[Oneshot] WIND

WIND

Title : [Drabble] Wind

Main cast : A girl (YOU), and Lee Jinki a.k.a Onew SHINee

Genre : Fantasy

Rating : SU

Lenght : 1.762 words

Summary : Angin mengantarkan kita. Melodi memperkenalkan kita. Namun siapa sangka, kalau aku jatuh dalam permainanmu dan membeku dalam kenyataan. Kenyataan yang membuatku tak mampu bergerak lebih dekat, tapi menghilang setelah aku mencoba meraihmu.

A/N : Ini adalah FF drabble keduaku. Sebelumnya juga bergenre Fantasy. Gak tahu kalau drabble mentoknya ke fantasy mulu. Maaf ceritanya membosankan atau tidak ‘ngejreng’ (?) ini sejujurnya terinspirasi dari pianis Yiruma dalam lagunya ‘If I Could See You Again’. Tapi nyatanya judul FF sama lagu inspirasi beda jauh XD. Anyway, maaf posternya maksa banget. Gak sempat bikin poster jadi mesti pake foto dari fansite Onew (Noona maaf edit fotonya T.T).

Oh ya, semoga readers mengerti maksud yang disampaikan lewat FF ini. Jangan lupa kritik dan sarannya ^^.

Happy Reading ! ^^

Hamparan angin sore menerpa dan membelai permukaan ribuan rerumputan panjang. Membelai mengikuti arah angin hingga mereka terlihat bak menari diatas siulan sang angin. Aroma menuju petang yang menerebus ke pemermukaan kulit, mendapatkan kesejukan hati dan pikiran.  Pemandangan di ujung pandang nan luas, tersirami luasan rumput yang meraja di permukaan tanah. Memberi kesan hijau nan asri di sore ini.

Dan di detik itu juga, langkahan perlahan terdengar bagaikan terdesik diantara bagian rerumputan panjang. Tangan mungilnya mengelak batang rumput yang menghambat pemandangannya. Berusaha mencari titik utama dari daerah ini dimana ia bisa melihat alam yang tersimpan di tanah sekarang ini ia pijaki. Kembali melangkah penuh hati hati, dan kini rerumputan liar itu berhasil ia lalui.

Siulan angin membelai helaian rambut hitam pekatnya. Rambut sepanjang bahu itu bergoyang dan akhirnya angin menyapu helaian rambut yang tadinya menutupi sebagian wajah cantik itu.

Tangannya disengajakan terbentang, bagaikan seseorang yang ingin terbang ke langit biru ini. Ia menghirup udara segar itu sepuasnya, kemudian sebuah ukiran indah terlukis dibibir tipisnya. Menciptakan karunia Tuhan, menjadikan senyuman ini sangat jelita.

Tapi apa kalian tahu, mengapa orang ini bisa berada di suatu padang rumput tersembunyi ? Alasan dan penyebabnya itu sangatlah mudah. Karna dia tertarik, bukan karena pemandangan disini, namun pada suara yang tercipta di padang rumput ini. Melodi indah, mampu menggerakkan gendang telinganya hingga syarafnya merangsang ke otak dan otak menyuruhnya untuk berjalan, mencari sumber suara.

Dan tepat, sumber itu makin jelas ia dengar. Ia terus berjalan dan berjalan hingga alunan tercipta tersebut sudah terhapal oleh akalnya. Menyuruhnya untuk lebih semangat mencari ‘pelaku’ yang membuat melodi seindah ini.

Itulah dia, sebuah pohon berdiri kokoh tak jauh gadis ini berdiri, jemari tangannya yang lentik tadi kini harus mencengkram ujung pakaiannya. Apa yang membuatnya ragu dan takut? Apa sesuatu yang buruk dilihatnya? Bukan, itu sangat tidak benar. Ia bukan takut, namun tenggelam dalam keterpukauan. Tangan dan kakinya bagaikan terikat di beberapa rerumputan ini sehingga masih mematung menatap objek yang mampu mendesirkan aliran darahnya, bahkan jantungnya.

Suara itu, alunan itu, melodi itu, dan wajah itu. Dalam hitungan sekejap mampu menghipntisnya. Bermodalkan gitar classic dipangkunya, lalu duduk sambil menyender di badan pohon. Itulah alasannya, orang itulah. Orang asing yang sama sekali tidak ia kenal mampu menarik perhatiannya.

Orang itu memiliki rambut pendek bewarna blonde dan memakai celana blue jeans ditemani kemeja putih yang salah satu kancing disengajakan terbuka. Bibirnya bergerak dan menghasilkan sebuah suara lembut. Jari pendek tapi lentik jika menggesek senar gitar dan menghasilkan melodi indah yang membuat sang gadis terpana.

Wajahnya putih seputih susu, ditemani mata sipit dan alis tebal. Bibir yang terbentuk sempurna bewarnakan merah muda. Suara yang terciptakan sungguh agung. Bagaikan mendengar nyanyian dari surga sana, hingga akhirnya memikat hati si gadis ini.

Dia tampan, dan suaranya bagus. Namun mengetahui kedua hal itu, apa yang bisa ia lakukan? Melihatnya saja? Bukan ia tidak bisa, ia bahkan sudah jatuh hati pada pemilik suara itu. Dan akankah ia melangkahkan kakinya lebih mendekat lagi, lalu membuka bibirnya menanyakan suatu pertanyaan?

Iya! Itu yang akan dilakukan gadis ini, dengan keberanian kuat ia melangkah mendekat hingga jarak antara mereka sekitar satu meter. Jantungnya terus memberontak untuk melankah lebih dekat lagi. Tangannya ingin melayang keatas dan melambai pada pria ini. Namun sepertinya suara angin dan kekuatannya, membuat gadis itu tak mampu melakukan hal tadi. Angin itu menampar rok sepanjang kurang dari lutut itu, menyiulkan sebuah bunyi, diselingi suara gitar yang tadinya bermain.

Dia belum melihat, belum merasakan jika ada seseorang didepannya.

Tapi firasat sang pria menyuruhnya untuk menghentikan permainan. Dan jari itu berhenti bergerak. Mengatup senar gitar dengan telapak tangannya agar dengungan dari senar tak terdengar. Kepala pria yang berambut blonde itu tak sengaja bermain oleh angin. Mencoba mengangkat kepala, jika memang benar ada firasat muncul itu memang ada dan menyuruhnya untuk berhenti.

Dia melihat, dan menatap.

Sunyi.

Pandangan mereka bertemu, menyatu dan saling diam. Tapi tetap saja si gadis memamerkan senyumnya. Ia tahu ini adalah saat paling gugup yang pernah ia alami, namun hebatnya senyuman itu tak terlihat sebagai senyum canggung sekalipun, membuat lawan jenisnya ikut menyunggingkan bibirnya. Tersenyum juga, dan akhirnya senyumnya berubah jadi kekehan kecil, memperlihatkan deretan gigi bersih, dan eh..Gigirnya lucu seperti kelinci.

Anyeonghaseyo~” Sapa si lelaki tak ingin melenyapkan senyumannya.

Sebuah sapaan biasa, namun terdengar begitu lembut dan hangat di telinga gadis ini.

Seketika, kakinya bergetar. Ia sudah berhasil membuat pria yang beberapa menit lalu ia sukai itu menyapanya, tapi siapa sangka ini akan memperbalik keadaan? Malah gadis ini kelihatan takut, ketika sang pria meletakkan gitarnya lalu berdiri. Berhadapan.

“Aku rasa hanya aku yang tahu daerah ini, rupanya kau juga mengetahuinya. Tapi aku tetap senang. Selamat datang di tempatku.” Tangan ajaib itu mengulur kedepan berharap ada yang membalasnya. Rupanya tidak, gadis itu tidak bergeming, layak patung sedang menatap pria didepannya. Tak ada suara..

“Namamu?”

“….”

Pria itu memiringkan kepalanya, membuat rambut blonde itu turun menutupi sedikit sebelah matanya. Saat itulah angin datang dari arah selatannya membuat tubuh sedang berbalut kemeja putih itu menembus partikel angin. Angin itu menembusnya, menembus tubuhnya.

“Apa kau punya nama? Aku ingin memanggilmu tapi aku tidak tahu namamu, hehe.”

Dia terkekeh lagi, dan tersenyum lebar lagi. Sungguh itu cukup membuahkan rasa senang di hati gadis ini, membuat hati penasaran tadi meleleh karena suara lembut itu.

“Permainanmu….Sa-sangat lu-luar..biasa.”

“Oh begitukah? Kau kemari karena mendengar permainanku?”

Gadis itu mengangguk pelan dan kembali memacarkan senyum, seperti biasa. Matanya kembali menyelusuri tiap beluk tubuh pria ini dari atas, dan mengetahui diatas sana terdepat sehelai daun melayang tepat diatas kepala pria itu. Melayang, mengayun, hingga tembus jatuh kepermukaan.

Seketika senyuman itu memudar. Mata yang memancarkan rasa kagum dan terpesona itu menghilang tergantikan dengan tatapan bulat dan lebar. Dentuman di dada makin mengencang, syaraf di tubuhnya seperti berhenti berfungsi hingga ia tidak bisa mengambil langkah mundur.

“Hehe. Semenjak aku tinggal disini aku sering bermain gitar. Aku ingin memanggil seseorang datang padaku dengan setiap melodi yang ku buat. Dan ternyata, masih ada manusia yang bisa mendengarkan laguku. Aku sangat senang.”

Aku juga senang. Karena lagumu, aku jatuh hati dan segera ingin menghampirimu.

“Tetapi aku bukanlah orang itu.”

“Eh?”

Pria itu membuat garis kerut di keningnya. Rasa bahagia seperti bertabur bunga itu seketika hilang dan tertiup angin.

“Maaf.”

“Kenapa?”

“Aku, salah tempat. Aku baru sadar yang kucari bukan suara dari lagumu. Maaf”

Gadis itu merunduk dan perlahan mengambil langkah mundur. Ia sudah sadar, sadar dari khayalan yang membuatnya buta. Ia sungguh buta hingga tiba-tiba kakinya terdampar ke tempat asing ini. Ia tertipu oleh permainan memikat itu, ia tertipu oleh sosok berkemeja putih itu, dan ia sedih mengetahui itu.  Bukan hanya sedih tetapi sesuatu rasa yang sebelumnya tidak ia sangka ketika melihat wajah putih namun pucat dari pria ini. Angin menembus, helaian daun juga menembus.

“Tapi, barusan kau memuja permainku!”

Rasa kecewa begitu mengental di hati pria itu. Ia tidak terima, saat tamu pertamanya bertukar pikiran dan itu sukses meruntuhkan perasaannya. Dia kesal, marah, tapi dia tidak ingin melampiaskannya.

“Memang benar. Tapi aku salah. Seharusnya aku tidak mendengarnya, dan seharusnya aku tidak terdampar kemari. Maaf aku memasuki tempatmu, seharunya aku meminta izin dulu. Maaf, aku harus pamit.”

Tubuh rampingnya berbalik setelah mengambil jarak jauh. Tersimpan rasa sesal setelah mengetahui kenyataannya, ia melangkah ingin menjauh.

“Jangan! Jangan pergi nona!”

Tidak ada sahutan.

“Kembali- ah! Kau takut padaku?”

“NONA KATAKAN KAU TAKUT PADAKU!?”

Gadis itu malah berlari, lebih kencang membuat pria tadi berdecak dan ikut mengejarnya. Kak itu mengayun begitu mudah dan ringan sehingga ia sudah berada di balik punggung gadis yang barusan sudah memikatnya. Ia seperti sudah terikat oleh gadis itu, kemunculannya membuat ia jatuh kedalam kenyataan yang seharusnya ia sadari itu. Kemunculan gadis ini membuatnya melupakan statusnya,derajatnya, dan tempatnya.

“Nona kumohon…”

Langkah gadis itu akhirnya berhenti.

“Aku, kesepian disini. Kumohon…Jangan pergi.”

Tangan pria itu terangat antara angin. Tangan itu mendekat dan mencoba meraih pergelangan tangan gadis itu.

Aku ingin  meraihnya. Aku ingin meraihnya!

“Tidak bisa…” Pria itu mencoba untuk meraih tangan gadis tadi, selalu tidak bisa. Sekian kalinya mencoba, hingga pria itu terlihat seperti mengais udara kosong, sedangkan tangan gadis itu tidak akan pernah bisa ia raih. Mengetahui hal tersebut gadis itu menoleh. Melihat usaha berujung keputusasaan dari pria tampan itu, membuatnya menitikkan sebuah buliran air mata.

Mereka terdiam. Sedangkan si pria tak mau menyerah mencoba meraihnya tapi angin itu lah yang selalu didapatkannya.

“Maaf. Aku benar-benar harus pergi.”

“Bisakah kau tinggal disini sedikit lebih lama?”

“….”

Pria itu mendesah berat. “ Aku mengerti…”

Suara itu tidak terdengar seperti semula, namun terdengar sebuah isakan yang mampu menyesakkan perasaan gadis ini.

“Na-namaku Lee Jinki. Setidaknya sebelum pergi kau harus tahu namaku.”

Gadis itu tidak menyahut dan melangkah pergi, lebih cepat dan cepat hingga ia tidak menyangka buliran air mata itu bertemu dengan arus angin yang ia lewati, membuat butiran itu ikut melayang bersama angin. Angin selalu bertiup. Bertiup untuk menyampaikan kenyataan sebenarnya pada kedua insan itu.

Hingga, angin tadi mendatangi Jinki. Arus cepat itu dengan mudahnya melewati tubuh Jinki yang samar, dan menembusnya.

Jinki tersenyum lemah. Merasakan jika tubuh samarnya terbawa arus angin dalam hitungan sekejap, menghilang. Meninggalkan sebuah ucapan yang begitu ingin Jinki lontarkan pada tamu istimewanya tersebut.

“Could I see you again?”

Anginpun berbisik dalam kesedihan. Tergantikan oleh rintikan yang menghujani permukaan. Langitpun menangis, mengetahui pertemuan singkat tadi telah sirna oleh kenyataan.

Tapi Jinki tidak mudah untuk turun tangan, meskipun raganya telah menghilang.

Dia memang menghilang, kembali ke asalnya.

Di bawah pohon besar.

Menunggu tamu selanjutnya.

END

Semoga mengerti maksudnya *.* Meski ceritanya terlanjur biasa tapi aku butuh kritik dan sarannya.

 

 

Iklan

3 thoughts on “[Oneshot] WIND

  1. Miina Kim berkata:

    Hiii… Agak merinding, saeng pas nyadar, daun nembus tubuh Jinki
    Heh, Jinkiku arwah kesepian…

    maksud yang ingin kamu sampaikan adalah bahwa
    Tiap jiwa butuh teman, setidaknya seseorang untuk mendengarkan dan berbagi
    karena itu Sang Pencipta menciptakan manusai berpasang-pasangan,
    pria dan ‘sang tulang rusuk’ yang hilang, yang akan bertemu
    pada waktunya dan tak akan tertukar…

    Disini Jinki menunggu ‘tulang rusuk’nya, seseorang atau sebuah jiwa
    yang akan menemaninya, dan mengakhiri kesendiriannya…
    *Kalo ini dijadiin sinetron, ujung2nya, Jinki mah, arwah gentayangan…
    Gak tega…
    Segini aja, udah manis ceritanya, walau rada bikin patah hati

    Oya, di paragraf awal, kamu mulai berani
    bermain kata-kata indah nan puitis, ya…
    Eonni kalah, lho…
    Makin diasah, ya, biar makin puitis dan ‘ngena’…

    Nice…

    • Nah! baru ketemu rupanya 😀

      Betul, maksud aku itu Jinki memang nunggu seseorang disana biar dia gak kesepian lagi. sebenarnya itu aja sih ‘-‘
      apa maksud dlm cerita gk kesampaian ya eon? apa masih kurang gitu?

      sebetulnya ini ff iseng2 sih, pas jam 12 malam denger lagunya Yiruma eh tiba2 merinding. Niatnya pengen lngsung tidur, takut tp krena lagunya bagus pngen berlama-lama dn akhirnya menyalurkan apa yg ku dapat dari lagu itu.

      mngkin itu sebabnya knpa awalnya mndadak puitis gk sengaja doang, XD

      iya aku bakal belajar lebih bnyk lagi ^^
      makasih ya eonni 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s