School Attack – Goodbye Hello!

School Attack

[111

Main cast : Park Hye Ra [OC] & Choi Minho [SHINee]

Support cast : Jung Krystal [Fx], Song Joongki

Genre : School life, romance, marriage life

Rating : PG 13

A/N : Maaf maaf banget. Semua fanfic di sini terpaksa di deadline terlalu lama. Amat lama sepertinya. Bagi yang lupa cerita ini atau melupakan blog ini, maafkan aku. Salah akuyg  lalai. Tapi mau gimana lagi semenjak masuk sekolah gak ada kesempatan buat nulis T^T. I’m so sorry.

¶Story line by Shin Fujita…♥¶

Ibu Hye Ra menatap kedua pasangan yang terlihat shock itu. Setelah menyebutkan bahwasannya anak dan menantunya akan berpisah, tampaknya Minho maupun Hye Ra masih bingung atau terlalu terkejut sampai-sampai tak mampu membuka mulut. Ini sangat aneh. Tiba-tiba saja Ibu meminta Minho dan Hye Ra berpisah, sedangkan waktu lalu beliau memaksa agar mereka cepat menikah. Sebenarnya siapa yang salah? Lagian alasanmya karena nilai Hye Ra yang makin hari makin merosot. Lalu apa hubungannya nilai Hye Ra dengan keputusan… bercerai?

“Kenapa kalian diam saja? Ada yang aneh?” Ibu Hye Ra melirik Minho dan Hye Ra secara bergantian. Tak dibalas oleh Minho ataupun Hye Ra. Ini sangat mengguncang mental mereka. Terutama Hye Ra. Selama jeda, pikirannya seakan terbang kemana-mana. Tidak menyangka kalau rumah tangga yang mereka bangun dan perbaiki dengan susah-susahnya akan hilang begitu saja. Dan itu karena nilai Hye Ra turun? Oke, Hye Ra terima kalau Ibu patut marah dan sebagainya, tetapi apa keputusan ini masuk akal?

“Eomma ingin kami bercerai?” tanya Hye Ra hati-hati. Lidahnya kelu tak sanggup melontarkan kata yang paling ia takuti. Bercerai. Memang benar, dulu Hye Ra pernah berniat berpisah dengan Minho. Tapi itu dulu, setelah mereka baikan, kata ‘cerai’ itu telah pergi jauh-jauh dari kehidupan mereka.

“Ibu macam apa yang menginginkan anaknya bercerai? Eomma sama sekali tidak berniat menceraikan kalian. Ada apa dengan kalian berdua, eoh?” Apa? Tunggu dulu. Jadi Ibu tidak berniat menceraikan kami? – pikir Hye Ra bingung.

Ibu sedikit bingung juga, tapi akhirnya beliau tersenyum lebar menahan tawa.

“Eomma gwenchana? Bukannya eomma meminta kami untuk berpisah? Dan sekarang eomma tidak berniat menceraikan kami. Maksud sebenarnya apa sih?”

Tahu akan anaknya dilanda kebingungan, akhirnya Ibu Hye Ra berdehem dan melanjutkan, “Sepertinya kalian masih belum mengerti. Begini, maksud eomma kalian tidak boleh serumah lagi. Hye Ra, kamu kembali menetap di sini, begitu juga dengan Minho, kamu juga harus kembali ke rumahmu.”

“Apa?” Tidak masuk akal. Meski lebih baik dari pada bercerai, tetapi memisahkan sepasang suami istri yang mulai lengket apa itu sedikit…

“Maafkan eomma. Tapi ini keputusan kedua belah pihak keluarga. Orangtua Minho sangat menyutujuinya. Kalian harus berpisah untuk sementara ini setelah ujian kelulusan berakhir. Tidak apakan?” Apa yang tidak apanya?! Hye Ra tidak terima. Melihat Minho menghela napas berkali-kali membuat dirinya seakan dihujam batu karena merasa bersalah.

“Apa tidak ada cara lain? Aku akan berjanji belajar lebih giat! Dengan belajar bersama pasti aku akan lebih baik, eomma. Iya kan ho?” Ekor mata Hye Ra menyudutkan Minho. Gadis itu menyenggol lengan suaminya tetapi si Minho malah diam. Lantas Hye Ra menoleh, menatap suaminya seakan berkata ‘kenapa diam?Kau tidak ingin kita berpisahkan?’ Namun sayang, Minho tak mengubris tatapan Hye Ra, malah mengangguk-angguk sok paham.

“Baiklah eommonim. Jika itu demi kebaikan Hye Ra, aku sama sekali tidak keberatan.”

Minho..Apa dia bilang? Tidak! Kau bodoh Minho! Kau rela berpisah dengan istrimu? Kejam!

“Ta-tapi Mi-minho-ya..Eomma! Dia bohong! Mana mungkin suamiku begitu saja ingin berpisah. Kau janji akan selalu disampingku kan?!”

“Ini lain Hye Ra. Ini salahku karena tidak membinamu dengan baik. Kita pantas mendapatkannya.” Air muka Minho sama sekali tak terlihat sedih ataupun menyesal. Garis tegas diwajahnya seperti mengklaim bahwa Minho benar-benar serius. Sedangkan Hye Ra tercengang hebat. Matanya terbuka lebar dan mulutnya tidak bisa bergerak menerima semua ini. Oke, jika itu yang diinginkan Minho, apa boleh buat? Toh Hye Ra hanya istrinya, dan sebagai istri harus patuh pada suami. Benar bukan?

“Bagaimana? Kalian sudah sepakat?”

“Iya eommonim.” Itu Minho yang jawab. Sedangkan Hye Ra kelihatannya malas bicara. Melihat Ibu dan terutama Minho saja gak niat. Hari ini mereka sangat kejam!

“Kalau begitu mulai besok, kalian bisa pulang ke rumah masing-masing. Jangan lupa nanti persiapkan barang-barang kalian. Dan terakhir untuk Hye Ra.” Gadis itu masih bermain di dunianya. Memalingkan wajahnya sambil memainkan jemari tangannya. Bahkan Hye Ra sudah sedikit menjauh, dengan duduk di ujung sofa. Intinya Hye Ra ngambek.

“Mulai besok, kamu dibantu oleh guru privat pilihan eomma. Dia yang akan membantumu belajar untuk ujian kelulusan sampai tes perguruan tinggi. Eomma juga menyimpan nomor ponselnya, kau mau?” ujar beliau sambil merogoh isi kantung bajunya mengambil ponsel dan mencari nomor guru privat tersebut.

Raut bersalah terlukis lagi di wajah Hye Ra. Diam-diam Hye Ra menoleh kearah Minho, sedang menundukkan kepalanya. Hye Ra menelan ludah berat. Rasa pahit seperti mendominasi air liurnya sendiri. Ditambah hujaman panah yang tak pernah ampun menusuk relung hatinya.

Sebenarnya Hye Ra yakin, Minho tersinggung akan ini. Suaminya itu pasti merasa dia adalah suami tak berguna, tak bisa membina istri, atau semacamnya. Ibu satu lagi, mengangsut Minho kalau semua ini karena kesalahan dan kelalain menantunya. Padahal, Hye Ra sendiri yang tidak bisa fokus dan selalu menghabiskan waktu belajar dengan bermain. Hye Ra akui, Minho memang tidak pernah lupa mengajaknya belajar. Menurut Hye Ra, ia cukup terbantu. Tapi tetap saja, Hye Ra tidak terima bila harus berpisah dan lebih parahnya peran Minho sebagai privat belajar diganti dengan guru.

“Tidak, terimakasih.” Jawab Hye Ra ogah-ogahan. Tidak peduli bagaiamana pandangan Ibu seakan ingin meneriaki anak perempuannya itu. Saking tak peduli, Hye Ra pun bangkit dan tak lupa memancarkan tatapan membunuh.

“Sudah selesaikan, eomma? Kalau begitu kami pamit dulu! Minho! Ayo!” lanjutnya seraya menarik lengan Minho paksa dan lelaki itu pun hanya bisa mengikuti istrinya. Pasangan suami istri itu membungkuk memberi hormat sebelum benar-benar pergi dari rumah Ibunya.

“Ya! Kamu tidak akan lupa dengan kesepakatan eomma kan? Ingat besok pulang sekolah langsung ke rumah! Arrachi?!!” Ibu Hye Ra berlari kecil mengikuti langkah buru-buru anaknya. Hye Ra kelihatannya tidak begitu peduli. Langkahnya mengikuti geraman di mulutnya. Mengertak sambil mendumel tidak jelas.

Kesabarannya benar-benar diuji hari ini. Ia tidak tahan jika selalu dituntut ini – itu oleh orangtuanya. Pertama menikah. Okelah, meski dulunya Hye Ra sangat menentang pernikahan, setidaknya ia bisa menerima pernikahannya dengan ikhlas. Dan kedua, berpisah? Apa mungkin suami istri dipaksa pisah rumah oleh orangtuanya? Alasannya karena nilai sang istri anjlok? Kan bisa pakai cara lain. Misalnya belajar lebih giat, belajar kelompok atau semacamnya. Ini? Ibu malah menggunakan jasa guru privat! Hye Ra tidak terima! Sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa, tapi lihat saja besok, semuanya akan dibalas!

***

Keesokan harinya. Hari ini tidak ada yang berubah, setelah kunjungan ke rumah Nyonya Park, Hye Ra ataupun Minho sama sekali tak pernah membuka mulut. Entah mengapa, yang jelas hari ini atmosfir diantara mereka cukup aneh. Terutama Hye Ra, gadis yang biasanya cerewet itu pagi ini gak kedengaran koteknya.

“Kau tidak buat sarapan?” Minho memecah keheningan.  Sambil merapikan dasinya ia melirik meja makan yang tampak bersih tanpa makanan.

“Bukannya selama ini aku tidak pernah membuat sarapan?” Benar juga. Selama mereka menikah, Hye Ra tidak pernah membuat sarapan, paling mereka sarapan di kantin. Lalu topik apa yang bagus diperbincangkan? Tidak ada sarapan dan percakapan? Minho seperti tinggal dengan patung hidup.

“Aku berangkat dulu!”

Eh?

Hye Ra berangkat sendiri? Kenapa?

Minho curiga, ia merasa ada sesuatu aneh pada Hye Ra. Maka dari itu Minho mendekat, berdiri dibalik punggung Hye Ra yang hendak membuka pintu.

“Tunggu sebentar!”

Baiklah ini tidak biasanya. Suasana canggung, Hye Ra jadi pendiam, dan Minho curiga. Hal ini jarang terjadi. Mungkinkah efek dari peraturan eomma semalam? Jika itu penyebabnya buat apa Hye Ra jadi aneh begini?

“Wae? Aku mau pergi sekolah,” desis Hye Ra terdengar agak kesal, tapi cepat-cepat Minho mencengkram kedua bahu Hye Ra dan membalikkan tubuhnya agar mereka saling berhadapan. Untuk beberapa detik, mereka saling beradu tatap. Tak satupun yang berkedip, keduanya saling membaca arti dibalik mata yang mereka lihat dan mulai memahaminya.

“Tolong pasang dasiku!”

“Eh?”

“Kau bisa memasang dasi kan?”

Sejenak Hye Ra terdiam. Menggigit bawah bibirnya ragu, kemudian mengangguk kecil.

“Tapi kau sudah memasangnya, kenapa-“

“Ini kurang rapi, aku ingin dipasang ulang.” Baiklah, Hye Ra tidak bisa berbuat apa-apa selain memperbaiki dasi Minho. Tumben, kenapa anak ini jadi manja? Dan kenapa Hye Ra merasa ada yang meledak-ledak jauh didalam dadanya?

Akhirnya Hye Ra membuka dasi Minho kembali. Langkah pertama ia mengangkat kerah Minho dan melingkari dasi disana. Meski sudah lama tidak melakukannya, Hye Ra cukup ahli dibidang ini, toh sebelum mereka menikah Hye Ra pernah membantu memasangkan dasi Minho.

Sementara itu, disamping Hye Ra sibuk memasangkan dasinya, Minho tidak bisa lepas dari wajah itu. Memperhatikan bagaimana raut muka serta suara Hye Ra yang mulai terdengar. Tanpa diminta ia mengucapkan sendiri bagaimana memasang dasi dengan benar, sama seperti waktu itu. Raut seriusnya, dan sesekali tersenyum tipis ketika memasang dasi membuat Minho kembali ke masa saat benih cinta itu muncul. Minho masih ingat, di momen itu lah pertama kalinya ia tidak bisa berhenti memikirkan Hye Ra, sama seperti sekarang. Antara senang dan tersipu, Minho mendekatkan wajahnya mengambil kesempatan ini untuk mencium Hye Ra.

Tangan itu berhenti, menegang, merasakan ada sentuhan hangat di bibirnya. Hye Ra masih  membuka matanya, ia jelas sangat terkejut. Tiba-tiba saja, dan di kondisi tidak biasa. Minho berani menciumnya. Padahal bukan ini yang Hye Ra mau. Lantas ia mendorong dada Minho dengan kedua tangan yang sedari tadi memegang dasi. Tidak seperti Hye Ra harapkan, Minho bahkan menolak dan bahkan menarik punggung Hye Ra agar lebih dekat dengannya. Tangan Minho mendekap erat seiring ciumannya yang terlihat agak intens. Ia sama sekali tidak membiarkan Hye Ra untuk menghentikannya dan terus melanjutkannya meski Hye Ra tidak membalas.

“Mmminho…” desah Hye Ra pelan, dan malah membuat Minho makin bersemangat. Apa boleh buat, Hye Ra pasrah apa pun yang dilakukan Minho. Perlahan gerakan bibir Minho melunak dan menghentikannya. Kesempatan ini ia gunakan menatap wajah Hye Ra yang tampak kemerahan. Ia sangat manis ketika memasang tampang malu seperti itu. Selanjutnya, kalian sudah tahu apa yang terjadi bukan? Mereka kembali berciuman dan saling membalas. Kali ini Minho melumatnya dengan lembut, hingga akhirnya Hye Ra yang biasa membenci adegan ini malah jadi menikmatinya.

“Mmminho….cukup!” tak sampai satu menit ciuman panas mereka akhirnya berhenti. Hye Ra mendorong Minho dan mengambil jarak. Minho tentu kecewa, air mukanya seakan bertanya ‘kenapa’ pada Hye Ra.

“Aku harus berangkat!” ujarnya kembali dingin. Hye Ra berbalik berniat meraih knop pintu.

Grep!

Sekali lagi, Minho menahan langkah Hye Ra dengan memeluknya tiba-tiba. Ini jarang terjadi, Hye Ra juga tidak mengerti kenapa jadi seperti ini.

“Jika kau jadi pendiam karena keputusan orangtua kita, aku minta maaf. Aku seharusnya mempertahankan rumah tangga kita, bukannya malah terpisah seperti ini,” Minho memangku kepalanya diantara leher dan bahu Hye Ra. Perlahan ia mencium leher Hye Ra lama dan pelukannya semakin erat.

“Sudahlah ini bukan salahmu. Aku hanya sedang badmood. Ini hari terakhir kita di rumah ini kan? Jadi jangan buat hari terakhir ini menjadi kenangan buruk. Aku seperti ini juga karena bingung harus bagaimana jika kita berpisah. Apakah aku baik-baik saja tanpamu, atau apa kau masih peduli padaku. Aku jauh lebih cemas darimu, dan itu membuatku gelisah. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa. Maaf sudah membuatmu khawatir.” Hye Ra mengembangkan senyum andalan diakhir kalimatnya. Dengan kilat ia mengecup bibir Minho kemudian keluar menghilang dari pandangan Minho.

Minho sendiri terpaku di tempatnya. Ia rasa setelah Hye Ra menjelaskan semuanya, maka masalah ini akan baik-baik saja. Sayang sekali….padahal jauh dipandangannya, Hye Ra berlari sambil tak kuasa menahan air matanya. Terbayang olehnya wajah sendu Minho yang tak ingin membiarkannya pergi. Bagaimana pelukannya menegaskan agar Hye Ra tidak boleh lepas darinya. Namun sayang, kali ini Hye Ra menanggung rasa bersalah itu sendiri. Ia takut Minho melihat air matanya dan malah meminta maaf.

***

“Sesuai permintaan kalian minggu kemarin, saya akan mengacak tempat duduk kalian hari ini!”

APA? Mengacak tempat duduk?!

“Ba-bagaimana ini?” Seisi kelas jadi ribut. Terutama Hye Ra, dari tadi ia tidak bisa berhenti menggigit ujung kukunya. Gelisah, dan takut! Bagaimana kalau Kim Sonsaengnim memisahkannya dengan Minho? Jangan! Cukup pindah rumah saja! Jangan sampai pindah tempat duduk.

Lagian siapa yang meminta permintaan ini sih? Nanggung lho beberapa minggu lagikan mau ujian. Terus kenapa Kim sonsaengnim sedari tadi melirik Hye Ra seperti itu? Hey jangan bilang kalau guru killer itu menyukai Hye Ra! Ups bukan! Hye Ra yakin dari keriput diwajah Kim Sonsaengnim ada hal buruk akan terjadi.

Kim sonsaengnim mencurigakan, bagaimana kalau beliau ingin memisahkan kami?

Cepat-cepat Hye Ra menoleh, tepatnya kearah Minho. Ia sangka Minho mulai panik seperti halnya yang Hye Ra rasakan, tapi? Itu orang malah asyik membaca buku. Bahkan wajahnya lebih bersinar dari biasanya! Ini ada apa? Jangan-jangan Minholah yang memohon pada Kim sonsaengnim? Tidak-tidak mungkin!

“Hyun Jae! Kamu pindah ke depan menggantikan Sung Jae!”

“Krystal, kamu sebangku dengan Sung Jae di bangku paling belakang!” Krystal pindah kebelakang? Yah, nggak bisa ngerumpi lagi dong. Padahal hanya Krystal satu-satunya obat penanggah kesepian Hye Ra kalau Minho lagi nggak mau diajang ngomong.

“Lalu Minho, kamu menggantikan Minhyuk di meja tengah bersama Seul Hana, sementara Hye Ra kamu sebangku dengan Minhyuk!” Minho dan Hye Ra saling berpandangan, dimulai dengan Hye Ra mendesah berat dan berakhir merelakan kepergian Minho. Tuh kan, dari awal Kim sonsaengnim itu sudah mencurigakan! Mengacak tempat duduk? Memang kami anak SD, pakai pindah – pindah bangku segala.

“Kau tidak apakan?”

“Ah?! Eh?”Hye Ra tidak tahu kalau Minho masih menatapnya. Dari luar Hye Ra terlihat biasa-biasa aja tuh, tapi didalamnya ia ingin sekali membentak tak terima dengan peraturan ini.

“Gwenchana…lagian kita masih satu kelas,” jawabnya sok tegar! Minho mengangguk pelan kemudian mengusap pucuk kepala Hye Ra.

“Baiklah, aku pergi dulu.” Minho tersenyum sebelum ia membawa semua barang-barangnya. Hye Ra hanya bisa diam dan tidak berhenti mendumel. Setelah pisah rumah, sekarang pisah tempat duduk? Bagus, dan jangan bilang kalau ini juga usul dari orangtua mereka.

“Annyeong mulai sekarang kita teman sebangku!” Lelaki bertubuh sedang bernama Minhyuk itu rupanya sudah duduk dibangku barunya. Ia sedang mengulurkan tangan, berharap Hye Ra menerimanya sebagai teman sebangku. Bukannya membalas jabatan, Hye Ra malah menatap sinis teman sebangkunya itu.

“Siapa yang mau jadi teman sebangkumu? Ha?!”

***

“Maksudmu apa Minho jadi salah paham?” Krystal menikmati burgernya dan sesekali bersuara menanggapi ocehan Hye Ra. Ia juga komplen mengenai tempat duduk itu, karena Kim sonsaengnim ia jadi berpisah dari Hye Ra. Tapi masalahnya bukan itu.

“Dia kira aku baik-baik saja setelah berpisah dengannya. Dia juga tidak peka akhir-akhir ini,” kata Hye Ra lemas sambil memainkan sedotan jus jeruknya. Ia melihat kesekitar, berharap ada Jonghyun atau Minho duduk tidak jauh darinya. Nihil, tiga komplotan itu tidak terlihat siang ini.

“Bukankah itu yang kau mau? Kau tidak mau Minho merasa bersalah karena berpisah dan menganggap semuanya baik-baik saja. Benarkan?” Benar juga sih. Semenjak Minho meminta maaf padanya, itu terdengar tidak lazim. Yang malas belajar siapa? Yang nilainya anjlok siapa? Nah, Minho malah meminta maaf. Lantas Hye Ra tidak bisa membiarkan hal itu. Jadi sebelum ia berangkat, Hye Ra sudah berpikir secara matang untuk bersikap biasa seakan semuanya tak masalah baginya. Tapi nyatanya Hye Ra makin khawatir.

“Ayolah jangan dipikirkan. Ingat nilaimu turun dan harus memperbaikinya kan?Untuk  sementara ini lupakan Minho, oke? Aku yakin kau bisa.”

Melupaka Minho? Apa aku bisa?

***

Benar apa yang Hye Ra pikirkan. Setelah mereka mengemas barang dan kembali ke rumah masing-masing, Minho sama sekali tak terlihat sedih atau apalah itu. Hey, apa cuma Hye Ra yang masih terpuruk?

Berhubungan sekarang Hye Ra menjadi warga rumahnya kembali, kata eomma sekitar 10 menit lagi guru privat yang dijanjikan mau datang. Hye Ra tidak peduli mengenai les privat ini, yang jelas waktu satu bulan ini harus cepat berlalu dan kembali bersama Minho!

Tong teng!

“Sudah datang?” Hye Ra di ruang tengah menyadari kedatangan tamu, mungkin adalah guru privatnya itu. Ia membuka pintu dengan hati-hati berharap didepannya bukan wanita tua berkacamata yang menjadi gurunya.

“Annyeonghaseyo, Hye Ra-ssi,”

Eh? Siapa ini? Guru privatnya?

Hye Ra sedikit ragu, pasalnya pria bermata sipit ini sama sekali tak terlihat seperti guru. Kemeja kotak-kotak biru, rambut hitam legam yang mengkilau, kacamata berbingkai hitam, senyuman maut, dan rupa yang tampan sekaligus menggemaskan. Ini guru privatnya? Bukan murid SMA nyasar bukan?

***

Setelah bedebat pada pikiran sendiri, akhirnya Hye Ra menyadari kalau pria bepernampilan rapi ini adalah gurunya. Tak terasa, Hye Ra sudah menyilakannya masuk dan malah akan memulai pembelajaran.

“Chogi, saya Park Hye Ra, ahjus- ani Anda siapa?” tanya Hye Ra agak kikuk.

“Song Joongki. Tidak usah berbicara seformal itu padaku, kamu boleh memanggilku apa saja.” Usulnya tidak lupa memamerkan seulas senyum lebar.

“Apa sonsaengnim terdengar agak kuno?”

“Hmm, aku setuju, terserah kamu mau memanggil apa.”

Humm, orang ini ramah juga. Dia juga tidak berhenti untuk tersenyum. Suaranya yang lembut juga membuat siapa saja nyaman berbicara dengannya.

“Joongki oppa. Bagaimana?” Hye Ra tahu ini terlalu cepat memanggil dengan sebutan ‘oppa’, ya dari pada Ahjussi, Hye Ra lebih nyaman dengan sebutan itu. Untungnya Joongki setuju dan lagi-lagi tersenyum. Entahlah, Hye Ra bingung, kenapa orang ini tidak berhenti tersenyum?

Perkenalan yang singkat. Setelah menentukan sebutan untuk Joongki yang entah asal muasalnya dari mana, mereka langsung memulai pembelajaran. Setidaknya tidak ada pertanyaan – pertanyaan perkenalan seperti yang Hye Ra harapkan. Joongki malah langsung membuka buku tebal yang Hye Ra ketahui sebagai buku matematika itu dan mulai membacanya.

Suasana jadi hening. Hanya detak jarum jam terdengar ditengah kesunyian mereka. Seolah dentingnya memakan waktu sangat lambat sehingga rasa jenuh menyelimuti Hye Ra. Ia tidak tahu kenapa, di saat seperti ini ia malah teringat Minho. Cuma di saat ini, sebelumnya wajah Minho belum terbesit di kepalanya. Tapi mungkin karena sunyi serta sepi yang ia dapat, Hye Ra jadi mudah merindukan si tiang listrik itu.

Kira-kira Minho sedang apa? Apa dia sudah makan? Apa dia sedang belajar juga? Atau jangan-jangan dia masih sibuk membaca komik?

Uaaaa! Bagaimana ini?! Aku benar-benar tidak bisa melupakan Minho!

“Kita akan membahas soal-soal ujian tahun kemarin, di mulai dari nomor satu. Apa kamu sudah mengerti?”

“….”

“Hye Ra-ssi, kamu sudah mengerjakan soal ini?”

“….”

“Hye Ra-ssi?”

“Hye Ra-ssi!”

“Ya-“

Tuk!

“Ahhh!” Jeritnya terkejut karena tahu-tahu aja saat Hye Ra menoleh jidatnya terasa di tahan oleh dua jari. Joongki yang melakukannya? Terus siapa lagi, bahkan sampai saat ini, kedua jari Joongki masih menempel di kening Hye Ra. Kali ini, untuk pertama kalinya Hye Ra menatap kedua mata sipit di hadapannya itu dengan lama. Hye Ra sudah jelas mengerjap tidak mengerti, sedangkan tatapan Joongki sangat tajam tapi mendalam, membuat siapapun wanita jadi mematung olehnya. Terutama Hye Ra, ia tidak habis pikir, di hari pertama ia bisa menatap wajah gurunya dengan jarak sedekat ini. Melihat rambut hitam itu, mata serta hidung yang mancung. Aneh, orang ini seperti mempunyai aura menarik siapapun agar luluh padanya.

“Aku tidak suka kalau muridku mengacuhkanku saat proses belajar, terutama kamu nona Park”

“No-na Park?”

Joongki mengangguk kecil.

“Karena kamu sudah membuat kesalahan di hari pertama, terpaksa aku melakukan ini,”

Grep!

Deg!

Seketika Hye Ra membatu. Jantungnya berdentum keras seperti ingin jatuh, lalu berhenti seketika. Ini pertama kalinya Hye Ra merasakan detak jantung yang cukup aneh ini. Kenapa jadi berdebar? Kenapa malah terkejut Hye Ra? Ya bagaimana tidak terkejut kalau guru privatnya  tiba-tiba memasang borgol ke pergelangan tangan kirinya?!

“J-joongki o-oppa…”

Joongki tidak mempedulikan raut Hye Ra yang antara takut dan kebingungan. Pria itu malah memasangan borgol satunya lagi ke tangan kanannya.

Grep!

“A-apa yang oppa lakukan?”

Joongki tersenyum.

“Mulai sekarang, kamu tidak bisa lepas dariku nona Park. Jadi, jangan sesekali tidak memperhatikanku. Mengerti?”

Senyuman ini. Kenapa seulas senyum itu terlihat beda dari biasanya? Tatapannya seakan menekankan kalau Hye Ra harus melihatnya, hanya melihatnya. Ini sebenarnya ada apa? Kenapa Song Joongki yang ramah jadi, menakutkan?

Orang ini…bukan sembarangan orang! Pria gila!

To Be Continued

Kependekan? Kurang menarik? Memang, tapi untuk part selanjutnya gak bakal nyesel! Kebetulan part ini sudah sangaaat lama aku bikin, jadi agak usang dan biasa-biasa aja. Tunggu part selanjutnya beberapa hari kemudian! *ngomong sendiri ._.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s