adalah pria jahat yang sedang mengusirku. Aku tidak mau ada rasa benci ini tumbuh, tapi secara tidak sengaja Appa telah membuatku terbakar emosi dan egoku untuk membela diri, begitu juga menyalahkannya berhasil menguasai batinku.

“Jika kau tidak mau keluar, biar Appa yang keluar.”

Andwe! A-aku akan keluar.” Ucapku terbata, aku tidak mampu melihat wajah Appa lagi. Aku sudah tidak punya keberanian, dan benar…ada rasa benci kini tumbuh dalam benakku.

Ku akui, aku marah, dan benci.

BLAM!

Pintu mobil kusambar dengan kasar, tanpa salam perpisahan mobil itu melaju begitu saja meninggalkan aku kedinginan berdiri di tepi jalan.

Aku berhak mendapatkannya, aku egois dan selalu bangkang terhadapnya.

Apa aku benar-benar salah? Aku hanya mengidolakan mereka dan…Minho.

Apa mengidolakan seseorang itu salah? Katakan padaku apa aku salah menyukai Minho?

***

Minho bergegas meninggalkan halaman apartemen dan berlari masuk. Ia menggosokkan kedua telapak tangannya yang dingin karena harus keluar demi bertemu pengacaranya. Setelah masuk lift, dan berjalan sepanjang koridor, akhirnya Minho sampai disebuah pintu diatasnya tergantung buclet bunga untuk natal. Pintu dorm SHINee.

“Aku pulang!”

 “Ya! Kenapa kau lama sekali? Apa kata pengacaramu tadi?” Tanya Jonghyun tiba-tiba muncul dari pintu dan menuntun Minho masuk kedalam dorm dengan wajah penasarannya. Minho melirik Jonghyun sebentar kemudian merebahkan tubuhnya ke sofa empuk di depan TV.

“Katanya dia akan menyelesaikan semuanya. Tenang saja…Lagian…Hoaam~ Aku sangat capek hyung.” Minho melipat kedua tangannya diatas kepala sambil menutup mata. Jonghyun yang melihat kelakuan Minho selalu cuek terhadapnya itu langsung menyambar muka menyebalkan Minho dengan bantal.

“Capek? Seharian ini kau banyak tidur kodok belo! Aish~ Yang punya masalah bukan aku, kenapa aku mengkhwatirkan dirimu sedangkan kau sendiri masih berleha-leha di dorm?!” Jonghyunpun berlalu masuk dalam kamarnya. Minho sedikit mengintip punggung Jonghyun yang berlalu melalui sela-sela kelopak matanya dan terkekeh pelan.

Klek!

Suara decitan pintu terdengar oleh telinga Minho. Ia menoleh kebelakang dan mendapatkan Onew baru masuk kedalam dorm dengan sepotong paha ayam goreng di mulutnya. Minho menggelengkan kepalanya, sudah tidak asing lagi kalau leader tua ini selalu keluar masuk dari dorm dengan membawa ayam bersama bir. Dasar orang tua, kerjaannya selalu makan.

Ya! Minho-ya, tadi kulihat kau bicara dengan seseorang dari dalam mobil.”Ujar Onew setelah menaruh belanjaannya di atas meja.

“Oh, yang tadi itu pengacaraku. Wae?”

“Pengacara? Pengacaramu seorang yeoja?” Kini Onew mendekat dan duduk disebelah Minho, dengan potongan paha ayam masih di mulutnya.

Aniya, pengacaraku seorang pria.”

“….Ah! Yang itu hyung? Yeoja yang didalam mobil itu?” Minho kembali mengingat pertemuannya dengan pengacara Jung tadi. Dan memorinya berhasil membayangkan wajah gadis berpipi merah bersemu tadi. Seketika Minho tertawa sumringah mengingat betapa bodohnya ekspresi putri pengacara Jung itu.

“Ngomong-ngomong yeoja itu siapa? Jangan bilang kalau kau mencoba mengoda anak orang disaat kasusmu belum kelar!”

“Dia anak pengacaraku. Ya! Menggoda? Aigoo hyung, aku hanya menyapanya saja. Lagian aku tertarik karna wajahnya terus memerah ketika aku menatapnya. Kiyeowo.”

 Kiyeowo? Seketika Onew menjatuhkan sisa tulang ayamnya, meninggalkan beberapa sayitan ayam di mulutnya sambil mata sipit itu melototi Minho yang senyam – senyum sendiri.

Ya! Kodok! Jangan sampai kau menyukai anak pengacara itu! Ingat skandalmu belum selesai dan sebentar lagi kita akan mengadakan konser! Jangan sampai kau membuat ulah setelah konser kita berakhir! Arraseo!?”

Minho terkesiap ngeri melihat si leader tua ngomel tidak biasanya. Minho mengangguk pelan melihat si dubu tua marah dan itu sangat mengerikan! Minho tahu betul bagaimana Onew hyung marah, tidak ada yang  bisa menenangkannya kecuali Key. Tapi si kunci itu tidak di dorm, ah! Dari pada kena omel lagi Minho buru-buru masuk kedalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat.

***

Aku bersalah.

Aku besalah.

Aku tidak mau seperti ini.

YA! Apa yang harus kulakukan?

Beberapa pengakuan dan pertanyaan terus menghujur di dalam pikiran Soojin. Entahlah, semenjak Ayah menyuruhnya keluar karena sempat marah besa,r membuar otak Soojin kalang kabut beserta stress memikirkan kejadian kemarin.

Melupakan SHINee.

Melupakan Minho.

Hanya itu diinginkan Ayah? Tapi Soojin masih tidak menyangka kalau Ayah begitu keras melarangnya. Mungkin karena ini untuk pertama kalinya Ayah seperti itu, Soojin merasa kalau Ayah benar kejam dan egois. Tunggu! Siapa yang sebenarnya egois? Soojin? Atau Ayah? Soojin memejamkan matanya, berusaha memutar kembali peristiwa itu. Ia menyusun kalimat – kalimat yang ia lontarkan kepada Ayahnya. Begitu keras, dan sangat keras kepala.

Aku yang egois, aku keras kepala.

Soojin mendesah berat. Ia sekarang mengaku, dan mungkin menyesal… Menyesal karna membentak orangtuanya, dan menyesal membuat Ayah marah. Namun begitu, wajar saja Soojin bertindak keras seakan ia tidak mau mematuhi Ayahnya. Bayangkan saja, sudah 5 tahun Soojin menjadi Shawol dan Flames dan itu menyisakan banyak kenangan indah dan mengesankan selama ia menjadi salah satu bagian dari SHINee World. Histeria bahagia, tertawa, tersenyum, malah tangis haru telah Soojin lalui semuanya. Dan kenangan – kenangan yang menjadi salah satu bagian dari SHINee itu mendadak pupus tanpa alasan jelas dari Ayahnya.

Appa melarangnya karna Appa tidak ingin kau melupakan sesuatu lebih penting karna begitu menyukai ‘orang-orang itu’

Orang-orang itu? Sungguh itu kata paling pedih jika Soojin mendengarkannya kembali dari bibir Ayah. Seakan Ayah menumpukkan rasa benci pada ‘orang-orang itu’ alias SHINee. Begitu juga pada Minho. Lalu, kenapa Ayah bisa menjadi pengacara Minho? Oh Soojin tahu, ini tuntutan kerja Ayah, tapi dengan menjadi pengacara Minho itu bisa menjadi celah buat Soojin untuk lebih dekat dengan idolanya, bukan? Apa Ayah tidak berpikiran seperti itu? Bukannya ia sangat tidak menyukai Minho?

Nan eottokhae?” Gumam Soojin setelah termangu lama dikantin sekolahnya. Duduk menyendiri sambil memutar kembali peristiwa kemarin. Benar-benar membuatnya tidak bisa berfikir dengan jernih. Apalagi jika teman-temannya tahu, sebut saja Miina, Jaeyong, dan Min Gi, mereka akan menertawainya, mungkin berbelas kasih padanya. Soojin tidak suka itu! Ia tidak mau kalau temanya sempat mengetahui ini. Terlebih Soojin masih menyimpan kebohongan pada teman-temannya itu. Yah, tentang cinta pertama, jatuh cinta dan bla-bla-bla. Semua itu membuat Soojin muak karena harus menipu temannya, mengatakan kalau orang disukai Soojin itu adalah Kang Tae Jun – yang sebenarnya belum Soojin ketahui.

 “Hey! Rupanya kau disini!” Bahu Soojin seketika menegang. Ia menoleh kebelakang dan mendapatkan yeoja berambut sebahu dengan mata sipit lengkung itu menyapanya. Oh..Kim Miina.Jujur saja, dalam hati Soojin ingin sekali mengutuk kedatangan anak ini yang begitu tiba-tiba.

“Bagaimana? Setelah kemarin itu,  kau bertemu lagi dengan Tae Jun?” Lagi? Kenapa harus membahas namja dingin bernama Tae Jun itu? Bahkan Soojin hampir melupakan kejadian beberapa hari lalu itu. Yang ia ingat hanya wajah Tae Jun, sangat mirip dengan Minho. Sampai sekarang Soojin masih bingung, kenapa ada orang yang begitu mirip dengan Minho? Soojin sendiri hampir tidak bisa membedakannya. Mereka sama-sama tinggi, berkulit coklat, mata bulat, serta memiliki wajah mungil seperti adanya Minho. Apa mereka saudaraan? Atau malahan kembar? Tidak mungkin! Saudara Minho hanya Choi Minseok seorang. Dan di keluarga Minho hanya ada dua bersaudara, tidak mungkin jika nama Tae Jun terselip di keluarga Minho.

“Soojin-ah!”

“Ah ne? Oh…Aku bertemu dengannya kemarin! Iya! Tidak sengaja Ayahku berhenti disebuah gedung dan disana aku melihat Tae Jun.” Bodoh! Kenapa aku harus berbohong lagi? Yang kumaksud adalah Minho! Bukan Tae Jun!

“Jinjja? Apa dia menyapamu? Kau  bicara dengannya?” Tanya Miina makin mendesak Soojin. Soojin menggeleng pelan meski ragu.

Sial, dosa kemarin saja belum tentu di maafkan Tuhan, sekarang Soojin berbohong lagi?

“Hmmm begitu ya…Soojin-ah! Bagaimana kalau kau dan Tae Jun ikut double date denganku?”

UHUK!

Soojin tiba-tiba kesedakan. Buru-buru ia menepuk dada kemudian meminum segelas air putih dengan ganas. Setelah semuanya sudah reda, Soojin mencoba mengerjapkan matanya lalu menatap Miina tidak percaya.

Dou-Double date? Sejak kapan kau punya gebetan?”

Miina tampak tersipu malu ketika menanyai mengenai ehmm…Pokoknya itulah.

“Kau saja yang tidak tahu, bukannya aku membongkar rahasiaku  kemarin?”

“Oh..Begitu ya?”

Ya! Kau ikut tidak? Ikut aja! Kau bilang kau sangat mencintai Tae Jun, coba dekati dia dan ajak berkencan bersama! Aku yakin kau tidak akan di tolak mentah-mentah! Lagian  siapa tidak mau dengan gadis secantik kamu,eum?”

“Ta-tapi aku belum begitu mengenalnya begitu juga dengannya. Dan aku…Aku-“

“Tidak mengenalmu? Aigooo Jung Soojin! Mana ada orang disekolah ini yang tidak mengenalimu? Kau cantik dan menggemaskan hingga memikat banyak namja! Kalau tidak salah aku dengar dari teman namja d kelas lain kalau kau itu mirip…Mirip Goo Hara!”

UHUK!

Untuk kedua kalinya air didalam mulut Soojin sukses nyembur keluar, membuat Miina bergidik. Soojin kembali batuk seraya menepuk dadanya. Oh Ya Tuhan, kenapa mendengar Goo Hara saja sudah membuatnya ingin serangan jantung?

“Apa aku secantik itu?” Dengan kilat Miina melirik Soojin. Ia merogoh cermin di saku roknya, dan menyuruh Soojin bercermin. Soojin jadi linglung, sebenarnya apa mau si Miina? Suruh ngaca?

“Tidak secantik Hara, tapi kau mirip saja. Aku yakin kau baru menyadarinya dan tidak tahu kalau betapa terkenalnya dirimu di kalangan namja sekolah ini!” Eh? Sungguh? Soojin tidak mengetahui mengenai hal itu. Jadi kesimpulannya Soojin terkenal dikalangan namja? Benarkah? Tapi tetap saja Soojin tidak bangga ataupun senang meskipun ia mirip dengan  artis cantik Goo Hara. Lagian untuk apa terkenal? Paling tidak ada manfaatnya bagi Soojin.

“Bagaimana Soojin? Kau pasti mau kan? Atau perlu aku menemui Tae Jun agar kalian bisa janjian? Ah itu dia! Ayo kita menemui Tae Jun!” Tanpa di minta Miina sudah menarik lengan Soojin berdiri dan menyeretnya keluar dari kantin. Tubuh Soojin begitu saja terseret kemana arah Miina pergi. Gawat! Kenapa lagi ini? Jika Miina tahu kalau kemarin Soojin tidak menemui Tae Jun dan malah Minho, Soojin yakin Miina akan mencacinya atau malah meninggalkannya.

Chankaman! Kau tidak boleh bertemu dengannya!” Tahan Soojin tiba-tiba menghentikan langkah mereka.

Wae?”

“Biar, aku yang menemuinya sendiri. Ya…Aku akan bicara dengannya.” Miina menatap Soojin curiga, cukup lama dan akhirnya ia mengangguk setuju.

Jinjja?”

Ne. Kau tenang saja, aku pasti ikut double date dengan mu” Mendengar itu Miina tersenyum lega, gadis itu menepuk bahu Soojin dan akhirnya menghilang dari pernglihatannya.

“Soojin-ah! Aku hampir lupa! Kita janjian hari Jumat pukul 4 sore! Ingat ya!” Teriak Miina sangat lantang membuat Soojin mendesah berat. Sekarang bertambah satu lagi yang menjadi beban pikiran Soojin. Berkencan dengan Tae Jun? Cih! Kenalan saja belum, terlebih Soojin tidak tahu siapa Tae Jun sebenarnya.

Soojin mendesah berat, kenapa masalah demi masalah selalu bertambah dan menjadi tumpukan pikirannya? Soojin malah tidak bisa menghirup udara segar karena masalah ini membuatnya gelisah. Soojin pun berniat ingin keluar dari gedung sekolah dan mencari tempat sunyi tapi menyenangkan. Kaki jenjangnya melangkahi sebuah jalan setapak di depan sekolahnya dan jalan itu menghantarkannya ke sebuah bangku panjang dan berleret sampai kebawah guna sebagai bangku penonton sepak bola. Ya, sekarang Soojin berada di depan lapangan bola sekolahnya. Bangku penonton paling atas merupakan bangku favorit karena terutupi oleh pohon besar di belakangnya. Sejenak Soojin ingin duduk dan menikmati kesunyian dengan memejamkan mata.

“Sasaeng fans? Kau memang bukan sasaeng fans, tapi orang gila yang seenaknya peluk orang!”

“Minho SHINee? Ck! Minho dalam mimpimu sasaeng!”

“Menurutmu aku siapa? Minggir sana!Dasar perempuan tidak tahu malu!”

Tiba-tiba sayupan suara meng-olok  Kang Tae Jun menyelinap masuk dalam khayalan Soojin dan sukses membuat mata Soojin terbuka lebar. Sial! Kenapa orang itu bisa terbayang oleh Soojin? Namja kasar itu tidak pantas jadi tipikal ideal Soojin! Dari pertama sampai sekarang, Soojin sama sekali tidak menyukai Tae Jun. Ah tidak! Satu yang di sukai Soojin pada Tae Jun, yaitu kemiripan fisiknya dengan Minho.

Chankaman! Sejak kapan anak bola datang kemari?” Soojin terbuat terkejut setelah melihat sekitar belasan orang pemain bola sekolahnya latihan dilapangan. Tapi Soojin tidak ambil serius, ini sangat kebetulan untuk mengusir rasa jenuhnya. Kira-kira bagaimana permainan pemain bola sekolahnya? Soojin tidak tahu menahu mengenai klub bola disekolahnya, ia tergolong orang yang cuek apalagi mengenai olahraga

Mata Soojin terus menyapu setiap pemain bola dari jauh dan ternganga melihat skill mereka masing-masing. Hingga ekor mata Soojin terdampar keseseorang yang paling menonjol di sana, gerakannya lincah dan larinya sangat cepat, sedari tadi hanya dia mencetak orani orang itu tersenyum senang. Waaah…Dia tersenyum ? Tapi kenapa senyumannya itu mirip Minho kalau di lihat dari jauh?

EH! TUNGGU! MIRIP MINHO?

JEDEEER!

“DIA! ORANG YANG MIRIP DENGAN MINHO! KANG TAE JUUUUUN!!!!!”

GLEK! OPPS!

Buru-buru Soojin menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sial! Kenapa berteriak? Dan teriakannya berhasil menarik perhatian pemain bola, termasuk….Kang…Tae Jun..? Gawat! Semuanya menatap Soojin dengan tatapan ganas!

“Siapa dia?”

“Hey kau siapa?” Begitulah respon pemain bola dengan suara lantang. Soojin hanya mampu membeku di tempat dan tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Diam-diam Soojin mencoba melirik kearah mereka, dan melihat namja-namja itu berbisik pada Tae Jun dan mendorong bahu Tae Jun sambil tertawa. Eh? Apa yang mereka lakukan hingga Tae Jun berjalan kearah Soojin? OH NO! Tae Jun benar-benar ke sini! Apa dia mau menamparku? Atau menendangku ke gawang biar aku hilang selamanya? Tidak!

1…2….3…. DIA DATANG!

Soojin menelan ludahnya berat, ia mengintip lantai yang ia pijaki dari bawah, menampilkan sepasang sepatu olah raga berpadau warna antara putih dan biru. OMG! Itu warna kesukaan Minho bukan?

Soojin terus melirik, hingga ia mendongakkan kepalanya secara perlahan dan tampaklah seulet tubuh tinggi berdiri didepannya. Wajah yang penuh keringat tapi itu terlihat tampan bagi Soojin. Kepalanya menutupi sinar matahari dari belakang membuat mata Soojin silau menatap wajahnya. Soojin menyipitkan matanya dan seketika tercengang melihat siapa yang datang.

“Kang Tae Jun?” Sahutnya pelan meski terdengar takut.

“Berdiri.”

“Aku?”

Tae Jun mengangguk. Sungguh! Suara dinginnya sangat mirip dengan suara d imiliki Minho!! Eottokhae?Jangan sampai Soojin menganggap Tae Jun itu adalah Minho.

Soojin akhirnya berdiri dan tidak sanggup melihat wajah Tae Jun.

“Kau telah membuat kami terkejut. Lain kali jangan muncul di lapangan ini.”

APA? KOK? Soojin menganga lebar. Setelah mengucapkan kalimat itu Tae Jun langsung berbalik dan berjalan menjauh. MWO? DIA KEMARI HANYA UNTUK MENGATAKAN ITU?

“Kang Tae Jun!” Panggil Soojin dari jauh tapi tidak di responnya. Terpaksa Soojin berlari mengejarnya dan secara refleks menahan pergelangan tangan Tae Jun.

Tae Jun terhenti dan membalikkan tubuhnya. Mata besar itu melirik tangan Soojin yang mencengkrm lengannya. “Lepas!”

“Ah! Mianhae..”

“Mau apa? Sasaeng?” Tanya Tae Jun dingin. Namun kata ‘sasaeng’ itu begitu ngena di jantung Soojin. Tatapan Tae Jun benar-benar meremehkannya bahwa Soojin adalah sasaeng gila yang memeluknya beberapa hari lalu.

“Maaf atas kejadian kemarin dan…,” ujar Soojin setelah menstalbilkan emosinya, meski suaranya sangat pelan.

“Itu saja? Kalau begitu aku pergi!” Tubuh Tae Jun langsung berbalik ingin pergi kembali. Soojin kewalahan, apa yang harus ia oranid? Soojin seperti kehilangan semua kosakata ketika melihat wajah Tae Jun. Pikirannya terus beranggapan kalau Tae Jun adalah Minho, itu membuat Soojin gugup seperti ini.

Chankaman Kang Tae Jun!”

Tae Jun kembali berhenti. Tapi ia hanya berdiri tegak.

“Ma- Mau kah kau kencan denganku?!”

***

“Kau pergi sekarang?”

Ne..”

“Tapi kau baru latihan sebentar. Masih ada beberapa koreo baru yang belum kita pelajari.”

“Aku mau pergi! Pengacara Jung sudah menungguku!”

Keempat member SHINee terdiam di buat olehnya. Mereka mengangguk pelan, dan mendesah berat. Sebenarnya, berat jika latihan tanpa Minho. Jujur saja Onew, Jonghyun, Key, dan Taemin merindukan Minho. Semenjak Minho sibuk dengan dramanya SHINee selalu performance dengan 4 member saja. Otomatis dance dan bagian rap mereka tidak seimbang. Begitu juga dengan fans, fans Minho tidak akan hadir menonton mereka, membuat penampilan SHINee sedikit kurang.

Tapi mereka merelakan saja, toh Minho ingin menyelesaikan kasusnya.

Hyung semangat! Semoga kasusmu cepat selesai!” Ucap Taemin memberi semangat. Minho mengacak rambut Taemin dan tersenyum tipis.

“Kalau begitu aku pergi dulu.”

Sudah beberapa hari sejak penipuan itu, Minho masih belum menemukan titik terangnya. Ia terus menunggu bukti-bukti lebih lengkap yang akan ia ajukan kepada hakim saat sidang nanti. Dan yang membuat Minho frustasi adalah, pelaku alias pihak CF tersebut menghilang, membuat polisi kewalahan mencari pelaku. Minho sendiri tidak menyangka ia akan mendapatkan skandal penipuan. Setaunya pihak label akan menyelidiki perusahaan mana yang akan bekerja sama dengan artisnya, tapi sekarang? Sedikit mustahil jika artis SM dilanda kasus macam ini dengan perusahaan lain, apalagi artis SM yang menjadi korbannya.Meskipun begitu, hukum harus ditegakkan! Manager dan pihak SM pun mendukung Minho untuk melanjutkan kasus ini ke meja hijau. Jadi…Minho memang harus melakukannya.

Setelah keluar dari gedung SM, Minho langsung menuju tempat pengacara Jung. Kata beliau, ia ingin bertemu di sebuah café dan akan memperbincangkan soal bukti penipuan tersebut. Ditangan Minho sudah ada beberapa bukti lain, akan ia tujukan pada pengacara Jung.

***

Sementara itu…

Tatapan tajam tidak pernah surut di terima Soojin dari Tae Jun. Bibir Tae Jun tidak bergerak memberi jawaban, hanya menampilkan tampang dingin- salah satu oran khas dari seorang Kang Tae Jun.

E-eottae? Maukah kau kencan denganku?”

“Menurutmu?” Tubuh Soojin bergetar. Suara Tae Jun seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Soojin.

“Kau tidak mau?”

“Kau sudah tahu jawabanya. Kalau begitu aku pergi.”

“Tunggu! Kang Tae Jung! Kang Tae Jun!!” Teriak Soojin memanggil Tae Jun. Namun tubuh kekar itu tidak berhenti ataupun membalik pada Soojin. Soojin menatap punggung Tae Jun dari belakang, menyisakan rasa kesal amat mendalam karna perlakuan Tae Jun yang sangat cuek terhadapnya. Apa salahnya menolak dengan cara baik-baik? Yah meskipun Soojin sudah yakin Tae Jun menolaknya mentah-mentah karena Tae Jun…Tidak pernah mengenal Soo Jin.

“Hey! Soojin-ssi! Tunggu di sana!” Soojin memicingkan matanya. Ada seorang namja berlari kearahnya. Oh! Dia adalah orang yang berbisik pada Tae Jun sebelum Tae Jun menghampiri Soojin.

Nuguya? Kau tahu namaku? Tahu dari mana?” Sembur Soojin setelah namja itu berdiri didepannya. Soojin memperhatikannamja itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Lumayan. Namja ini tampan sekaligus manis.

Naneun Yook Sungjae imnida. Aku mengetahuimu karena kau terkenal dikalangan anggota klub kami.” Tampang Sungjae agak pongah sambil memasukkan tangan ke saku celananya. Cih! Sok keren.

“Oh, geurae? Tapi aku tidak peduli. Apa urusanmu?”

Ya, seharusnya aku bertanya seperti itu! Apa urusanmu dengan uri Tae Junnie? Yeojachingu? Ah, kau fans Tae Jun bukan? Tidak heran popularitas Tae Jun membuatmu mengejarnya sampai kemari,” apa yang dia katakan? Fans? Hoh! Gila! Lebih baik Soojin mengidolakan sonsaengnim galak di kelasnya kebanding menjdi fans Kang Tae Jun. Lagian kenapa Sungjae yang rempong? Apa urusannya mengetahui masalah Soojin? Dia sepertinya tipikal namja kepo-pers.

“Enak aja! Itu urusan kami berdua. Antara aku dan Tae Jun!” Elak Soojin menekankan suaranya. Sedangkan Sungjae melirik Soojin penuh curiga seraya mengusap usap dagunya, seperti ahjusi saja.

“Kau dan Tae Jun? Memangnya kau siapanya Tae Jun?” Tanya Sungjae akhirnya. Soojin langsung terdiam. Lirikan matanya liar berkelak – kelok kiri-kanan mencari alasan. Ia sibuk memikir, untuk menjawab sesuatu yang bisa membuatnya kencan dengan Tae Jun. Apa ya? AHA! Soojin oranide.

“Aku pacarnya Tae Jun. Wae?!”

MWORAGU? Ah! Maldo andwe! (tidak mungkin), ” Sungjae mendengus, serta menghembuskan poni dengan mulutnya. Sementara alis Soojin berkerut mengetahui respon Sungjae yang aneh. Kenapa? Apa sangat mustahil baginya kalau Soojin pacaran dengan Tae Jun? Meskipun itu Cuma tipuan belaka. Ah! Soojin tidak tahu kenapa ia jadi sering  berbohong sekarang.

“Kenapa tidak percaya? Jinjja! Aku pacarnya Tae Jun! Kau bisa tanya sendiri padanya!”

“Jadi, kau benar-benar…”

NE! Aku pacarnya Tae Jun! Yeojachingu Kang Tae Jun! Kau mengerti?” Bibir Sungjae tak mampu bergerak. Sesuatu kenyataan mengejutkan ini akan menjadi oran paling panas di sekolah nanti jika ia menyebarluaskannya. Diam-diam Sungjae menyembunyikan senyum evilnya dan merancang sebuah rencana.

Yeoja bodoh, dia bahkan tidak tahu Tae Jun sebenarnya. Kau bisa mati jika mengaku sebagai pacarnya!

Ya! Kau melamun? “

“Ah? Ani. Kalau begitu aku pergi dulu. Senang bertemu denganmu Soojin-ssi!” Tanpa aba-aba Sungjae langsung berbalik dan kembali ke lapangan. Menyisakan Soojin tengah bingung akan tingkah namja aneh satu ini. Soojin mengangkat bahunya tidak peduli, lalu meninggalkan bangku penonton sebelum jam pelajaran berikutnya di mulai.

***

Satu lagi, bertambah kebohongan yang dibuat Soojin. Kini Soojin tak mau menghitung seberapa banyak ia berbohong. Apa perlu ia menulisnya di buku diary? Atau menyalinnya menjadi cerita fiksi alias fanfic?  Bisa jadi, biar menarik Soojin ingin membuat sebuah karangan tulis dan akan memposisikan dirinya sebagai pemeran utama dan tergila-gila dengan Minho. Minho jadi pemeran pria utama, sangat mencintai Soojin dan akhirnya mereka menikah dengan bahagia! Yeay! Happy ending!

Bugh!

Itu ide paling buruk yang pernah Soojin ketahui! Semuanya penuh khayalan dan tidak ada satupun menjadi kenyataan! Nah, itulah resiko menjadi fangirl. Menghayal tapi yang dikhayalkan tidak pernah menjadi kenyataan. Ini sebuah kenyataan sedih? Iya, tapi bukan Soojin saja seperti ini, masih banyak jutaan fans didunia ini senasib dengannya (Termasuk kalian :p)

Tak! Sebuah pulpen bermotif Hello Kitty dihentakkan oleh Soojin sambil menutup buku pelajarannya. Lama berkhayal juga bikin Soojin muak. Dan saat ini sudah waktunya untuk menonton TV, melihat apakah SHINee masih nongol di layar TV setelah tidak muncul-muncul lagi. Meskipun Soojin tahu hubungannya dengan Ayah masih pasang surut karena masalah SHINee ataupun Minho, Soojin masih nekad mencari informasi baru mengenai SHINee, yah setidaknya itu diam-diam.

Eonni~ Aku mendapatkan ini dari Minhyuk” Sebuah tangan mungil mendadak muncul di hadapan Soojin yang baru keluar dari kamarnya. Soojin menatap seorang gadis bertubuh lebih kecil darinya itu.

“Ini apa?”

Eonni bisa melihatnya sendiri! Minhyuk memberinya padaku sebagai tanda sukanya padaku”

“Cih! Anak cabe rawit seperti kalian apa tahunya mengenai suka-sukaan? Beri kemari, foto Taemin tidak akan mengubah hubungan kalian berdua.” Soojin merebut sebuah photo card dari tangan dongsaengnya. Jung Soohyun. Gadis berumur 7 tahun itu memanyunkan bibirnya dan menginjak kaki Soojin setelahnya. Sebagai info, Soohyun juga mengidolakan SHINee, apalagi maknaenya – Lee Taemin.

“Ya! Soohyun-ah!”

Eonni jahat! Apa salahnya aku menyukai Taemin? Lagian Taemin sangat mirip dengan Minhyuk.”

“Lalu apa urusannya?”

Aniyo dan ternyata menyukai Minhyuk lebih menyenangkan dari pada mengidolakan Taemin.” Soohyun menatap kakaknya berbinar-binar. Gadis yang mengaku sebagai fans Taemin itu tampak menghayal dan Soojin sudah tahu kebiasaan adiknya.

“Sudah selesaikan saja PR mu dulu! Belum waktunya memikirkan suka-sukaan!” Soojin menjitak kening adiknya dan buru-buru turun dari tangga sebelum Soohyun akan menjambak rambutnya.

Sesampai di bawah, Soojin melihat keadaan ruang tengah sunyi, sepertinya Ayah tidak berada di rumah. Biasanya Ayah akan menonton TV sambil membaca oran jika sudah di rumah. Jika begitu, sekarang saatnya menguasai TV! Soojin menyalakan TV dan ingin mencari remote, tapi belum sempat ia mendapatkannya, tiba-tiba Ayah Soojin muncul dari kamar.

Soojin baru ingat kalau sejak kemarin Soojin tidak banyak bicara dengan Ayahnya. Seperti mendapatkan sensasi aneh setelah Ayah melarang Soojin mengidolakan Minho kemarin membuar Soojin tidak berani membuka mulut.

“Boleh pinjam ponselmu? Ponsel Appa mati karena baterainya habis.” Jinhyon tidak langsung menatap anaknya, ia disibuki dengan secarik kertas kecil ditangannya yang tertara nomor ponsel seseorang. Sementara Soojin, tidak mengerti kenapa Ayah tiba-tiba bicara dengannya. Bukannya Ayah marah padanya?

“Mau meminjamkannya tidak? Kalau begitu pinjam ponsel adikmu saja.”

A-ani! Ige.” Walaupun suasana dirasakan masih tegang dan aneh karena tiba-tiba saja Ayah bicara dengannya, Soojin tetap memberikan ponselnya meski agak gemetaran. Soojin melirik sang Ayah was-was, memperhatikan raut wajah Ayah yang serius.

“Ini aku. Apa kau sudah menunggu lama? Begitukah….Masih di café? Bukti lain sudah ada? Jadi sekarang kau tidak sibuk? Oh baiklah aku akan kesana.”

Bip. Jinhyon menghentikan pembicaraan lalu menyerahkan ponsel keanaknya. Sedangkan Soojin mendelik seperti memikirkan sesuatu. Dengan siapa Ayah menelfon? Apa jangan-jangan…

Otak Soojin bekerja memikirkan apakah dugaanya kali ini benar.

Apa Appa mau menemui Minho? Pikir Soojin mulai melayang. Ia terus memperhatikan Ayahnya sedang bergegas pergi. Sementara jemari Soojin masih sibuk meracau, ingin menanyakan hal itu pada Ayah. Tidak bisa, ia tidak berani membicarakan Minho di depan Ayahnya. Lalu bagaimana? Kenapa rasa penasaran Soojin semakin kuat, jika memikirkan ini? Apa ia harus diam-diam mengikuti Ayah agar bisa memastikan apakah Ayah bertemu dengan Minho atau tidak? Apa ini tidak apa? Soojin kebingungan, tapi sedtik kemudian ia berbalik, dan menaiki tangga rumah dengan cepat dan mengganti pakaiannya segera. Soojin akan mengikuti Ayahnya, akan membuktikan apa Ayah bertemu dengan Minho atau tidak.

Lagian aku sangat merindukan wajah Minho oppa..

***

Rupanya Ayah menemui seseorang di sebuah café. Dan Soojin, entah kenapa anak ini memiliki keinginan kuat hingga mengikuti sang Ayah dengan taksi hingga ia sampai di sebuah café. Dengan taktik penyamaran, Soojin menyelinap, atau lebih tepatnya mengintip dari luar. Untung saja dinding café terbuat dari kaca, jadi Soojin bisa melihat dengan jelas.

Dan apa kalian tahu, siapa yang dilihat Soojin?

Wajahnya bersinar serta kedua bola mata bening yang bulat. Rambutnya terlihat mulus dengan kilauan warna merah dan hitam . Sementara di leher panjangnya terlilit sebuah syal hitam. Tubuh tingginya berbalutkan coat cream, memakai jeans dan dibawahnya menggunakan sepatu sport. Soojin sangat hafal dengan gaya fashionnya.

Siapa lagi kalau bukan Choi Minho.

Sudah sekitar satu jam Soojin berdiri di luar sambil sesekali celingak celinguk apakah ada orang yang memperhatikannya. Cukup capek, berdiri sendiri sampai satu jam, dan Ayah belum juga keluar dari café itu. Soojin sangat menginginkan Ayah pergi, dan dari sanalah Soojin melanjutkan aksinya.

“Hihihi, aku tidak sabar melakukan rencana ini nanti,” gumam Soojin seraya tertawa evil  dan tidak sadar kalau orang-orang memperhatikannya dengan aneh. Biarin, toh yang Soojin lakukan ini demi Choi Minho tersayang.

Kreeng! Aha! Bel pintu dari café tersebut berdering, itu artinya ada seseorang yang keluar dari café. Soojin berusaha mengintip dari balik pot bunga, dan seketika senyuman lebar terlukis dibibirnya.

“Itu Appa! Berarti Minho oppa sedang sendiri sekarang! Aku harus segera masuk!” Sejurus kemudian Soojin ikut membuka pintu café setelah Ayahnya benar-benar pergi. Sebelum berjalan ke tempat Minho, Soojin terlebih dahulu memeriksa tampilannya. Cukup menarik karna Soojin rela-relain ke salon untuk make over tampilannya. Dengan menggunakan mini dress bewarna peach, sepatu high heels, serta rambut panjang yang disengaja terurai dan tak lupa memakai sebuah bando lucu.

Perfect, Soojin tersenyum simpul setelah memesan pesanannya berupa hot cappucino yang telah ditangannya. Ia menelan ludah pelan berniat akan berjalan mendekat. Ia pun mengembangkan sebuah senyum percaya diri, membuatnya makin yakin akan ini.

Namun, tiba- tiba saja senyuman itu memudar secara perlahan. Kaki itu juga berhenti, karena mata Soojin telah bertemu dengan sosok Minho, meski dari jauh. Pria itu sedang menikmati minumannya, lalu tersenyum. Senyuman itu membuat hati Soojin teriris. Entahlah, melihat Minho tersenyum begitu saja mampu mengguncangkan hatinya hingga Soojin mundur selangkah.

Lupakan SHINee.

Lupakan Choi Minho.

Aku harus patuh pada Appa.

Kalimat itu kembali muncul, bagaikan terulang lagi oleh memori Soojin.  Getaran di tangannya menjadi saksi bahwa pernyataan tadi sangat sulit diterima. Melupakan? Itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Tapi kenapa Soojin masih ingin menemui Minho? Kenapa ia bersi keras dan selalu keras kepala? Soojin memejam matanya, kepalanya seakan berputar dan dadanya sesak. Ia ingin runtuh jika harus melupakan seorang pria yang sedang tersenyum manis itu. Ia ingin menangis meraung-raung membuktikan bahwa ia tidak bisa melakukannya. Apa ini bodoh? Benar! Soojin akui dirinya sangat bodoh. Orang bodoh yang sudah dilarang bertemu dengan pria itu, tetapi  sekarang ia malah bersikukuh untuk bertemu.

Soojin kembali menghirup nafas, setelah merasa tenang, ia menganggukkan kepala dan mulai melangkah.

Niatku tidak lebih dan tidak kurang hanya untuk melihat wajahnya saja. Tidak tahu jika ini menjadi terakhir kalinya, yang pasti aku ingin melihatnya. Choi Minho.

Sudah dekat, Soojin hampir mendekat. Ia tersenyum tipis mengetahui kalau jaraknya tinggal beberapa meter lagi. Mata Soojin tak luput dengan sosok tampan itu, membuatnya seakan ingin melayang, sehingga Soojin tidak menyadari kalau kakinya salah melangkah. Tersandung oleh sebuah kaki kursi didepannya tak jauh dari meja Minho.

BRUK!

PRANG!

Pecahan gelas berserakan serta isinya mengguyuri pakaian. Dentuman itu terdengar lumayan keras, membuat semua pengunjung memperhatikannya.  Mereka terkejut sambil membelalakkan mata tat kala melihat kepala Soojin terbentur oleh sudut meja didepannya, yang tak lain adalah tempat meja Minho.

Agashi!Ireona!” Seru seorang pelayan café panik.  Karena tidak mendapat respon, pelayan tadi melirik sekitar, mencari seseorang ia sangka bersama Soojin. Seketika pandangan pelayan itu menyorot kearah Minho yang sedang berdiri tidak beberapa jauh, Minho sedikit membuka mulutnya dan menunjuki dirinya sendiri dengan telunjuk seakan apakah pelayan tadi sedang menatap kearahnya.

“Kau Minho bukan? Gadis ini bersamamu? Kenapa tidak di tolong?” Pelayan itu bertanya setengah berteriak. Minho terlonjak, ia tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi. Ia mencoba melihat keadaan gadis yang terjatuh tadi, dan betapa terkejutnya Minho kalau pelipis gadis itu telah mengeluarkan darah segar.

“Cepat panggil ambulan! Dia berdarah dan tidak sadarkan diri!” Semua penggunjung menatap Minho seperti menyuruhnya bertanggung jawab. Tunggu! Ini ada apa? Kenapa Minho malah yang harus menanggani orang ini? Dia kan cuma duduk manis dengan minumannya dan entah kenapa gadis itu muncul, lalu tersungkur.

“Bantu dia bawa ke rumah sakit~ Kasian darahnya terus bercucur deras!”

Rumah sakit? Tidak!

“Ja-jangan rumah sakit!”

Serampak semua orang kembali melirik Minho. Mereka heran melihat Minho mendadak panik setelah mendengar kata rumah sakit

“Biar aku yang membawanya. Aku bersamanya tadi.” Ujar Minho seraya menelan ludahnya berat. Apa yang kulakukan? Aku sama sekali tidak tahu! – pikir Minho dalam hati. Ia menatap gadis yang tersungkur itu sebentar, wajahnya tidak kelihatan dengan jelas karena tertutupi oleh helaian rambut ikalnya.  Dan benar, setelah melihat, darah dari kepala gadis itu terus keluar membuat Minho bergidik nyeri sekaligus simpatik untuk menolongnya. Baiklah, ini mungkin bukan seratus persen tulus dari hati Minho. Minho hanya tidak enak jika masyarakat memandangnya sebagai artis tak punya perasaan ataupun artis tak ber pri kemanusiaan karena tidak segera menolong gadis malang ini. Terpaksa Minho mencari muka didepan masyarakat, agar tidak ada kabar mereng dari mereka.

Tidak apa, yang penting menolong.

Tidak perlu menunggu lebih lama, Minho telah menggendong tubuh tak sadarkan diri itu. Banyak pasang mata memandang Minho penuh takjub serta terkejut, seorang artis dari boyband SHINee, Choi Minho menggendong seorang gadis? Mereka pasti memikirkan hal itu. Dan tunggulah sampai kabar-kabar aneh akan meluncur di media.

Sekali lagi, sambil menggendong gadis ini sampai ke mobilnya, Minho menatap wajah nan terutupi oleh helaian rambut itu. Secara tidak sengaja, angin dari luar berhembus membuat helaian rambut gadis ini beterbangan. Sekarang Minho bisa melihat wajahnya. Ada sedikit raut terkejut, kemudian dahi yang bertaut itu perlahan hilang setelah bibir Minho melengkung, tersenyum.

Gadis ini…

***

Mobil Minho membawanya sampai ke sebuah gedung tinggi dan bertingkat. Pria itu terdiam sejenak dan baru mengetahui kalau ia tidak tahu kenapa bisa ia membawa gadis ini sampai ke depan apartemen SHINee. Iya, gedung bertingkat itu adalah tempat kediaman SHINee.

“Ah! Aku lupa melihat kartu identitasnya! Seharusnya aku mengantarnya ke rumahnya, bukan kemari!” Minho menepuk jidat sambil berdesis kesal. Buru-buru tangan panjang Minho merogoh pakaian gadis tadi. Tidak terdapat sebuah saku ataupun tas kecil. Mungkinkah tas gadis ini tertinggal? Lalu bagaimana mengetahui alamat gadis ini kalau tidak dari kartu identitas?

“Aaahh!!” Minho mendesah berat. Merutuki kebodohannya sendiri. Sekarang apa? Apa Minho harus menggendongnya sampai masuk kedalam dorm? Bukankah itu melanggar peraturan dari manager, bahwa tidak boleh membawa orang asing ke dalam dorm, apalagi seorang YEOJA! Aigoo…Minho jadi kalang kabut, tidak mungkin kalau ia meninggalkan gadis ini di pinggir jalan? Bisa-bisa dia mati kedinginan dong? Di bawa ke rumah sakit? Itu makin bahaya! Karena jika orang-orang di rumah sakit melihatnya membawa gadis ini, mereka bakal curiga, berprisangka aneh, lalu memotonya, kemudian meng-upload ke beberapa situs dan menulis kalau Choi Minho, rapper utama SHINee ketahuan membawa seorang gadis asing ke Rumah Sakit, apakah gadis itu kekasihnya?

“Ani! Aniyaa!!”Minho mengacak rambutnya frustasi. Baiklah jangan berpikir aneh-aneh, tindakan pertama yang harus dilakukan sekarang adalah menghirup nafas dalam-dalam dan berfikir jernih, kedua, segera membuka pintu dan langsung gendong gadis ini. Ketiga? Minho harus menggendongnya sampai ke dalam dorm?

Gwenchana, dari pada ke Rumah Sakit, dorm lebih aman dari tempat manapun!” Akhirnya Minho menggendong gadis tersungkur tadi alias Jung Soojin. Anehnya sampai sekarang Soojin belum sadarkan diri, dan ia tidak tahu kalau Minho telah menggendongnya sampai kedepan dorm. Untung saja satpam yang berjaga tidak melihatnya dan kawasan sekitar dorm juga sepi. Dan yang paling untung itu adalah, member SHINee yang lain beserta manager tidak di dalam dorm karena masih berada di gedung SM.

Pintu dorm terbuka, dengan tergopoh-gopoh Minho membawa tubuh Soojin masuk kedalam. Ia melirik kearah kanannya, rupanya pintu kamar Minho tidak tertutup, dari pada sofa ruang tengah, lebih baik Minho menyembunyikan Soojin di dalam kamarnya.

Minho membaringkan Soojin diranjangnya. Minho mengambil dua bantal untuk mengalas kepala Soojin yang berdarah tadi. Kemudian Minho berlari ke dapur mencari kotak P3K. Setelah menyiapkan segala sesuatunya, Minho beralih pada rambut-rambut yang masih menutupi wajah Soojin. Minho menatapnya sejenak, dan entah kenapa seulas senyum terlukis di bibirnya.

Mian, telah membawamu kemari. Kuharap saat bangun nanti kau tidak terkejut dengan apa yang kulakukan padamu…Putri pengacara Jung. ”

TBC

Maaf atas typo. Aku sudah berusaha memeriksa kembali, dan mungkin masih ada typo yang terlewatkan. Atau jika ceritanya makin gaje *.* Meski begitu harap kritik dan sarannya dengan cara memberi komentar. Jika sedikit respon maka aku gak semangat lagi lanjutinnya.

Iklan

5 thoughts on “Pinocchio Girl – Part 2

  1. Miina Kim berkata:

    Saeng, eonni lom sempet baca ini. Sepagian ‘nguli’ di rumah…. hehehehee…
    Tadi baca one shot mu…
    Ntar malem, eonni mampir lagi, ya….
    *cup….
    Tuh, buat Jinki oppa…

  2. Miina Kim berkata:

    Huwaa… Udah kamu reply? oke, deh.
    Nih, kemajuan, saeng…
    Scene awal pertengkaran Soojin dan ayahnya bagus,
    eonni terbawa suasana tegangnya tadi, dan sempet ikutan
    nyesek juga kalo itu terjadi ma eonni…
    Disuruh berhenti mengidolakan Jinki…
    Waduh,,, bisa hitam-putih dunia eonni tanpa Jinki… *lebay
    Tapi berhubung kita cuma disini, gak mungkin nguber mereka sampe sono
    jadi insyaAlloh, masih wajar, ya….

    Tapi ayah Soojin juga cukup beralesan minta anaknya
    berhenti jadi shawol atau flamers.
    Dia khawatir, anaknya yang masih teramat labil, yang ditempeli
    teman yang gak kurang juga kelabilannya, *lirik Miina,
    bakal lebih memprioritaskan hal2 yang beliau anggap gak ada ujungnya
    daripada sekolahnya. Padahal, sebagai single parent, ayah Soojin
    sudah cukup ‘jungkirbalik’ berperan sebagai seorang ayah dan ibu
    sekaligus untuk kedua putrinya. Jika usaha dan kerjakerasnya itu
    menjadi sia-sia karena hal konyol seperti ini, tentu saja
    dia tidak akan tinggal diam. Dan mungkin, setelah mulai
    bekerja sama dengan Minho, kliennya dalam kasus yang dia tangani,
    dia juga sedikit tahu tentang dunia keartisan yang penuh dengan
    intrik yang melelahkan. Dan dia paham, putrinya tidak akan siap
    dengan hal itu. Well, setidaknya, itu yang ada dipikirannya…
    *sok bijak, diinjek
    Mungkin hanya caranya yang kurang tepat. Itu yang salah.
    Gak seharusnya sang ayah terlalu keras. Dia bisa bicara dengan
    baik2 dengan putrinya. Beri sedikit penjelasan dan pandangan, mungkin
    opini dari kacamata sang ayah. Mungkin Soojin bakal lebih menerima.
    *Jinki-ya, nanti terhadap anak2 kita, kamu juga mesti bijak dan sabar, ya…
    **digampar eomma appa eonni…

    Eh, saeng, “KAMU” juga termasuk fans sedunia SHINee yang penuh
    dengan khayalan, gak cuma kita2 aja, kaleee *jitak
    Tapi selama itu bisa bawa kita ke hal positif, kan gak apa2…
    Kalo eooni gak pernah tahu ama makhluk yang namanya
    Lee Jinki, mungkin ampe sekarang, eonni masih hobi
    koleksi dan mandangin foto2 cantik para aktris korea…!!!
    Kan rada aneh, saeng… Dulu aja, siswa2 dan temen2 eonni
    udah anggep eonni aneh, dan satu temen eonni malah nyaranin
    periksa ke ‘dokter’,, apaaaaa…. cobaaaaa……
    *peyuk Jinki…

    Eh, tuh Soojin emang sangtae, ya…
    Pakek jatuh segala disitu… Tapi dia malah diselamatkan Minho.
    Andwee…. Miina, temennya, mana????
    Dia mesti tahu, dan mesti nyusul juga ke dorm…
    Biar ketemu ama Jinki oppa…
    *Dasar SDM… (Selamatkan Diri Masing2…)
    Bukannya mikirin nasib Soojin, malah mikirin Miina…
    Waduh, kalo sampe member, leader, dan manager SHINee tahu,
    Minho bisa kena marah… Apalagi, sang leader tua…
    Oops, maksudnya, sang leader tua nan berkharisma bakalan
    syerem banget kalao lagi ngamuk…
    Kira2 ada yang sempet ngerekam gak tuh, pas Minho
    gendong Soojin…? Langsung diupload, masuk youtube,
    appa Soojin lihat, habislah Soojin…

    andil Tae Jun dengan kerumitan hidup Soojin belum terlalu
    terlihat sampe part 2 ini, ya, masih irit ngomong banget dia…
    *geleng kepala… tapi sepertinya di part2 selanjutnya
    Tae Jun bakal lebih eksis di cerita… harus dong…
    Oya, Miina sama Onew, bakalan nongol gak, nih, ntar…???

    Saeng next partnya jangan lama, dong…
    Kembalilah pada mood mu untuk menulis, nak…
    Boys Meet Me nya eonni tungguin
    selalu…
    oke…

    • waduh! ini yang jadi bapaknya siapa sih? eonni atau appanya soojin? tau banget gimana perasaan bapak2 XD. Tapi di segmen kedua itu asli dari pengalaman pribadi sih. Ortu sempat marah gitu, dan prnah kok manggil SHINee dg sebutan ‘orang2 itu’ dan rasanya nyesek bgt eon. Di suruh berhenti dan fokus belajar. Tapi nyatanya masih kayak gini2 aja, toh ortu udh males nasehat atas kegilaan aku trhadap SHINee 😮

      ngomong ttg Tae Jun, aku ngambil karakternya sesuai dg drama TTBY, disana dia kan juga irit ngomong. Dan part selanjutnya usahain si Tae Jun bnyk ngomong .-.

      Miina dan Onew? Haha ceritanya kan Miina ngefans sama Onew, pastinya bakal nongol lah ^^ terlebih Miina juga temen dekatnya Soojin.

      Iya aku usahain ya eon. Terutama mood buat selesaikan Boys Meet Me nya.
      Gomawo ^^

  3. Miina Kim berkata:

    Wkwkwkwwkwkkkkkkk….
    Iya, dong, biar labil gini, eonni memang harus siap mental jadi ortu
    siapa tahu Jinki tiba-tiba ngelamar… *dilempar talenan

    Assiiikkk….
    Tak pantengin, ya… BMM ama PG…
    *Hugbear

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s