School Attack

School Attack

                                                                                                                      Author : Shinfujita

Title : School Attack ( Secretly Love sequel )

Main cast : Choi Minho & Park  Hye Ra (OC)

Support cast : Kim Jonghyun, Krystal Jung, Lee Taemin

Genre : Romance, Teen, School life

Rating : PG 13

A/N : Masih ingat dengan couple ini? Bagi yang sudah baca Secretly Love pasti sudah tahu. Sesuai permintaan, aku membuat lanjutannya.Awalnya ragu juga sih lanjutin ff yang udah tamat, tapi ya dalam lubuk hati terdalam #eaa pengen banget bikin ff Minho-Hye Ra. Nah, kali ini aku membawa sesuatu yg baru dengan ‘School Attack’ dari judul pasti udah tahu konfliknya kayak apa. Sekedar inpo, sebagian kecil ceritanya diangkut dari keluhan aku sih. Tahulah anak kelas tiga tahun ini pada awut-awutan ama ujian.  Dan minggu depan udah TO 3, awal Mei UN. Bentar lagi kan? Ya bentar lagi dan gak ada yg tanya. Oke silakan baca. Maaf jika ada typo atau ceritanya makin gaje :p

 Summary : Bukan berarti sebuah masalah besar terselesaikan itu pertanda semuanya sudah berakhir. Siapa sangka, setelah hubungan Minho dan Hye Ra aman malah datang sebuah belenggu yang akan bercabang-cabang dalam kehidupan rumah tangga mereka? Yang bisa meretakkan kembali rumah tangga atau bahkan memisahkan memisahkan mereka. Mau tahu orang ketiga dibalik semua ini? Baca dulu ya :p *digampar -.-

 

¶♥Story line by Shin Fujita..♥♥¶

Ujian akhir sekolah tinggal menghitung hari. Tentunya bagi siswa kelas tiga sekolah menengah keatas. Mulai dari ujian uji coba, simulasi, dan minggu depan akan menginjak ujian akhir sebelum ujian kelulusan nantinya.

Dan, siapa yang tidak pusing atau bahkan stress dengan kenyataan pahit itu? Meski menunggu 1 bulan lagi gadis yang memiliki rambut hitam lurus ini segera angkat kaki dari sekolahnya. Pengorbanan untuk keluar dari kandang singa inipun gak main-main. Heran, buat keluar ke sekolah aja pengorbanannya bagaikan mau mati besok. Setidaknya itulah tanggapan gadis yang sering di panggil Mrs Choi oleh temannya ini mengenai ujian yang akan datang.

Baginya, menjadi seorang pelajar memang tak luput dengan setumpuk tugas, buku matpel super tebal serta kertas ulangan bagaikan neraka bagi sebagian murid yang tidak bisa melakukan ulangannya dengan baik. Coretan merah, dan tanda silang adalah tulisan terkutuk yang mampu menambah frustasi siswa jika dilanda pengumuman hasil ulangan. Tapi ini ujian woy! Lebih bahaya dari pada ulangan yang biasanya dapet hasil contekan dari teman kiri-kanannya. Park Hye Ra, ya dia sih maunya emang cepat capcus dari sekolah ini. Lulus lalu? Liburan dong! Hoho!

Namun faktaya sekarang adalah

Park Hye Ra umur 18 tahun.

Siswa kelas tiga sekolah menengah keatas.

Tengah duduk di kursi terkutuk!

Menghapal pelajaran sampai ngantuk!

Mengerjakan PR yang menumpuk

Jangan tanya kalau Hye Ra melakukannya dengan senang hati. Minatpun tidak! Ya, meski disetiap kali ia belajar selalu di temani oleh Choi Minho- suaminya.

Semenjak pernikahannya sekitar 3 bulan ini apapun yang Hye Ra lakukan selalu diawasi Minho, apalagi belajar. Dikit-dikit belajar, dikit-dikit buat pr! Suami yang seusia dengannya itu kalau udah nyingkut apa namanya itu belajar gak bakal menjauh-jauh dari bukunya. Well, satu hobi Minho yang menurut Hye Ra aneh adalah, Minho sangat mencintai buku. Sampai sekarang masih diragukan apakah Minho akan memilih Hye Ra jika dibandingkan dengan buku-bukunya.

TUK!

“Oy! Yang kusuruh mengerjakan soal! Bukan melamun Hye Ra!”

Satu lagi, hobi Minho yang di benci Hye Ra. Minho selalu mengetuk dahi Hye Ra seperti tadi dengan pensilnya. Untung aja ini orang ganteng, jadi tangan berlumur dosa itu masih bisa terampuni.

“Udahan aja ya. Udah ngantuk nih!”

“Kerjakan soal yang belum selesai 34-45!”

Minho mengetuk buku bank soal khusus ujian akhir dengan ujung pensilnya. Hye Ra melempar lirikan memelas. Namun sayang Minho tidak melihatnya dan malah asik dengan komikny, lagi-lagi Detective Conan. Hye Ra pun jadi ingat, hari pertama ia belajar dengan Minho. Lelaki jangkung itu sering sekali membaca komik, tak peduli jenis makhluk apa di sekitarnya. Menjengkelkan.

“Cepat kerjakan! Jika ada yang tidak dimengerti, baru tanya!”

“Iya! Bawel!” Mau tak mau Hye Ra mengerjakan soal dari matpel matematika. Apalagi coba? Pelajaran yang membuat syaraf diotaknya kusut!

“Hmmm…” satu soal sudah dilandas Hye Ra. Tiga sampai empat juga aman. Sekarang, terbentur pada soal kelima. Terdiam cukup lama, dan untungnya Minho tidak menyadari itu. Gimana nih? Buru-buru Hye Ra membalik halaman buku, harap mendapatkan contoh jalan untuk soal ini. Nihil. Sepertinya penulis buku sengaja bikin satu atau dua soal, eh bukan 5, tidak 10, ah semua nya susah!

Jika aku menganggu singa lagi baca komik, bisa-bisa dimakan hidup-hidup lagi! Ih gak deh!

Itu artinya Hye Ra tidak akan meminta bantuan pada Minho. Lagian jauh dilubuk hati Hye Ra, ia amat sangat gak ngeh dengan soal-soal ini. Malahan waktu sudah menunjukkan pukul setengah Sembilan malam. APA? SETENGAH SEMBILAN?! Ya Tuhan! Ini waktu tayang serial drama kesukaan Hye Ra!! Malam ini episode terakhir, dan jangan bilang Hye Ra tidak bisa menontonnya sekarang! Kalau saja ia tidak menonton malam ini,bisa-bisa besok pagi Krystal akan menceritakan sendiri padanya dengan ekspresi mengatakan bahwa ‘kasian deh, gak nonton! Rugi!’ Oke ini berlebihan, tetapi drama ini lebih berarti kebanding soal-soal yang mandek itu. Pokoknya gimanapun harus nonton!
“Minho-ya…” lirih Hye Ra pelan. Nada suaranya pun dilembutkan, uhmm langka sekali.

“Eum?”

“Aku bosan di kamar terus. Boleh lanjutinnya di ruang tengah? Sumpek nih!” Minho sama sekali tidak tergoda dengan suara super imut Hye Ra. Ya tak apa lagian Minho orangnya kaku sama yang hal begituan (?)

Satu anggukan Minho berarti jawabannya boleh! YES!

“Aku benar-benar akan mati kalau tidak menonton drama ini. Ah Kim Soohyun, alien tampanku~” Tv sudah di hidupkan, sengaja mengecilkan volume agar tidak kedengaran di kamar. Hye Ra pun sudah mengambil posisi duduk ternyaman. Yaitu berbaring sambil memangku kepalanya dengan sebelah tangan. Kebetulan sudah ada beberapa cemilan diatas meja. Mantap, semuanya sudah oke.

Gadis itu sepertinya sangat serius menonton drama yang akhir-akhir ini mebooming di kalangan remaja Korea. Man from the star! Selain jalan cerita yang unik dan menarik, pemeran utama pria juga sangat sangat tampan! Kim Soohyun. Pada tahukan? Nah, karena ketampanan Kim Soohyunlah terkadang Hye Ra mengabaikan Minho si tiang listrik kaku itu! Adapun dilahirkan kembali, Hye Ra ingin sekali menjadi lawan mainnya Kim Soohyun.

Di akhir cerita. Ini adalah scene paling ditunggu-tunggu Hye Ra! Kissing scene! Entah kenapa Hye Ra dibuat berdebar. Aneh juga sih. Akhir-akhir ini  Hye Ra suka deg-degan gak jelas kalau menonton kissing scene. Meski dulu sempat tutup mata, tapi sekarang biasa aja. Mungkin karena sudah pernah melakukannya kali ya?

“Aww! So sweet… Bisa ulang scene ini lagi? Andaikan si tiang listrik berjalan juga bisa…-“

“Menciummu seperti itu?!”

Klek!

DEG!

Ini pertanda buruk! Hye Ra tidak tahu dari mana makhluk tinggi tegap itu mematikan TV dan berdiri menghalangi layar TV. Minho berdecak pinggang sambil menatapnya tajam. Mampus.

“Tentu! Style ciuman Kim Soohyun jauh lebih lembut dan romantis dari pada kamu! Adapun aku yang dibuat kekurangan oksigen- ups!” Sial! Sial! Keceplosan! Dan lihatlah raut wajah Minho langsung berubah. Bodoh! Hye Ra mengutuk mulutnya yang sering ceplas-ceplos ini. Tak tanggung Hye Ra bahkan tidak menyadari kalau Minho mendekat. Dengan menahan tubuh Hye Ra dengan kedua tangannya yang mencengkram punggung sofa erat. Baik. Ini pertanda lebih buruk. Minho menatapnya dalam, dan Hye Ra berusaha sangat berusaha memasang tampang wajah tanpa dosa.

“Belajar sekarang juga, atau aku akan melakukannya.”

Melakukan apa? Apa?

“Apa tidak ada pilihan selain itu?”

Jika aku bukan wanita penuh gengsi, aku pasti akan memilih... itu 

“Kau sepertinya tahu maksud pilihan kedua,” Minho menyungging ujung bibirnya. Smirk. Bagaikan tersengat listrik, Hye Ra masih kaku ditempat. Inilah kelemahan Hye Ra, ia tidak mampu berbuat apa-apa jika Minho sudah memberi kode-kode.

“Tidak tahu! Memangnya apa?”

“Satu hal yang harus kau tahu, Kim Soohyun melakukannya karena tuntutan kerja. Dan wanita itu, lagian dia sudah menikah.”

“Maksudmu, kissing scene tadi?”

Minho mengangguk pelan.

“Lalu masalahnya apa?”

“Yang kau kira lembut atau romantis itu hanya sandiwara. Sedangkan apa yang kau dapatakan dariku selama ini tidak meminta imbalan apapun. Jika itu menyesakkanmu, aku minta maaf.”

APA? Barusan Minho minta maaf? Salahnya apa coba? Hye Ra jadi heran sendiri. Apa Minho yang terlalu berbelit atau memang Hye Ra terlalu bodoh. Tidak tahu, yang pasti Hye Ra tidak bisa menutup matanya kembali setelah hidungnya merasakan hangat tersentuh oleh batang hidung Minho yang mendekat. Hawa hangat langsung menjalar keseluruh permukaannya tat kala Minho makin mendekat dengan memiringkan kepalanya. Membiarkannya. Itu saja yang Hye Ra lakukan. Jiwanya masih sedikit terguncang ketika Minho telah menyapu bibirnya lembut. Sesuai request Hye Ra. Membuat Minho merasa tertantang untuk mencium Hye Ra sejak 2 bulan tidak pernah lagi merasakan manis di bibir Hye Ra.

Minho mengambil jarak. Membiarkan tatapan mereka menyatu beberapa selang detik. Kemudian tersenyum pada istrinya.

“Ayo, kita belajar lagi.” Kali ini sungguh. Bolehkan Hye Ra meleleh di tempat?! Sekian lama rasanya, akhirnya Minho bisa beramah tamah dengannya. Suaranya yang berat bak membisik lembut ditelingan Hye Ra. Hebatnya Hye Ra seakan terhipnotis dan rela gak rela membiarkan tangan Minho menarik tangannya agar masuk ke kamar kembali.

Kenapa gak dari dulu seperti ini Minho?! Kenapa?! Kenapa?!!!

***

Hari ini adalah pembagian tes psikologi. Khusus untuk murid kelas tiga. Dan di disini, tiap murid merasakan apa yang dirasakan Hye Ra dan kawan-kawan. Gugup.

“Semua amplop sudah dibagikan. Sekarang silakan dibuka!”

Sreet!

Serempak semuanya membuka amplop dan membuka secarik kertas yang diisi dengan beberapa tabel-tabel. Ada yang gemetaran, santai, malah ada yang tidak mau membukanya.

“134! IQ-ku termasuk superior!”

“Wah keren…”

Itu sangat menjijikkan! Ayolah apa yang kalian banggakan dengan IQ tinggi? Emang bisa merubah uang jajan kalian? Ha? Enggak kan! Jadi shut up!

“Gimana hasilnya?” Minho mengintip Hye Ra yang sedang membaca hasil tesnya. Cepat-cepat gadis itu melipat hasil tes dan menyembunyikannya.

“Kamu dulu. Gimana?”

“Teknik mesin atau bisnis.”

“Bukan jurusan! Tetapi tes intelegensi!”

“150. Kamu?”

Oh baik-baik. Hye Ra merasa telah jatuh dalam lubang yang digali oleh anak anak sekelas. Menelan ludah sambil menggeleng frustasi.

“Kamu baik-baik saja?”

“…”

“Hoi! Hye Ra! Aku dapat 130! Kau berapa?” Itu Krystal, menghampiri Hye Ra seperti ballerina yang berputar riang gembira. Oh, jadi senang lihat temannya terpuruk.

“Jauh dari kalian semua. Sepertinya aku yang mempunyai IQ rendah.” Minho memperhatikan Hye Ra agak lama. Muak karena gadis itu masih merahasiakannya, Minho merebut kertas yang Hye Ra simpan dibawah laci. Minho membacanya, cukup lama lalu memberikannya kembali.

“Ya!”

“Lumayan. Seni/act jurusan tidak buruk.”

“IQ-nya berapa?”

Minho melirik Hye Ra. Gadis itu menunduk lemah. Minho jadi tidak tega.

“Sepertinya aku mengerti.”

“Park Hye Ra!” Panggil wali kelas, Kim Sonsaengnim.

“Kamu ikut saya. Kita perlu bicara di ruang BP.”

***

Duduk di ruang BP sebenarnya nyaman. Ruang ber-AC, sofa empuk juga ada segelas air khusus untuknya. Yang gak enaknya, harus berhadapan dengan guru BP yang dikenal suka mengentimidasi. Sebenarnya beliau gak galak, yah hanya itu, tatapannya jauh lebih dalam dari pada Minho. Bukan pada Hye Ra saja, dengan yang lain juga. Apa setiap guru BP bisa membaca pikiran orang lain ya?

“Aku yakin kau sedikit terkejut mengetahui kemampuan intelegensimu jauh berbeda dengan teman sekalas yang lain. 98 itu tidak buruk, kau tahu itu?”

Hye Ra masih ragu untuk mengangguk setuju.

“Seseorang ber IQ diatas 150 belum tentu secerdas apa yang kau kira. Sesuai bagaimana ia mengasahnya. Jika dia malas, tak ada gunanya otak genius.”

“Tapi saya memanggilmu bukan untuk membahas IQ. Tetapi mengenai hasil tes bakat dan minat. Di dalam tes, tersedia pertanyaan kemana tujuanmu setelah tamat sekolah. Apakah keperguruan tinggi, atau langsung bekerja. Masalahnya, kenapa kamu tidak mengisi universitas yang kamu inginkan?”

Benar. Sampai sekarang kemana tujuan Hye Ra setelah ini masih buram. Malah ia tidak tahu universitas apa yang cocok untuknya.

“Saya tidak tahu sonsaeng. Dulu oppa pernah merekomendasikanku agar melanjutkan sekolah di Prancis dengannya tetapi saya menolaknya.”

“Kenapa?” tampak raut kecewa diwajah keriput pria separuh baya itu. Hye Ra mendesah. Haruskah ia mengatakan sebabnya karena Minho?

“Saya belum siap.”

“Memang pekerjaan apa yang kamu inginkan?”

“Desainer.”

“Prancis adalah tempat yang cocok untuk mengembangkan bakat itu. Apa ada alasan lain?” Hye Ra lagi-lagi terpaku. Tatapan mengentimidasi gurunya mampu membuat Hye Ra menahan kuat-kuat alasan sesungguhnya. Karena Hye Ra tidak bisa meninggalkan Minho, karena Minho adalah suaminya.

“Tidak.”

“Baiklah…” Kenapa suasana jadi tegang begini? Hye Ra jadi makin tegang setelah gurunya membolak – balikkan kertas berisi hasil ujian uji coba kemarin.

“Ini memang bukan urusanku tetapi Kim sonsaengnim berpesan agar kau mengetahui ini.”

“- mungkin ini tidak sesuai harapanmu, tetapi kau harus membuka mata. Posisimu dua terakhir di sekolah ini. Apa yang harus kamu lakukan Hye Ra-ssi?”

Benar ini hasil ujian uji cobanya? Posisi dua terakhir? Hye Ra sangat syok. Bahkan tangannya gemetaran memegang secarik kertas itu.

“Saya tahu sonsaengnim, saya murid paling bodoh. Tidak ada gunanya-“

“Kamu tidak bodoh. Sama sekali tidak!” Ini seperti di sinetron saja. Belum sempat Hye Ra melanjutkan kalimatnya, ada seseorang yang membuka pintu. Oh, rupanya sang penguntit. Dan anehnya itu adalah wali kelasnya Kim sonsaengnim. Lantas Kim sonsaengnim mampu menegakkan kembali kepala Hye Ra yang tadi merunduk putus asa. Berbinar-binar Hye Ra memandang wajah wibawa kadang nyeselin si wali kelas. Eh, tumben baik. Biasanyakan hobi hukum sana sini.

“Maaf Jung songsaenim. Saya mendengar pembicaraan kalian. Saya sangat khawatir dengan murid saya, jadi saya tidak tahan hanya duduk tenang di ruang guru. Bagaimanapun juga, Hye Ra adalah anak saya, dia juga tanggung jawab saya. Boleh saya bergabung?” Oh, bolehkah Hye Ra menitikkan air mata? Kemana guru dengan roh-roh jahat yang selalu menganggu jiwa kecil Hye Ra? Kemana guru yang selalu menghukumnya lari 10 kali sekeliling lapangan sekolah? Jika saja Hye Ra tidak punya malu ia ingin sekali berputar-putar dengan Kim sonsaengnim sambil menangis terharu. Benar, ini berlebihan!

Jung sonsaengnim tersenyum penuh arti. Yohoo! Berarti Kim sonsengnim boleh ikut nimbrung!

“Hye Ra, Jangan anggap dirimu bodoh. Nilaimu turun drastis pasti karena beberapa faktor. Saya memang tidak tahu apa saja faktor itu, tapi saya sarankan, jangan cepat terpengaruh akan situasi berat yang kamu terima. Sekolah ya sekolah, belajar ya belajar. Masalah lain nanti dulu dipikirkan, pikirkan dulu prioritasmu sebagai pelajar- yaitu menuntut ilmu. Iyakan Jung-nim?”

Jung sonsaengnim mengangguk.

“Dan alasan kenapa saya menyarankanmu konsultasi dengan guru BP, agar kabar ini tidak diketahui oleh murid lain. Beruntung lho, kamu adalah satu-satunya murid yang mengetahui hasil ulangan ini. Saya sudah merancangnya dari dulu. Saya tidak mau kamu terpukul dikemudian hari karena dipandang ‘lain’ oleh teman sekelas. Untuk menjaga nama baikmu, saya akan merahasiakannya…” Ini sebenarnya ikhlas gak sih? Lama-lama Kim sonsaengnim jadi rada lebay gini.

“Terima kasih sonsaengnim.”

“Satu lagi, aku sangat yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang. Jangan coba-coba untuk menunda-nundanya. Kamu harus yakinkan dirimu bisa!” Ya aku akan memaksa Minho menjadi guru privatku layaknya sebelum kami menikah. Jujur saja, itulah yang ku bayangkan sekarang.

“Oh ya, saya juga telah memberi tahu hal ini kepada orangtuamu dan mertu-“

“Sonsaengnim!” Sonsaengnim!!! Tua-tua juga suka ceplas – ceplos! Begini, barusan Sonsaengnim hampir membunuh Hye Ra dengan mulut besarnya. Well, beliau tahu hubungan Hye Ra dengan Minho. Dan syukurnya, beliau mau merahasiakannya. Dan sekarang? Jangan sampai guru BP tahu! Jika tahu, tunggu menunggu detik Hye Ra langsung di usir dari sekolah ini tanpa ijazah kelulusan! Arghh jangan sampai!

“Ibumu, maksud saya. Uh… Jung sonsengnim, saya pamit dulu. Dan Hye Ra temui saya di ruang guru setelah ini!”

Ya Tuhan, ada apa dengan hari ini? Kenapa lama-lama Kim sonsaengnim jadi sering nempel sih? Pasti ada pertanda.

“Ya. Sonsaengnim.”

***

“Hye Ra mana? Tumben gak ikut ke kantin.” Jonghyun menyapu pandangan kesekitar. Tidak ada sosok gadis nyebelin itu berkeliaran di sekitar sini.

“Sibuk. Maklum schedule padat.” Balas Krystal sambil menyantap roti tawar ditangannya. Jonghyun menyeringit tak mengerti. Ia berusaha menyenggol siku Taemin, tapi Taemin membalas dengan mengangkat bahu.

“Sejak kapan si cerewet itu sibuk? Jangan-jangan sibuk godain cowok lain. Biasa, cewek jaman sekarang pada agresif semua.”

PLETAK!

“AWW!”

“Kim Jonghyun! Jangan sembarangan bicara! Hye Ra gak cewek kayak gitu!” Barusan Krystal memberi jurusan jitakan supernya pada Jonghyun . Alhasil anak-anak di kantin pada ngetawain si malang Jonghyun.

“Tuh kan aku bilang! Wanita sekarang suka bertindak duluan, apalagi kalau kekerasan. Minho-ya, kau harus berhati-hati dengan Hye Ra jangan sampai kalau- awww! YA!”

“Ckckck”

Satu lagi, Krystal berhasil menginjak kaki Jonghyun dengan khidmat. Lagi-lagi Jonghyun jadi sorot perhatian.

“Baiklah aku menyerah.”

“Hyung, kenapa diam saja? Apa benar Hye Ra noona sibuk?”

Minho meletakkan jus jeruknya diatas meja. Menatap temannya satu persatu.

“Tidak. Tadi di panggil ke ruang BP, dan sekarang tidak tahu kemana.”

“Kamu gimana sih? Seharusnya kamu tahu masalah Hye Ra! Gak kasian cewek lemah gitu nanggung masalah sampai-sampai di panggil ke ruang BP!” Lantang Krystal berontak. Taemin sempat memberi lirikan pada Krystal agar gadis itu tidak sampai meledak.

“Cewek lemah? Setahuku Hye Ra mempunyai kekuatan super yang tak dipunya pria lain untuk menjitak jidat orang.”

“JONGHYUN, DIAM!

“Oke oke -_-“

Baiklah Minho mengerti maksud Krystal. Ia juga tidak ingin terpacing karena emosi gadis itu. Sampai sekarang Minho memang tidak tahu masalahnya apa sehingga Hye Ra belum kembali dari ruang BP.

“Jika kamu tidak mencari tahu, aku yang akan cari tahu!”

“Tidak usah. Aku akan berbicara padanya sepulang sekolah nanti.” Ujar Minho pelan, meski tak yakin. Setelah melihat raut keputus asaan Hye Ra tadi, entah kenapa membuat Minho enggan berbicara banyak padanya. Minho merasa tidak becus untuk menghibur istrinya sendiri.

“Oh ya? Mungkin sepulang dari rumah mertuamu, Choi  Minho.”

Minho mendelik, maksudnya?

“Tadi Ibu Hye Ra menelfonku. Beliau berpesan padaku untuk mengingatkanmu untuk mendatangi rumahnya, bersama Hye Ra juga. Sepertinya ada sesuatu yang penting.”

“Kau dalam masalah besar Minho, sampai-sampai di panggil mertua!”

Benarkah? Ini pertama kalinya nyonya Park mengundangnya. Sebelumnya pernah, tetapi pada masa awal pernikahan. Benar kata Krystal dan Jonghyun, ada sesuatu yang penting sehingga nyonya Park mengudangnya untuk datang.

***

Hye Ra menggigit jari kukunya gemetaran. Sekarang, sudah pukul 5 sore. Pastinya Hye Ra sudah pulang dari sekolah dan mendapat kabar dari Krystal untuk pulang ke rumah. Rumah Hye Ra tentunya. Tempat tinggalnya sebelum menikah dengan Minho.

“Mana suamimu? Lama banget!” Tuh kan, mulai deh. Ibu Hye Ra sedari tadi ngomel-ngomel gak jelas. Mutar-mutar keliling sofa, sama gregetannya dengan Hye Ra. Tapi ibu terlihat lebih gak sabaran, belum lagi beberapa umpatan yang ia lontarkan untuk suami Hye Ra. Aduh, lagian kemana si tiang listrik berjalan itu sih?

“Sabar eomma. Minho dalam perjalanan. Mungkin macet.”

“Tapi sudah dua jam Hye Ra! Lagian kenapa kalian tidak datang bareng? Suamimu tidak mau mengantarkanmu kemari?”

“Minho tidak tahu aku pulang duluan. Lagian kami…”

“Apa?! Katakan apa!”

“Eh, gak, tidak apa-apa eomma.”

“Kalian berdua ada masalah? Bertengkar?!” Tuh kan! Ini lagi! Ibu itu semenjak anaknya menikah selalu kepo dan khawatir tingkat tinggi. Memang dulu rumah tangga Hye Ra sempat dilanda konflik, sampai sekarang orang tua mereka tidak tahu. Tapi untuk apa diumbar lagi kan? Kalau Hye Ra bocorin, bisa-bisa Ibu bakal meledak.

“Duh, eomma. Kami baik-baik saja. Eomma tinggal duduk dan diam. Kelihatannya eomma kelelahan, mau aku ambilkan minum dulu?”

“Bagaiaman gak lelah, Hye Ra. Kamu gak tahu eomma langsung jantungan mendengar hasil ujianmu?! Eomma gak bisa diam! Makanya eomma menyuruh kalian berdua kemari. Ada sesuatu penting yang harus kalian ketahui.” Ibu Hye Ra mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangannya. Benar, sepertinya ada sesuatu yang penting. Kira-kira apa?

Tidak lama setelah itu, Ibu dan anak ini mendengar ketukan pintu dari depan rumah. Buru-buru Hye Ra membuka pintu dan melihat seulet tinggi yang memakai seragam sekolah. Itu Minho.

“Kenapa lama? Eomma mulai kesal tuh!” bisik Hye Ra gusar. Ia menuntun Minho yang sedari tadi tak berkutik. Hye Ra memperhatikan raut wajah Minho. Kelihatannya kelelahan. Bahkan Minho belum sempat ganti baju, pulang sekolah langsung kemari, pasti melelahkan.

“Annyeonghaseyo eommanim~” Minho membungkuk memberi hormat. Dan untung saja, Ibu Hye Ra tersenyum ramah seperti tidak terjadi apa-apa. Hye Ra menyilakan Minho duduk di sampingnya. Menunggu Ibu membuka mulut.

“Eomma langsung ke intinya saja. Tadi siang, Kim sonsaengnim menelfon Eomma. Beliau bilang Hye Ra berada di posisi kedua terendah di sekolah. Minho-ya, kamu tahu itu?”

Minho membuka matanya lebar-lebar. Sontak ia menoleh dan menatap Hye Ra tidak percaya. Sedangkan gadis itu meringkuk lemah.

Minho menggeleng sebagai jawaban. Meski ia masih terkejut mendengar kenyataan itu.

“Eomma sangat heran. Kenapa ini bisa terjadi? Bukannya kalian berdua sering belajar bersama? Dan Minho, kamu dulu pernah jadi guru privat Hye Ra, apa Hye Ra tidak mau diajari olehmu lagi?!” Ibu Hye Ra menatap marah kedua anak ini. Hye Ra menggigit bibir. Ini adalah salahnya, tapi Ibu seperti menyalahkan ini pada Minho.

“Minho sering membantuku kok, eomma.”

“Eomma tidak bertanya padamu Hye Ra! Minho, seharusnya menjadi suami kamu harus bisa membimbing istrimu! Kalian sama-sama berjuang, kenapa hanya Hye Ra nilainya turun drastis? Jangan bilang karena kamu sibuk atau apalah, kamu tidak bisa menjaga dan membimbing Hye Ra dengan baik!”

“Jwesonghamnida eommanim.”

Gawat. Kenapa Minho meminta maaf? Yang salah Hye Ra. Hye Ra mengaku, ia sempat tidak konsentrasi ketika ujian. Entah faktor kelelahan atau memang kurang berusaha. Tapi jangan sampai salahkan Minho seperti ini!

“Ah kepalaku pusing! Pusing!”

“Eomma tenanglah…”

“Bagaimana eomma bisa tenang kalau nilaimu makin hari makin turun sedangkan kamu harus melanjutkan sekolah ke Universitas Seoul Nasional?

Universitas Seoul?! Tunggu! Barusan apa?!

“Hye Ra masuk Universitas Seoul?” Minho tidak kalah terkejutnya dengan Hye Ra. Ibu mengangguk dan entah kenapa Minho terkikik geli mendengarnya. Ia berusaha menahan tawa, jadi Minho menutup mulutnya meski terdengar jelas bahwasannya suami Hye Ra itu menahan gelitik tawa.

“Apa yang ditertawakan? Eomma! Eomma serius? Ya ampun eomma, jangan sangka kalau aku anak genius eomma. Masuk ke universitas sana itu amat sangat mustahil!”

“Eomma juga gak yakin Hye Ra! Ini pesan dari Aboji Minho. Sebelum ini, beliau menelfon, beliau sangat berharap menantunya bisa kuliah disana, bersama Minho juga!” Oke, ini bukan lelucon bukan? Hye Ra masuk Universitas Seoul? Tunggu tujuh kali lebaran durian pun gadis bersinyal lemah itu gak mampu.

“Terlebih beliau menyangka kalau selama ini Hye Ra cukup pintar. Bahkan beliau bertanya ‘apa-apa saja oliampiade yang pernah diikuti Hye Ra? Di kelas juara berapa?’ Kalian tahu, eomma hampir kesedakan mendengarnya!” Secara tidak langsung ibu telah menghina Hye Ra. Baiklah Park Hye Ra, sepertinya ibumu sudah tahu betul kebodohanmu -.-

Lalu bagaimana respon sang suami?  Jujur saja, jika ada orang lain bertanya seperti tadi Minho taruhan akan menitik air mata menahan tawa. Ia yakin bisa tertawa selama 5 menit non stop dan bisa masuk rumah sakit karena sakit perut. Baiklah, kita bahas secara berurutan. Pintar, juara, olimpiade? Hah…bahkan Minho tidak menjamin kalau Ayahnya akan serangan jantung ketika ia menceritakan yang sebenarnya. Pintar? Oke, Hye Ra sebenarnya pintar! Pintar mengoceh,dan merepotkan orang lain. Juara? Hahaha Hye Ra memang juara, juara dalam bidang shopping dan menghabiskan uangnya hingga tiap Minggu Minho harus membayar tagihan kartu kredit. Dan terakhir, olimpiade? Ini paling tidak masuk akal. Jika dipikir-pikir Hya Ra akan mengikuti olimpiade apa? Sedangkan mata pelajaran pokok seperti MIPA dan Bahasa Inggris saja masih mandeg. Apalagi olimpiade yang soalnya lebih sulit? Jangan bermimpi!

“Lalu aku harus bagaimana eomma?” terlukis garis-garis keriput di dahi Hye Ra. Bukan tua, lebih terkesan gelisah. Terlebih Minho hanya bisa diam sambil geleng-geleng kepala.

“Maka dari itu eomma mengumpulkan kalian berdua. Eomma dan orangtua Minho telah membuat sebuah keputusan, bahwa kalian berdua harus berpisah.”

1…

2…

3…

Tadi barusan eomma bilang apa?

“APA?! EOMMA JANGAN BERCANDA!”

“Untuk apa bercanda? Kami bersama sudah memutuskan untuk memisahkan kalian berdua. Ini demi kebaikanmu Hye Ra.”

Baik Minho ataupun Hye Ra, mereka berdua membisu dan saling lempar pandang. Air muka yang tak bisa dijelaskan dibalik kedua pupil itu melebar mendengar kata-kata  yang selama ini pernah menganggu mereka. Berpisah?! Ini serius?

Jadi mereka menginginkan kami, bercerai?

 

 TBC

 

Iklan

6 thoughts on “School Attack

  1. Miina Kim berkata:

    Mwo…? Minho-Hye Ra akan dipaksa cerai?

    Eonni sih setuju dengan eomma Hye Ra yang bertanya pada Minho tentang hasil belajar Hye Ra. Bukan bermaksud menyalahkan, hanya bertanya, kok bisa Minho yang terbilang siswa cemerlang *emangcucian… punya istri yang rankingnya gak main-main, padahal mereka belajar bersama semenjak tinggal bersama. Minimal, nilai ujian Hyera sedikit tertolong dari hasil belajar itu. Nah, yang gak eonni setujui, kenapa solusinya mereka mesti dipaksa pisah? Minho-Hyera juga belum kasih penjelasan ke eomma Hyera apakah memang mereka punya masalah atau tidak.

    Typonya masih bergelantungan, saeng…
    Terus belajar untuk lebih teliti, ya…
    Kayaknya bakal lanjut berchapter-chapter nih, School Attack…
    BMM tetep yang paling eonni nanti.

    Keep writing… ^^

    • gelantungan?? jemuran dong. Iyanih, satu ini emang gk peduliin typo atau gk nya.Kebetulan bikinnya pas lagi stress mikirin ujian kesenian. Dan itu nyempatin 1 jam, selebihnya bergalau ria u.u maklum aja hasilnya berantakan.

      Gimana ya, jadi serba salah gitu. Janji gk typo lagi, toh esok masih ada yg salah2 -.- Mungkin perlu belajar lebih bnyk + tnya sama ahlinya.

      Ah iya, itu…sebenarnya ending gaje ini gk tau kenapa terlintas. Berpisah iya, tapi lihat saja nanti.
      Nani ku publish barengan BMM-nya
      tapi selesai TO .-.

      ^o^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s