[Miina eonni Req] – Boy Meet Me Part 2

Boy Meet Me

boy-meet-me-shin-fujita

FF Request by Miina eonni – Boy Meet Me Part 2

Genre : School life, friendship, romance

Main cast : Lee Jinki, Kim Miina

Support cast : Kim Jonghyun, Lee Taemin, Choi Minho.

A/N  : Hai eonni. Maaf sebelumnya karena melupakan request eonni. Bukan berniat malas mengejakannya tapi tak ada waktu. Semuanya tersita buat persiapan ujian. Dan besok tanggal 24 Maret sudah UAS, april TO3 sedangkan 5 Mei UN. Mau tak mau harus menambah waktu belajar, bimbel ini itu. Maaf reg eonni jadi terlalaikan.  Tapi alhamdulillah sekarang kesampaian posting kembali. Meski menunggu lagi untuk part selanjutnya. Nah, btw tentang BMM, jangan aneh kalau penulisan atau ceritanya jadi berbeda dari sebelum2nya. Gak tau knpa part ini kayak beda dari part1 mungkin buruk. Soalnya udah lebih 5 kali rombak. Hapus ini itu, alhasil gak jadi2. Itu faktor kedua kenapa sampai skarang belum dilanjutkan. Kalau jelek harap maklumi ya eonni, selanjutnya aku akan memperbaiki kesalahanku.

Happy Reading ^^

¶♥Story line by Shin Fujita …♥¶

Jinki terengah-engah. Pipi kembungnya memerah seperti kepiting rebus. Tangannya telah menarik kerah seragam lelaki jangkung di depannya. Sedangkan gadis itu, sialnya teman sebangku Jinki masih bengong kayak keasikan nonton pertarungan ‘Pahlawan Bertopeng’.

“Ji-jinki-ssi…” Jinki  melirik gadis bertubuh sedang bermata sipit yang membeku di sampingnya. Entahlah Jinki begitu muak dan kesal melihat gadis yang bodohnya tidak melawan dicium oleh orang gak jelas ini. Cih, seenaknya saja wanita dicium paksa. Seharusnya dia bisa melawan atau kabur demi menjaga harga dirinya sebagai wanita.

“Mau apa? Ikut campur masalah kami?” Jinki melotot. Dasar namja jangkung kurang ajar!

“Dosa? Bocah tengik jangan sok belagu deh!”

“YA!”

Bugh!

Pukulan mendadak mendarat di wajah Jinki. Jinki menyentuh pipinya dan mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Seketika bibirnya terangkat, tersenyum dan perlahan tertawa kering. Minho menatapnya aneh bercampur sedikit takut. Di tinju malah ketawa, anak ini waras gak sih?

“Hahaha…jadi ini Choi Minho itu. Lebih busuk dari Kim Jonghyun rupanya ya?”

“Jangan sok tahu! Apaan sih ikut campur urusan orang?! Anak baru tahu apanya?!” Minho mencondongkan badan berlagak kuat ditengah rasa khawatirnya dengan senyuman sinis Jinki. Begitu juga dengan Miina, baru pertama kalinya ia melihat orang dengan senyum dan tawa tergolong horor begitu. Apa ini sosok Jinki sesungguhnya?

“Hahh, pantas Kim Jonghyun dan gengnya menyumpahimu dari belakang, dan juga gadis ini. Kim Miina. Geurae… Lakukan apa maumu Choi Minho. Aku hanya memperingati. Dan kau juga, Miina. Mau jadi apa calon ketua OSIS kerjanya berzina di perpus? Cih!”

Miina dan Minho terpaku di tempat. Kursi tadinya sebagai dudukan Miina di tendang habis-habisan oleh Jinki menggugah muak, amuk kesalnya. Jiwanya seperti baru terbakar. Bukan karena dirinya cemburu. Tapi benar kata Jonghyun. Minho itu sudah keterlaluan. Di saat teman-temannya menunggu Minho agar bergabung lagi, si jangkung itu malah keasikan berciuman dengan Miina-saingan Jinki, orang hampir Jinki benci.

Pengkhianat. Kata cocok untuk Minho. Murahan, pas untuk Miina.

“Aku pergi! Maaf menganggu acara kalian!” Jinki berbalik dan melambaikan tangan. Ucapannya pun terdengar santai. Tidak gugup dan berkobar seperti tadi. Miina keheranan, kenapa bisa Jinki memergokinya? Apa Jinki tidak membeberkan kejadian ini?

Miina tenggelam dalam fantasinya yang mulai berlari sana-sini. Melupakan sejenak bagaiaman ciuman itu dan malah mengkhawatirkan Jinki. Apa dia akan membeberkannya? Ciuman itu?

“Aku pergi juga!” Miina membereskan barang-barangnya. Tak peduli bagaimana tatapan bingung Minho melihat kegusarannya.

“Ke-kemana?”

“Pulang. Dan jangan cari aku lagi!”

***

“Hei! Kenapa dengan wajahmu?! Kejepit pintu?” Perhatian tertuju pada memar pipi dan bibir Jinki. Jonghyun, memangku wajah berbekas luka jahitan sambil menunggu jawaban dari si ‘teman baru’.

“Atau di cakar ayam? Hahaha! Ya katakan kenapa wajahmu?”

“Ditonjok orang!”

Suasana hening sebentar. Hanya terdengar alunan musik pop dari langit-langit café-tempat biasanya mereka nongkrong. Namun keheningan tadi pecah, setelah Jonghyun dan Key tertawa lepas. Sedangkan Taemin menatap penuh cuirga.

“Wah! Wah! Udah berani berkelahi ya? Dengan siapa?”

Jinki menghela napas dalam. Kapan Jonghyun serius sih? Jinki bertengkar, apa itu sesuatu yang lucu? Lagian Jinki tidak sempat sangtae yang bisa merusak imej barunya. Malah Jinki masih terbayang-bayang bagaiamana adegan menohok itu terlintas di pikirannya.

“Bukan siapa-siapa.”

Hyung, gwenchana?” Tanya Taemin khawatir seperti mengerti kejadian sebenarnya terjadi. Bocah itu lekat-lekat memperhatikan wajah mulus Jinki. Mata bercalak hitam tebal itu menyelidiki raut muka Jinki yang masam sekaligus kesal.

Namun Jinki tak membalas empati Taemin. Jujur saja, Jinki masih meragukan kesetiaan anak-anak gank ini. Bagaimana Jonghyun dengan tekadnya ingin mengembalikan Minho. Key pengikut setia Jonghyun dan Taemin bocah imut tapi terlihat pengecut itu. Jinki ragu sekaligus heran. Jika mereka semua jantan, kenapa tidak bisa merebut sohibnya sendiri dari gadis itu? Jinki baru sadar kalau perlahan-lahan ia akan di manfaatkan. Tapi disamping itu Jinki juga butuh kehadiran mereka. Hanya mereka yang mengakui keberadaan Jinki di sekolah. Lalu Jinki harus bagaimana?

***

“Mulai besok kumpulkan biodata lengkap dengan visi-misi kalian. Jangan lupa bawa foto kalian masing-masing.”

Ne sonsaengnim!”

Rapat di bubarkan. Semua calon ketua OSIS meninggalkan ruang rapat OSIS – terkecuali Miina. Lingkar hitam matanya membuktikan bahwa seharian ini dia tidak bisa tidur. Tampilannya kusut, rambut sebahu itu tidak disisir dengan rapi ataupun disemat oleh penjepit-seperti biasanya.

“Masih bertekad duduk di kursi ketua?” pertanyaan itu membuyar lamunan Miina. Jinki. Siapa lagi kalau bukan dia?

“Sepertinya kalau menjadi ketua harus menjaga imej hati-hati. Tapi kau, baru jadi calon sudah dapat banyak masalah!”

“Asalkan masalah itu tidak diketahui orang banyak.” Sergah Miina tenang, berwibawa. Padahal saat ini ia gundah. Mata sipit Jinki menyulapnya tak mampu bergerak. Apa Jinki pesulap ya? Bisa saja, dalam sehari dia bisa merubah tampilan, dan bahkan sikap. Sangat mendadak.

“Jangan sombong dulu. Maju, mundurnya Kim Miina ditentukan oleh tanganku.”

“Maksudmu?”

“Kau bilang asalkan masalah itu tidak diketahui orang banyak kan? Lihat saja nanti!”

Jinki tersenyum, membalikkan badan meninggalkan Miina yang dihujani berbagai pertanyaan padanya. Gadis itu mendesah berat. Ruangan kosong ini begitu menekankan bahwa ia hanya sendiri di dunia. Jinki pergi, dan rasanya begitu kesepian.

Miina melangkah pergi. Berniat mengisi perut ke kantin. Mengambil sepiring nasi dan memilih lauk pauknya sendiri. Mencari bangku di mana tempatnya paling jauh dari keramaian. Kakinya melangkah sepi dengan tatapan malas. Tidak tahu jika sebentar lagi akan terjatuh oleh jebakan.

BRUK

PRANG!

Kaki itu sengaja menghambat langkah Miina. Pemiliknya tersenyum puas, masih merentangkan kakinya tepat di depan muka Miina yang kusut akibat jatuh. Piringnya tergelatak bersama tumpahan makanan mengotori lantai. Puluhan pasang mata menatapnya syok. Melihat seorang bertubuh sedang, berlengan kekar dan rambut macam durian itu nyengir kuda seperti melihat pertunjukan paling lucu.

“Ups! Maaf sengaja!” ujarnya bersandiwara. Lelaki itu menjongkok, ingin menonton bagaiamana ekspresi gadis paling ia benci ini.

“Butuh bantuan?” Kali ini si pendek berlengan kekar itu mengulurkan tangan. Bodohnya Miina menggapainya.

BRUK!

“Maaf, kali ini sangat sengaja!” Lagi-lagi Miina terjatuh. Peganganggannya jelas sengaja di lepaskan agar Miina ambruk untuk kedua kalinya. Miina tak bersuara, meski lututnya kemerahan menahan sakit. Ia berusaha bangkit, dan berusaha memadam amarah melihat si pembuat onar tersenyum puas. Audience pastinya membungkam. Tak ada yang mau ikut campur, ataupun menolong gadis malang ini.

“Mau makan siang denganku?”

Hyung… sudahlah..”

“Tapi aku ingin bermain dengan Miina dulu. Key, Taemin kalian boleh pergi.”

Miina melirik orang itu tajam. Jonghyun. Mungkin sudah beberapa kali membuatnya jatuh seperti ini. Tapi Miina selalu diam. Mungkin menunggu pembalasannya nanti.

Tak mau menunggu lama, Jonghyun menarik tangan Miina. Mendekat dan menyuruhnya duduk di bangku tempat biasanya anak gank itu nonkrong. Miina patuh, tanpa bersuara. Piring yang ia bawa sudah di gantikan dengan makanan milik Jonghyun.

“Makanlah. Aku ingin menonton cara makan ‘Calon Ketua OSIS’ kita.”

Shireo..”

“Tenang, tidak ada kecoa kok.”

Shireo..”

“Takut diracuni? Hey! Kau kira aku pembunuh? Ayo makan! Bukannya kau kelaparan?!”

Miina mendelik tajam. Mendongak memancarkan mata elangnya. Jonghyun biasa saja dan dengan kasar tangannya mendorong kepala Miina agar menayantap makanannya.

Sakit hati dan kesal. Miina telan hidup-hidup. Tidak ingin mencari gara-gara sebelum hari kampanyenya dan terpaksa menerima apa pun yang dilakukan Jonghyun.

“Tidak usah takut, yang kau makan kan nasi ini, bukan piringnya. Makanlah, sebelum membusuk!”

“KAU YANG BUSUK KIM JONGHYUN!”

Audience kembali terperangah. Kehadiran lelaki (lagi) menambah suasana seperti serial drama ‘Ther Heirs’ dimana Kim Tan datang menyelamatkan Cha Eun Sang dari kekejaman Choi Young Do.

Jonghyun lebih syok dari yang lain. Tubuhnya terangkat kasar, melototi pemilik mata segede telur ayam itu.

“Menantang perempuan? Kau pengecut hyung!”

Jonghyun terperanjat. Dadanya naik turun dan berharap jantungnya tidak begitu, takut stroke muda.

“Oh Choi Minho, sudah berani muncul lagi ya? Bersembunyi dari kami, apa itu tidak di sebut pengecut? Kenapa datang? Kenapa? Takut kecoa malang ini ku makan hidup-hidup?!”

Keumanhae hyung. Jangan menindas Miina noona lagi..” Minho memelas. Miina menatapnya tanpa ekspresi. Kecoa? Ya benar, posisi Miina adalah sebagai kecoa got busuk.

“Aku tidak menindas, cuma bermain. Kau mau ikut? Biasanya ‘kita’ selalu bekerja sama untuk ini,” Jonghyun terlihat santai sekarang. Memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana, dan mengunyah permen karet dengan angkuh. Sedangkan Miina berharap itu permen nyangkut di kerongkongannya dan mati mendadak!

“Tidak untuk kali ini. Aku keluar.”

Mworagu?!”

“Jangan anggap aku sebagai anggota gankmu lagi, hyung. Aku ingin jadi murid biasa. Menjalankan kewajibanku sebagai pelajar di sekolah ini. Aku berhenti.”

Seperti dihujam panah, Jonghyun membisu batu. Matanya lebih bulat dan tampak kilat di balik genangan air matanya. Begini rasanya di tinggalkan sahabat sendiri?

Noona, ayo pergi!”

Minho meraihnya kembali. Miina, pujaan hatinya. Seorang gadis yang secara tidak sengaja mengajarkan jalan yang benar menjadi pelajar. Bukan jadi pembuat onar, pembasmi orang lemah seperti Jonghyun.

Dan di ujung sana, tepat paling jauh dari kejadian diantara kerumunan. Seseorang melipat tanganya di dada, dan menyaksikan teater yang barusan selesai. Mata sipitnya sudah kehilangan fokus setelah Miina di seret Minho. Sialan! Kenapa harus Minho? Dan sekarang haruskah ia datang menghampiri tersangka? Kim Jonghyun. Menghiburnya, dan…menarik Minho kembali?

Jinki berkelabut dalam pikirannya. Benar kata Minho, tujuannya ke sekolah adalah untuk menjalankan kewajibannya sebagai pelajar. Bukan seperti ini.

Apa jalan selanjutnya berkhianat, seperti adanya Minho?

Tapi Jinki, tak ingin membiarkan Jonghyun ambruk karena kehilangan sahabatnya.

***

“Lepas!”

Minho melepaskan genggamannya. Tinggal mereka berdua di depan ruang musik terlihat sepi dan kosong. Mata mereka tidak bertaut. Merunduk masing-masing. Memberi jeda cukup lama.

“Apa maksudnya tadi?”

Minho mendongak. Melihat kobaran dari garis wajah tegas Miina. Tidak terima jika diperlakukan seperti ini. Dan tidak suka jika Minho memperlakukan orang bernama Jonghyun seperti tadi.

Noona, baik-baik saja?”

“Jawab pertanyaanku!” Bentakan Miina mengisyaratkan dia benar-benar marah. Bak melupakan kejadian menyakitkan itu, Miina lebih membutuhkan alasan kenapa Minho berucap seperti pengkhianat ke Jonghyun dan memilih membawa lari dirinya.

“Aku melakukannya karena ingin berubah noona. Salah jika aku berhenti jadi anak pembuat onar lagi?”

“Tidak salah. Tapi kau salah memperlakukan sahabatmu seperti itu.”

Sahabat?  Kata itu perlu dipertanyakan. Hubungan Minho selama ini entah bisa disebut sahabat atau tidak. Minho menafsirnya sebagai orang yang sering bersamanya, bukan teman, bukan sahabat. Jadi jika bukan sahabat, Minho berhak meninggalkannya bukan?

Noona ada apa denganmu? Bukannya kau sangat membenci Jonghyun?”

“Bukan Jonghyun yang ku benci Minho. Tapi sikapnya. Dia tidak pantas kita benci.”

“Kau menyukainya?”

“Ck!” Miina ingin sekali tertawa. Betapa polosnya lelaki yang mengaku mencintainya ini dengan lototan penuh mengintimidasi.

“Untuk apa? Jangan seperti ini Minho. Aku tahu, keberadaanku perlahan mengubahmu. Tapi jangan sampai karenaku kau meninggalkan teman-temanmu.”

Hening. Terpaku oleh kalimat Miina. Minho masih belum bisa mengartikannya.

“Tapi aku tidak suka jika noona di perlakukan seperti tadi! Aku…Aku sangat marah.”

Miina tersenyum. Setidaknya itu senyuman paling lebar yang pernah Minho lihat dari sosok dingin Miina. Mengguncah hatinya, mendebarkan jantungnya. Minho terpesona.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Marah. Meski ini berlebihan tapi aku berterima kasih karena kau membelaku. Dan kuharap ini untuk terakhir kalinya Choi Minho. Thingking again, perbuatanmu tadi berakibat apa. Aku tidak ingin kau menyesal nantinya.”

***

“Aku ingin mencincangnya! Ya! Key bawakan aku batu es!”

“Buat apa hyung?”

“Nyuci piring! Yak! Untuk kepalaku lah!”

Key mendengus kesal, dan berlari meninggalkan meja kantin tadinya di duduki oleh teman-teman lainnya. Sementara Jonghyun, bergejolak ingin sekali mencincang siapa saja yang menganggu moodnya. Sesekali ia mengehentakkan meja lalu mendorong kursi kesal sebagai pelampiasan. Paling di kasihanin, si Taemin. Udah tahu tangan Taemin kurus kerempeng kayak tusuk sate, tapi di pukul Jonghyun sebagai pelampiasan. Mau tak mau bocah imut itu hanya pasrah, toh dirinya selalu jadi bonekanya.

“Sudah kukira, dia akan keluar dari gank ini. Penghianat!”

“Lalu harus bagaiamana?” Suara Taemin membalikkan kepala Jonghyun untuk menolehnya.

“Itu semua karena gadis itu. Kita harus beri pelajaran, juga kepada Minho!” Taemin tercekat. Maksudnya Miina? Serius Jonghyun akan membalasnya pada perempuan. Nah, sekarang mana yang pengecut?

“Ya! Taemin-ah! Di mana si  ayam?”

“Ayam?”

“Iya…itu tuh Lee Jinki. Kau melihatnya?”

“Tidak, memang kenapa?”

“Aku mau membicarakan rencana berikutnya.” Tukas Jonghyun tersenyum tipis sambil melipat-lipat tangannya. Taemin tercenung. Rencana?

“Rencana apa lagi, hyung?”

Jonghyun berbisik ke telinga Taemin. Selang detik kemudian mata beroleskan calak hitam itupun terbuka lebar mendengar Jonghyun membisikkan sesuatu di telingangya. Taemin menganga, menutup mulut.

***

Miina membalik halaman buku pelajarannya. Membaca sekilas sebuah rangkuman lalu mengisi pertanyaan yang telah di sediakan. Membosankan.

Untuk menghilangkan kejenuhan  Miina mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen. Menulis sebuah pembukaan pidato untuk kampanye 2 hari mendatang. Ini harus segera di selesaikan, biarpun mengerjakannya setengah hati namun Miina telah terlanjur mendaftar jadi calon. Mengingat mendaftar menjadi calon ketua OSIS, sedikit Miina teringat pertemuan pertamanya dengan Jinki. Murid baru, namun langsung meleburkan mood Miina.

Sampai saat ini Miina bahkan bingung, kenapa ia termakan emosi saat itu hingga meluncurkan tantangan tak berguna. Tak berguna. Jadi, apa Miina harus mengalah sekarang ? Jika mengalah toh Miina tidak bermasalah lagi dengan Jinki. Dan hidupnya damai.

Ya. Menyerah. Miina mempertimbangkan itu dulu. Sebelumnya Miina harus tahu sampai dimana batas kemampuan anak baru itu. Baru melanjutkan strategi berikutnya.

Drrt…drrt. Ponselnya berdering. Miina menghentikan aktivitas menulisnya dan meraih ponsel yang letaknya tak jauh dari meja belajar. Menatap layar ponsel menampilkan pesan baru masuk.

Noona, maafkan aku mengenai tadi siang. Apa sekarang noona tidak apa-apa? Lupakanlah kejadian di sekolah tadi, anggap semuanya tak pernah terjadi. Kita masih bisa berhubungankan?

Minho

Tidak mau membalasnya. Pesan Minho jauh dari sampah tak berguna baginya. Bocah tak tahu apa-apa. Pengikut campur masalah orang. Sok pahlawan. Sok baik. Pembuat onar. Egois.

Miina membuang jauh-jauh hal terkait dengan Minho. Setelah merenungkannya semalam, Minho hanyalah debu yang tak sengaja hinggap di tempatnya, dan harus segera dibersihkan sebelum menebal. Penganggu. Parasit.

“Tidak salah. Tapi kau salah memperlakukan sahabatmu seperti itu.”

Itu adalah perkataan yang keluar dari mulut Miina sendiri. Sahabat. Sejak kapan Miina mengubek kata mengenai sahabat? Apa tahunya ia? Tidak sama sekali, karena tidak pernah merasakan. Tapi ketika melihat kesetiaan anggota gank Jonghyun, entahlah apa itu disebut persahabatan atau tidak, Miina terpukau-mungkin sedikit.

Kali ini secuplik peristiwa tadi siang kembali terulang. Mengingat pesan Minho, mengingatkan Miina kepada anak gank itu. Biasanya setelah ini, Miina akan mengadu ke Kepsek atas pembulian yang ia alami. Namun sayang, kali ini tak ada satupun niat terbesit. Miina terlalu banyak berpikir tentang Jonghyun.

Bersembunyi dari kami, apa itu tidak disebut pengecut? – ucapan Jonghyun melintas begitu saja. Ini urusan antara Minho dan Jonghyun. Katanya Minho perlahan menjauh dari Jonghyun karena pengaruh perempuan lain. Gosip berkata kalau perempuan itu adalah Miina. Bahkan karena banyak orang membicarakannya, Miina jadi tidak tenang dan ada rasa ingin tahu yang besar penyebab lain pecahnya persahabatan mereka. Apa perlu Miina ikut campur?  Tidak tahu, yang pasti problem mereka lumaya rumit. Persoalan lelaki pasti jauh berbeda dengan perempuan. Dan yang Miina tahu, kesetiaan lelaki terhadap sahabatnya jauh lebih besar dari perempuan. Seketika muncul rasa ingin ‘bergaul’ dari dalam diri Miina.

Melihat Jonghyun mempunyai teman-temanya yang setia. Mengetahui bagaimana Jonghyun terjatuh karena ditinggal sahabatnya.

Miina menyadari, kalau pertemanan itu sebuah ikatan murni, dan setiap manusia berhak mempunyainya.

***

 

Jinki mengoles minyak rambut pada bagian depan rambutnya. Sedikit menaikkan poninya keatas dan menyisir bagian tepi rambut. Menatanya dengan sedikit mengacak bagian belakang dan sisi rambut yang lain agar terlihat ‘keren’ . Oh keren, apa Jinki sekarang bisa di bilang keren? Ketika baru menginjak kaki di sekolah barunya Jinki terlihat biasa-biasa saja. Rambut agak kepanjangan, kusut, wajah kusam dan jalan sering menekur. Tapi selang satu hari kemudian, Jinki yang baru lahir. Yang baru? Entah, Jinki merasa dirinya sama seperti dulu, sama seperti ia sekolah di Jepang.

“Kamu tidak bawa bekal?”

“Tidak. Nanti makan di kantin.”

“Bagaimana sekolahmu nak? Kabarnya kamu mencalonkan diri jadi ketua OSIS ya?”

Jinki menghentikan aktivitasnya. Menaruh sisir kedalam laci, menoleh kearah wanita paruh baya yang rupanya sudah berdiri di ambang pintu kamar Jinki. Jinki tersenyum simpul dan mengangguk sebagai jawabannya.

“Kenapa begitu tiba-tiba? Anak baru kok langsung jadi calon ketua OSIS.”

“Kemauan Jinki kok.”

“O,ya? Iya deh, eomma dukung aja. Apalagi kalau kamu udah kepilih pasti bakal banyak perempuan-perempuan yang naksir. Sama seperti di Jepang dulu. Ah, eomma masih ingat ada salah satu teman perempuanmu rela datang ke rumah buat ngasih kado ulang tahun. Hahaha, apa di Korea juga gitu ya?” Wanita paruh baya yang masih memakai pakaian rumah itu menerawang. Mengulang masa lalu Jinki ketika masih bersekolah di Jepang. Membuat Jinki tersenyum geli, bernostalgia di masa ‘ketenarannya’ dulu.

Tenar. Benar. Jinki dulu tenar.

Eomma jangan berlebihan. Jepang dengan Korea beda.”

“Beda apanya?” Ibu Jinki berjalan mendekat. Berdiri dibalik punggung tegap anak tunggalnya. Mengelusnya lembut penuh kasih sayang, kemudian mengecup pipi Jinki lama sambil memejamkan mata yang telah keriput itu. Jinki gelisah. Mengetahui dirinya masih diperlakukan seperti anak kecil lagi.

“Disini aku tidak akan main-main dengan perempuan lagi. Aku gak mau kayak di Jepang dulu. Aku mau berubah. Eomma kan sudah tahu tujuanku pindah kemari buat apa?” terdengar suara bulat dan tegas dari bibir Jinki. Ibu Jinki mengangguk, mengelus wajah Jinki dan bertanya, “iya, tapi mau sampai kapan? Katanya kamu mau berubah. Masuk sekolah kamu berlagak jadi anak culun, nah sekarang kamu masih sama sepert dulu. Keren, tampan tapi nakal!” Ibu Jinki mencubit pipi anaknya gemas dan kembali memamerkan senyum indahnya. Senyum yang membuat pria mana saja tertipu oleh pesona Ibu paruh baya ini.

“Ini juga terpaksa.”

“Terpaksa? Omo! Apa ada yang mencoba membulimu jadi kamu berubah jadi anak ‘bad boy’ lagi?”

Jinki menggeleng. Bertanda Jinki tidak mau membahas mengenai itu lagi. Ibu Jinki pun mengerti. Sedikit menyungging ujung bibirnya, mencium pipi Jinki lembut lalu berlalu dari kamarnya. Meninggalkan Jinki bersama cermin menjulang yang menampilkan sosok dirinya. Jinki yang baru. Begitulah kata Jonghyun dan teman-temannya. Padahal selama ini Jinki menyembunyikan sisi sebenarnya. Imej cupu, itu hanyalah penyamaran belaka. Agar mampu menutup identitas Jinki sebenarnya. Jinki yang sebetulnya sosok paling dikenal oleh semua golongan pelajar di Jepang. Di segani, di hormati, dan pastinya di takuti.

Sekali lagi, mata sipit Jinki menatap pantulan dirinya. Wajahnya putih dan mulus. Jinki tersenyum melihatnya. Mengetahui berapa banyak Jinki habiskan uang untuk perawatan wajah guna menghilangkan bekas jahitan, lembam, dan bahkan luka bakar yang selama ini singgah di wajah tampannya.

“Wajah ini menjadi bukti, kalau Kim Jonghyun  tidak sepadan denganku.. Tunggu saja, Jinki yang sebenarnya akan terungkap sebentar lagi.”

***

Miina memperhatikan pengumuman baru di mading sekolahnya. Di sana tertulis kalau hari ini diadakan kampanye untuk para calon ketua OSIS. Miina menghela napas berat. Dia sudah mempersiapkan segalanya. Sesudah hari paling sial beberapa waktu kemarin, seakan lupa, Miina menjalani kehidupannya dengan biasa saja. Tidak ada gangguan dari Jonghyun, atau perdebatan kecil dengan Jinki. Ah Jinki, bagaimana kabarnya sekarang? Meski mereka duduk sebangku bukan berarti Miina tahu segelanya mengenai lelaki itu. Akhir-akhir ini mereka sering diam. Bahkan nyaris tak bicara. Bagi Miina itu adalah hal biasa jika dirinya tidak membuka mulut, tetapi mengetahui keanehan Jinki, Miina jadi ya, sedikit risih.

“Permisi, bisa geser sedikit? Mengahalang orang lagi baca aja!”

“Ah. Maaf!” Refleks Miina menggeserkan tubuhnya. Perlahan mundur satu langkah. Tak sengaja matunya beradu pada punggung tegap yang kini sedang membungkuk membaca isi pengumuman tadi. Miina mengerjap, memperhatikan wajah serius orang itu dari samping. Tampan.

“Jangan lihat aku seperti itu! Risih tauk!”

EH? Ketangkap basah! Selang detik kemudian, pemilik punggung tegap itu menoleh. Memperhatikan Miina dari atas sampai bawah. Tampangnya pongah, sambil mengunyah permen karet. Poninya masih naik keatas, serta bau semerbak parfumnya mampu menembus lubang hidung Miina.

“Geer! Lagian siapa yang merhatiin situ?”

“Jangan mengelah. Kau memperhatikanku kan? Kenapa? Karena terlalu tampan?”

“Berhenti beromong- kosong Lee Jinki!” Jinki tertawa renyah. Dan tidak tahu kenapa menurut Miina itu sangat menawan, tampan tapi lucu. Bukan! Bukan! Ia tidak boleh seperti ini. Jinki adalah musuhnya.

“O, ya, jam 10 nanti kampanye bukan? Sudah siap bersaing denganku?” penuh percaya diri. Itulah Jinki sekarang. Miina tersenyum simpul tak mau memberi jawaban. “Sepertinya hidupmu damai-damai saja setelah kejadian itu. Tapi belum tentu untuk hari ini.” Miina mendelik curiga. Seringai Jinki perlu di curigai. Meski terlihat menawan tetapi lelaki itu menyimpan sesuatu dari Miina.

“Kalau begitu aku pergi dulu!” Serunya santai. Namun sebelum melesat pergi, Jinki mengambil satu langkah maju untuk memperhatikan wajah Miina lekat. Jarak mereka hanya sekitar 5 cm. Tatapan mereka beradu, tapi tak berlangsung lama, ketika mata sipit Jinki tertuju pada bibir Miina. Jinki tersenyum, sedangkan Miina tak kuasa menahan debaran.

“Ada nasi dibibirmu…” lirih Jinki pelan. Dan secara otomatis tangannya terangkat untuk menyapu bibir Miina dengan lembut. Tatapan matanya teduh, tidak biasanya. Miina terbius oleh apa yang dilakukan Jinki terhadapnya. Lelaki ini mungkin gila. Iya gila, soalnya setelah menyapu bibir Miina, jempol yang mengusap bibir Miina tadi di emut dalam mulutnya. Sontak Miina tercengang, terkejut.

Sedangkan lirikan Jinki mengartikan lain. Mengedipkan matanya dan melesat jauh dari tempat Miina terpaku. Di jauh sana, Jinki menyeringai dan bergumam ‘Oh, jadi ini rasanya mencium Miina?’ . Meski tidak langsung, tetapi ini sudah cukup. Cukup mengguyah diri Miina. Dan sebentar lagi pikirannya kalut. Memikirkan Jinki, atau bahkan menyukai Jinki. Bisa jadi. Soalnya Jinki ingin sekali Miina menyukainya. Ingin sekali.

***

“Jika saya terpilih menjadi ketua OSIS, saya akan mengusahakan meningkatkan mutu ekstrakulikuler dan meningkatkan  kreatifitas murid dengan membuat beberapa organisasi siswa. Saya yakin, dengan bantuan anggota dan teman-teman semuanya impian kita bersama dapat terwujudkan!”

Suara Jinki melantun amat keras seisi lapangan sekolah. Lapangan seluas lapangan sepak bola itu di kerumuni oleh lautan manusia, dan ditengahnya terdapat pentas besar. Pentas tempat berkampanye para calon ketua OSIS.

“Wah! Apa itu benar-benar Jinki hyung?! Sangat berbeda!” Taemin berdecak kagum seolah-olah melihat idola kesayangannya. Sedangkan Key, hanya melipat tangan dan memasang tampang angkuh. Tak mau berkomentar. Meski dalam bathin, ia mengakui kemampuan Jinki. Kemampuannya menaklukkan siswa-siswi yang lain. Jinki jadi ketua OSIS? Ha! Mustahil! Seumur-umur Key tidak pernah mendukung Jinki sebagai ketua OSIS, ya meskipun kelihatannya Key seperti mendukungnya.

“Terima kasih Lee Jinki. Calon berikutnya adalah Kim Miina! Kami silakan untuk menaiki pentas!” Hiruk tepuk tangan menyertai kedatangan Miina. Gadis berambut sebahu itu tersenyum kikuk. Tidak sadar bahwasannya, Jinki yang masih di pentas meliriknya beberapa selang detik. Menyungging bibirnya, dan berharap Miina melihat senyumannya.

Good luck!” sepintas Miina membeku. Mendapat rangsangan dari bahunya. Jinki menepuk bahunya, dan lagi, tersenyum manis kemudian melesat pergi. Ini maksudnya apa? Sejak pagi tadi sikapnya terkadang manis. Padahal saingan. Apa semenjak kejadian di perpustakaan itu? Anehnya Jinki tidak pernah menyinggung Minho lagi. Sudahlah! Minho memang tidak penting. Yang penting Miina harus menampilkan penampilan terbaiknya, agar mendapat poin plus dari murid yang lain.

“Selamat pagi semuanya!!”

***

Jinki menuruni pentas. Seketika rasa gugup sekaligus berdebar-debar langsung hilang ketika penampilannya berakhir. Untuk pemanasan, Jinki sengaja memberi kode pada Miina. Sekedar main-main saja. Bukannya Jinki menginginkan Miina menyukainya?

“Hoi! Penampilan apa barusan?!” Sebuah tangan menepuk punggung Jinki lumayan keras. Dirinya berbalik, mendapati si pendek berlengan kekar – Jonghyun berdiri di belakangnya.

“Nari persembahan! Ya! Pidatolah! Bisa liat sendiri!”

“Hahaha! Iya-iya. Tadi aku lihat, kau sempat menggoda Miina.”

“Jangan salah paham.”

“Eh?” Jonghyun mengamati raut santai Jinki. Lelaki itu terlihat melonggarkan dasi seragamnya dan meniup udara.

“Ngomong-ngomong dengan rencana baru kita?” Jonghyun menyeringit. Namun berikutnya ia tersenyum puas sambil menepuk kedua bahu Jinki dengan kedua tangannya. Sepintas, tersirat tatapan licik dari dua lelaki ini. Jonghyun tertawa renyah, sementara Jinki mengeringai misterius.

“Sudah beres dong! Kau hebat Jinki! Aku yakin sekali ini akan berhasil!” Jinki hanya tersenyum puas mendengar pujian Jonghyun. Dirinya bak dilambung keatas saking senangnya. Jiwanya tak gentar menunggu saat-saat ini hingga secara spontan kakinya melangkah lebar-lebar meninggalkan belakang pentas.

“Cepat! Kita harus kesana, sebelum pidato gadis itu selesai!”

***

Key dan Taemin masih di tempat. Berdiri ditengah kerumunan murid-murid. Melihat penampilan Miina, calon ketua OSIS yang lain. Teringat oleh mereka, bahwa Miina mendaftar karena ingin balas dendam kepada Jinki. Sepele. Karena tidak dapat meraih kursi ketua di kelas, gadis arogan itu menantang Jinki untuk  ikut jadi calon ketua OSIS. Alhasil, mereka berdua tampil disini.

“Jonghyun hyung mengirimku pesan tadi. Sepertinya kita harus mengikutinya.” Bisik Key. Taemin termenung lalu selang detik kemudian ia menoleh kearah pentas. Memperlihatkan Miina berdiri penuh pecaya diri menyampaikan pidatonya.

“Baiklah, ayo kita pergi.”

***

Jinki menyelesaikan pekerjaannya. Membuka pintu mading dan menempelkan sesuatu. Diikuti oleh Jonghyun, mereka tersenyum penuh arti setelah melihat kedatangan Key dan Taemin.

“Panggil orang-orang di lapangan sana untuk melihat pengumuman ini!” Perintah Jonghyun dan langsung dipatuhi oleh kedua orang itu. Sedangkan bibir Jinki tak hentinya melengkung. Membayang apa yang terjadi setelah ini.

“Kau harus mengajak Minho juga. Dia harus melihat moment ini,” ujar Jinki.

“Pasti. Dan aku yakin banyak yang penasaran. Lagian jarak lapangan dengan mading lumayan dekat. Mereka tidak akan melewatkan moment ini.” Jonghyun menjatuhkan pandangannya kearah lapangan sekolah yang dipenuhi oleh lautan manusia dan diantaranya ada satu target utama mereka berdua. Sedang berdiri diatas pentas, merasa percaya diri. Tapi sayang, bagi Jinki rasa percaya diri dari gadis itu sebentar lagi akan hancur setelah melihat apa isi mading ini.

***

Miina menatap tiap audience. Menyatakan bahwa dirinya mampu dan bisa berdiri didepan mereka, dan meyakinkan mereka. Dan ini semua ia lakukan karena  Jinki. Karena Jinki lah Miina mati-matian mempersiapkan segala sesuatu demi hari ini. Dan demi Jinki, Miina berdiri, berusaha tampil percaya diri meskipun dalam dirinya selalu gelisah.

Sekarang tinggal bagaimana respon murid-murid akan pidatonya. Banyak yang mengangguk setuju dan malah tepuk tangan. Awal yang bagus. Untuk menyaingi Jinki- mungkin. Jinki. Ah, kemana lelaki itu? Dia tidak ikut menonton dan tidak mungkin masih di belakang pentas. Bodoh. Untuk apa memikirkannya?

Dengan terpilihnya saya menjadi ketua nanti, Visi utama saya adalah menjadikan siswa  Shining High School yang mandiri, kreatif, inovatif, dan aktif. Serta Misi saya adalah menciptakan siswa Shining High School yang mengutamakan sopan santun dan budi perkerti yang luhur..” Oke setidaknya itu yang terancang dalam pikiran Miina. Ia tidak yakin akan visi- misi-nya karena semua ini ia lakukan hanya menang dari Jinki- tidak lebih dari itu.

“Jadi jika saya terpilih menjadi Ketua Osis Shining High School, saya berjanji akan melaksanan program-progra-“

“OMONG KOSONG! MANA BISA ORANG SEPERTIMU BISA MEMIMPIN SEKOLAH INI!”

“BENAR! DASAR PEMBOHONG!”

Kalimat Miina berhenti. Matanya liar menatap tiap mata amuk dari murid-murid. Tunggu, ini apa? Kenapa mereka menyeru seakan membencinya?

“TURUN AJA DEH! ORANG GAK BENAR EMANG GAK BECUS!”

“IYA! TURUUUN!”

“TURUN! TURUN! WUUUUU!” berbagai cacian di dengar oleh telinga Miina sendiir. Jantungnya sekana berhenti berdetak. Terdiam dan perlahan organ itu akan jatuh diikuti oleh tubuh olengnya. Sekali lagi, ia melirik tiap audience. Memasang wajah sangar dan sengit. Bahkan ada yang melempar segala barang ke depan pentas. Membuat Miina terpaku dan menatap nanar. Tubuhnya sudah dilempar puluhan botol minuman, tak tau betapa sakitnya, Miina hanya sanggup diam. Mencerna tiap celaan mereka.

“TURUN! GADIS MURAHAN! GAK LIHAT ISI MADING?! MASIH BERANI MENGUMBAR JANJI PALSU PADA KAMI SEMUA!”

DEGH!

Mading? Ini pasti ada sesuatu disana. Ayo cepat berpikir Miina! Sesuatu yang menyangkut di mading dan itu mempengaruhi imejmu!

Gadis murahan…

Tepat! Miina mendapatkannya. Kalimat celaan yang sangat menusuk jantung Miina. Ia bisa menebaknya. Sudah terbayang olehnya apa yang terjadi di depan mading ataupun sesuatu di mading. Gadis murahan. Ha! Jadi ini yang membuat mereka murka dan enggan mendengar pidatonya? Dan entah kenapa sebuah nama sedari tadi terbesit dalam otak Miina. Berputar-putar mengalihkan akal sehatnya terhadap orang itu.

Seakan melupakan cemooh dari orang lain. Dengan cepat Miina berbalik arah, meninggalkan pentas. Sekali lagi bayangan sosok yang sekarang ini menjadi orang paling ia benci dengan mudah melayang-layang didepan kepala Miina. Telinganya terasa panas mendengar celaan yang ia dengar disela ia berlari sekuat tenaga. Mengayunkan kakinya hingga sampai ke koridor sekolah yang rupanya telah dipadati oleh murid-murid lainnya.

Mendadak, suasana riuh langsung hening ketika kedatangan Miina. Orang-orang sana terlebih dahulu memancarkan tatapan meremehkan mereka bahkan ada yang meludahi. Miina tak peduli akan itu. Ia memilih menerobros tubuh-tubuh itu hingga menggantarkannya ke depan mading. Matanya liar melihat isi mading, terutama sebuah kertas berukuran persegi panjang itu. Terpampang ditengah-tengah isi pengumuman yang lain. Paling beda dari yang lain dan jelas membuat mata Miina mencelos ingin keluar.

“Sudah lihat Kim Miina? Dibalik kepintaranmu kau rupanya gadis tak tahu malu juga ya?”

“Jadi pekerjaanmu sekarang merayu adik kelas atau anak preman? Dasar murahan! Kalian berdua memang sampahnya sekolah ini!”

Tidak ada lagi yang perlu didengar! Seluruh tubuh Miina terasa panas seperti di rebus air panas. Kakinya tak kuasa menahan beban yang sebentar lagi akan terjatuh. Melihat foto dirinya bersama Minho di perpustakaan silam. Sebuah insiden dimana Miina saat itu tidak bisa mengontrol dirinya sendiri hingga berujung ciuman itu terjadi. Yang menjadi pertanyaannya siapa orang yang dibalik semua ini?

Lagi, sebuah nama sudah tersimpan oleh Miina. Kini ia melirik kearah kanannya. Tak terlalu jauh, dia sangat mencolok dengan senyuman khas tersebut. Senyuman jika orang lain melihatnya merupakan senyuman paling manis dan menawan. Tapi bagi Miina itu adalah racun yang mampu membiusnya menjadi orang tak berdaya. Mata sipitnya serta garis wajah yang tegas itu menatap Miina. Miina bahkan tak mempedulikan seorang pria di samping pria bermata sipit itu. Miina lebih memilih melangkahkan kakinya lebar-lebar nan diselingi amuk besar didalamnya. Terbakar oleh suasana dan entah kenapa sekarang ini dirinya telah berdiri didepan pria memiliki kulit putih itu.

Mereka saling  bertatapan. Membisu ditengah suasana yang menusuk.

Jinki tersenyum lebih lebar dan membuka mulut “ Bagaimana perasaanmu Kim Miina-“

PLAK!

PLAK! PLAK!

Tangan Miina melayang begitu cepat. Menampar pipi mulus Jinki sampai tiga kali dengan sangat keras. Semua pasang mata membulat besar. Sedangkan Jinki terdiam memberi ekspresi terkejutnya diantara rasa perih yang ia rasakan. Miina tak peduli. Melihat sebuah cairan merah di pipi Jinki tersebut. Ia terengah-engah. Dadanya dua kali lipat lebih sesak dari biasanya. Tidak ada lagi toleransi, Miina benar-benar tidak bisa menahan amuknya.

“Persetan kau!”

“Ck! Aku akan membuktikan siapa yang ‘setan’ sebenarnya kepadamu, Lee Jinki!”

Jinki mendegus keras. Mengawang sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada. Cukup satu langkah telah mempertemukaannya tepat di wajah Miina. Menatapnya lekat, seperti mengerti bagaimna api sedang berkobar-kobar disana.

“O,ya? Dengan menjadi ‘gadis murahan’? Hahaha! Lucu sekali!”

“Mau sampai kapan kau ingin mempersulitkanku?!”

“Siapa yang main api duluan, eum?” Miina kehilangan akal. Ia memejamkan mata sejenak, selang detik ia bisa melihat betapa banyak batang hidung yang melihat pertunjukan ini. Malah korban kedua juga ikut serta . Seperti pengecut, berdiri di balik tembok dan tidak bertanggung jawab atas kelakuannya.

Minho brengsek! Brengsek!

“Lee Jinki!”

Jinki tersenyum lebar, sangat lebar. Ini adalah moment paling bahagia baginya, apalagi melihat Minho memasang wajah takut di balik tembok.

“Meski imejmu sudah tercoreng, tetapi aku memberimu kemudahan.” Miina terdiam. Ia menatap Jinki intens disamping api menyulut ditiap ekor matanya. Sedangkan Jinki, masih terbang dengan khayalannya. Memikirkan hal apa yang harus ia lakukan pada gadis yang telah merendahkan harga dirinya. Sebuah ide terbesit di kepala Jinki. Tanpa seijin siapa pun tangannya mencengkram lengan Miina erat.

“Ikuti aku, dan jangan berani menolak!”

Jinki tiba-tiba saja menarik lengan Miina dan membawanya lari dari kerumunan murid. Sontak tubuh tengah lemas itu terdorong dan dengan tampang terkejut Miina tergopoh-gopoh diseret Jinki. Sekali lagi para audience menganga, terlebih Jonghyun yang menatap mereka bingung. Tidak tahu rencana apa yang akan di lakukan Jinki. Yang jelas, ia akan melakukan apapun agar gadis ini menyerah dan jatuh kepadanya. Apapun itu, Jinki harus segera membuat Miina menyukainya!

TBC

Sekian. .-. gaje banget ya ampun. Rela banget di timpukin sendal jepit sama eonni deh, saking gajenya. Tapi aku tetep mau lanjutin, setelah kritik dan sarannya ^^

Iklan

16 thoughts on “[Miina eonni Req] – Boy Meet Me Part 2

  1. Miina Kim berkata:

    Saeng…. Eonni nangis, loh…
    Gak tahu, meski gak ada scene nangisnya, eonni ngersasa gak adil banget apa yang terjadi sama Miina disini… Jinki bodoh hanya percaya dengan Jonghyun. Dia seharusnya bisa melihat masalah dari dua ata beberpa sisi yang berbeda. Dan eonni yakin banget, dia juga cemburu. Dia suka sama Miina, dan gak tahu harus bagaimana, jalan yang dipilihnya dalah menyakiti Miina, menaklukkan dia dengan cara ‘sadis’ begini… huwaaa….. TT TT
    Itu Minho kenapa malah gak bela Miina, padahal dialah penyebabnya. Dia yang maksa cium Miina. Yang aku lihat malah semua cowok disini pengecut… Miina yang lebih pantas disebut gentlelady… *maksa…

    Dan kekhawatiranmu bahwa part ini jelek sama sekali gak beralasan.
    Jujur, ini diluar prediksi eonni kalau ceritanya bakal jadi begini. Dan ini merupakan kejutan banget dan eonni SUKA…..!!! Ceritanya memang pas untuk genre anak sekolahan elit dibumbui dengan sekelompok preman sekolah dan pembulian untuk kaum minoritas yang dianggap paling sok, paling cari perhatian, paling sombong, paling merasa benar sendiri dan orang itu adalah Miina…. Eonni pernah bilang di Part 1 eonni justru Miinalah sosok yang penyendiri dan gak punya teman, bukan genk Jonghyun yang merasa ditindas oleh Miina, dan itu terbukti disini…. Jika Jinki sebagai mantan preman di sekolahnya di Jepang memihak Jonghyun, maka itu wajar, seperti yang kamu sebut juga, persahabatan cowok lebih kuat dari cewek… Dan tamparan 3 x dipipi Jinki memang pantas dia dapatkan. Jinki tahu pasti, Miina gak mau dicium saat itu. jikapun Miina gak bisa menolak, apalah artinya kekuatan Miina sebagai yeoja, tentu saja gak bisa melawan Minho waktu itu. Sudah jelas Jinki cemburu dan iri. Miina bisa bersikap lembut pada Minho tapi tidak pada dirinya. Dirinya hanya dipandang Miina sebagai saingan. Kejadian di kantinpun gak bisa dia cerna dengan baik. Jika dia pahami, Miinalah pihak yang benar dengan mencoba Minho untuk melakukan kewajibannya sebagai siswa, bukan preman seperti yang genk Jonghyun lakukan… Haaahhhh… Jinki sudah dibutakan oleh cemburu… Dan itu, Jinki menyeret Miina mau dibawa kemana??? Mau diapain..???? >.< Gak berani ngebayanginnya….

    Mudah2an Part 3 bakal ada solusi untuk semua. Eonni bener2 speechless di part ini yang bener2 diluar ekspektasi eonni, bagus dan gak tertebak jalan ceritanya. Typo dan diksi alias pemilihan kata yang kurang pas masih eonni temui, tapi gak jadi masalah. Seiring jam terbang kamu nulis, bakal ada improvisasi dan koreksi yang terus kamu lalui…

    Jangan kelamaan part 3 nya, saeng…
    Eonni penasaran banget…
    endingnya juga eonni gak tahu bakal kayak apa….
    TOP deh…

    *lari ngejer Jinki, lempar talenan…

    • speechless baca komen eonni *o*
      aku kira ini bakal hancur. tp syukurlah eonni suka.
      sebenarnya mau buat lebih sadis dr ini, ini mah masih kurang, tp klu eonni smpe nangis gtu gk jadi deh .-.

      masih ada typo ya? klu bisa eonni bisa beri contoh typo.a dimana. ya kan aku bisa tau kesalahannya dan coba perbaiki lagi ^^
      dan utk part 3 segera ya eon, gk jamin sih kapan
      tp klu bmm pasti aku selesain.

      btw, makasih ya eon. aku kira eonni bakal lupa sama ff ini. bisa dibilang g peduli lagi krna udh lama gk dilanjutin. duh maaf atas kelalainnya. sekali lg maaf dan terima kasih ^^

      tunggu2, eonni masih sibuk kerja ya? jarang bgt muncul dimana2.dulukan sering aku temui eonni di blog lain, skrang udh jarang aja. hampa aja jadinya gtu ‘-‘

  2. Miina Kim berkata:

    Speechless…? Eonni yang speechles lihat kelakuan Jinki dkk ke Miina disini. Sadis kamu, saengi… heheheee… just kidding… Mau contoh…?

    Kalo dipemilihan kata yang kurang pas, contohnya; menjongkok > berjongkok, ditentukan oleh tanganku > ditentukan olehku atau berada di tanganku, mempunyainya > memilikinya, Itu lebih pas…

    typo; tergelatak > tergeletak, Peganganggannya > pegangannya, segelanya > segalanya, di telingangya > di telinganya, di lepaskan > dilepaskan, di perlakukan > diperlakukan, di sediakan > disediakan, di curigai > dicurigai, di emut > diemut, di kerumuni > dikerumuni, di lakukan, dilakukan… Untuk kata “di’ atau “ke’ mereka bisa berfungsi sebagai kata depan atau awalan, sebagai kata depan (misal, penunjuk tempat, “di” atau “ke” ditulis terpisah, contoh: di rumah, di kantin, ke kamarku, ke pasar, dll. Sebagai awalan, tidak dipisah, contoh: dipisah, ditulis, diterima, dilepaskan, kemarahan, dll.

    Cuma itu aja, kok… Kalo urusan typo, selama memang kita salah pencet key di keyboardnya gak jadi masalah. Nah, kalau sudah diulangi di beberapa tempat, berarti ada kurangnya pengetahuan tentang suatu hal (error). Nah untuk salah pencet dan error ini, eonni pun sering mengalaminya. Sampe sekarang masih belajar perbaiki kemampuan berbahasa eonni. Feli juga ya… *peyuk… Jinki…

    Saengi janji bakal menyelesaikan BMM, maka eonni janji pasti bakal komen di tiap ceritanya. Yup! Eonni lagi sibuk banget sekarang dengan pekerjaan. Jadinya jarang aktif di FB, di blog orang ataupun di arisan mertua (ibu Jinki) *plakk
    hahahaaa…. Hampa…. Kayak judul lagu, saeng….
    Makasih ya, kalau kehadiran eonni membuat hampa… eh, salah, maksudnya ketidakhadiran eonni membuat hampa… Berarti kehadiran eonni membuat sampah…
    *-_________-

    pogoshipda, saengi…
    Terus nulis di sela-sela waktu senggangmu, ya…
    Sayang kalau bakat yang ada gak diasah dan dimanfaatkan. Itu artinya gak amanah sama titipan Allah berupa bakat itu… Oke!
    Semoga sekolah, persiapan TO, UAS, dan UNnya lancar dan sukses dengan nilai memuaskan. Aamiiin…
    Dan semoga persiapan pernikahan eonni dan Jinki juga cepet rampung
    *disetrum MVP

    Annyong… ^^

    • oh i see…. aku inget banget BMM part 2 itu aku bikin sebelum belajar kata depan di bimbel. Sudah tahu sebenarnya pemakaian ‘di’ dan ‘ke’ adapun tahu tp males editnya soalnya banyak -__- nanti malah lehernya yg pegel krna lama2 berkutat dg lapto *alasaann -.-
      kadang2 masing pusing sendiri sih gara2 kata depan, padahal kemarin2 udh belajar, eh pas praktekkin udh lupa 😮

      masalah typo, duh cuma bisa mendesah aja. typo satu2 karena salah tekan sih g apa, tapi ini banyak. eonni rupanya lebih teliti dr apa yg aku kira. Ini nih kekuranganku kurang teliti, dn bisa jd ilmunya masih seujung kuku. Bener, harus bnyk diasah lagi. Otomatis juga bisa mmbagi waktu antara belajar dan nulis.

      Makasih dukungannya eonni. UAS minggu kemarin selesainya, tinggal nunggu hasil aja. Kalo TO udah ke 3, dan itu minggu depan. Kemungkina BMM juga minggu depan tp harapannya bisa secepatnya.

      Aaa. pernikahan. Kapan get married eon? dan jangan bilang masih nunggu jinki yg keberadaannya entah dimana *eh? kabarnya nih ya, apa ini cuma april mop-an atau gak, jinki ngikutin Key ke Macau, syuting wgm global. Taemin & Key aja udh married, masa eonni belum? Hahaha mulai ngaco nih pembicaraan. -_- ya pokoknya aku selalu berharap eonni mendapat pengganti Jinki. 🙂
      *tuhkan mulai melenceng topiknya -_-

  3. Miina Kim berkata:

    Baraca Message, tapi bingung mau komen di mana…
    Ya udah, komen disini aja…

    Eonni masih lom terlalu ngerti jalan ceritanya…
    Bawaan ngantuk, kali ya…

    Itu si Mimi salah kirim pesan alias SMS, jadi bos tempat Mimi kerja salah pengertian bahwa Mimi suka sama dia, padahal pesan itu untuk cowoknya Minho. Nah, Minhonya datang di akhir cerita, berarti bakal ada seseorang tersakiti atas kesalahpahaman ini…
    Udahlah, Jinki oppa, sama Miina aja…

    Nulis cerita-cerita pendek gini cukup bagus, saeng. Menuangkan apa yang pernah jadi pengalaman kita atau sekedar coretan di waktu luang… tetep kreatif pastinya.
    Nice

    • duh itu produk gagal eon! XD aku aja sampe gk rela itu ff dipost di sini. Dari pada gk ada postingan sama sekali, ya biarin itu ff berjamur di blog sendiri. Gaje mah itu. Kasian juga udah lumutan disimpan dlm laptop.
      Eonni gk salah karena ngantuk kok, ini memang produk gagal -_- dan bikinnya itu pas lagi asik kerjain soal, tengah malam! -.- Eh jd inget sesuatu, trus bbm temen, bentak2 lagi, capslock bertebaran dimana2. Dpet balesan, eh rupanya bukan tmen tadi, salah kirim ke tmen cwo, sekelas juga T.T . Pastinya dia bingung, knpa tiba2 aku marah2 sama dia. Besoknya, serius ini gk berani natap mata ataupun wajahnya, adapun dia sapa aku pura2 gak dengar *kurang ajar ini .-.

      tp akhirnya berujung pengakuan. Ngomong kyk org bodoh, smpe skrang aku gk prnah sms/bbm itu org, malah saking malunya aku hapus acc bbm. Gk penting sih, cuma brbagi cerita saja. Hehehe 😀

      oh ya typo tadi, aku kira eonni mau nulis ‘barca’ alias ‘barcelona’ XD smpat ngakak tadi XD

  4. Miina Kim berkata:

    aiiih… kok malah salam bbm ke dia…
    Jangan2 saengiku satu ini kasmaran sama tuh bocah…
    selalu kepikiran jadinya bbm ke dia.

    Iya, nih… Key ma Taem udah nikah. Eonni kapan, ya…
    Nungguin Jinki yang gak jelas juntrungannya…
    aamiiin… Mudah2an Jinki versi Indonesia segera menemukan eonni dan ngajak nikah…
    Bosen diuber keluarga melulu… mentang2 eonni anak bungsu satu2nya yang lom merit…

    wakakakk… Barca atau Barcelona…
    ituh typo emang ngaco banget.

    FF Message produk gagal???
    Nggaklah… gak ada produk gagal…
    Yang ada adalah produk ‘anak tangga bawah’ yang akan mengantarkan kita
    ke anak tangga paling atas kelak…

    • haha enggak lah. Karena terbawa emosi jadi salah kirim – bisa jadikan?

      anyway, aku sempat pikir2 kapan bisa ketemu Jinki ver indonesia. Soalnya akhir2 ini aku perhatiin, selama aku hidup *eaa gk prnah tuh ketemu org indo mirip Jinki. Kyk produk langka gtu, susah bgt dicari. Yg sering ketemu mirip Jonghyun .-. di sekolah ada Minho kw, taemin kw, key entahlah *duh kok bahas kw-kw an? XD

      amin-amin. semoga setelah di tangga bawah, bisa naik ke tagga paling atas 😀 *mulai putis nih si eonni

  5. Miina Kim berkata:

    heh… ngapain kamu malah kepengen ketemu Jinki versi Indonesia. Dia kan kakak iparmu, saeng… suami eonni… Oke, deh… Eonni do’ain TO, UN, UAS, dan progressmu dalam menulis… semungut…

    • Kan cuma versi Indonesia, gak asli kan… Hehehe

      Oh ya seminggu yg lalu TO-nya udah kelar ^^. UAS sebulan kemarin. Sekarang mempersiapkan buat UN Mei depan.
      Amin… Makasih dukungannya eonni! ^^

  6. Miina Kim berkata:

    lama gak mampir, eonni pangling lihat blogmu…
    Ganti tema lagi… *Tema????
    Eonni sukaaa banget….
    Udah lama gak up to date ttg SHINee, eonni sampe lupa betapa cakepnya adekku yg paling imut ini….
    Oy, eonni mau tanya… Setiap eonni komen, yang keluar pasti gambar kayak kepiting merah jambu itu?
    Gimana biar keluar gambar kayak punyamu itu?
    Misalnya gambar Jinki…
    Maaf ya, eonni mmg makhluk zaman batu yang nyasar di time line…. 😀

    Oya, publish dong, BMM…
    Eonni udah penasaran banget…

    • Long time no see eon.. yah aku jg udh lama g up to date ttg SHINee.
      Klu buat itu sih, eonni hrs pnya akun gravatar. Gak pake blog pun bisa ganti gravatarnya. Nah masalahnya aku lupa gimana 😮 soalnya udh lama jg sih g ganti2 gravatar…..

    • Hai Miina eonni. Sudah 9 bulan ya gak sapaan dan selama itu juga aku gak bikin ff lagi u.u . Entah eonni masih ingat sama aku atau enggak tapi aku ucapin maaf sebesar-besarnya karena gak bisa nulis ff lagi. Dikarenakan aku makin sibuk dg kegiatan sekolah u.u. Kurikulum 2013 bener2 bikin tepar. Aku gak bisa ngelakin kegiatan ekskul di sekolah yg selalu menyita waktu. Mungkin author lain bisa me manage waktunya tp aku gak bisa u.u . Maaf mengecewakan eonni juga telat balas komennya. Maaf atas ketidak tegasan aku sama kelalainnya. Miina eonni boleh marah sama aku, aku maklumi. Sekarang ff nya terbengkalai kan. Aku gak bisa janji bisa nyelesainnya tapi aku usahin selagi minggu ini aku libur sih. Oh Miina eonni apa kabarnya? Udah dapet someone kah? (hehehe ._.) aku harap eonni sehat dan sukses karirnya. Kapan kita bisa kontak lagi ya ^^ sekali lagi maaf eonni..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s